
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Naura belum juga pulang kerumah membuat Kirana khawatir dan mencoba menghubungi nomor ponsel Naura. Namun Naura malah menolak panggilan tersebut membuat Kirana semakin khawatir kembali menghubungi nomor ponsel Naura hingga akhirnya panggilan tersebut sedang tidak aktif atau berada dalam luar jangkauan.
"Ya Tuhan Naura. Apa yang sedang kamu lakukan diluaran sana nak? Ini sudah hampir jam 11 malam tapi kamu belum pulang juga" gumam Kirana mencoba menghubungi nomor ponsel Afia.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Namun nyatanya Afia juga tidak mengangkat panggilan tersebut. Kirana lalu keluar dari dalam rumah, ia melihat sekitar halaman rumahnya berharap Naura telah tiba disana. Tetapi sampai sekarang batang hidung Naura juga belum muncul.
Kemudian Kirana mencoba menghubungi nomor Naura kembali. Tapi lagi-lagi nomor tersebut berada di luar jangkauan. Setelah itu Kirana melihat jam sudah menunjukkan pukul 11:30 menit. Rasa khawatir itu pun semakin menjadi-jadi hingga akhirnya ia melihat sebuah cahaya mobil menuju ke halaman rumahnya.
Kirana pun langsung keluar dari dalam teras menghampiri mobil yang baru saja berhenti itu melihat Naura keluar dari dalam sana dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Naura!" panggilnya.
"Sayang kamu hati-hati di jalan yah. Terima kasih untuk malam ini sudah mau menemani aku dan juga membelikan barang-barang ini semua untuk ku".
"Iya sayang. Aku pulang dulu. Selama malam".
"Mmmm, sampai bertemu besok".
Begitu mobil kekasih Naura melaju dari sana, dengan wajah kesal Naura langsung melihat ibunya itu berdiri di sebelahnya dengan wajah penuh kekhawatiran. "Kamu dari mana saja sih Naura baru pulang jam segini? Kamu pikir ibu tidak khawatir kalau sesuatu terjadi kepada mu?".
Naura tertawa sumbang, "Ibu! Ibu pikir Naura masih anak kecil mau pergi kemana pun harus melapor sama ibu? Please deh Bu, tolong jangan membuat aku malu di depan pacar aku sendiri".
__ADS_1
"Apa?".
"Iya. Aku benci sama ibu kalau ibu masih mengulangi kesalahan ini lagi" jawab Naura pergi meninggalkan Kirana yang masih berdiri disana dengan mengelus dada telah salah mendidik putrinya itu. Kemudian Naura memasuki kamarnya, ia menaruh semua barang belanjaannya diatas tempat tidur dengan wajah sangat bahagia. "OMG! Kenapa Bayu baik banget sih mau membelikan ini semua untuk ku? OMG! OMG!".
TOK... TOK...
"Ck, apa lagi sih Bu?".
Ceklek!
Kirana membuka pintu, ia melihat barang belanjaan Naura begitu sangat banyak tergeletak diatas tempat tidur. "Apa lagi Bu? Hari ini aku lelah sekali. Sebaiknya ibu tidur saja, lagian besok ibu bukannya berangkat kerja? Dan jangan lupa untuk uang ya besok".
"Naura, ibu mau bicara sebentar sama kamu".
"Ibu tidak pernah melarang kamu mau bergaul kepada siapa pun..
"Terus?".
"Ibu hanya meminta kepada mu tolong kesalahan yang Afia lakukan tidak terjadi kepada mu Naura".
Naura pun langsung tertawa mengejek kepada ibunya itu, "Maksud ibu sekarang, ibu mau menyamakan aku dengan Afia? Hahahaha.. Maaf ya bu, aku tidak segampangan Afia yang mau ditiduri oleh pria seperti dia. Kalau ibu masih menyamakan kami berdua, ibu salah besar. Bayu dengan Hendry bagaikan langit dan bumi".
"Bukan masalah seperti itu Naura. Meskipun Hendry tidak memiliki apa-apa dibandingkan dengan kekasih mu itu. Tapi dia lebih baik di mata ibu".
__ADS_1
"Iyalah, karna dia lebih baik makanya dia berani melakukan hal itu kepada Afia. Dan sekarang, aku sangat yakin kalau keduanya pasti hidup melarat bagaikan pengemis di pinggir jalan. Sudah akh, sebaiknya ibu istirahat saja karna aku juga mau istirahat".
Kirana melirik kembali berang belanjaan Naura yang begitu sangat banyak. "Tidak usah melihatnya Bu. Ibu pergi saja sana" Hingga akhirnya Kirana keluar dari dalam kamar tersebut dengan mata berkaca-kaca.
.
Sedangkan Afia yang sudah terlelap dalam tidurnya, ia tiba-tiba di bangunkan oleh mimpi buruknya. Kemudian Afia melihat sekitarnya dengan suara nafas berat, "Ya Tuhan. Bagaimana bisa aku bermimpi buruk seperti ini? Dan mimpi itu.. Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi. Hendry tidak mungkin pergi meninggalkan aku bersama dengan wanita lain karena Hendry sudah berjanji kepada ku begitu dia selesai dengan pendidikannya kami berdua akan segera menikah. Iya, aku sangat yakin itu".
Kemudian Afia menyambar ponselnya, ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sang ibu. "Astaga, ibu menelpon ku" Afia pun segera menghubungi nomor itu kembali. Namun sayangnya, melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat 40 menit Kirana sudah tertidur.
Afia lalu melihat sekitarnya, ia tau kalau Kirana sudah tertidur. "Aku tidak tau sudah jam segini. Ternyata aku.. Akh, aku sangat lapar" Afia menurunkan kedua kakinya diatas lantai. Berjalan kearah pintu langsung membukanya dengan sangat pelan agar tak seorang pun akan mendengar suara pintu tersebut.
Dan sesuai dengan yang ia harapkan, tak seorang pun ia lihat disana, di karenakan juga semua para pelayan dirumah itu telah istirahat di dalam kamar mereka masing-masing.
"Aku sangat lapar sekali. Terpaksa aku harus mencuri makanan lagi. Tapi kalau sampai aku ketahuan, apa yang akan lakukan? Astaga! Ini benar-benar sangat menyebalkan sekali".
Afia menutup pintu itu kembali, ia lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan tubuh lemas menatap kearah langit-langit kamar dengan wajah sedih.
"Kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa bertahan hidup dirumah ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi ku. Dan sekarang aku bahkan tidak bisa memberinya makanan yang dia suka hhmmmmssss" Afia membuka pintu kamar itu kembali. Ia melihat samping kiri kanannya, "Aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus mengisi perut ku. Apapun yang terjadi, lebih baik aku pergi meninggalkan rumah ini dari pada seperti ini terus".
Akhirnya Afia melangkah berjalan menuju dapur, ia mencari makanan yang bisa ia makan untuk mengisi perut laparnya. Begitu ia berada di dapur, ia melihat beberapa makanan masih tertinggal di dalam lemari penyimpanan makanan membuat ia seketika tersenyum lebar di wajah cantik Afia.
Setelah itu ia langsung mencari nasi dan manaruh diatas piring dan tidak lupa menaruh beberapa lauk pauk tersebut di dalam piringnya. Lalu Afia mendudukkan diri diatas kursi dan tidak lupa mengucapkan rasa syukurnya kepada sang pencipta telah mendapatkan makanan tersebut.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Afia segera melahapnya dengan sangat lahap sembari menikmati makan malamnya. "Akh, akhirnya aku kenyang juga. Tapi kenapa tiba-tiba mereka bersikap baik meninggalkan makanan ini untuk ku? Ya sudahlah, mungkin saja mereka sedang berbaik hati kepada ku" Afia pun kembali masuk ke dalam kamarnya.