
Pagi harinya Afia bersiap-siap berangkat ke sekolah begitu juga dengan Naura, "Kak" panggilnya.
"Ada apa?" tanya Naura dengan ketus.
"Sebaiknya kak Naura minta maaf sama ibu. Kakak tidak berhak marah seperti itu sama ibu".
"Hhmmsss, kamu tidak usah ikut campur deh Fia" kesal Naura menyandang tasnya, lalu ia keluar dari dalam kamar melihat sang ibu sedang menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka.
"Naura sarapan dulu nak".
"Tidak usah" jawabnya. Kemudian Afia mendekati sang ibu sambil tersenyum seperti biasa.
"Pagi bu. Ibu masak apa?".
"Ibu memasak apa yang ada ajah Fia. Ayo duduk, ibu akan membuatkan sarapan untuk mu".
"Terima kasih bu, minggu depan Afia sudah gajian bu".
"Mmmmm" angguk sang ibu tersenyum memberikan makanan Afia di hadapannya. "Jangan lupa dihabisin ya sayang".
"Iya bu".
Begitu Afia selesai menikmati sarapan paginya, ia pun segera keluar dari dalam rumah menuju halte bus yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hingga kini Afia telah tiba di sekolah, ia melihat para siswa-siswi berlarian sebelum gerbang di tutup, sedangkan dirinya hanya bisa berjalan santai sambil berdoa dalam hati supaya ia tidak terlambat.
Namun saat itu juga seseorang menarik tangannya dari belakang, "Ayo lari Fia" membuat ia terpaksa harus berlari sampai rasa sakit yang masih ia rasakan bertambah dua kali lipat.
"Hentikan" ucap Afia. Namun ia tidak mendengarnya dan masih menarik tangan Afia. "Aku mohon tolong lepaskan tangan ku" ucap Afia kembali dengan tubuh lemas dan keringat yang bercucuran dari keningnya membuat Afia tidak sanggup lagi untuk berlari. Tetapi gerbang yang sudah berada di depan mata membuat Afia memaksakan diri hingga mereka berhasil melewati gerbang tersebut.
"Yes, kita berhasil Fia" senangnya tertawa melihat Afia kelelehan dengan keringat bercucuran. "Kamu baik-baik saja Fia? kamu sakit?".
"Tidak, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantuku".
"Mmmm, kalau gitu aku duluan masuk".
"Mmmmm" angguk Afia mencari tempat duduk untuk istirahat sebentar. Namun guru yang bertugas disana malah melarangnya dan menyuruh Afia segera masuk kedalam kelas. "Maaf pak, saya sangat lelah sekali, bisakah saya duduk sebentar saja disini".
"Tidak bisa, ayo buruan masuk".
"Haahh, baik pak" angguk Afia memasuki kelasnya. Dan lagi-lagi waktu tidak bersahabat dengannya, guru killer yang sangat mereka takuti sudah berada di dalam kelas. "Ya Tuhan, kenapa dia sudah datang saja?".
__ADS_1
Tok.. Tok..
"Pagi bu, maaf saya terlambat".
Ia melihat Afia dari atas sampai bawah dengan kening mengerut, "Kenapa kamu terlambat? kamu tau ini sudah jam berapa?".
"Maaf bu, lain kali saya tidak akan terlambat lagi. Tolong beri saya kesempatan bu".
"Kamu sakit?".
"Tidak bu".
"Ya sudah, hari ini kamu saya maafkan. Tapi bukan untuk yang kedua kalinya. Sekarang kamu duduk".
"Terima kasih bu" angguk Afia berjalan kearah kursinya. Tapi ia tidak melihat Hendry selain tasnya yang berada diatas kursi. "Kemana dia?" gumam Afia mendudukan diri.
Kemudian si guru matematika yang berada di depan sana menyuruh mereka membuka mata pelajaran yang berada di bab sekian. Tidak menunggu beberapa lama, Hendry muncul diambang pintu membawa beberapa buku, lalu ia menaruh ya diatas meja. "Terima kasih Hendry".
"Sama-sama bu" angguknya. Lalu ia melihat Afia sudah berada di atas kursinya membuat ia tersenyum senang kepadanya. "Kamu sudah datang? aku pikir kamu tidak masuk sekolah" Hendry melirik sekitarnya. "Apa rasanya masih sakit?" bisiknya sampai membuat kuping Afia langsung memerah.
"Kamu.." kesal Afia memalingkan wajahnya.
"Kenapa Fia? kamu baik-baik saja? kamu sakit?" Hendry melihat keringat yang bercucuran di leher Afia membuat ia mengeluarkan beberapa lembar tissue dari dalam tasnya. "Kamu sangat berkeringat sekali Fia" Hendry mencoba melapnya. Namun Afia yang tidak ingin dilihat oleh teman satu kelasnya, membuat ia segera mengambilnya dari tangan Hendry.
"Syukurlah, aku hampir saja melarikan kamu kerumah sakit" senyum Hendry menarik tangan Afia sambil membisikkan kata-kata manis yang membuat Afia tersenyum. "Kamu sangat cantik".
"Hentikan, ibu itu bisa mendengar mu".
"Dia tidak akan mendengarnya".
"Terserah kamu saja, aku ingin fokus belajar jangan menganggu ku".
"Baiklah".
.
Jam istirahat telah tiba, para siswa-siswi di dalam kelas mereka telah berkeluaran kecuali Hendry dan Afia. "Kamu enggak keluar Hend?".
"Tidak, aku akan disini bersama mu".
__ADS_1
"Aku ingin tidur, pergilah entah kemana Hend. Nanti kamu bisa mengganggu ku".
"Tidurlah kalau kamu ingin tidur, aku akan menjaga mu".
"Kamu tidak apa-apa?".
"Mmmmm, tidurlah" Afia pun langsung menjatuhkan wajahnya diatas meja dengan kedua tangannya. Kemudian Hendry mencium kepala Afia dengan sayang, lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk bermain game. Namun saat ia sedang asik bermain, tiba-tiba Raga muncul diambang pintu sambil menendang pintu membuat ia menghentikan game ya.
"Hallo bro, sedang apa?" seringai Raga berjalan mendekati meja Hendry bersama dengan teman-temannya. "Apa kamu sedang bermain game?".
Hendry menatapnya dengan tatapan kesal, "Apa yang sedang kalian lakukan kemari? sebaiknya kalian pergi saja. Ini bukan ruangan kalian".
Raga tertawa, "Kamu mau tau alasan kami datang kemari?".
Hendry melirik Afia yang tertidur pulas disampingnya membuat ia tidak tega kalau sampai Afia terbangun hanya karna mendengar suara mereka. "Kalian ikut aku" Hendry keluar begitu juga dengan mereka. Hingga kini mereka telah berada di atap sekolah, lalu Hendry mengeluarkan sebungkus rokok yang harganya bukanlah harga murahan sampai membuat Raga dan teman-temannya terkejut dari mana Hendry bisa mendapatkan rokok tersebut. "Kalian tidak mau?".
"Dari mana kamu mendapatkan rokok ini?" tanya Raga.
"Kenapa?" tawa Hendry. "Kalian belum pernah membelinya? ckckck padahal harganya tidaklah mahal tapi ekspresi wajah kalian satu persatu mengatakan kalau harga rokok ini sangat mahal" ejek Hendry membuat Raga meremas tangannya telah di rendahkan oleh seorang siswa baru yang berpenampilan jelek.
"Yah, berani-beraninya kamu menghina ku" teriak Raga mendorong tubuh Hendry dibalik tembok. "Kamu pikir kamu siapa haahhh?".
"Aku? hahahha.. Kamu tidak perlu tau siapa aku. Sekarang lepaskan tangan mu ini".
"Sial".
BBUUNNGGHH..
Sebelum Raga berhasil memukulnya, Hendry telah duluan mendorongnya dan langsung menendang perut Raga sampai ia kesakitan terpingkal diatas lantai. "Raga" kaget ketiga temannya. "Yah, apa yang barusan kamu lakukan kepadanya?" teriak Rizal sangat marah.
"Itu baru pemanasan" jawab Hendry dengan santainya menyalakan sebatang rokoknya. "Kamu benar-benar enggak mau?".
"Sia..
"Tunggu, kalau kamu tidak ingin bernasib sepertinya kamu tidak usah melawanku, kedua tangan mu bisa patah atau kedua kaki mu".
"Kamu pikir kamu siapa hahh?" teriaknya lagi memukul wajah Hendry.
BBUUNNGGHHH...
__ADS_1
"Wah.. Sekarang kamu berhasil memukul wajah ku" Hendry menatapnya dengan tajam, lalu menarik kerah baju Rizal sampai kancing bajunya terlepas dari tempatnya membuat Rizal sangat ketakutan melihat tatapan Hendry yang hendak ingin membunuhnya. "Kamu ingin mati?".
"Le-lepaskan aku bajingan" umpat Rizal gelagapan.