
Selesai sarapan pagi, Dina meminta Afia duduk bersama dengan mereka diruang keluarga. Kemudian Dina memanggil namanya, dan Afia tentu saja sudah tau alasan mereka mengajaknya bergabung disana.
"Iya Tante" jawab Afia.
"Begini, kamu sudah tau kan kalau Hendry satu-satunya putra pewaris group Mapolo? Jadi kami berencana membuat Hendry kuliah di luar negeri demi kebaikan dia dan juga dirimu nanti. Bisakah kamu memberikan izin kepadanya?".
Afia pun langsung melirik Hendry membuat Hendry menggenggam kedua tangannya, "Keputusan ada di tangan kamu sayang, kalau kamu tidak mengizinkan aku pergi ke luar negeri maka aku tidak akan pergi meninggalkan kamu".
Afia terdiam, ia lalu melihat Dina kembali bersama dengan Abbas. Cara melihat keduanya sangatlah berbeda, Dina terlihat seperti sedang mengancamnya kalau saja dia tidak memberikan izin kepada Hendry. Sedangkan Abbas, ia hanya tersenyum penuh harap kalau dirinya memberikan izin kepada Hendry.
"Jangan takut memberikan keputusan kamu Fia. Aku selalu berada di pihak mu".
Afia mengangguk mengerti meskipun yang sebenarnya ia ingin sekali menangis jika akhirnya ia memberikan izin kepada Hendry untuk kuliah di luar negeri.
"Bagaimana Afia? Apa Hendry boleh kuliah di luar negeri?" tanya Dina seperti sedang mendesaknya hingga akhirnya Afia mengangguk.
"Iya Tante, Hendry boleh kuliah di luar negeri" jawabnya.
Kedua orang itu pun langsung tersenyum senang mendengar jawaban Afia. "Terima kasih Fia, kamu melakukan keputusan yang tepat sekali".
"Iya Tante. Kalau gitu, boleh aku masuk ke dalam kamar?".
"Iya, kamu boleh pergi".
Afia pun segera pergi meninggalkan mereka bertiga membuat Hendry sangat yakin kalau sebenarnya Afia tidak rela jika ia pergi meninggalkan dirinya. "Ma, aku menyusul Afia dulu" ucap Hendry berlari kecil memasuki kamarnya mendengar suara Afia menangis di balik pintu kamar mandi.
"Afia!" panggilnya.
Hendry lalu berjalan mendekati pintu kamar mandi, ia kemudian membukanya, namun tubuh Afia yang berada di balik pintu membuat pintu tersebut tidak bisa terbuka.
"Afia, kalau kamu tidak rela aku pergi keluar negeri aku tidak akan pergi meninggalkan kamu sayang. Aku akan disini bersama dengan mu. Tolong buka pintu ya".
"Hiks.. hiks.. Jangan perdulikan aku Hendry, aku menangis bukan karna kamu mau pergi meninggalkan aku, tapi aku menangis karena merindukan ibu ku" ucap Afia membuka pintu kamar mandi melihat Hendry berdiri di hadapannya.
"Kamu pikir aku akan mempercayainya?".
"Terus kamu pikir aku berbohong kepada mu Hendry?".
__ADS_1
Hendry menarik nafas, ia lalu membawa tubuh Afia ke dalam pelukannya. "Kamu tidak bisa membohongi ku Afia, aku tau kalau sebenarnya kamu tidak ikhlas aku pergi. Aku sudah katakan kepada mu...
"Pergilah Hendry. Aku tidak mau kedua orang tua mu kecewa hanya karna diriku kamu tidak mau pergi. Aku akan menunggumu disini, dan berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku" Afia mengulurkan jari kelingking ya. "Apapun yang terjadi, begitu kamu pulang dari sana kita berdua akan menikah dan hidup bahagia sampai selamanya".
Dengan kedua mata berkaca-kaca, Hendry kembali memeluk tubuh Afia dengan sangat erat. "Aku berjanji sayang, aku berjanji begitu aku selesai menyelesaikan pendidikan ku kita berdua akan segera melangsungkan pernikahan sesuai dengan permintaan mu".
"Terima kasih Hendry. Aku mencintai mu".
"Aku juga sangat mencintai mu sayang".
_
_
2 minggu kemudian.
Akhirnya Hendry pun berangkat keluar negeri diatas diantar oleh Afia, Abbas dan juga Dina ke bandara internasional. Dan lagi-lagi Afia menangis di pelukan Hendry, bagi seorang wanita yang tengah mengandung, melepaskan orang yang dia sayangi yang tak lain ayah dari bayinya sendiri membuat Afia merasa sangat terpukul.
Hingga kini pemberangkatan pesawat Hendry akan segera berangkat menuju New York.
"Hendry, mama harap kamu baik-baik selama disana ya sayang. Jangan membuat mama khawatir".
"Iya sayang, mama akan menjaga mereka dengan baik".
"Terima kasih ma, kalau gitu aku berangkat. Selamat tinggal" Hendry melambai tangan kanannya sampai ia benar-benar menghilang dari hadapan mereka. Kemudian Abbas memberitahu kepada istrinya itu kalau dia harus berangkat sekarang juga ke kantor begitu juga dengan dirinya harus berangkat ke rumah sakit. Dan tinggallah Afia seorang diri di dalam bandara tersebut.
"Bagaimana ini? Aku kemari sama sekali tidak membawa uang" ia lalu keluar, disana ia melihat sebuah taksi sedang terparkir. "Permisi, pak".
"Iya nona?" jawabnya melihat Afia.
"Boleh antar saya ke alamat ini?".
"Boleh-boleh, ayo silahkan naik" jawab si sopir taksi bersemangat karna ia tau kompleks tersebut adalah kompleks orang kaya raya.
Di dalam mobil, Afia kemudian mendengar suara pesawat melintas dari atas. Ia membuka kaca, dengan senyum kesedihan Afia kembali meneteskan air mata.
"Ya Tuhan, ini berat sekali untuk ku. Jika aku disuruh memilih, rasanya aku lebih baik hidup miskin dari pada aku harus kehilangan Hendry selama beberapa tahun lamanya".
__ADS_1
Kemudian si supir taksi melihat Afia dari pantulan kaca sedang menahan suara tangisnya membuat ia penasaran ada apa dengannya. "Nona kamu baik-baik saja?".
"Iya pak aku baik-baik saja. Maaf".
"Tidak apa-apa" dengan baik hati si supir taksi memberikan tissue kepadanya. "Saya tidak tau masalah apa yang sedang nona hadapi. Menangislah kalau memang itu terlalu sakit tanpa harus menyembunyikannya. Karna dunia ini begitu sangat kejam".
Afia kemudian melihat si supir taksi dengan tatapan sendu, "Kenapa bapak berkata seperti itu seolah-olah penderitaan bapak begitu sangat banyak?" tanya Afia.
Si supir taksi tersenyum, "Setiap orang memiliki masalah nona, semua tergantung kepada kita bagaimana caranya menyelesaikan masalah itu".
"Mmmmm" angguk Afia mengerti.
Hingga kini mereka telah tiba di depan pintu gerbang istana Mapolo. Afia segera keluar dari dalam taksi dan memberitahu si supir untuk menunggunya sebentar karna ia tidak membawa uang saat menuju bandara dan ia juga tidak menyangka kalau Dina tega meninggalkan dirinya disana.
Dan dengan baiknya si supir pun menunggu disana. Begitu Afia berhasil mendapatkan uangnya, ia segera membayar biaya taksinya dengan menggunakan 2 lembar uang merah seharga 100 ribu.
"Sisanya untuk bapak saja".
"Ini serius nona?".
"Iya pak. Terima kasih banyak sudah mau memberikan motivasi untuk saya".
"Iya nona, terima kasih banyak juga sudah mau memberikan uang lebih untuk saya. Kalau gitu saya pergi dulu nona".
"Iya pak, hati-hati".
Begitu taksi tersebut beranjak dari hadapan Afia, ia langsung masuk ke dalam rumah dengan tubuh lelah. "Yah kamu Afia" panggil Siska.
"Kenapa?".
"Boleh minta tolong enggak?".
"Apa itu?".
"Mmmmm, sebelumnya kamu mau atau tidak?".
"Kalau pekerjaan berat aku harap jangan sekarang. Hari ini aku lelah sekali, kalau kamu mau besok saja".
__ADS_1
"Benarkah? Tapi ini perintah nyonya Dina" ucap Siska tersenyum sinis. "Kamu yakin enggak mau?".
"Iya, besok saja yah. Aku istirahat dulu" jawab Afia langsung pergi meninggalkannya sampai membuat Siska tidak percaya kalau Afia benar-benar berani sekali melawan perintah majikannya itu.