Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 49


__ADS_3

"Tapi kenapa kamu tidak menjawab ponsel mu Hendry? Dari tadi berdering. Angkatlah, siapa tau penting" ucap Afia memberitahunya lagi.


"Itu tidak penting Fia ku sayang. Tidak usah dengarkan, lebih baik aku membantu mu disini supaya pekerjaan mu tidak banyak".


"Kamu yakin? Entar..


"Sudah sayang. Berikan itu lagi, biar aku yang mengambil sampah".


"Mmmmm, ini" senyum Afia.


Lalu Hendry berjalan menjauh dari Afia, ia kemudian menuang semua sampah yang berada di dalam tong sampah setiap yang berada di bawah kaki meja para karyawan.


Tetapi ponselnya tiada hentinya berdering membuat ia terlihat kesal saat salah satu karyawan tersebut menyuruhnya mengangkat ponselnya.


Hingga akhirnya Hendry mengeluarkan ponselnya, ia lalu melirik kearah Afia yang sedang membersihkan lantai. Setelah itu ia berjalan ke ujung sana sedikit jauh dari meja para karyawan.


"Iya hallo pa?" jawabnya.


"Temui papa ke kantor sekarang juga" jawab Abbas mematikan ponselnya secara sepihak tanpa mendengarkan pertanyaan Hendry menyuruhnya datang kesana meskipun Hendry sudah tau alasannya apa yang sebenarnya.


Hendry kemudian menghela nafas panjang. Ia menaruh kantong sampahnya di balik tembok sembari melirik kearah Afia kembali sampai membuat orang yang sedang di pandangi akhirnya melihat kearahnya dengan senyuman mengembang di wajah Afia.


"Kenapa Hendry?" tanyanya dengan bahasa isyarat.


"Tidak" geleng Hendry membalasnya.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu melihat ku seperti itu?".


"Aku baik-baik saja sayang. Jangan khawatir, aku hanya ingin memastikan kalau kamu tidak kecapean" jawab Hendry sedikit menggodanya.


Afia pun langsung tertawa kecil geleng kepala, setelah itu ia melanjutkan pekerjaan itu kembali. Sedangkan Hendry, ia berjalan meninggalkan ruangan itu menuju ruangan sang Presdir yang tak lain ayahnya sendiri tanpa sepengetahuan Afia atau rekan kerjanya yang lain.


Tok.. Tok...


"Masuk!" jawab Abbas.


Ceklek!

__ADS_1


Begitu Hendry mendorong pintu tersebut, Abbas dan Dina langsung melihat kearah Hendry yang tengah berjalan kearah mereka berdua membuat Abbas mengepal kedua tangannya sangat marah kepada putranya itu.


"Hendry, jawab papa jujur. Apa benar, apa yang barusan mama kamu bilang sama papa?".


Hendry lalu menutup kedua matanya, setelah itu ia mengangguk tanda apa yang yang Dina beritahu kepadanya benar.


BBUUNNGGGHHHH..


Satu pukulan pun langsung mendarat di wajah tampan Hendry tanpa ada perlawanan darinya.


BBUUNNGGGHHHH..


"Dasar anak kurang ajar! Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada kami Hendry? Apa kamu benar-benar tidak punya otak hahhh? Apa kamu benar-benar..


"Maafkan aku pa" potong Hendry menyentuh sudut bibirnya yang terluka. "Aku tau aku tidak pantas disebut sebagai anak oleh papa sama mama. Tapi aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan".


Abbas menyeringai tidak menyukai jawaban yang Hendry berikan untuk menyakinkan dirinya. "Sekarang kamu pilih mana, Papa sama mama atau wanita itu? Kalau kamu memilih papa sama mama, kamu harus siap meninggalkan Indonesia dan melanjutkan pendidikan mu di luar negeri. Tapi kalau kamu memilih wanita itu, kamu tidak usah mengharapkan apa-apa dari kami berdua. Bagaimana? Apa kamu masih akan memperjuangkan wanita itu?".


Hendry terdiam.


Lalu Dina menggenggam jemari tangannya Hendry lembut dengan mata berkaca-kaca. "Mama mohon sayang. Jangan mengambil keputusan yang bakalan kamu sesali, mama yakin wanita itu pasti hanya memanfaatkan kamu sayang. Wanita jaman sekarang tidak ada lagi yang tulus mencintai kita kecuali ada yang dia lihat dari kamu".


"Apa?".


"Jadi kamu akan memilih wanita itu dan pergi meninggalkan mama sama papa kamu? Apa kamu benar-benar akan meninggalkan mama Hendry hiks.. hiks..".


Lagi-lagi Hendry terdiam kembali.


"Sudah ma. Kalau memang dia harus memilih wanita itu kita biarkan saja. Mulai hari ini juga, kamu bukan lagi anak papa sama mama".


"Tidak pa tidak.. Mama tidak bisa hidup tanpa Hendry pa. Mama tidak bisa pa hiks.. hiks.. Hendry mama mohon sayang, jangan tinggalkan mama..Mama benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu".


Hingga akhirnya Hendry yang tidak pernah mengeluarkan air mata, ia pun ikutan menangis melihat Dina yang senggugukan menahan dirinya untuk tidak pergi meninggalkan keluarganya.


"Ma, aku sangat mencintai papa sama mama. Tapi sebagai laki-laki aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan kepada dia. Maafkan aku ma".


"Jadi kamu memilih pergi Hendry?".

__ADS_1


"Iya ma. Maaf".


Lalu Abbas menarik tubuh istrinya itu menjauh dari Hendry, setelah itu ia menyuruh Hendry pergi dari ruangan itu sekarang juga. Dan Abbas tidak lupa menarik semua fasilitas yang Dina kemarin berikan kepadanya.


"Kalau gitu aku permisi dulu Pa ma" ucap Hendry segera meninggalkan mereka.


Dan lagi-lagi Dina pun menangis histeris di pelukan Abbas.


"Tidak Pa, mama tidak mau kehilangan Hendry pa. Mama tidak mau kehilangan putra kita satu-satunya".


"Iya ma papa tau. Kita biarkan saja, anak itu akan kembali setelah dia menyadari kesalahan apa yang telah dia lakukan".


"Tapi pa".


"Sudah ma. Biarkan dia belajar bertanggung jawab dengan apa yang baru saja dia lakukan".


Begitu Hendry kembali, tampa perduli dengan mereka yang akan melihat. Ia langsung memeluk tubuh Afia dari belakang sampai membuat Afia melonjak kaget melihat orang yang baru saja memeluknya itu adalah Hendry.


"Hendry.. Kamu kenapa Hend? Kenapa wajah mu terluka seperti ini? Kamu baik-baik saja?".


"Tidak Fia. Aku tidak baik-baik saja" jawab Hendry menarik tubuhnya "Mulai dari sekarang, aku akan benar-benar memperjuangkan kamu sayang. Aku akan memperjuangkan kamu dan anak kita".


Afia mengernyitkan dahi, ia lalu melepaskan pelukan Hendry yang membuat ia kebingungan. "Ada apa Hendry? Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti ini? Apa yang terjadi kepada mu? Ayo katakan kepada ku. Dan luka di wajah mu ini, kenapa bisa seperti ini Hendry?".


"Tolong jangan menanyakan hal itu lagi kepada ku sayang. Bisakah kamu mengobati luka ini?".


Afia kemudian melirik ke arah jam dinding, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 18.00 sore. "Ayo" angguknya membawa Hendry kelantai bawah tempat mereka istirahat.


Setelah itu Afia masuk kedalam mencari kotak obat, begitu ia menemukannya ia segera mengobati luka tersebut dengan sangat lembut.


"Apa aku benar-benar tidak bisa bertanya kenapa kamu bisa terluka seperti ini?".


"Mmmmmm".


"Tapi aku penasaran Hendry?".


"Jangan penasaran Fia".

__ADS_1


"Tidak bisa Hendry. Aku sudah mencobanya tapi tetap saja tidak bisa. Aku yakin wajah mu seperti ini pasti ada sebabnya. Iya kan?".


__ADS_2