Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 12


__ADS_3

Kini Hendry, Abian, Dafa dan Chan berada di club tempat langganan mereka. "Yah, ini masih jam 3 sore. Kenapa kalian kemari?" tanya manager disana kepada mereka.


"Aku ingin menenangkan pikiran, bisakah kamu mengirim wanita cantik kemari?" ucap Hendry.


"Mereka sedang istirahat, jadi kalian tidak akan bisa bersenang-senang dengan mereka".


"Ck, panggil saja. Aku yakin mereka akan datang" ujar Hendry tidak perduli mereka sedang istirahat atau sedang apapun.


Lalu ia melihat Abian, "Yah, ada apa dengannya? tidak seperti biasanya dia seperti ini".


"Dia sedang ada masalah" jawab Abian menghela nafas.


"Masalah apa? disekolah lagi?".


"Mmmmmm".


"Ck, disekolah lagi di sekolah lagi. Kamu benar-benar bodoh, sebaiknya kalian pulang dari pada kalian nantinya menamba masalah. Hendry kamu pulang sana".


"Aahhh, tidak bisakah kamu menghibur ku? aku butuh mereka berada disini".


"Abian, kalian bawa dia pulang".


"Mmmmm" angguk mereka membawa Hendry pergi dari sana. "Hend, benar katanya. Kamu selesaikan dulu masalah mu baru kira datang kemari lagi. Tadi siang kami bertemu om Abbas, beliau tampak sangat marah".


Hendry menghela nafas, ia tau kalau Abbas pasti akan mengusirnya dari rumah. "Yah, kalau kalian tadi bertemu dengan ayah ku. Apa yang akan ia lakukan nanti terhadap ku?".


"Kita juga tidak tau Hend" jawab Abian.


.


Sepulang dari sana, Hendry langsung kembali pulang kerumah. Lalu ia melihat ketiga sahabatnya itu dengan senyum mengembang, "Sebaiknya kalian pulang. Aku baik-baik saja".


"Tapi Hend".


"Kalian pulanglah".


"Kalau gitu kami pulang, kalau terjadi apa-apa cepat beritahu kami".


"Mmmmmm" Angguk Hendry.


Mereka bertiga pun segera meninggalkan istana keluarga mapolo, kemudian Hendry memasuki rumahnya. Ia melihat kalau kedua orang tuanya sepertinya belum kembali pulang, namun ia malah salah, Abbas dan Dina telah berada disana dengan koper disamping Abbas.


"Pa ma" panggilnya.


"Hendry" tangis Dina di hadapan putranya itu.


"Ma, maaf" tunduk Hendry ikut sedih melihat ibu yang sangat ia cintai selama ini menangis dihadapannya. "Hendry minta maaf ma".

__ADS_1


"Sudah ma, anak kurang ajar seperti dia tidak usah ditangisi. Sekarang kamu pergi dari rumah ini, dan jangan pernah kembali sebelum kamu berubah" ucap Abbas memberikan koper Hendry di hadapannya.


"Pa, Hendry mau tinggal dimana pa kalau Hendry papa usir dari rumah ini? Papa mau lihat Hendry tidur di jalanan?".


"Jauh lebih bagus ma dia tidur di jalanan. Sekarang kamu pergi".


"Pa, tolong maafkan Hendry kali ini saja pa, Mama mohon" Isak Dina menggenggam kedua tangan Abbas.


"Tidak ada kata maaf untuknya lagi ma, sekarang kamu pergi dari rumah ini, jangan kembali sebelum kamu berubah".


"Kalau gitu Hendry pergi dulu pa ma" pamitnya meninggalkan mereka.


"Tidak, jangan pergi Hendry" teriak Dina mengejar putranya itu. "Sayang jangan pergi, jangan tinggalkan mama. Kalau kamu pergi kamu mau tinggal dimana?".


"Ma, jangan khawatir. Hendry masih punya teman, Hendry bisa tinggal di rumah mereka".


"Tidak sayang, kamu tidak boleh merepotkan teman-teman mu. Ini, kamu gunakan kartu mama, kamu harus tinggal di hotel dan jangan lupa beritahu mama kamu tinggal dimana. Dan juga kamu boleh membeli mobil baru supaya kamu bisa pergi sekolah dengan mobil, mama tau kamu tidak akan pernah bisa naik bus".


Hendry tersenyum, "Ma".


"Sayang, janji sama mama yah kalau kamu akan berubah. Buktikan sama papa kalau kamu anak yang baik. Mama mohon".


"Iya ma" angguk Hendry segera pergi dari hadapan Dina yang belum bisa melepaskan ia pergi. "Maafkan Hendry ma" ucapnya dalam hati.


.


Hendry pun langsung bergeser tampa melihat kearah orang yang sudah menyuruhnya bergeser. "Hay" Senyumnya.


Hendry meliriknya, "Ada apa?" tanyanya dengan datar.


"Waow.. Kamu tampan juga, kenalin nama ku Naura. Sepertinya kamu sedang mencari kontrakan, kalau kamu mau, dirumah ku sedang membutuhkan anak kos. Kamu boleh tinggal disana, bagaimana?".


"Tidak" tolak Hendry menggeleng.


"Kenapa? jaman sekarang sangat susah mencari rumah kontrakan dan juga kontrakan sekarang sangat mahal. Kamu masih belum mau?".


"Mmmmm".


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, selamat tinggal" perginya meninggalkan Hendry.


Kemudian Hendry mendengus, lalu ia mengeluarkan kartu kredit yang tadi Dina berikan kepadanya. "Apa sebaiknya aku menggunakan kartu ini?".


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT...


"Iya Chan" jawab Hendry.


"Kamu dimana? kamu baik-baik saja kan Hend?".

__ADS_1


"Mmmm.. Aku baik-baik saja".


"Syukurlah. Kami sangat mengkhawatirkan mu".


"Tapi aku di usir dari rumah Chan".


"Apa? jadi kamu dimana sekarang?".


"Di halte bus dekat mall xx".


"Kamu tunggu disana, aku akan segera kesana" ucapnya langsung bergegas keluar dari dalam kamar. Lalu ia memberitahu Dafa dan Abian kalau Hendry saat ini sedang berada di halte bus dekat mall xx.


Hendry tersenyum, ia benar-benar sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang perduli kepadanya.


Sesampainya Chan disana, ia melihat Hendry sedang duduk diatas kursi tunggu bersama dengan kopernya. "Hendry" panggilnya.


"Mmmmm" senyum Hendry. "Duduklah, aku punya jajanan untuk mu".


Chan menghela nafas, lalu ia duduk disamping Hendry sambil menerima jajanan yang baru saja Hendry berikan kepadanya. "Kalau kamu tidak punya tempat tujuan, kamu bisa tinggal di rumah ku. Papa dan mama ku pasti akan sangat senang".


"Tidak Chan, aku akan tinggal di hotel. Jangan khawatir".


"Benarkah kamu akan tinggal di hotel? aku tidak percaya. Kemarin kamu baru saja bilang kalau om Abbas menarik semua fasilitas kamu".


"Mmmmm.. Tapi ibu ku tidak ingin melihat ku menderita, dia memberikan kartu ini" jawab Hendry menunjukkan kartu kredit Dina.


"Wah.. Kamu benar-benar sangat beruntung memiliki ibu seperti tante Dina yang sangat sayang kepada mu " senang Chan memeluknya. Tidak lama kemudian, Abian dan Dafa tiba disana.


"Hendry" panggil mereka dengan wajah khawatir.


Hendry tertawa kecil, "Aku baik-baik saja. Hentikan ekspresi wajah itu".


"Apa yang terjadi? kenapa kamu berada disini?" tanya Dafa.


"Aku di usir dari rumah".


"Di usir? jadi kamu benar-benaran di usir dari rumah?" kaget Abian dan Dafa.


"Iya, aku di usir dari rumah. Tapi kalian berdua tidak usah khawatir, aku akan tinggal di hotel selama ayah ku membebaskan aku dari hukuman".


"Aahhh.. Akhirnya, aku pikir kamu akan tidur di jalanan" ucap Abian tertawa. "Ayo, kami akan memastikan kalau kamu benar-benar akan menginap di hotel".


Kemudian Dafa membawa koper Hendry masuk kedalam mobilnya. "Kamu naik mobil ku saja, biar mereka menyusul dari belakang".


"Mmmmm" angguk Hendry memasuki mobilnya Dafa. "Kita ke hotel bintang 5 yang berada di jalan xx".


"Ok" Dafa pun langsung menjalankan mobilnya menuju hotel yang baru saja Hendry ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2