
Dina tersenyum, "Sebelum nenek menjawab pertanyaan kamu. Fiandra mau enggak nenek ajak kerumah?".
Fiandra langsung menggeleng menolak tawaran Dina.
"Kenapa? Kamu tidak mau jalan-jalan kerumah nenek? Rumah nenek sangat bagus dan juga luas, kamu pasti sangat menyukainya".
Lagi-lagi Fiandra menolaknya.
"Maafkan aku nenek, tanpa izin ibuku aku tidak boleh kemana-mana".
"Benarkah tidak boleh? Kalau gitu, bagaimana kalau nenek meminta izin kepada ibumu. Apakah kamu akan mau?".
"Mmmmm, aku mau nenek".
"Baiklah kalau begitu, nenek akan meminta izin kepada ibu mu. Boleh kamu berikan nomor ponsel ibu mu?".
"Iya nenek, 0821705366xx".
Lalu Dina berkata kepadanya untuk menunggu sebentar menghubungi nomor ponsel Afia yang sedang sibuk bekerja hingga panggilan itu tersambung. Namun orang yang baru saja mengangkat panggilan tersebut bukanlah Afia, melainkan rekan kerjanya yang lain yaitu Fira.
"Hallo, ini dengan siapa?" tanya Fira.
Dina tersenyum senang mengenal suara itu bukanlah milik Afia, "Afia, ini ibu. Ibu mau membawa Fiandra jalan-jalan sebentar. Nanti ibu akan mengantarnya. Kamu tidak keberatan kan Fia? Kamu tidak usah khawatir, ibu akan menjaga Fiandra dengan baik".
Setelah itu Dina mematikan ponselnya, ia tersenyum kembali kepada Fiandra untuk mengajaknya pergi dari sana.
"Ayo sayang, nenek sudah mengizinkan kamu kepada ibu mu".
"Tapi nek. Apa nenek sudah yakin kalau itu ibu ku? Aku sangat takut sekali kalau ibu memarahi ku".
"Iya sayang, kamu tidak usah khawatir ok. Seseorang akan tersenyum senang begitu melihat mu nanti".
"Siapa nenek?" tanya Fiandra polos.
"Kamu akan tau begitu kamu tiba dirumah. Ayo".
Tanpa merasa curiga kalau Dina akan menyakitinya. Ia langsung mengangguk mengikuti Dina masuk ke dalam mobil mewah menuju istana rumah milik keluarga Mapolo.
20 menit perjalanan, Fiandra mulai merasa bosan, ditambah jalanan yang macet.
"Nenek kita mau kemana?".
"Kerumah sayang".
"Apa rumah nenek jauh?".
__ADS_1
"Tidak, sebentar lagi kita akan tiba".
Dan sekarang mereka telah tiba di istana rumah megah. Dina mengajak Fiandra keluar dari dalam mobil membuat ia seketika tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Nenek kita dimana? Kenapa kita berada disini? Rasanya aku seperti berada di dalam negeri dongeng".
Dina tertawa, "Ini rumah nenek Fiandra. Anggap saja rumah kamu juga. Ayo masuk".
"Tapi nenek, aku sangat takut sekali. Aku belum pernah masuk ke dalam rumah sebesar ini".
"Tidak usah khawatir. Kalau kamu tidak masuk, kamu tidak akan tau bagaimana di dalam sana. Sekarang ayo pegang tangan nenek".
Masih dengan perasaan takut, Fiandra segera menyambar jemari tangan Dina mengikuti setiap langkah kakinya masuk ke dalam istana megah tersebut. Dan begitu mereka tiba di dalam, masih dengan keadaan takut. Fiandra kemudian melihat seorang pria yang sudah terbilang tua duduk diatas sofa seorang diri sambil membaca koran tanpa seorang pun yang menemani.
"Kakek itu siapa nenek?" tanyanya.
Dina semakin membawa Fiandra mendekat kepadanya. Lalu Fiandra mendengar Dina berkata, "Papa, lihat siapa yang mama bawa".
Abbas pun langsung melihat mereka berdua, "Siapa ma?" tanyanya.
Dina semakin mendekatkan Fiandra kepada Abbas. "Ayo papa lihat dia semakin dekat. Bukankah dia sangat mirip sekali kepada Hendry? Dia anaknya Afia pa".
Deng!
Abbas terkejut, ia memperhatikan setiap lekukan wajah Fiandra benar-benar sangat mirip sekali dengan putra mereka. Lalu Abbas mencoba menyentuh wajah Fiandra dengan lembut, "Siapa nama mu?".
"Lalu kakek dan nenek ini siapa? Kenapa kalian memperlakukan aku seperti kakek dan nenek mengenal ku? Sedangkan aku tidak mengenal kalian siapa".
"Ma, suruh pulang Hendry sekarang juga. Dia harus melihat anak kecil ini" ucap Abbas kepada istrinya itu tampan menjawab pertanyaan Fiandra.
"Iya pa".
Tidak berlama-lama lagi, Dina segera menghubungi nomor sang anak langsung diangkat oleh Hendry. "Pulang sekarang juga Hendry".
Hendry bingung, "Ada apa ma? Kenapa mama tiba-tiba menyuruh ku pulang?" tanyanya.
"Jangan banyak bertanya Hendry. Mama bilang sekarang juga kamu harus pulang. Mama tunggu 20 menit, kamu harus sudah tiba dirumah".
Dina lalu mematikan ponselnya, sedangkan Hendry dibuat kebingungan ada apa dengan ibunya yang tiba-tiba menyuruhnya pulang tanpa ia tahu alasannya. Namun mendengar dari suara Dina, ia terpaksa mengiyakan perkataan itu. Ia pun keluar dari dalam ruangannya menyuruh sang sekretaris yang mengurus semuanya.
Hingga kini ia telah tiba, ia pun segera masuk ke dalam rumah melihat kedua orang tuanya berada di ruang keluarga bersama dengan seorang anak kecil.
Merasa ada sesuatu yang janggal, Hendry pun memanggil mereka. "Ada apa ini?".
Ketiga orang itu langsung melihat kepadanya, saat itu juga Hendry dibuat terkejut kehadiran Fiandra yang tiba-tiba berada disana.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Hendry kembali.
Sepasang suami istri itu tersenyum, "Kemarilah Hendry. Kamu duduk dulu, kita kedatangan...
"Kenapa kalian membawanya kemari?" Hendry meninggikan suaranya membuat Dina dan Abbas merasa heran kepadanya.
"Ada apa Hendry? Kenapa kamu...
"Nenek, aku mengenal paman ini" ucap Fiandra memotong perkataan Dina tersenyum melihat Hendry yang kesal.
"Apa?" Dina terkejut. "Bagaimana bisa kamu mengenalnya?".
"Iya, kemarin aku bertemu dengan paman ini dirumah sakit. Dia berkata kepada ku kalau aku boleh memanggilnya ayah. Ternyata nenek dan kakek orang tuan paman ini. Wah paman, paman sangat beruntung sekali. Paman sangat kaya".
Hendry menarik nafas, lalu ia menarik Fiandra dari tengah-tengah Abbas dan Dina.
"Tolong jangan ikut campur, biarkan ini menjadi urusan ku".
Fiandra yang polos di buat bingung oleh mereka, setelah itu Hendry pergi membawa Fiandra meninggalkan istana megah itu.
.
Sekarang di dalam mobil keduanya diam, Fiandra mencoba melirik Hendry yang masih terlihat kesal membuat ia semakin merasa penasaran.
"Katakan dimana sekolah mu Fiandra" ucap Hendry.
Fiandra terdiam hingga akhirnya Hendry melihat kepadanya.
"Maaf jika aku menyakiti perasaan mu".
Anak kecil itu tersenyum, "Paman kalau marah sama seperti ibu ku hehehehe... Tidak apa-apa paman, paman bisa menurunkan aku disini. Sekolah sudah dekat, aku bisa jalan kaki paman".
"Tidak, ayah akan mengantar mu sampai sekolah".
Mendengar Hendry berkata ayah membuat Fiandra semakin tersenyum lebar, "Paman, hari ini aku sangat bahagia sekali. Aku sangat menyukai rumah paman. Paman sangat beruntung sekali bisa hidup dirumah sebesar itu. Tadi aku pikir, kalau aku berada di negeri dongeng begitu nenek membawa ku kesana".
Hendry melihatnya lagi, "Lain kali kalau ibu ku mengajak mu kerumah itu lagi kamu harus janji kepada ayah kalau kamu tidak akan mau. Kamu harus menolaknya apapun yang terjadi".
Bingung, "Kenapa paman?".
"Jangan panggil paman, kamu panggil ayah saja".
"Ayah? Apa aku pantas memanggil ayah paman? Aku sangat....
"Kamu harus memanggil ku ayah".
__ADS_1
"Baiklah kalau seperti itu, mulai hari ini aku akan memanggil paman sebutan ayah".
"Bagus".