Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 68


__ADS_3

"Ada apa ini? Freya? Kamu kapan kemari sayang?" Dina yang awalnya marah kini ia tersenyum kepada Freya yang berdiri di hadapannya.


"Iya Tante. Maaf kalau aku tidak memberitahu Tante aku datang kemari".


"Iya sayang tidak apa-apa. Tante senang kamu datang kemari. Terus kamu datang kemari sama siapa sayang?".


"Sendiri Tante. Aku bosan disana terus, karna itu aku datang kemari ditambah aku sangat merindukan Hendry. Dia dimana Tante?".


Dina tersenyum kembali, lalu melihat Afia yang masih berdiri disana yang sedang menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.


"Oh iya Tante. Wanita ini siapa? Tadi dia mengaku-ngaku kepada ku kalau dia istrinya Hendry Tante dan berkata kalau bayi yang dia kandung adakah anak Hendry. Apa itu benar Tante?".


"Apa?" tanya balik Dina pura-pura terkejut.


"Iya Tante. Karna itu aku marah kepadanya".


Dina menghela nafas, ia kemudian menyuruh Afia pergi dari sana. Tanpa melawan ataupun memberitahu kebenaran yang sebenarnya kepada Freya, Afia pun langsung pergi meninggalkan keduanya.


"Ayo sayang" ajak Dina membawa Freya duduk di atas sofa. "Apa tadi dia menyakiti perasaan mu?".


"Iya Tante. Aku marah saat wanita itu mengatakan Hendry ayah dari bayi yang ia kandung. Tolong jawab aku jujur Tante, itu enggak benar kan?".


"Iya sayang itu tidak benar. Kamu tidak usah memikirkan apa yang wanita itu ucapakan".


"Lalu siapa dia Tante? Kenapa dia bisa berada di rumah ini?".


Dina langsung berpikir jawaban apa yang harus ia berikan kepada Freya supaya ia percaya.


"Begini sayang, dia putri dari sahabat tante. Dia itu sedang mengalami trauma setelah kedua orang tuanya bersama dengan suaminya mengalami kecelakaan. Makanya dia berada di rumah ini, karna itu kamu tidak usah memperdulikan apa yang ia katakan".


"Terus kenapa dia mengakui Hendry ayah dari bayinya".


"Karna dia belum bisa mempercayai kalau suaminya sudah meninggal dunia".


"Benarkah Tante?".


"Iya sayang".


"Oh begitu, syukurlah. Lalu dimana Hendry Tante? Aku sangat merindukan dia. Tadi aku sudah memasuki kamarnya, namun aku tidak menemukan Hendry disana".


Dina menghela nafas, ia menunjukan wajah kesedihannya kepada Freya langsung memberitahu kalau Hendry berada di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.


Freya yang mendengar terkejut, ia tidak menyangka kalau Hendry bakalan keluar negeri melanjutkan pendidikannya. Lalu Dina bertanya apa Hendry tidak memberitahunya dijawab oleh Freya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


Setelah itu Freya berkata kepada Dina, "Kalau gitu Tante, aku juga mau kuliah di luar negeri. Beritahu aku Tante dimana Hendry kuliah?".


"Loh, bukannya kamu juga kuliah di Prancis sayang? Mama kamu kemarin memberitahu Tante".


"Iya Tante. Tapi setelah kupikir-pikir aku mau kuliah bersama dengan Hendry. Karna itu aku melarikan diri meninggalkan Prancis datang ke Indonesia. Dan ternyata aku malah tidak bisa bertemu dengannya".


Freya menunjukkan wajah kesedihan.


"Ya sudah kalau gitu, kamu susul saja Hendry ke Amerika. Nanti biar Tante yang bicara sama dia".


Kedua mata Freya yang berbinar-binar, "Benarkah Tante?" tanyanya bersemangat.


"Iya sayang".


"Wah, terima kasih banyak ya Tante. Aku mencintai Tante".


.


Di dalam kamar, Afia duduk termenung di depan cermin dengan tatapan kosong. Tanpa ia sadari, air mata yang tadinya ia tahan kini mengalir di pipi mulusnya.


Ceklek!


"Kamu" panggil Dina memasuki kamarnya.


Afia lalu melihat ke ambang pintu, air mata yang tadinya ia biarkan mengalir di kedua pipinya langsung Afia hapus supaya Dina tak melihatnya.


PPPLLLAAKKK..


Dan lagi-lagi ia mendapatkan tamparan tersebut, "Kamu yah. Berani-beraninya kamu mengatakan kalau bayi itu anak Hendry kepada Freya. Kamu sudah bosan tinggal dirumah ini Haaahhh? Kamu sudah bosan?".


Dina meninggikan suaranya, Afia merasa sangat ketakutan ditambah kedua tangannya bergetar bersamaan dengan tubuhnya.


"Awas kamu yah, sekali lagi kamu mengakui Hendry ayah dari bayi itu. Saya tidak akan segan-segan membuat hidup menderita, karna kami sebagai orang tua Hendry tidak sudih memiliki menantu seperti mu. Ingat itu!".


Dina lalu pergi meninggalkan kamar Afia.


Kemudian Afia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dingin, air mata itu kembali mengalir di kedua pipinya.


"Ya Tuhan, hukuman apa ini semua? Kenapa aku harus seperti ini Tuhan hiks..hiks.. Kenapa aku harus menerima ini semua Tuhan hiks.. hiks.. ".


_


_

__ADS_1


Naura telah membayar semua hutang-hutangnya yang tertinggal di kampus, kini ia pergi meninggalkan kampus mencari keberadaan Darius bersama dengan istri barunya. Dengan bersusah payah ia mencari, Naura tak henti-hentinya sebelum ia berhasil.


"Hhhmmss.. Aku sangat lelah sekali".


Naura mendudukkan diri diatas kursi yang berada di halte. Ia melihat jam telah menunjukkan pukul 3 sore, namun tidak sampai disana, apapun yang terjadi ia harus menemukannya. Setelah hampir 20 menit lamanya istirahat, Naura pun kembali melangkahkan kedua langkah kakinya sambil bertanya kepada orang yang berlalu lalang dari hadapannya apakah mereka pernah bertemu dengan orang tersebut yaitu Darius.


Tetapi tak satupun orang diantara mereka yang mengenalnya.


Naura kembali lelah, ia sudah berputar-putar sana kemari tapi tidak menemukannya juga. Lalu ia melihat seorang wanita tua sedang berjualan buah di pinggir jalan, Naura kemudian menghampirinya.


"Kamu mau membeli buah ku?" tanya si wanita tua itu tersenyum ramah.


"Tidak" jawab Naura. "Aku hanya ingin bertanya, apakah nenek mengenal pria yang ada di foto ini?".


Si wanita tua itu terdiam melihat Naura.


"Kenapa? Nenek mengenalnya?" si wanita itu bukannya menjawab pertanyaan Naura, ia malah balik bertanya apakah Naura mengenalnya dan alasan apa Naura mencari dia langsung di jawab oleh Naura. "Dia ayah yang sudah aku buang. Tapi karna dia sudah mencuri uang ibuku, makanya aku mencari dia. Sekarang katakan, nenek mengenal pria ini?".


"Iya, aku mengenalnya".


"Benarkah?".


"Iya, dia tetangga dirumah ku".


"Terima kasih. Lalu dimana nenek tinggal? Aku akan kesana sekarang juga".


"Tunggu!".


"Kenapa?".


"Dengan satu syarat, maka aku akan membawa mu kesana".


"Apa? Syarat?".


"Iya dengan satu syarat. Duduklah disini, kalau kamu berhasil menjual buah ini semua, maka aku akan membawa mu kesana".


"Apa?" Naura kesal, ia membentak wanita tua itu yang malah tertawa sambil berkata kalau ia tidak mau menjual buah tersebut sampai habis wanita tua itu tidak akan memberitahu dimana keberadaan Darius kepadanya. Hingga akhirnya, Naura pun mengalah dang mengiyakan perkataannya.


Sambil menunggu si pembeli, Naura mengeluarkan ponselnya dari dalam saku untuk bermain games.


"Kalau kamu tidak memanggil mereka, buah ini tidak akan terjual".


Naura menghentikan tangannya, ia melihat si wanita tua itu malah mengangkat kedua bahunya sambil berkata dalam hati. "Aaiiss, kenapa wanita tua ini sangat menyebalkan sekali? Kalau bukan karna dia mengetahui dimana pria bajingan itu berada aku tidak akan pernah sudih berada disini".

__ADS_1


Naura pun langsung memanggil mereka yang berlalu lalang dari hadapannya tanpa merasa malu sedikit pun membuat si wanita tua itu tersenyum senang melihat mereka para pelanggan satu persatu membeli dagangannya.


"Bagus👍".


__ADS_2