Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 79


__ADS_3

Begitu Fiandra pergi meninggalkan Hendry, ia melihat Afia terbaring lemas di atas bed rumah sakit ditemani bersama dengan Fira dan Andre.


"Ibu" panggilannya.


Afia tersenyum, "Sini sayang, maafkan ibu membuat mu harus datang kemari".


"Tidak apa-apa ibu" dengan sayang Fiandra memeluk Afia. "Apa ibu sudah merasa baikan? Aku sangat mengkhawatirkan ibu".


"Mmmm, ibu sudah merasa baikan sayang".


"Syukurlah" kemudian Fiandra melihat kepada Andre dan Fira secara bergantian. "Siapa paman ini ibu?".


Dengan senyum mengembang di wajah Andre, ia langsung mengulurkan tangannya di hadapan Fiandra. "Andre, kamu panggil saja paman dengan sebutan itu Fiandra".


"Oh, iya paman Andre" angguk Fiandra tersenyum senang. "Terus ibu, apa ibu akan pulang hari ini?".


"Iya sayang, dokter juga tadi sudah mengatakan kalau ibu nanti sore bisa pulang".


"Kalau gitu, karna ada pak Andre dan Fiandra yang menemani mu disini Fia. Sebaiknya aku pulang saja yah" ujar Fira menyambar tasnya melihat ketiga orang itu.


"Lalu pak Andre enggak pulang? Tidak apa-apa pak. Ada putri ku yang menemani disini. Pekerjaan bapak juga sepertinya di kantor sangat banyak".


"Iya paman, jangan khawatir" sambung Fiandra hingga akhirnya Andre mengangguk. Setelah itu keduanya pun langsung pergi meninggalkan mereka. "Ibu!" panggil Fiandra.


"Iya sayang".


"Tadi aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan. Di tinggi dan berpakaian rapi Bu".


"Terus?".


"Kalau aku menceritakan ini sama ibu. Ibu harus berjanji tidak akan marah yah?".


"Iya sayang, ayo cerita sama ibu".


Fiandra langsung mengeluarkan ponsel yang tadi Hendry berikan kepadanya di tangan Afia. Kemudian Afia membulatkan kedua mata tidak percaya dengan benda yang baru saja Fiandra berikan itu kepadanya adalah sebuah ponsel mahal keluaran terbaru.


"I-ini apa Fiandra? Kamu enggak mencuri kan? Ayo jawab ibu".


"Fiandra tidak mencuri bu. Pria yang aku bicarakan itu yang memberikan ponsel ini kepada ku Bu. Aku tidak bohong Bu, aku tidak berbohong" jawab Fiandra sedih. "Aku mengatakan yang sebenarnya Bu. Aku benar-benar tidak berbohong".


Afia menghela nafas, ia melihat ponsel itu dengan wajah marah. "Sekarang katakan sama ibu Fiandra. Siapa orang yang sudah memberikan ponsel ini? Ibu akan mengembalikan kepadanya lagi".


Fiandra menundukkan kepala, "Maafin aku bu. Aku tidak tau siapa paman itu".


"Astaga Fiandra. Bagaimana bisa kamu menerima barang semewah ini dari orang yang tidak kamu kenal? Kamu mau kalau orang itu adalah penjahat?".


Fiandra menggeleng kepala sampai berulang kali lamanya, "Tolong maafkan Fiandra Bu. Aku tau aku salah, dan kejadian ini Fiandra janji tidak akan mengulanginya lagi".

__ADS_1


"Astaga Fiandra" Afia mengusap wajahnya sampai berulang kali. "Bukan apa-apa sayang, bagaimana kalau orang itu memang sengaja mau menculik kamu. Terus apa yang akan terjadi kepada ibu haahh?".


"Maafkan Fiandra Bu, Fiandra janji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi".


"Ya Tuhan... Kamu janji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi??".


"Iya Bu, Fiandra janji".


"Ya sudah kalau gitu. Lain kali kamu jangan pernah mau dia ajak orang yang tidak kamu kenal mengobrolkan hal yang tidak penting atau menerima barang semewah ini. Kali ini ibu maafkan kamu Fiandra, tapi tidak untuk yang kedua kalinya".


"Iya, Fiandra janji".


"Benar?".


"Iya Bu, Fiandra tidak akan pernah ingkar janji".


"Ya sudah, sekarang sini peluk ibu".


Keduanya pun berpelukan.


.


Di kantor, Hendry mendudukkan diri diatas kursi sofa dengan kepala pusing.



"Ternyata Afia melahirkan seorang putri. Tapi kenapa kamu harus melakukan ini kepada ku Fia? Kenapa kamu harus melakukan ini kepada ku".


Ceklek!


"Benar, ternyata kamu sudah kembali. Kamu habis dari mana Hend?" Freya berjalan mendekati Hendry. "Kenapa kamu tiba-tiba pergi menghilang begitu saja?".


"Tidak apa-apa Eya. Aku hanya ada urusan sebentar".


"Sebentar?".


DDDRREETTTT.... DDDDRRRTTT...


"Mmmmm" jawab Hendry mengeluarkan ponselnya dari dalam saku melihat siapa orang yang sedang menghubunginya itu. Begitu Hendry tau, ia langsung tersenyum menggeser tombol hijau. "Abian, kamu sudah tiba di Indonesia?" tanya Hendry to the poin.


"Iya bro, kita bertiga baru tiba di bandara. Dimana posisi mu sekarang ini? Kamu sedang sibuk? Seperti biasa, kamu mengerti maksud ku kan?".


"Baiklah, aku akan segera kesana".


Hendry mematikan ponsel melirik Freya yang berada di sebelahnya. "Kamu mau kemana Hendry?".


"Aku mau pergi menemui...

__ADS_1


"Teman-teman mu itu?" potong Freya.


"Mmmmm".


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu? Sebentar lagi akan ada meeting".


Tidak perduli, Hendry tetap pergi dari sana meninggalkan Freya menuju lokasi selama ini mereka selalu bersama. Dan setibanya Hendry di sana, ketiga orang itu pun tersenyum melihat akhirnya mereka bisa bersama kembali.


"Bro, apa kabar mu selama ini hahaha?" Abian memeluk tubuh Hendry sacara bergantian bersama dengan Chan dan Dafa.


"Kamu terlihat semakin tampan saja Hendry" sambung Dafa.


"Kalian bisa saja" ujar Hendry. "Sebaiknya kita masuk saja".


Sepertinya biasa, si pelayan yang masih mengenal wajah keempat orang itu. Mereka pun langsung di bawa ke dalam ruangan VIP yang biasa mereka gunakan dan tidak lupa juga, wanita-wanita cantik yang akan menemani mereka disana.


"Selamat bro, aku dengar kamu menjabat sebagai direktur komisaris di perusahaan group Mapolo" ucap Chan menepuk bahu Hendry. "Lalu bagaimana dengan dia?".


Mengerti maksud dari perkataan Chan, Hendry meneguk segelas bir alkoholnya. "Dia melahirkan seorang putri yang sangat cantik" jawab Hendry tersenyum.


"Bagaimana bisa kamu tau? Kamu bertemu dengan putrinya".


Hendry lalu menatap Chan, "Mmmm, tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit. Dia sangat pintar sama seperti ku, dan dia juga mirip dengan ku hahaha... Saat itu juga aku langsung memeluknya dan memberikan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan. Yaitu sebagai seorang anak".


"Dan kamu tau Chan? anak itu sama sekali tidak merasa takut kepada ku. Dia benar-benar sangat mirip sekali dengan ku".


"Terus, bagaimana dengan ibunya Hend?".


Hendry terdiam.


"Kamu belum menemuinya?".


Hendry menggeleng.


"Ada baiknya kamu bertemu dengannya. Jika benar selama ini dia selingkuh di belakang mu. Kamu perlu tau alasan yang sebenarnya".


Hendry menarik nafas panjang, ia melihat kedua orang yang berada di hadapannya itu asik bersenang-senang bersama dengan wanita itu.


"Aku juga tidak tau Chan. Entah kenapa aku tidak bisa menanyakan hal itu kepadanya. Ditambah, kenapa harus di saat Afia mengandung anak ku dia harus tega melakukan ini kepada ku?".


Chan terdiam, "Tapi kalau di pikir-pikir, aku tidak percaya kalau Afia melakukan ini kepada mu".


Bingung, "Maksud mu?".


"Mmmmm, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aku tidak bisa yakin kalau Afia melakukan ini kepada mu. Aku bisa bertanggung jawab, kalau Afia begitu sangat mencintai mu dan tidak akan pernah tergoda dengan pria lain hanya karna kebutuhan dagingnya tidak terpenuhi. Kenapa kamu tidak mencari tahunya dulu Hend?".


Terdiam, Hendry kemudian mengangkat gelas alkoholnya sambil memikirkan sebenarnya apa yang terjadi kepadanya dan Afia.

__ADS_1


"Pria itu petugas keamanan dirumah kami Chan".


Deng!


__ADS_2