
Kemudian Hendry membawa Afia masuk ke dalam kamarnya
"Ini kamar aku Fia" ucap Hendry membantu Afia duduk diatas sofa. "Kamu terlihat kenyang sekali sampai kamu kelelahan. Kamu mau mandi dulu?".
"Beruntung sekali kamu Hendry bisa dilahirkan dari keluarga sekaya ini. Aku sangat iri".
"Kenapa harus iri Fia?" tanya Hendry menyentuh kedua pipinya. "Mulai dari sekarang, ini semua juga milik kami sayang".
Afia tertawa, "Kamu ada-ada saja Hendry. Aku tidak akan meminta apa-apa, aku hanya ingin dicintai oleh mu dan selalu di cintai sampai tua nanti. Bisakah kamu berjanji kepada ku Hendry?".
"Tentu saja aku akan selalu mencintai mu sayang. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintai mu".
"Benarkah?".
"Iya sayang".
"Terima kasih Hendry. Kalau gitu aku mandi dulu, kamu bisakan menyusun barang ini semua di tempatnya?".
"Iya, mandilah duluan".
"Mmmmmm".
Afia lalu memasuki kamar mandi Hendry, sedangkan Hendry menyusun semua barang bawaan mereka di dalam lemari miliknya. Setelah selesai, ia melihat semua pakaian mereka telah tersusun rapi dan Afia segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Sudah Fia?" tanya Hendry.
"Iya sudah, kamu juga mandilah. Airnya sangat segar sekali dan kamar mandi mu... Aku sangat menyukainya Hendry hehehhehe".
"Baguslah kalau kamu menyukainya sayang" Hendry berjalan mendekati dirinya, ia lalu mencium keningnya dengan sayang. "Kamu boleh istirahat duluan kalau kamu merasa ngantuk".
"Mmmm, masuklah".
Begitu Hendry memasuki kamar mandi, Afia kemudian menaiki tempat tidur yang begitu sangat empuk sehingga membuat ia berulang kali menggoyang-goyang tubuhnya.
"Astaga! Rasanya sangat senang sekali" Afia membaringkan tubuhnya. Ia lalu menatap keatas langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang sedang ibunya lakukan. "Apa ibu sudah tidur? Aku merindukan ibu".
Ceklek!
"Hendry!" panggilnya.
"Iya Fia kenapa?" Hendry berjalan mendekati dirinya. "Kenapa hhhmmm? Kamu belum mengantuk?".
"Belum Hendry, aku belum mengantuk".
"Terus apa yang sedang kamu pikirkan? Aku tau kalau kamu sedang memikirkan sesuatu".
"Tidak Hendry. Aku hanya menembak saja tadi apa yang sedang ibu lakukan? Apa ibu sudah tidur apa belum. Hanya itu saja".
__ADS_1
"Oh, aku pikir entah apa. Sebaiknya kamu hubungi saja kalau kamu merindukan ibu mu, aku rasa Tante Kirana belum tidur".
Afia melihat tasnya, ia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. "Tapi apa mungkin ibu belum tidur Hendry? Ini sudah jam 10 malam".
"Coba saja dulu Fia" jawab Hendry mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Iyayah, sebaiknya aku coba saja".
Hendry pun membuka pintu tersebut, ia melihat si pelayan membawakan dua gelas susu hangat dan juga beberapa cemilan buah diatas nampan.
"Ini pesanan nyonya tuan. Jangan lupa di habiskan".
"Iya Bi, terima kasih".
"Sama-sama tuan".
Hendry membawanya masuk, ia melihat Afia melihat dirinya dengan sorot mata tanda tanya.
"Mama selalu menyuruh mereka membuatkan susu untuk ku sebelum tidur. Kemarilah, kamu juga harus minum susu ini Fia".
Afia tersenyum senang, "Wah, ibu kamu kenapa baik sekali Hendry? Aku menyukainya" ia menerima susu tersebut dari genggaman tangan Hendry dan segera meminumnya tanpa sedikitpun tersisa. "Mmmm, rasanya sangat enak sekali Hendry tidak seperti yang selama ini aku minum".
"Hahahaha.. Benarkah sayang?".
"Iya Hendry, ini sangat enak sekali. Aku suka".
"Hey, kamu seperti tidak mengenal ku saja Hendry. Sekarang apa boleh aku memakan buah itu?".
"Makam saja, itu memang untuk mu".
"Hehehehe.. Terima kasih Hendry".
.
Pagi harinya Afia membuka mata, ia melihat Hendry masih terlelap dalam tidurnya membuat Afia dengan pelan menuruni tempat tidur tanpa sedikitpun membuat Hendry merasa terganggu. Afia lalu memasuki kamar mandi. Tidak lama, ia pun keluar dari dalam sana melihat Hendry yang masih terlelap sembari melihat kearah jam telah menunjukkan pukul 7: 20 menit.
"Dari pada di kamar saja tidak melakukan apa-apa, sebaiknya aku turun membantu mereka mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan" Afia keluar dari dalam kamar. Ia berjalan menuruni anak tangga melihat beberapa pelayan itu tengah sibuk membersihkan istana rumah milik keluarga Mapolo.
Kemudian Afia menghampiri mereka dengan senyum ramah. "Hallo, selamat pagi" namun tak satupun diantara mereka yang membalas sapaan Afia, mereka malah pergi meninggalkan dirinya membuat Afia bingung ada apa dengan mereka.
Lalu ia melihat Dina berjalan di ujung sana, Afia yang merasa kalau Dina adakah ibu yang baik seperti yang ia lihat. Ia langsung berlari kecil kearahnya dengan senyum manis seperti yang tadi ia tunjukkan kepada para pelayan itu.
"Selamat pagi Tante. Apa tidur Tante...
"Hendry dimana?" potong Dina dengan wajah datar.
"Hendry masih tidur Tante. Apa perlu aku membangunkan dia? Aku rasa Hendry sudah bangun".
"Tidak usah" jawab Dina pergi meninggalkannya. Dan lagi-lagi Afia dibuat kebingungan melihat orang disana, ia merasa kalau Dina bersikap dingin kepadanya, dan ia tidak tau penyebabnya apa. Padahal kemarin, ia melihat Dina begitu sangat ramah kepadanya, tapi entak kenapa pagi ini Dini sangat tidak ramah.
__ADS_1
Setelah itu ia melihat Abbas, dengan senyuman yang masih Afia tunjukkan ia tersenyum ramah. "Selamat pagi tuan akh om" ucapnya.
Abbas tersenyum, "Pagi juga.. Oh iya siapa nama mu? Aku melupakannya".
"Afia om. Panggil saja Fia" jawab Afia dengan senangnya.
"Oh iya Afia. Aku bisa minta tolong?".
"Iya om apa itu?".
"Kamu tolong bilangin sama mereka untuk membuatkan teh untuk ku. Hendry sudah bangun?".
"Hendry belum bangun om saat aku turun. Tapi kalau om ya mau Hendry dibangunin aku akan membangunkannya".
"Tidak usah" Jawab Abbas melihat si pelayan membawakan segelas kopi panas untuknya. "Mereka sudah mengantarnya, kamu juga mau minum teh?".
"Hahahaha.. Tidak usah om. Kalau gitu aku kebelakang dulu ya om".
"Iya" angguk Abbas.
Afia kemudian mengikuti langkah kaki si pelayan tersebut menuju dapur. "Tuan Abbas tidak ada berubahnya. Beliau meskipun terlihat sangat tegas, tapi beliau sangat baik. Aku menyukainya, aku benar-benar sangat menyukainya".
Di belakang.
"Kamu!" panggil Dina.
"Iya Tante?" Afia berjalan mendekati Dina. "Ada yang bisa aku bantu Tante?".
"Kamu ikut aku belakang".
"Ya".
Begitu mereka berada di halaman belakang rumah, Dini menunjuk kearah beberapa pelayan itu sedang membersihkan taman dan juga menyiram. "Kamu lihat mereka?".
"Iya Tante?".
"Kamu bantu mereka sekarang juga. Kamu enggak ada kerjaan kan?".
"Iya Tante".
"Bagus. Sana pergi bantu".
"Iya Tante".
Afia berjalan mendekati mereka, ia tersenyum meminta kepada salah satu pelayan itu untuk membantu dirinya membersihkan taman itu juga. Dan begitu si pelayan itu memberikan sebuah gunting ditangan Afia, ia tertawa kecil sambil berkata kalau dirinya tidak tau cara menggunakan gunting tersebut.
"Gimana sih? Bukannya nyonya Dina tadi menyuruh kamu ikut membantu kami?".
"Iya, tapi aku tidak tau cara menggunakan ini kak. Aku takut kalau aku malah merusaknya. Aku bagian membuang sampahnya saja yah? Enggak apa-apa kan kak? Maaf" jawab Afia melihat si pelayan itu kesal.
__ADS_1