
Kemudian Darius tertawa, ia melihat istri dan ibunya yang sedang terlihat kebingungan apakah perkataan Darius lebih benar atau Naura. Lalu ia pergi meninggalkan mereka, ia sedikit berlari menghampiri Naura yang sudah jauh dari sana. Begitu ia melihat Naura, ia pun langsung memanggil namanya sambil berkata berhenti disana.
Naura tersenyum sinis, ia menghentikan kedua langkah kakinya melihat Darius berlari kearahnya. "Kenapa? Kamu takut hhhmmm?".
Darius mengusap wajahnya, ia melihat Naura dari atas sampai bawah. "Naura" panggilnya. "Apa yang membuat mu seperti ini? Ayah mencintai mu begitu juga dengan Afia. Tapi kalian berdua tega memperlakukan ayah seperti ini?" Darius pura-pura terlihat sedih. Tapi sayangnya, Naura sama sekali tidak terpengaruh olehnya, Naura malah tertawa sinis kepadanya sampai berulang kali.
"Aku tidak peduli, ayah yang dulu aku kenal bukan ayah ku lagi. Dan lagian sejak kapan ayah memperlakukan kami berdua dengan baik? Ayah atau kamu sama sekali tidak pernah peduli kepada kami".
"Apa?".
"Apa aku salah? Tidak, aku sama sekali tidak salah mengatakan hal itu. Kenapa? Itu semua karna kamu tidak pernah mencintai ibu sama seperti kamu mencintai wanita itu. Dan kamu tidak pernah memperlakukan kami dengan baik, kamu itu hanya menumpang hidup dan menghambur-hamburkan uang hasil jerih payah ibu. Aku sangat bersyukur sekali".
"Naura!" Darius terlihat sangat marah.
"Aku tidak peduli mau kamu marah, sekarang kembalikan dompet ibu. Harusnya kamu itu malu dan tau diri setelah apa yang kamu lakukan terhadap ibu. Tapi kamu malah, astaga ya Tuhan".
Darius tertawa renyah, ia lalu mengeluarkan dompet Kirana dari dalam sakunya. "Ini, katakan kepada ibu mu kalau aku tidak akan pernah memaafkan dia setelah apa yang di lakukan kepada kalian berdua sehingga kamu dan Afia begitu sangat membenciku".
"Terima kasih. Kamu layak untuk di benci. Dan satu lagi, aku harap kita tidak akan pernah bertemu atau kalau kita bertemu anggap saja kita tidak saling mengenal" Naura pun langsung pergi meninggalkannya.
Darius kemudian menghela nafas berat, ia melihat punggung Naura telah menjauh dari hadapannya, meskipun ia tidak terlalu mencintai kedua putrinya. Tetapi ketika mereka memperlakukan dia seperti ini, ia merasa sakit dan rasanya ia ingin menegur kedua putrinya untuk menghormati dirinya. Namun mengingat apa yang sudah ia lakukan terhadap mereka, Darius hanya bisa pasrah.
Hingga kini Naura telah tiba dirumahnya, ia melihat Kirana sedang duduk di teras rumah bersama dengan ibu tetangga sebelah rumahnya.
"Ibu, aku pulang" ucap Naura memberikan salam.
Kirana tersenyum, ia melihat dompetnya berada di genggaman Naura.
"Kamu pasti sudah menemui ayah mu" ucap Kirana menebaknya.
"Mmmmm, aku sudah bertemu dengannya Bu. Ini dompet ibu, lain kali ibu harus hati-hati kepada pria itu".
__ADS_1
"Terima kasih Naura".
"Kalau gitu aku masuk kamar dulu, hari ini aku sangat leleh sekali".
"Iya Masuklah, ibu sudah menyiapkan makan malam untuk mu".
Naura lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah, kemudian Kirana melihat tetangganya itu lagi sambil membuka dompetnya yang masih berisikan beberapa lembar uang, namun tidak sebanyak yang kemarin di karenakan Darius yang sudah memakainya sebagai.
"Bagaimana? Kamu sudah memiliki uang itu Kirana?".
"Iya, aku sudah memilikinya. Ini, terima kasih sudah memberikan aku pinjaman".
"Iya sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu".
Setelah itu Kirana masuk ke dalam rumahnya, ia melihat Naura sedang menikmati makan malamnya seorang diri. lalu Kirana menghampirinya dengan senyum di wajahnya.
"Ibu meminjam uang lagi kepadanya?" tanya Naura.
"Ceritanya panjang Bu" jawab Naura melihat Kirana duduk di hadapannya. "Lain kali kalau pria itu datang kemari, ibu jangan pernah menerimanya. Kalau bisa ibu langsung mengunci pintu. Aku sangat membencinya".
"Iya".
"Terus ibu sudah makan?".
"Belum, ini ibu mau makan malam bersama dengan mu".
_
_
Di kediaman keluarga Mapolo, Abbas, Dina bersama dengan Freya sedang menikmati makan malam. Mereka terlihat sangat bahagia, sedangkan Afia yang berada di kejauhan melihat keluarga tersebut dengan tatapan wajah sedih karena ia tidak bisa berada disana mengingat ia yang bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Afia lalu menyentuh perutnya yang membuncit, ia merasa lapar, namun keluarga itu belum selesai makan malam ditambah pelayan dirumah itu juga belum ada yang makan malam di karenakan ketiga orang itu belum selesai. Afia kemudian berjalan menuju dapur, disana ia melihat Siska bersama dengan pelayanan lainnya makan malam bersama.
Afia pun langsung tersenyum tau kalau mereka sudah makan. "Kamu!" panggil salah satu pelayan itu kepadanya.
"Iya, ada yang bisa aku bantu?".
"Tidak, aku hanya ingin memberikan ini kepada mu".
Kedua mata Afia langsung berbinar-binar tidak percaya dengan makanan yang berada di hadapannya itu.
"Astaga, ini serius untuk aku? Kamu enggak lagi bercanda kan?".
"Iya itu untuk makan malam mu. Tapi kamu makan di luar saja, terserah kamu mau makan di mana, mereka sedang makan jadi tidak ada tempat duduk untuk mu lagi".
Dengan senangnya Afia tertawa kecil, "Tidak apa-apa, aku akan makan di taman belakang. Terimakasih banyak yah".
"Iya".
Ia membawa ke taman belakang, disana ia melihat sebuah kursi panjang tengah menganggur tak seorang pun yang mendudukinya. Ia lalu duduk disana, tidak ingin berlama-lama lagi, dengan rasa lapar yang ia tahan sedari tadi langsung melahapnya dengan sangat lahap dan juga rasanya yang begitu sangat ia sukai sehingga membuat i sangat menyukainya dan serasa ia sedang makan di restoran berbintang.
"Wah" Afia melihat piringnya bersih tanpa sedikitpun yang tersisa. Namun ia belum merasa puas sebelum ia menj*ilat piring ya sampai bersih. Afia lalu melihat samping kiri kananya tidak ada satu pun orang yang melihatnya, setelah itu Afia pun melakukan kebiasaan yang sudah biasa ia lakukan dirumah jika tak ada orang yang melihatnya.
Namun kali ini berbeda, ia malah ketahuan oleh Freya yang tiba-tiba muncul dari belakang tertawa menyeringai melihat apa yang baru saja ia lakukan.
Afia pun langsung menaruh piringnya, ia melihat Freya dengan mata membulat tidak percaya kalau ia akan ketahuan setelah beberapa lama ia lakukan hal tersebut.
"Ka-kamu?".
"Kenapa hhhmmm? Kamu terkejut melihat ku bisa berada disini?" Freya melihat piring dari hasil ji*latan Afia yang begitu sangat bersih mengkilat tanpa tersisa sedikit noda pun. Ia lalu melihat Afia menunduk malu, "Ini..
__ADS_1
"Maaf, aku harus pergi" potong Afia berlari dari sana membawa piring kotornya.