Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 28


__ADS_3

Begitu Hendry tiba disana, ia langsung melihat Afia tengah berdiri di pos jaga security sambil mengobrol dengan mereka yang tidak Hendry tau apa yang sedang mereka bicarakan. "Afia" panggilnya.


"Akhirnya kamu datang juga" senyum Afia terlihat senang. Kemudian Hendry melihat pria yang tadi mengobrol dengan Afia. "Ada apa Hend?".


"Tidak, ayok".


"Mmmm, kak kami duluan yah".


"Iya, hati-hati Fia".


Lalu Hendry bertanya, "Dia siapa? kenapa kalian terlihat sangat dekat?".


"Oohh, dia kak Bagas. Aku sudah lama mengenalnya".


"Mmmm, aku tidak suka melihat mu dekat dengannya".


"Maksud kamu?" tahan Afia menghentikan langkah Hendry.


"Aku tidak suka wanita ku dekat dengan pria lain. Jangan membuat ku cemburu" jawabnya melihat Afia malah tersenyum kepadanya. "Kenapa?".


"Tidak, lalu dimana tempat kamu tinggal Hend? sepertinya aku harus menginap di rumah mu".


"Rumah?".


"Iya, ini sudah jam 1 malam. Kendaraan kerumah ku sudah habis, dan juga tadi aku sudah memberitahu ibu kalau aku tidak bisa pulang malam ini karna dapat tambahan kerja".


"Bagaimana yah?. Kita nginap di hotel saja Fia".


"Hey, kok nginap di hotel sih? kamu pikir biaya di hotel tidak mahal? tunggu aku jual ginjal dulu baru bisa nginap disana".


"Bukan hotel bintang sayang, tapi hotel murahan yang harga-harga 100 ribu. Tapi aku enggak tau hotel itu dimana, kita tanya sama orang saja".


"Emang rumah kamu jauh dari sini Hend?".


"Iya, kalau kita kerumah ku akan menghabiskan biasa kita nginap di hotel".


"Masa iya?".


"Iya, enggak mungkin kita jalan kaki. Pastinya kita naik taksi".


"Terus kamu punya uang nginap di hotel? aku enggak punya uang lagi Hend, tadi aku cuman punya uang 50 ribu dan sisanya tinggal 20 ribu".


"Kamu tidak usah khawatir, ayo" tariknya membawa Afia berjalan mencari hotel murah yang orang lain sering bicarakan. Namun ia belum juga menemukan hingga pada akhirnya ia bertanya kepada beberapa pria yang sedang duduk dipinggir jalan. "Permisi, saya boleh tanya enggak? hotel murah disini dimana yang harganya cuman 100 atau 200 ribu".


Mereka melihatnya dan juga Afia yang berada di belakang Hendry. "Tau, tapi ada komisi enggak?" ucap mereka tersenyum.


"Komisi? mau berapa?".


"Kami ada 4 orang, berati 200 ribu".


"Kami tidak punya uang sebanyak itu. Bagaimana 20 ribu, pacar saya masih punya uang 20".


Mereka tertawa, "Kalau enggak mau ya sudah sana pergi cari sendiri. Mau berbuat mesum saja pelit".


"Kalian yakin enggak mau 20 ribu? lumayan beli sebungkus rokok. Padahal kalian tinggal kasih tau lokasinya saja".


"Baiklah, berikan uangnya".


"Fia, aku pinjam uang 20 ribu mu tadi".

__ADS_1


"Mmmm" angguk Afia memberikan uang 20 ribunya ditangan Hendry.


"Ini, sekarang beritahu kami dimana letaknya".


"Kalian lurus saja sampai persimpangan, terus belok kiri, nanti sekitar 100 meter ada hotel kecil disana. Tapi awas kalian ketangkap, soalnya polisi disana sering rajia hahahaha" tawa mereka.


Tidak perduli apa yang mereka katakan, Hendry dan Afia pergi meninggalkan mereka hingga kini hotel murah tersebut telah berada di hadapan mereka berdua, "Ayo masuk".


"Mmmmm".


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya si penjaga kasir.


"Iya, kami pesan satu kamar. Fia, kamu tunggu disitu saja" tunjuk Hendry kearah sofa.


"Iya".


Kemudian Hendry meminta kamar ViP atau yang lebih dari kamar VIP. "Maaf, kami hanya memiliki beberapa kamar Vip, dan kamar Vip kami sudah penuh. Pesan yang lain saja".


"Ya sudah saya pesan satu, harganya berapa?".


"250 ribu" Hendry mengeluarkan dompet, lalu memberikan kartunya kepada si kasir. "Tunggu sebentar" begitu selesai ia mengembalikan kartu itu kembali. "Silahkan naik, kamarnya ada dilantai 2 nomor 206".


"Terima kasih".


"Sama-sama".


"Sudah?" tanya Afia.


"Mmmmm" jawabnya membawa Afia menaiki anak tangga kelantai dua.


"Berapa Hend?".


"100 ribu".


"Kamu kok bisa tau?".


"Karna aku melihat mu mengeluarkan dompet".


"Ya sudah tidak usah di pikirkan. Ayo masuk".


"Wah, kamarnya lumayan bagus juga Hend" puji Afia melihat isi kamar tersebut. "Aku pikir akan sekecil kamar tidur ku, ternyata beda jauh" kemudian Afia meletakkan tasnya diatas meja, lalu memasuki kamar mandi.


"Kamu mau ngapain Fia?".


"Mandi Hend, aku merasa sangat gerah. Disini ada handuk enggak yah".


"Ada di dalam lemari itu, coba kamu buka".


"Ada" jawabnya langsung begitu Afia menemukan sebuah handuk tergantung di dalam lemari. "Aku mandi dulu".


"Iya" sambil menunggu Afia keluar, Hendry membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan kepala pusing.


Begitu Afia selesai, ia membuka sedikit pintu, "Hend, aku lupa tidak punya pakaian" Hendry tersenyum, lalu berjalan mendekatinya. "Kenapa kamu kemari?".


"Terus kamu mau didalam itu terus?".


"Bagaimana ini? aku sudah tidak nyaman pakai pakaian ini lagi. Apa sebaiknya aku pakai baju sekolah saja?".


"Sekarang kamu keluar dulu".

__ADS_1


"Aku malu Hend".


"Malu kenapa? enggak ada orang disini".


"Malu sama kamu loh".


"Hahahaha.. Kamu ada-ada saja Fia, ayo buruan keluar, aku akan menutup mata".


"Benar yah?".


"Iya".


Afia pun segera keluar dari dalam kamar mandi. Namun Hendry malah membohonginya, ia tidak benar-benar sedang menutup kedua matanya. "Dasar pembohong".


"Kenapa Fia? lagian aku ini kekasih mu bukan orang lain. Kenapa kamu harus takut seperti itu?".


"Kamu pacar ku bukan suami ku. Jelas aku takut".


"Kamu enggak mau jadi istri ku Fia?".


"Ck, kamu terlalu banyak rayuan Hend. Sekarang tutup mata mu atau berikan saja pakaian mu itu kepada ku" mintanya di baju Hendry.


"Aku akan memberinya kepada mu" Hendry langsung membuka jaket dan juga kaus hitamnya lalu memakaikan ditubuh Afia. "Sudah?".


"Mmmm" senyum Afia merasa tergoda melihat roti sobek Hendry yang sangat menggoda sampai-sampai membuat kedua pipinya merona. "Astaga Fia" ucapnya dalam hati.


"Kamu lihat apa Fia?".


"Tidak, aku tidak melihat apa-apa" jawabnya berjalan kearah tempat tidur. "Hend!".


"Iya".


"Bisakah kamu menjaga ku?".


"Maksud kamu?" tanya balik Hendry pura-pura tidak tau.


"Hey, aku tidak pakai pakaian dalam. Please deh Hend".


"Ooo" senyum Hendry menaiki tempat tidur. "Tapi aku kedinginan Fia".


"Tinggal pakai selimut ini".


"Aku enggak mau pakai selimut ini, aku mau pakai tubuh mu".


"Yah..!" bentak Afia mulai sedikit takut kalau Hendry akan berbuat macam-macam kepadanya. "Jangan membuatku takut Hend, aku belum siap melihat orang tuaku membenci ku".


"Hahaha, emang aku melakukan apa Fia? aku hanya bilang butuh tubuh mu, pikiran kamu saja yang jelek".


"Kamu berbohong, kamu pikir aku tidak tau modus laki-laki".


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Ayo kemari" tariknya ditangan Afia.


"Ah, Hendry!".


"Ada apa lagi? kamu mau duduk seperti itu terus?".


"Kamu harus janji yah kalau kam..


"Kamu terlalu banyak bicara" potong Hendry mematikan lampu.

__ADS_1


"Kenapa dimatikan Hend?".


"Aku tidak suka terang" jawabnya kembali keatas tempat tidur.


__ADS_2