
Setibanya mereka di hotel, Hendry langsung memesan sebuah apertemen selama 1 bulan. Lalu mereka memasuki apartemen tersebut, "Wah.. Kalau seperti ini kita akan lebih bebas melakukan hal seperti biasa" senang Dafa mendudukkan diri diatas sofa yang berada disana.
Hendry tersenyum, "Mungkin saja, tapi aku akan lebih menghabiskan waktu mencari uang. Selama aku berada di luar, kalian bisa bermain disini".
"Apa? kamu mau kerja Hend? kamu kan masih tingkat SMA" ujar Chan.
"Tidak apa-apa, aku ingin membuktikan kepada mereka kalau aku bisa mencari uang sendiri".
Mereka mendengus, "Terus kamu akan berkerja dimana Hend?".
"Aku belum tau, selesai ujian nanti aku akan mencarinya".
"Oohh.. Jangan khawatir, kami akan membantu mu mencari pekerjaan. Bagaimana kalau di restoran bibi ku saja Hend? kalau kamu mau, aku akan memberitahu bibi ku" saran Dafa.
"Kalau enggak di perusahaan papa ku saja Hend?" tawar Abian juga.
"Aku akan memikirkannya" jawab Hendry berjalan kearah kamarnya. "Aku mandi dulu, kalau kalian mau memesan makanan kalian bisa menggunakan ponsel ku".
"Ok" senang Dafa menyambar ponsel Hendry.
Kemudian Hendry menaruh kopernya di samping lemari sambil menatap wajahnya di depan cermin, setelah itu ia memasuki kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia pun segera keluar dari dalam sana dengan handuk melilit diatas pinggangnya. "Hend" panggil Dafa memasuki kamarnya.
"Kenapa?".
"Kamu mau makan apa?".
"Samakan saja".
"Mau rokok?".
"Mmmmmm" Namun Dafa yang sedang memandangi tubuhnya membuat Hendry mengernyitkan dahi . "Ada apa?".
"Wah.. Kamu masih mempunyai tubuh sebagus ini Hend" jawab Dafa mendekatinya.
Hendry tertawa, "Yah..!! sesibuk apapun aku masih memiliki waktu untuk menjaga tubuh ku. Sana pergi, aku sudah sangat lapar".
"Malam ini kami akan tidur disini" ujar Dafa keluar dari dalam kamarnya.
"Terserah" balas Hendry.
Lalu Dafa memberitahu Abian kalau Hendry mau yang seperti biasa. "Apa dia sudah selesai?" tanya Chan.
"Mmmmm" angguk Dafa. "Kamu sudah memesannya Bian?".
"Sudah, cewek cantik bro" senyum Abian memberitahu Dafa dan Chan.
"Aahh.. Benarkah? coba lihat Bian" senang Dafa merampas ponsel Hendry dari tangan Abian. "Wah, cantik" senyumnya tampa mereka sadari Hendry yang kini berada di belakang mereka.
"Kalian sedang melihat apa?" tanyanya.
"Astaga" kaget mereka. "Yah.. Kamu hampir membuat ku terkena serangan jantung saja" kesal Dafa melihat Hendry tersenyum, lalu ia mendengar suara ketukan pintu apartemennya. "Ooo, dia sudah datang. Yah, biar aku saja".
"Aku ikut" ucap Abian mengikutinya dari belakang. Kemudian Hendry melirik Chan, namun Chan tidak menjawabnya, ia malah tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
Ceklek!
"Aahh.. Maaf, apa benar kalian memesan ayam goreng dan juga bir ini?" tanyanya melihat Dafa dan Abian.
"Iya" senyum Dafa mengangguk.
"Dan juga rokok ya? inih, tadi aku membelinya di swalayan. Total semuanya 500 ribu" ucapnya memberitahu mereka.
"Apa? bukannya sudah di bayar yah?" tanya Dafa.
"Belum" gelengnya tersenyum.
Lalu Dafa melirik Abian yang berada di sampingnya, "Yah, kenapa belum terbayar?".
"Aku juga tidak tau, tadi aku tidak memperhatikan saldo Hendry".
"Ck, eeiisss..!!" Kesal Dafa melihat wanita itu kembali. "Maaf, sepertinya teman kami tadi kehabisan saldo. Tunggu sebentar, aku memanggilnya dulu".
"Sudah, biar aku saja yang membayarnya" tahan Abian mengeluarkan dompetnya. Namun ia malah tidak memiliki uang cas untuk membayar makanan mereka. "Aahh, aku enggak punya uang cas lagi. Kamu enggak punya uang cas?" tanya Abian kepada Dafa.
"Tidak" jawabnya.
"Kalau gitu, kami bisa membayarnya dengan ini?" tanya Abian mengeluarkan kartu kreditnya.
"Maaf, saya tidak membaw..
"Ada apa?" tanya Hendry menghampiri mereka.
"Itu Hend, saldo kamu tidak mencukupi membayar makanan ini, dan kami juga tidak memiliki uang ces, lalu bagaimana dengan mu?".
"Semuanya 500 ribu" jawabnya.
"Ini, bonusnya kamu ambil saja".
"Ye?".
"Karna kamu sudah menunggu lama, jadi saya memberimu tips".
"Ya ampun, terima kasih banyak yah terima kasih banyak. Kalau gitu saya permisi dulu".
"Tunggu" tahan Abian.
"Hhhmmm?".
"Sepertinya kami akan memesan makanan lagi di restoran mu. Tolong berikan nomor ponsel mu supaya kami lebih mudah memesannya" jawab Abian memberikan ponsel ditangannya.
"Aahh.. Baiklah" angguknya memberikan nomor ponselnya.
"Boleh aku tau nama mu?".
"Apa?" kagetnya ketika Abian bertanya namanya.
"Tidak boleh yah?".
"Maaf, nama ku Afia".
__ADS_1
"Afia?".
"Iya. Kalau gitu saya permisi dulu".
"Iya, kamu hati-hati dijalan yah".
"Iya" Perginya meninggalkan mereka.
Lalu Chan melihat Hendry dengan kening mengerut. "Ada apa dengan mu Hend? kamu tertarik juga kepada kurir wanita itu?".
"Hhhmmm?".
Chan tertawa kecil, "Kamu melihatnya terlalu serius sampai kamu tidak menyadari kalau ular telah mematuk kedua kaki mu".
"Ck, kamu ada-ada saja" geleng Hendry melihat Abian menutup pintu. "Rokoknya mana?".
"Tunggu sebentar" jawab Abian membawa makanan mereka di atas meja. Sedangkan Chan mengambil gelas yang di sediakan oleh pihak hotel di dapur. "Wah, sepertinya malah ini kita akan mabuk" senang Abian melihat ayam goreng dan juga bir yang mereka pesan. Setelah itu ia memberikan rokok tersebut di tangan Hendry, "Menurut kalian, bisakah aku mendekati wanita itu?".
"Kenapa?" tanya Hendry menyalakan rokoknya.
"Sepertinya aku menyukainya. Aku ingin sekali mencicip tubuhnya" jawab Abian membayangkan ia dan Afia berada di atas ranjang dengan tubuh polos. "Hhuuffff.. Memikirkannya saja membuat adik ku menegang hahahahha".
Mereka pun ikut tertawa, "Aku juga ingin, entah kenapa akhir-akhir ini aku menyukai gadis polos" sambung Dafa.
"Sudah, sebaiknya kita bermain game saja" ujar Chan mengeluarkan ponselnya.
"Ide yang bagus" angguk Abian mengeluarkan ponselnya.
.
Pagi harinya, Hendry terbangun dari tidurnya. Ia melihat ketiga sahabatnya itu tertidur pulas diatas lantai dengan gaya tidur semerawut akibat alkohol yang mereka minum semlam. "Aahh, kepala ku pusing sekali" gumam Hendry menyambar ponselnya. Lalu ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 40 menit.
"Aaiiiss.. Ck, Yah.. Ayo bangun" panggilnya membangunkan mereka satu persatu. "Yah.. Dafa, bangun. Ini sudah hampir jam 7 pagi".
"Eemmkkhhh.. Ada apa Hend? aku sangat mengantuk sekali. Tidak bisakah kamu membiarkan ku tidur 10 menit lagi?".
"Ck. Ayo bangun kalian tidak mau ujian?" Bentak Hendry membangunkan mereka kembali.
"Apa?" dengan mata membulat Abian dan Chan langsung membuka mata. Lalu melirik Hendry yang sedang berdiri di samping mereka. "Ka-kamu barusan bilang apa Hend?" tanya Abian.
"Ini sudah jam 6 lewat 43 menit. Kalian tidak mau ujian hari ini? kalau tidak mau ujian aku akan membiarkan kalian tidur sampai puas" jawab Hendry memungut botol yang tergeletak diatas lantai.
"Aarrrkkhhh" Abian dan Chan pun segera bangkit berdiri memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar Hendry. Sedangkan Dafa yang masih tertidur pulas membuat Hendry ingin memasukkannya di dalam bathub.
"Dafa ayo bangun, Abian dan Chan sudah bersiap-siap berangkat sekolah, baju mu sudah ada di kamar".
"Hhhmmsss.. Emang sudah jam berapa Hend?".
"Jam 7 pagi. Waktu kamu tersisa 30 menit lagi".
"Benarkah?" tanyanya membuka mata.
"Mmmm.. Cepat mandi sana".
"Aahh.. Kenapa kamu baru membangunkan ku Hendry?" kesal Dafa mencari kamar mandi yang bisa ia lihat.
__ADS_1
"Ada-ada saja, jadi dia anggap aku tadi apa membangunkan dia?" geleng Hendry membersihkan bekas makanan mereka lagi. "Untung saja semalam aku memesan pakaian mereka. Kalau tidak?".