
Pagi ini Fiandra berangkat ke sekolah bersama dengan Afia. Keduanya seperti biasa naik bus, tetapi kalau Afia benar-benar tidak memiliki uang, keduanya akan menggunakan kedua kaki menuju sekolah Fiandra karna terkadang itu kemauan Fiandra tersendiri.
Dan sekarang mereka telah tiba di sekolah, Fiandra tersenyum senang mencium tangan kanan Afia dengan berkata. "Aku sekolah dulu ya Bu. Ibu hati-hati di jalan".
"Iya sayang" Afia mencium kening sang putri. "Kamu belajar yang baik ya di sekolah, karna masa depan yang cerah telah menanti Fiandra di depan".
"Siap Bu. Kalau gitu aku masuk dulu ya Bu".
"Iya sayang".
Seperginya Fiandra meninggalkan Afia yang masih berdiri disana, ia menatap punggung Fiandra sampai benar-benar menghilang dari hadapannya. Setelan itu Afia berangkat menuju restoran tempat ia bekerja. Namun saat itu juga, tiba-tiba ia melihat Dina turun dari dalam mobil mewah yang ketepatan berhenti di hadapannya. Melihat itu, Afia mencoba untuk menghindarinya, tetapi Dina langsung memanggil namanya menyuruh dirinya berhenti di sana.
Dina kemudian berjalan mendekati Afia, ia melihat Afia dari atas sampai bawah dengan mata sinis.
"Ternyata selama ini kamu berkeliaran disini" ucapnya.
Afia menatapnya, "Maaf, saya tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan anda. Tolong jangan halangi jalan saya" Afia menatapnya tegas membuat Dina tertawa mengejek dirinya.
"Wah, kamu sudah mulai berani ya?".
Afia menyeringai, "Anda pikir anda siapa dengan berkata seperti itu? Sekali lagi saya berkata maaf, kita tidak memiliki hubungan apapun. Tolong jangan halangi jalan saya dan jangan melihat saya seperti itu".
Mendengar Afia berkata demikian, Dina terlihat marah mengepal kedua tangannya rasanya ia ingin memukul Afia saat itu juga kalau bukan Fiandra tiba-tiba keluar memanggil Afia.
Melihat itu, Dina yang mendengar panggilan Fiandra. Ia pun langsung melihat anak tersebut begitu sangat mirip dengan putranya yaitu Hendry.
"Ibu" Fiandra tersenyum. "Aku pikir ibu sudah pergi jau....
"Fiandra jangan mendekat" Aliya membentak sang putri.
Fiandra bingung, ia lalu melihat Dina di belakang Afia sedang melihat kepadanya. Namun polosnya Fiandra, ia bertanya. "Ibu, bibi itu siapa?".
Afia menarik nafas, "Masuklah, jangan kemari Fiandra".
"Tapi bu".
"Tidak ada tapi-tapian Andra. Ibu bilang masuk kamu harus masuk. Jangan melawan perintah ibu".
Fiandra terdiam, ia lalu mengangguk meninggalkan kedua orang itu disana dengan wajah heran melihat kemarahan di wajah sang ibunya.
"Oh, jadi dia putri mu hasil dari pria itu?" Dina tertawa mengejek melihat kemarahan di wajah Afia. "Kasihan sekali, saya tidak menyangka kamu akan... Kurang ajar" ucap Dina saat Afia pergi begitu saja dari hadapannya. Lalu ia melihat Afia sudah menjauh dari hadapannya, kemudian Dina melihat sekolah tersebut membuat ia penasaran masuk ke dalam sekolah mencari keberadaan gadis mungil tadi.
__ADS_1
Begitu Dina berada di dalam sekolah, salah satu dari guru disana melihat ia datang menghampiri Dina. "Permisi, ada yang bisa saya bantu Bu?" tanyanya tersenyum ramah.
Dina melihatnya membuat si ibu guru itu lagi tersenyum kepadanya. "Maaf Bu, sepertinya saya mengenal ibu. Kalau tidak salah, ibu bukankah pemilik rumah sakit xx dan istri dari pemilik group Mapolo? Maaf kalau saya salah Bu".
"Mmmmm".
"Astaga, ternyata saya benar" ia tertawa kecil. "Terus, ada urusan apa ibu datang kemari?".
"Saya mencari anak kecil yang bernama Fiandra. Kamu tau dimana ruangannya?".
"Oh Fiandra Bu. Iya-iya, saya tau bu. Mari ikut saya, ruangannya berada di sebelah sana".
Dina pun segara mengikutinya, sambil melihat samping kiri kanannya, sekarang mereka telah tiba di depan ruangan Fiandra. Dan guru yang mengajar di ruangan tersebut baru tiba disana membuat ia menghentikan menyapa sang anak-anak melihat Dina datang bersama dengan guru yang lainnya.
"Permisi, maaf Bu kami ganggu waktu sebentar".
"Iyu silahkan".
Kemudian kedua orang itu masuk ke dalam, Dina pun langsung mencari keberadaan Fiandra yang ketepatan sedang melihat dirinya dengan sorot mata polos. Dina pun tersenyum kepadanya, Ia lalu mendekati Fiandra ke kursi dengan berkata.
"Kita boleh bicara sebentar di luar?" ucapnya kepada Fiandra. Tetapi saat Dina mengajaknya, Fiandra hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya. "Jangan takut, aku bukan orang jahat. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya kepada guru mu itu".
"Ibu siapa? Kenapa ibu ingin bicara dengan ku? Aku tidak mengenal ibu siapa".
"Karna itu aku mengajak mu keluar sebentar. Dan kamu panggil saja aku nenek" Dina tersenyum manis menyentuh pipi mulus Fiandra. "Sebentar saja mmmmm".
Fiandra kemudian melihat sang guru itu lagi hingga akhirnya Fiandra mengangguk tanda ia setuju di ajak Dina keluar.
.
Kini mereka telah berada di luar, Dina mengajak ia duduk di dalam kantin memberikan makanan sejenis kue basah yang ada di sana di hadapan Fiandra.
"Makanlah, akan lebih enak rasanya kalau kamu makan sambil kita mengobrol. Ayo dimakan".
Fiandra melihat kue yang berada di hadapannya itu, tanpa merasa curiga apa-apapun ia langsung mengambilnya memasukan ke dalam mulut.
"Enak?".
"Mmmmm, enak".
__ADS_1
"Kamu suka?".
"Mmmm, aku suka".
"Bagus kalau kamu suka" Dina mengusap kepala Fiandra dengan lembut. "Siapa nama mu?".
Fiandra menatapnya, lalu memberitahu namanya.
"Siapa yang memberikan nama itu kepada mu?".
"Ibu".
"Oh, lalu.. Dimana ayah mu?".
Fiandra lalu menghentikan kue tersebut ia makan, ia melihat Dina dengan wajah serius.
"Apakah ibu...
"Panggil nenek sayang" potong Dina.
"Apakah nenek mengenal ibu ku? Kenapa tadi aku melihat ibu bersama dengan nenek? Dan saat aku melihatnya, ibu terlihat marah. Kenapa seperti itu? Aku berpikir kalau nenek orang jahat. Ibu tidak pernah marah kepada ku. Dan tiba-tiba aku datang melihat nenek bersama dengan ibu ku, ibu memarahi ku".
Dina tersenyum mencoba menggenggam kedua tangan Fiandra dengan hangat.
"Nanti nenek akan menjawab pertanyaan mu. Sekarang jawab dulu pertanyaan nenek. Dimana ayah mu?".
Fiandra terdiam selamat beberapa menit lamanya, "Aku tidak tau dimana ayah ku nenek. Ibu tidak pernah memberitahu dimana ayah".
"Benarkah kamu tidak tau dimana ayah mu sampai sekarang".
"Iya nenek. Padahal aku ingin sekali bertemu dengan ayah ku, aku ingin di peluk sama seperti dengan anak-anak lainnya. Aku sangat iri sekali dengan mereka. Seandainya aku bisa seperti mereka, rasanya pasti senang sekali".
"Terus, kenapa ibu mu tidak mau memberitahu dimana ayah mu sekarang?".
"Aku juga tidak tau nenek. Kata ibu tunggu aku dewasa dulu baru ibu akan memberitahu dimana ayah ku berada. Tapi sekarang aku sudah dewasa nenek, tapi ibu belum juga mengasih tau dimana ayah".
"Mmmmmm" Dina mengangguk ngerti.
"Terus, kalau teman-teman kamu bertanya dimana keberadaan ayah. Kamu menjawab apa?".
"Aku akan menjawab kalau ayah ku bekerja di luar kota sehingga ayah tidak punya banyak waktu datang kemari".
__ADS_1
"Oh begitu?".
"Iya nenek. Sekarang saatnya nenek yang menjawab pertanyaan ku".