Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 27


__ADS_3

Begitu Hendry keluar dari dalam sana, tampa ia sadari kalau mereka mengikutinya dari belakang. "Hendry awas!" teriak Afia.


Byur..!


"Ah" dengan mata membulat Afia langsung berlari kearah Hendry yang sudah basah kuyup oleh kelakuan mereka. "Hendry kamu baik-baik saja?".


Kemudian Hendry mengusap wajahnya, lalu melihat mereka dengan tangan mengepal. "Hahahah, ini hukuman buat orang sombong seperti kamu. Jadi babu saja sok belagu, kamu pikir kamu siapa berani melawan kami? dan asal kamu tau yah, ini belum seberapa dengan apa yang kamu lihat hahh".


"Hendry jangan, mereka itu sudah lama bekerja disini. Sebaiknya kamu tidak usah berurusan dengan mereka, tolong redahkan emosi mu. Aku mohon Hendry" ucap Afia mencoba menenangkan Hendry.


"Afia!" panggilnya.


"Aku mohon Hendry, tolong jangan membuat kesalahan yang akan kamu sesali. Aku mohon" dengan lembut Afia menggenggam kedua tangannya begitu juga dengan kedua mata Afia yang berkaca-kaca melihat kemarahan diwajah Hendry. "Tolong Hendry, aku tidak mau kamu di pecat dari pekerjaan ini. Aku mohon".


"Hahahaha.. Yah, apa kalian berdua sepasang kekasih?. Ckckck, hanya wanita bodoh mau berpacaran dengan laki-laki seperti dia. Harusnya kamu mencari pria yang mapan, bukan babu seperti kamu juga. Ayo kita pergi".


Lalu Hendry menutup kedua mata, ia mencoba meredakan emosi yang sedari tadi ia tahan, "Afia" panggilnya lagi.


"Ya".


"Ini akan menjadi yang terakhir buat kamu berhasil menahan ku, lain kali jangan mengulangi ini lagi" dengan perasaan masih sangat marah, Hendry langsung pergi meninggalkannya.


"Hendry kamu mau kemana? Hendry!" namun Hendry enggan menjawabnya dan lebih memilih mengabaikan Afia. "Hendry tunggu, Hendry!" melihat Hendry yang sudah menjauh membuat Afia menghentikan langkahnya, ia tau kalau Hendry masih sangat marah. "Maafkan aku Hendry. Aku hanya tidak ingin melihat mu mendapatkan masalah dengan mereka, apalagi dengan perusahaan. Aku tidak akan bisa membiarkan mu dipecat begitu saja dari perusahaan ini".


.


Kini Hendry telah berada di apertemen, ia langsung memasuki kamar mandi. Setelah selesai, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan nafas berat menatap langit-langit kamarnya. "Maafkan aku Afia, kalau bukan karna mu aku pasti akan menghabis kelima orang itu" gumam Hendry mengepal tangan.


Kemudian dia menghubungi Abian yang sedang berada di kantin sekolah bersama dengan Dafa dan Chan. "Kalian dimana? aku sudah berada di hotel".


"Ok, kami otw".


"Mmmmm" Hendry melirik jam ponselnya, sekarang telah menunjukkan pukul 3 sore. Tidak lama kemudian, ketiga orang itu telah tiba disana dengan seragam sekolah yang masih mereka kenakan. "Kalian sudah datang?" Hendry mengeluarkan dua botol anggur dari dalam lemari penyimpan.


"Ooo, kamu baik-baik saja? aku melihat wajah mu seperti sedang menahan emosi?" tanya Dafa mendudukan diri diatas sofa.


"Iya Hend, ada apa?" sambung Chan.

__ADS_1


Hendry menghela nafas meletakkan dua botol anggur tersebut diatas meja, lalu Abian meletakkan gelas itu juga. "Iya Hend, ada apa dengan mu?".


"Hari ini aku sangat marah, seseorang telah berani membangunkan harimau dalam diriku. Namun karna wanita itu aku tidak bisa meluapkan amarah ku".


"Hahahaha, jadi karna itu kamu terlihat sangat marah Hend?" tawa mereka bertiga menertawainya. "Yah, kamu sudah melupakan siapa kita yang sebenarnya? kasih tau siapa orangnya, biar kami saja yang membereskan" ujar Dafa.


"Benar, aku hampir saja melupakannya" seringai Hendry mengingat wajah mereka satu persatu.


.


Sekarang mereka berempat telah berada di dalam club tempat mereka bersenang-bersenang seperti biasa. "Wah, sudah sangat lama sekali kita tidak kemari lagi" tawa Chan menghempaskan tubuhnya diatas sofa.


Kemudian menyuruh pelayan membawakan mereka 4 wanita cantik dengan kualitas tinggi. "Malam ini akan malam yang panjang untuk kita hahahha".


"Hend, untuk malam ini lupakan wanita itu. Mari kita menikmatinya seperti biasa" ujar Chan memberinya segelas alkohol.


"Oo, malam ini mari kita seperti biasanya" angguk Hendry melihat beberapa wanita cantik dan seksi itu memasuki ruangan mereka dengan senyum menggoda. "Aku mau dia, sepertinya dia orang baru. Kemarilah".


Kemudian si pelayan membisikkan, "Kamu harus hati-hati kepadanya, jangan sampai kamu melakukan kesalahan. Kamu mengerti?".


"Mmmm" angguknya mendekati Hendry dengan manja. "Sayang, nama ku Fany" ucap Fany menyentuh dada Hendry.


"Iya sayang".


"Sudah berapa lama kamu tinggal disini?".


"Dua minggu. Lalu bagaimana dengan mu sayang?".


"Kenapa dengan ku?".


"Selama ini aku tidak pernah melihat mu?".


Hendry tertawa menyentuh wajah fany dengan lembut dan juga kedua bibirnya, lalu menciumnya. "Ummcchh.. Sudah berapa banyak pria yang kamu tiduri selama disini?".


"Aku belum pernah pernah tidur dengan mereka sayang, aku masih melayani mereka dengan minuman".


"Benarkah?".

__ADS_1


"Mmm, kenapa? kamu cemburu?".


"Mmmm, aku cemburu kepada mereka yang sudah pernah kamu layani. Karna kamu terlalu cantik untuk mereka".


Fany tertawa kecil, "Kalau gitu, aku akan melayani mu malam ini sampai rasa cemburu mu hilang. Bagaimana?".


"Setuju" Hendry meneguk segelas alkoholnya kembali sambil menatap Fany dengan tatapan buas. "Aku akan memulai dari sini".


"Sayang tunggu. Kamu yakin akan disini?" lihatnya kearah Abian, Dafa dan Chan yang juga bersenang-senang dengan wanita mereka masing-masing.


"Kenapa? jangan pedulikan mereka sayang" jawab Hendry meremas kedua milik Fany cukup keras sampai membuat Fany mendesah.


Kemudian Hendry menjatuhkan tubuh Fany diatas sofa, lalu menciumi leher jenjangnya dengan gigitan lembut dan juga tangan kanan Hendy yang berada di paha mulus Fany. "Sayang, aku sangat menyukai setiap sentuhan mu. Ayo lagi sayang" bisik Fany meremas rambut Hendry.


Mendengar itu, Hendry tidak akan tinggal diam. Ia langsung menarik pakai Fany hingga kedua miliknya terlihat sangat indah di kedua mata Hendry. Namun saat Hendry hendak melahapnya, tiba-tiba ponselnya berdering membuat ia menghentikan aktifitasnya. "Ada apa sayang?" tanya Fany.


"Sebentar" jawab Hendry mengeluarkan ponselnya dari salam saku yang belum sempat ia keluar tadi. Lalu melihat panggilan tersebut panggilan yang tidak dikenal, "Siapa?" tanya Hendry menggeser tombol hijau.


"Ini aku Hend, bisakah kamu datang kemari? aku masih di kantor tapi aku sangat takut pulang sendiri".


"Apa? kenapa kamu masih berada disana jam segini?" bentak Hendry meremas ponselnya.


"Tadi aku dapat hukuman dari bu Eva, jadi jam kerja aku ditambah..


"Aku akan kesana, jangan kemana-mana" Hendry mematikan ponselnya, lalu meminta kunci mobil Chan.


"Ada apa Hend?" tanya Abian.


"Afia belum pulang".


"Inikan sudah hampir jam 1 malam Hend, kenapa dia belum pulang?".


"Aku juga tidak tau, aku duluan".


"Oo, hati-hati".


"Mmmmm".

__ADS_1


Kemudian mereka bertiga melihat Fany yang sangat kecewa ditinggal oleh Hendry dengan tangan mengepal. "Dia sedang ada urusan mendesak, kamu bergabung saja dengan kami" ujar Dafa meminta Feny menuang anggur di dalam gelasnya.


__ADS_2