
Kirana lalu membawa Fiandra masuk ke dalam kamar membiarkan kedua orang itu berada di sana. Kemudian gadis polos itu bertanya, "Ada apa nenek? Kenapa nenek membawa ku kemari? Sebenarnya apa yang terjadi nenek? Kenapa nenek tidak mau menjawab pertanyaan ku?".
Kirana terdiam, ia membawa Fiandra duduk diatas tempat tidur sembari mengusap kepala Fiandra dengan lembut.
"Nanti juga kamu akan tau, sekarang kamu istirahat lah. Kamu pasti sangat leleh sekali belajar di sekolah".
"Tidak nenek, hari ini aku tidak belajar di sekolah. Ibunya ayah itu tadi membawa ku kerumahnya".
"Apa?".
"Iya nenek".
"Jadi...
"Mmmmm".
Sedangkan Afia, ia melihat Hendry dengan wajah penuh kecewa, pria itu membuat ia tidak bisa berkata-kata selain menangis senggugukan.
"Afia, maafkan aku. Maafkan aku telah membuat kamu seperti ini. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi".
Afia menggeleng kepala, "Tidak, aku tidak bisa memaafkan kamu dengan cara semudah ini. Kamu sangat jahat Hendry, kamu sangat jahat membiarkan aku hidup seperti ini dengan Fiandra aarrkkhhh.. Selama ini kamu kemana Hendry? Kamu kemanaaa?".
"Ibu" Fiandra gadis kecil itu menghampiri mereka, ia melihat Afia menangis senggugukan membuat ia ikutan menangis memeluk Afia dengan sayang. "Ibu, jangan menangis. Aku mohon ibu jangan menangis, aku tidak mau ibu jatuh sakit".
"Aarrkkhhh... Maafkan ibu Fiandra, gara-gara ibu kamu jadi hidup seperti ini aarrkkhhh".
"Tidak ibu, aku mohon jangan berkata seperti itu. Ini semua bukan karna ibu. Fiandra yang salah ibu, Fiandra yang salah kenapa harus dilahirkan ke dunia ini jika akhirnya ibu harus menderita hanya karna aku ibu hiks.. hiks..".
Hendry yang mendengar tangisan anak dan ibu itu, ia dibuat semakin merasa bersalah menarik Afia dan Fiandra ke dalam pelukannya.
"Maafkan ayah Fiandra! Ini semua salah ayah telah meninggalkan kalian berdua. Ayah yang salah, bukan kamu".
Kirana yang melihat mereka dari kejauhan ikutan menangis, entah kenapa meskipun ia sangat marah kepada Hendry yang sudah meninggalkan anak dan cucunya. Sekarang ia hanya bisa berserah kepada Afia jika pada akhirnya ia menerima Hendry kembali dalam hidupnya.
__ADS_1
"Afia, maafkan aku. Aku minta maaf telah membuat mu seperti ini" Hendry mencium keningnya. "Tolong maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi apapun yang terjadi. Tolong terima aku kembali sayang. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku tidak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya".
Afia mengusap air matanya, ia melihat Hendry benar-benar dalam penyesalan telah pergi meninggalkan mereka.
"Iya ibu, tolong maafkan ayah ibu. Kemarin juga ibu sudah berjanji kepada Fiandra kalau ibu akan mempertemukan aku dengan ayah. Sekarang ibu harus menepati janji itu, aku tidak mau kehilangan ayah lagi ibu".
Afia membawa Fiandra ke dalam pelukannya lagi, wanita kuat itu kembali menumpahkan air mata sambil mencium kepala putrinya sampai berulang kali.
"Iya sayang, kamu jangan menangis lagi. Ibu akan menepati janji ibu, sekarang kamu jangan menangis lagi mmmmm".
"Iya Bu, aku tidak akan menangis lagi. Terima kasih sudah mau menerima ayah kembali".
Fiandra melihat Hendry dengan senyum mengembang di wajahnya. Gadis kecil itu langsung memeluk Hendry dengan manja dibalas oleh Hendry.
"Mulai sekarang, ayah harus berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku lagi dan ibu".
"Iya sayang, ayah janji tidak akan pernah meninggalkan kamu dan ibu mu lagi".
Lalu Kirana menghampiri mereka, ia menggenggam jemari tangan Afia dengan hangat.
Mendengar itu, Fiandra tersenyum melihat kedua orang tuanya.
"Hehehehe... Setiap malam aku selalu bertanya kepada ibu dimana ayah ku sebenarnya. Tapi ibu selalu menjawab kalau ayah berada di luar negeri dan tidak bisa ditemui dengan semudah itu karna ayah dan ibu tidak memiliki uang untuk menemui ayah".
Hendry meneteskan air mata, ia mengusap kepala Fiandra sampai berulang kali dan membanjirnya dengan ciuman.
"Maafkan ayah yah. Gara-gara ayah hidup Fiandra jadi seperti ini".
"Tidak apa-apa ayah, semuanya sudah berlalu. Sekarang ayah sudah berada disini, jadi aku tidak perlu khawatir lagi".
"Iya, ayah janji tidak akan pergi kemana-mana lagi meninggalkan Fiandra" Hendry tersenyum kepada Afia, ia lalu membawa Afia ke dalam pelukannya. "Terima kasih sudah membesarkan putri kita dengan baik. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan hidup bersama dengan kalian".
"Mmmmm" angguk Afia membalas pelukan Hendry.
__ADS_1
_
_
2 tahun kemudian...
Sekarang Fiandra telah tumbuh semakin dewasa, dan ia memiliki seorang adik laki-laki berusia 1 tahun, anak laki-laki itu di beri nama Gabriel.
Kemudian Afia melihat mereka sedang bermain di taman depan, Ia lalu membawakan sebuah cemilan untuk mereka makan. Tidak lama setelah itu, ia memanggil mereka.
Anak dan bapak itu segera berlari menghampiri dia. Hendry lalu memberikan Gabriel di gendongan Afia, kemudian Afia menyuruh mereka memakan cemilan tersebut sambil tertawa bersama.
"Mmmmm, kue ya sangat enak sekali Bu. Ibu sangat hebat" Fiandra memuji memberikan jempol tangannya begitu juga dengan Hendry.
"Ibu tau, kan Fiandra sudah sering memuji masakan ibu hahahaha".
Tidak lama setelah itu, sebuah mobil memasuki area rumah mereka. Fiandra bertanya siapakah orang itu, tetapi Afia dan Hendry tidak tau siapa pemilik dari mobil tersebut hingga akhirnya mereka melihat orang yang berada di dalam mobil keluar.
"Ooo.. Itu bukannya Nenek sama Kakek?" Fiandra berlari kearah mereka. Ia tertawa riang menyambut kedatangan mereka dengan cara mencium tangan mereka satu persatu.
"Hahahaha... Cucu kami sedang apa?" sepasang suami istri itu tertawa melihat Hendry dan Afia menghampiri mereka dengan senyum mengembang di wajah mereka. "Wah, lihat pah.. Cucu laki-laki kita sudah tumbuh besar.. Hallo Gabriel".
Dina membawa Gabriel dari gendongan Afia ke dalam gendongannya. Kemudian ia memberikan ciuman sayang sampai berulang kali di wajah cucunya itu.
"Bagaimana bisa kamu tumbuh sama persis seperti ayah mu? Hahahaha... Kamu sangat tampan sekali".
"Iya nenek, dia sangat mirip sekali dengan ayah" sambung Fiandra menggenggam jemari tangan Gabriel memanggil namanya.
Lalu Hendry membawa mereka ke taman, disana telah tersedia sebuah teh hangat dan sebuah cemilan hasil buatan Afia sendiri. Melihat itu, mereka mendudukkan diri diatas kursi, sedangkan Afia masuk kembali ke dalam rumah mengambil beberapa gelas untuk Abbas dan juga Dina.
"Bagaimana? Apa kalian suka tinggal dirumah ini? Ini rumah dulunya kami tempati sejak papa dan mama menikah. Iya kan pah?".
"Iya ma. Sebenarnya sudah sejak lama kami ingin menjual rumah ini karna jauh dari perkotaan. Tapi baru-baru ini kalian berkata ingin tinggal ditempat jauh dari perkotaan, akhirnya kami merekomendasikan kalian tinggal disini".
__ADS_1
Hendry dan Afia tertawa senang, "Iya pah mah.. Kami sangat menyukai tinggal dirumah ini. Rasanya sangat nyaman sekali begitu juga dengan anak-anak" jawab keduanya berpelukan melihat kepada kedua orang tua itu.
*****************TAMAT***************