
Pagi hari Hendry masih tertidur di dalam kamarnya, mengingat hari ini adalah hari minggu membuat ia ingin bermalas-malas.
DDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...
"Iya Esti, kalian sudah dimana?" tanya Dina mengangkat ponselnya.
"Sebentar lagi kami sampai dirumah kak".
"Oohh.. Dirumah kakak sudah menyiapkan sarapan kesukaan kamu".
"Wah.. Aku jadi lapar ni kak hahahhaha".
Dina pun ikut tertawa, "Kalian hati-hati dijalan yah".
"Iya kak" Estiana mematikan ponselnya. Ia melihat suaminya yang sedang menyetir dan juga kedua putrinya yang sedang bermain ponsel. "Sebentar lagi kita sampai".
Freya putri Estiana langsung mematikan ponselnya, ia melihat keluar jendela kaca dengan tatapan kosong. "Ma, kita sudah dimana?".
"Sebentar lagi kita nyampe sayang".
"Mmmmmm".
Sedangkan Hendry yang masih tertidur ia enggan membuka mata meskipun sedari tadi para pelayan mengetuk pintu kamarnya.
Tok.. Tok..
"Hendry ini mama sayang. Ayo bangun, paman sama bibi kamu sedang perjalanan datang kemari".
Hendry mendengus, "Iya ma" jawabnya.
"Cepat ya sayang, kamu mandi".
"Iya ma".
Dina pergi meninggalkan pintu kamar Hendry, kemudian Hendry membuka kedua mata sambil menyambar ponselnya. "Aahh.. Ternyata sudah jam 10 pagi" Ia pun segera memasuki kamar mandi.
"Hendry sedang apa ma?" tanya Abbas membaca koran di ruang keluarga.
"Hendry baru bangun pa, mungkin dia sudah mandi".
"Mama tidak memberitahu Hendry kalau paman sama bibinya mau datang kemari?".
"Mama sudah memberitahunya pa" senyum Dina.
Tin.. Tin...
"Sepertinya mereka sudah datang pa" beritahu Dina langsung keluar dari dalam rumah bersama dengan Abbas. Dan benar sekali, yang mereka tunggu-tunggu kini telah berada di hadapan mereka.
"Kak" Senyum Estiana dan Baim melihat Dina dan Abbas.
"Hahahha.. Apa kabar? sudah lama sekali kalian tidak kemari?" tawa Abbas memeluk Estiana adik kesayangannya itu.
"Baik kak, kabar kami baik-baik saja".
"Syukurlah" kemudian Abbas melihat kedua putri Baim dan Estiana. "Hallo keponakan om. Kalian berdua makin cantik saja yah" puji Abbas tersenyum lebar.
"Hehehhe.. Iya om terima kasih" tawa adik Freya yaitu Bella.
"Kak Hendry mana om? Freya enggak lihat" tanya Freya sedari tadi tidak melihat kehadiran Hendry.
__ADS_1
"Sepertinya Hendry masih di kamarnya sayang, paling sebentar lagi turun. Ayo masuk" ajak Dina membawa mereka masuk kedalam rumah.
"Kalau gitu, Freya langsung ke kamar kak Hendry saja ya tante" ujar Freya menaiki anak tangga.
Tok.. Tok..
"Kak Hend ini Frey..
Ceklek!
"Kak Hendry" dengan senyum mengembang diwajah Freya Ia memeluk tubuh Hendry dengan sayang. "Aahh.. Aku sangat merindukan kak Hendry".
Hendry menaikkan sebelah alisnya, ia merasa sedikit tidak nyaman saat di peluk oleh Freya. Hendry pun segera melepaskan pelukannya, "Kalau kamu tidak mau kenapa-napa jangan memeluk ku atau pun mendekati ku".
"Apa?".
"Kamu lihat ini, kamu mau ketularan penyakit ini?" tanya Hendry berbohong.
"Hahh.. Kulit kak Hendry kenapa? kok bisa seperti ini? kakak baik-baik saja? kenapa kakak tidak kerumah sakit saja?".
"Aku baru pulang dari rumah sakit" jawab Hendry menuruni anak tangga. Disana ia melihat kedua keluarganya itu sedang menikmati beberapa cemilan yang Estiana bawa dari kampung halamannya.
"Hallo om tante" senyum Hendry menunduk dihadapan mereka.
"Loh.. wajah kamu kenapa Hendry? kok bermerah-merah seperti itu?" Khawatir Estiana dan Baim.
"Alergi tante" jawab Hendry.
"Kok bisa alergi? alergi apa Hend?".
Hendry kebingungan menjawab pertanyaan Estiana, lalu ia melihat Dina yang sedang tersenyum kepadanya. "Hendry, palingan alergi makanan Esti" jawab Dina.
"Iya tan.. Aahhh" Kaget Hendry saat Freya tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Kak Hend, temenin aku keliling kota yok" ajak Freya dengan wajah memelas.
Hendry tersenyum sambil melepaskan kedua tangan Freya, "Hari ini aku tidak bisa Eya, aku harus belajar. Besok aku akan ujian, maaf ya om tante, Hendry harus belajar".
"Hari ini Hendry?" tanya Baim.
"Iya om" jawabnya.
"Ya sudah kalau kamu mau belajar. Eya kamu duduk, kamu enggak malu di lihatin paman sama bibi kamu?" tegur Estiana mengingatkan anak gadisnya itu.
Freya mendengus, "Hendry naik dulu ya om tante".
"Iya Hend".
Dengan senang hati Hendry pergi meninggalkan mereka, entah kenapa setiap kali ia bertemu dengan Freya, ia selalu merasa sedikit kurang nyaman berada di dekatnya. "Kak Hendry tunggu" teriak Freya mengejar Hendry kedalam kamarnya.
"Aaiiss.. Ada masalah apa sih ni anak?" gumam Hendry melirik kearah Freya. "Ada apa?".
"Kamu yakin mau belajar? aku yakin kamu pasti berbohong untuk menghindari ku".
"Berbohong?".
"Mmmmm.. Ayolah kak Hend, temenin aku jalan-jalan yok selagi aku disini mmmmm.. Please".
"Aku tidak bisa Eya, besok aku ujian dan aku harus mendapatkan nilai yang bagus, kalau tidak..
"Kalau tidak apa kak Hend?".
__ADS_1
Hendry mendengus, lalu ia mengeluarkan ponselnya. "Hallo Bian, kamu dimana?".
"Di lapangan Hend. Ada apa? oh iya, tadi kami sudah memberi Sinta pelajaran, kamu mau tau dia dimana sekarang?" senyum Abian mengingat wajah Sinta yang meminta tolong.
"Dimana dia?".
"Ditempat biasa".
"Kalau gitu aku kesana sekarang juga" Hendry melirik Freya, "Baiklah, aku akan membawa mu keliling kota ini, sekarang kamu minta kunci mobil sama papa".
"Kak Hendry beneran mau ngajak aku jalan-jalan?".
"Mmmm.. Buruan, aku ambil jaket dulu".
"Ok" senyum Freya menuruni anak tangga. Sedangkan Hendry memasuki kamarnya, ia terlebih dahulu mengganti pakaian sebelum pergi.
"Kak Hend ayo buruan turun. Aku sudah mendapatkan kuncinya" teriak Freya melihat Hendry menuruni anak tangga.
"Loh.. Papa sama mama kemana?" tanya Hendry tidak melihat keluarganya berada disana.
"Mereka ada di taman belakang. Ayo buruan kak".
"Mmmmmm" gumam Hendry menerima kunci mobilnya dari tangan Freya.
.
Di dalam mobil, Freya tak henti-hentinya memandangi wajah tampan Hendry meskipun di tutupin oleh topi dan juga maker hitam. "Kenapa kamu melihat ku seperti itu Eya? apa ada sesuatu di wajah ku?".
"Mmmm.. Kak Hendry memakai masker". Hendry tersenyum tipis, "Terus kita mau kemana kak? dari tadi Eya melihat kak Hendry bawa mobilnya buru-buru sekali".
"Kita menemui teman-teman ku dulu baru aku akan membawa mu keliling kota".
"Oohh.." gumam Freya menatap lurus ke depan.
Tidak memakan waktu yang lama bagi Hendry, kini mobil sportnya telah tiba di tempat ketiga sahabatnya berada. "Hallo, aku sudah tiba. Kalian dimana?".
"Di belakang Hend".
"Mmmmmm" Hendry langsung berjalan kearah tempat yang baru saja Abian beritahu bersama dengan Freya yang selalu mengikutinya dari belakang. "Abian" panggilnya.
Mereka tertawa, "Hallo bro".
Kemudian Dafa melirik Freya, "Cewek cantik lagi bro?".
"Bukan, dia anak dari paman ku. Aku titip dia sebentar yah".
"Aman bro" senang Dafa.
"Ayo" Hendry, Abian dan Chan segera pergi ketempat Sinta berada saat ini. Namun sebelum mereka meninggalkan Freya dan Dafa, "Kamu mau kemana kak?" tahan Freya.
"Kamu tunggu disini, dia tidak akan menyakiti mu" Mereka bertiga langsung pergi.
Kemudian Dafa tersenyum, "Kamu tenang saja, aku tidak akan menyakiti mu. Kenalin nama ku Dafa sahabatnya Hendry sejak SD".
"Freya, panggil saja Eya" balas Freya masih sedikit takut-takut.
"Kamu sangat cantik. Ayo duduk".
"Terima kasih".
__ADS_1