Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 21


__ADS_3

Selesai briefing, atas itu langsung melihat Afia dan Hendry disamping buk Eva berdiri, "Kenapa kalian berdua terlambat?".


"Maaf pak, tadi kam..


"Tidak ada alasan, buk Eva potong gaji mereka berdua supaya kejadian ini tidak terulang untuk yang lainnya juga".


"Baik pak" angguk buk Eva tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu ia melihat kedua orang itu, "Kalian dengar itu, lain kali jangan terlambat lagi. Biarkan ini pelajaran untuk kalian berdua, kamu dengar Afia? kamu sudah sangat sering sekali terlambat".


"Iya buk, mulai besok Afia tidak akan terlambat lagi" jawabnya.


"Bagus, sekarang kalian berdua ganti baju. Dan mulai hari ini ibu mau kalian berdua satu area, kasihan Afia selalu kerja bagian yang berat. Tolong bantu dia Hendry".


"Siap buk. Kamu dengar itu sayang? mulai hari ini kita berdua akan selalu bersama" bisik Hendry tersenyum senang.


"Iisss" kesal Afia langsung pergi mengganti pakaiannya diruang ganti wanita. Setelah itu, ia keluar dari dalam sana, namun Hendry belum juga keluar dari dalam ruangan ganti membuat Afia menunggunya. "Kenapa dia lama sekali?".


"Afia" panggil Vino.


"Iya Vino?".


"Mmmm, maaf yah. Sebenarnya aku yang meminta sama buk Eva supaya kamu bersama dengan Hendry".


"Kenapa Vin?".


"Aku bilangnya gimana yah? kamu tau sendiri di lantai ku seperti apa. Semua karyawan di lantai itu tidak ada yang menyukainya, jadi aku kasihan melihat Hendry setiap hari mereka usik meskipun Hendry tidak perduli dengan mereka. Sedangkan di lantai mu, meskipun itu lantai presdir kita. Aku yakin Hendry tidak akan berbuat macam-macam. Jadi tolong awasi dia ok, aku kerja dulu" senyum Vino pergi.


Afia geleng kepala, tidak lama kemudian Hendry segera keluar dari dalam sana menggunakan pakaian kerja, "Kenapa kamu lama sekali? kamu membuat ku marah".


Tersenyum, "Maaf telah membuat mu menunggu sayang. Ayo" genggamnya lagi di tangan Afia.


"Yan..!!" pukul Afia di lengannya.


"Aahh, sakit Afia".


"Bodoh amat, siapa suruh kamu menggenggam tangan ku? ayo lepaskan".


"Tidak, aku ingin menggenggam tangan ini, lagian siapa juga yang perduli?".


"Lepasin enggak? kalau kamu enggak mau lepasi..


"Baiklah. Sekarang kamu sudah puas?" Hendry melepaskan tangannya.


"Mmmmm, ayo" mereka berdua memasuki lift menuju area tempat Afia bekerja. Begitu mereka sampai dilantai itu, Afia membawa Hendry keruang pantry tempat ia menyimpan botol minum. "Hendry kamu lapar? tadi kita belum makan siang soalnya".


"Iya, kamu punya makanan?".


Afia tersenyum, "Kamu lihat lemari itu, pihak gizi akan menyimpan makan siang karyawan yang lebih disana. Ayo kita lihat, siapa tau ada yang sisi".


"Afia" tahan Hendry.

__ADS_1


"Kenapa?".


"Kamu yakin mau makan sisa-sisa itu?".


"Emang kenapa Hend? lagian itu bukan bekas sisa makanan mereka. Jadi kamu tidak usah menunjukkan wajah seperti itu. Tunggu disini" Afia membuka lemari tersebut, dan benar sekali ia melihat satu kotak makanan lagi masih tersisa di dalam lemari itu.


Dengan senyum mengembang di wajah Afia, ia langsung menunjukkan kepada Hendry. "Aku menemukannya Hend" Senangnya. Lalu mengajak Hendry duduk, ia membuka nasi kotak tersebut, "Kita bagi dua ini Hend, tidak apa-apa sedikit-sedikit yang penting perut kita terisi. Ayo di makan".


"Tidak usah, kamu makan sendiri saja. Aku masih merasa kenyang".


"Tidak boleh, kamu juga harus makan. Sekarang buka mulut mu, aku akan menyuap mu Aaaa".


Hendry tertawa kecil, "Yah, kamu pikir aku anak kecil?".


"Dari pada kamu tidak makan. Ayo buka mulut mu, kita tidak punya banyak waktu disini, nanti buk Eva datang. Cepat".


"Tidak, kamu makan saj..." gantung Hendry begitu Afia memasukkan kedalam mulutnya dengan tersenyum. "Afia!".


"Bagaimana? enakkan? cepat kunyah".


Tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi kepadanya, ia menatap Afia sangat menikmati makanan tersebut tampa ada rasa malu kepada dirinya. "Afia" panggilnya.


"Iya, kenapa Hend?".


"Kamu mau tau aku siapa?".


Afia tersenyum, "Ya kamu Hendry teman baru aku di sekolah dan juga di kerjaan ini".


"Terus apa?".


Ceklek!


"Astaga Hendry, kita ketahuan" kaget Afia melihat ke ambang pintu.


"Afia!" bentak buk Eva dan rekannya itu melihat mereka berdua.


"Maaf buk, kejadian ini tidak akan terulang lagi" tunduknya menyesal menarik tangan Hendry.


Lalu buk Eva mendekati mereka berdua, ia melihat nasi kotak tersebut masih tersisa. "Jadi selama ini kamu Afia orangnya? jadi kamu orang yang selalu mencuri nasi kotak karyawan".


"Maaf buk, tolong maafkan saya kali ini saja. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi".


"Astaga Afia, ibu benar-benar enggak nyangka selama ini sama kamu. Kamu benar-benar membuat ibu sangat malu, dan kamu juga. Apa yang kamu lakukan disini bersama dia?".


"Makan sama dia" jawab Hendry biasa saja. "Kenapa? tidak bisakah kami makan ini?".


"Kamu!" bentak buk Eva marah.


Hendry menghela nafas, "Sebelumnya saya minta maaf. Saya mau bertanya, siapa orang yang marah kalau kami memakan nasi kotak ini? bukankah ini tidak dimakan lagi makanya mereka menaruh didalam sana?".

__ADS_1


"Terus kalau tidak dimakan, apa hak kalian memakannya hhmm? haruskah kalian berdua mempermaluka..


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Asisten Abbas melihat mereka.


"Ah, maaf pak. Hanya salah paman sedikit saja" tunduk Eva dan rekannya itu. Kemudian Asisten Abbas melihat Hendry berdiri disana bersama dengan Afia yang menunduk.


"Kamu" panggil Hendry. Asisten Abbas itu langsung menunduk, ia melihat putra tuannya itu menyendok nasi kotak tersebut kedalam mulutnya lagi. "Yah, kalau kami memakan nasi kotak ini. Apa kalian akan memecat kami?".


"Ti-tidak tua..


"Yah..!!" bentak Hendry sampai membuat mereka yang diruangan itu terkejut mendengar suaranya. Apalagi buk Eva dan rekannya itu membulatkan mata melihat Hendry. "Aaiiss.." kesal Hendry menggaruk kepala. Lalu ia melihat Afia yang sedang marah kepadanya. "Maaf".


Kemudian asisten Abbas menyuruh mereka bubar, hingga yang tertinggal diruangan itu hanya Hendry dan Afia. Kemudian Afia mencubit perut Hendry sedikit kuat sampai ia meringis kesakitan, "Sekali lagi kamu mengeraskan suara mu itu di depan atasan kita, lebih sakit dari ini aku akan mencubit mu. Kamu mengerti?".


"Siap sayang" jawab Hendry tersenyum.


"Hentikan, aku bukan sayang mu" kesal Afia membuang nasi kotak itu kedalam tong sampah. "Ayo, nanti kita dapat masalah lagi".


"Mmmmm".


Afia mengeluarkan semua peralatannya dari dalam gudang, namun sebelum mereka bekerja, Afia terlebih dahulu menjelaskan hal apa yang perlu ia kerjakan kepada Hendry, supaya mereka berdua tidak melakukan kesalahan selama bekerja. "Fia" panggilnya.


"Mmmm, ada yang tidak kamu mengerti?".


"Apa cita-cita mu?".


"Ayolah Hendry, jangan bertanya diluar pekerjaan".


"Aku ingin tau cita-cita kamu apa. Ayo beritahu aku?".


"Aku tidak punya cita-cita".


"Kenapa? kamu gadis cantik dan pekerja keras. Masa iya kamu tidak punya cita-cita?".


"Iya, kamu tau sendiri biaya kuliah itu sangat mahal. Bagaimana bisa aku memiliki cita-cita sama seperti mereka" jawab Afia melihat para karyawan itu bekerja.


"Kamu pasti bisa seperti mereka, kamu tinggal berusaha saja".


"Hhmmsss, lebih baik aku seperti ini saja Hend, biaya untuk kuliah kakak ku saja ibu ku harus banting tulang mencari uang, apalagi aku harus kuliah?. Rasanya aku seperti membunuh ibu ku saja Hend. Lulus SMA saja aku sudah sangat bersyukur sekali. Lalu bagaimana dengan mu?".


"Aku juga tidak tau".


Afia tertawa, "Sebenarnya aku punya cita-cita Hend. Dari dulu aku ingin sekali seperti sekretaris tuan presdir kita".


"Sekretaris?".


"Mmmmm".


"Kalau gitu mulai hari ini kamu akan menjadi sekretaris ku sekaligus menjadi kekasih ku, maka suatu saat nanti kamu akan seperti dia".

__ADS_1


"Hahahha, hentikan itu Hend. Sebaiknya kita bekerja saja" tawa Afia berjalan duluan.


__ADS_2