Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 76


__ADS_3

Pagi harinya Hendry bersiap berangkat ke kantor, ia melihat pantulan tubuhnya dari atas sampai bawah terlihat begitu sangat sempurna. Setelah itu ia keluar, di depan pintu Freya menunggu dengan senyuman manis.


"Selamat pagi Hendry".


"Mmmm, pagi".


"Kamu tampan sekali. Ayo kita berangkat".


Hendry lalu menatapnya, "Kamu mau kemana?".


"Maksud kamu? Akh, sepertinya kamu belum tau kalau aku menjadi manager marketing di perusahaan grup Mapolo. Tidak apa-apa, kemarin aku lupa memberitahu mu. Ayo, ini sudah hampir jam 8 pagi" jawab Freya menarik pergelangan tangan Hendry menuruni anak tangga.


Keduanya pun langsung berangkat.


Hingga kini mereka telah tiba di perusahaan. Hendry lalu keluar dari dalam mobil, semua mata pun tertuju kepadanya dengan pandangan kagum. Tetapi berbeda halnya dengan Hendry, ia menatap mereka satu persatu dengan wajah datar sama seperti dulunya. Namun karena wajah Hendry selama ini masih di rahasiakan, mereka tidak mampu mengenali dirinya meskipun ia sudah pernah bekerja di dalam perusahaan tersebut sebagai petugas kebersihan.


"Selamat pagi tuan" ucap mereka memberi hormat.


Kemudian Hendry melanjutkan langkah kakinya menuju aula dimana para petinggi perusahaan menunggu kehadirannya. Hingga sebuah pintu terbuka untuknya, suara tepuk tangan pun langsung terdengar di kedua telinga Hendry. Ia lalu berdiri diatas panggung, menatap mereka kembali satu persatu hingga pandangan matanya berhenti di posisi Abbas yang tersenyum bangga kepadanya.


"Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih banyak kepada para petinggi-petinggi perusahaan yang sudah berjuang untuk perusahaan ini. Disini saya akan memperkenalkan diri, saya adalah Hendry Mapolo, putra tunggal dari pasangan suami istri tuan Abbas Mapolo dan Dina. Saya lulus dari universitas xx yang berada di Amerika serikat".


Suara tepuk tangan kembali terdengar.


"Sebelum saya selesai, ada yang ingin bertanya?".


"Saya" jawab seseorang dari ujung sana.


Kedua mata Hendry pun langsung tertuju kepadanya.


"Silahkan" ucap Hendry.


"Kenapa anda harus kembali ke Indonesia?".


Deng!


Mendengar pertanyaan itu, semua mata tertuju kepadanya membuat mereka heran kenapa wanita itu berani sekali mengajukan pertanyaan seperti itu.


"Baiklah, saya akan menjawab pertanyaan anda. Tapi sebelum itu, anda boleh memberitahu saya siapa nama anda?".


"Nama saya Naura. Saya dari bagian administrasi" jawabnya menatap Hendry dengan tajam.


"Terima kasih, sekarang tidak hal penting yang perlu saya jawab mengenai pertanyaan dari saudari Naura. Karna pertanyaan ini bersifat pribadi. Jadi saya akan mempersilahkan kepada yang lain. Apa masih ada yang ingin bertanya?".

__ADS_1


"Tidak tuan" jawab mereka.


"Terima kasih" setelah itu Hendry pergi meninggalkan panggung menghampiri Abbas yang masih tertawa bahagia sambil bertepuk tangan.


"Ahahahah... Luar biasa, papa sangat bangga sekali kepada mu Hendry".


"Terima kasih pa sudah memberikan kesempatan untuk ku".


"Benar, sekarang kamu kenalkan ini tuan Marlon.. Ketua group dari perusahaan Zaya, dan seperti yang papa dengar kalau kamu mengenal putri dari tuan Marlon".


"Hahahaha... Tepatnya seperti itu. Mereka pasti saling mengenal satu sama lain. Karna om sama papa kamu pernah mengobrol kalau kamu dan putri om satu sekolah".


Hendry pun tersenyum, "Kalau boleh tau, siapa nama dari putri tuan Marlon?".


"Sinta".


"Sinta?".


"Iya, om rasa kalian saling mengenal. Dan ini dia putri om" Marlo lalu mengeluarkan ponselnya, ia langsung menunjukkan layar ponselnya itu di hadapan Hendry.



"Bagaimana? Kamu mengenalnya?".


"Iya, aku mengenalnya" jawab Hendry membuat kedua tertawa bersama.


Hendry lalu melirik Abbas yang mengangguk.


"Baiklah tuan, tapi maaf saya tidak bisa janji".


"Tidak apa-apa".


.


Selesai dari dalam ruang Aula, Hendry keluar seorang diri. Kemudian seorang wanita menghalangi jalannya yang tak lain adalah Naura.


"Oh, setelah beberapa tahun lamanya kamu masih berani menginjakkan kaki di negara ini? Dan ternyata juga kamu adalah pewaris tunggal dari perusahaan raksasa ini" Naura geleng kepala masih belum percaya. "OMG".


Hendry lalu menatapnya. Namun tatapan itu membuat Naura seketika menciut.


"Anda siapa?" tanyanya.


"Apa?" Naura kaget. "Ka-kamu tidak mengenal ku siapa lagi? Tidak mungkin, kamu pasti pura-pur...

__ADS_1


"Jika tidak ada hal yang penting yang ingin anda bicarakan dengan saya. Permisi".


Begitu Hendry melangkahkan kedua kakinya, Naura langsung melihat punggung Hendry menjauh dari hadapannya dengan kepala menggeleng.


"Tidak mungkin, tidak mungkin dia melupakan Afia. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini kepadanya? Ya Tuhan, pria ini benar-benar sangat jahat. Dia sama sekali tidak penasaran mengenai kehidupan Afia bersama dengan putri mereka".


.


Sedangkan Afia, ia telah tiba di sekolahnya sang putri. Ia menatap putri mungilnya itu dari atas sampai bawah dengan senyum kebahagiaan. Karna ia tahu kalau putri mungilnya itu setiap tahun tumbuh besar bahkan Fiandra begitu sangat cantik dan lembut.


"Ibu!" panggil Fiandra.


"Iya sayang?".


"Aku mencintai ibu, Fiandra sangat mencintai ibu. Ibu tau itu kan?".


"Tentu saja ibu tau sayang".


"Tapi maaf Bu kalau Fiandra menagih janji ibu sekarang. Lalu dimana ayah Fiandra Bu? Dulu ibu berjanji kalau Fiandra sudah tumbuh dewasa ibu akan mempertemukan Fiand...


Teng.. Teng.. Teng...


"Astaga, Fiandra sudah masuk Bu. Kalau gitu Fiandra tinggal ibu dulu yah. Dadah ibu.. Fiandra mencintai ibu".


Saat anak itu berlari dari hadapan Afia, air mata yang sedari tadi ia tahan kini tak mampu ia bendung lagi. Air mata itu pun langsung bercucuran di kedua pelupuk mata Afia.


"Hallo Fiandra" panggil seseorang dari belakangnya.


"Ekh Diva. Kamu baru datang?" Fiandra tertawa senang akhirnya Diva bisa berjalan bersamanya. "Aku pikir kamu sudah tiba".


"Kamu sih Fia, aku sedari tadi menunggu mu disana. Kenapa kamu tumben lama datang?".


"Iya Diva, untuk menghemat biaya. Aku dan ibu ku sudah sering berjalan kaki datang kemari. Enggak kaya Diva, kamu kan anak orang kaya. Tentu saja kamu memakai mobil".


"Hahahaha.. Iya juga yah. Kalau gitu, kenapa kamu tidak menyuruh ayah mu saja yang membeli mobil untuk mu dan ibu mu Fia? Kan ayah mu bekerja".


Fiandra pun langsung terdiam, selama ini ia tidak pernah memberitahu kalau ayahnya tinggal bersama mereka. Yang Fiandra selalu jawab saat Diva dan teman-temannya yang lain bertanya ayahnya sedang berkerja di kota sebelah, namun Fiandra tidak pernah berbohong soal kemiskinan mereka. Bahkan ia berani membawa teman-teman satu kelasnya jika salah diantara mereka ingin berkunjung kerumah Fiandra. Tetapi tak satupun diantara mereka ingin kesana, kerena setiap pulang sekolah mereka akan selalu di jemput oleh orang tua masing-masing.


"Fiandra, kenapa kamu diam?".


"Tidak apa-apa Diva. Aku hanya berpikir saja, apa iya ayah ku bisa membeli mobil untuk kami sedangkan untuk makan saja sudah bersyukur sekali?".


Diva pun langsung menatap kagum Fiandra, "Wah, ternyata kamu sangat pengertian sekali ya Fia. Aku tidak menyangka kalau kamu berpikir seperti orang dewasa".

__ADS_1


"Hehehehe iya Diva. Ayo kita masuk".


"Ayo".


__ADS_2