Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 55


__ADS_3

Begitu Afia dan Hendry berhasil mendapatkan izin dari Kirana. Keduanya langsung pergi meninggalkan rumah tersebut menuju rumah kontrakan mereka. Disana Afia melihat si ibu kontrakan tengah menunggu mereka berdua.


"Ketepatan sekali kami ingin memberitahu ibu kalau kami berdua akan pindah dari rumah ini" ucap Afia.


"Loh, kenapa Afia? Apa kalian berdua sudah tidak nyaman tinggal disana lagi karna omongan tetangga?" tanyanya sok perduli, tapi kenyataannya dia malah jauh lebih senang akhirnya kedua orang itu angkat kaki dari tempatnya.


"Bukan Bu, bukan karna omongan orang. Kami berdua pindah karna kami sudah menemukan tempat yang bagus yang ada di kota. Maaf ya Bu kalau selama ini kami banyak membuat ibu jadi bahan gosipan orang-orang".


"Mmmm, tidak apa-apa itu sudah wajar. Jadi kapan kalian pindah dari rumah ini?".


"Malam ini juga kami akan pindah Bu".


"Oh.. Bagus deh.. Akh hahahaha" ia tertawa menutup mulut melihat perubahan di wajah Afia dan Hendry.


Kemudian Hendry berkata, "Sepertinya ibu senang mendengar kami segera meninggalkan tempat ini. Jangan khawatir, malam ini juga kami akan pergi. Terima kasih sudah memberikan kami ke nyamanan selama berada disini".


"Iya" angguknya.


Setelah itu Afia dan Hendry memasuki kontrakan mereka. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Hendry membantu Afia memasukkan semua barang bawaan mereka ke dalam tas sehingga tak satupun barang yang tertinggal disana.


"Sudah Fia?" tanya Hendry.


"Iya Hend. Aku rasa tidak ada lagi yang tertinggal. Ayo!".


"Ayo!".


.


Dan sesampainya mereka di depan istana rumah milik Mapolo. Dengan mata tidak percaya, Afia melihat Hendry sambil bertanya rumah itu benar-benar rumahnya atau tidak.


__ADS_1


"Hahahaha" tawa Hendry. "Iya ini rumah ku Fia. Ayo masuk, papa sama mama pasti sudah menunggu di dalam" ajak Hendry menggenggam tangan Afia membawanya masuk kedalam.


Dan benar sekali, mereka langsung melihat Abbas dan Dina telah menunggu disana dengan senyum mengembang di wajah sepasang suami istri itu.


Dan lagi-lagi Afia di buat terkagum-kagum melihat seisi dalam rumah Hendry yang begitu sangat mewah.



"Ya Tuhan, rasanya aku seperti sedang bermimpi bisa berada di dalam rumah ini" ucap Afia dalam hati sampai tidak menyadari kalau Dina sedang memanggil namanya sampai-sampai Hendry menyadarkan dirinya, "Hhhmmm? Kenapa Hendry?".


"Mama dari tadi memanggil mu Fia" jawab Hendry sedikit berbisik.


"Benarkah? Astaga. Tolong maafkan saya Tante" ucap Afia menundukkan kepala merasa sangat malu sekali kepada sepasang suami istri itu.


Dina lalu tertawa sumbang, entah kenapa dia tiba-tiba merasa tidak suka kepada Afia saat anak itu terpesona melihat kemegahan rumahnya dan ia pun langsung berpikir kalau selama ini Afia tau siapa Hendry yang sebenarnya tapi Afia pura-pura tidak tau demi mendapatkan hati seorang Hendry. Apalagi ia tau kalau selama ini Afia bekerja di group Mapolo meskipun hanya seorang petugas kebersihan dan yang pastinya itu semua hanya sandiwara Afia.


"Maaf Tante maaf om hehehehe.. Saya hanya tidak percaya saja kalau saya berada di rumah istana keluarga Mapolo. Bahkan saya tidak bisa berhenti mengucapkan terimakasih banyak sudah mau menerima saya disini".


Dina kemudian tertawa menyeringai kepadanya sembari melihat Hendry yang benar-benar tulus mencintai Afia.


"Astaga Hendry.. Mama kamu tau saja kalau aku sedang lapar sekali" senang Afia memeluk tangan kanan Hendry membuat Dina mengehentikan perkataannya dan membuat ia semakin tidak menyukai Afia yang benar-benar hanya mengejar harta kekayaan keluarga Mapolo.


"Iya Fia, dirumah ini kamu akan bebas mau memakan apapun yang kamu mau. Mereka akan menyediakan-nya".


"Benarkah Hendry kalau aku boleh memakan apapun yang aku mau?".


"Mmmm, kamu bebas memakan apa pun yang kamu mau. Ayo, papa sama mama sudah jalan duluan".


"Ayo" senang Afia tak ingin berhenti tersenyum bahagia akhirnya ia bisa memakan semua yang ingin dia makan tanpa ia sadari kalau seseorang tiba-tiba tidak menyukai dirinya.


kemudian Hendry menyuruh Afia duduk di sebelahnya dan membiarkan Afia memilih semua hidangan yang tersaji diatas meja tersebut. "Hendry, aku mau ayam goreng itu. Boleh tidak?".

__ADS_1


"Boleh Fia. Sebentar, aku akan mengambilnya, kamu mau berapa?".


"Aku mau du.. Satu saja Hendry" jawab Afia saat kedua matanya bertemu dengan kedua mata Dina yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Ini sayang. Tumben kamu mau satu? Bisanya kamu minta dua kalau enggak tiga".


"Hehehehe.. Inikan lagi dirumah kamu Hendry. Tidak mungkin aku meminta sebanyak itu, entar orang dirumah mu mengatakan aku rakus" jawab Afia sedikit pelan di telinga Hendry.


"Kamu ada-ada saja Fia. Aku sudah mengatakan kepada mu kalau kamu bebas memakan apa saja yang kamu mau" Hendry lalu menaruh sayur di piring Afia. "Kamu makan yang banyak yah biar bayi kita sehat".


"Mmmmm" senang Afia melahap makanannya tanpa sedikitpun merasa malu kepada ibu dan ayahnya Hendry. "Lalu Afia melirik piring ya Hendry, anak itu memang tidak kuat makan mulai sejak ia mengenalnya. Sedangkan dirinya memang sudah sedari dahulu kuat makan bahkan sejak kehamilannya pola makan Afia setiap hari bertambah.


"Aku masih lapar, tapi aku malu meminta tambah kepada Hen..


"Jangan hanya melihat seperti itu saja Fia".


Hendry yang sudah tau kalau Afia masih ingin tambah, ia langsung menyendok nasi tersebut di atas piringnya sampai membuat si pelayan yang melihat mereka di buat melongo tidak percaya dengan porsi makan Afia yang benar-benar sangat banyak sekali.


"Kamu mau ikan ini, daging atau... Akh" tanpa bertanya lagi, Hendry menyendok-kan semua lauk pauk itu diatas piringnya sampai menumpuk keatas membuat Afia tersenyum senang. "Kamu bisa menghabiskannya kan sayang?".


"Mmmm, aku akan menghabiskannya. Terima kasih Hendry".


Kemudian Hendry melihat Abbas yang tersenyum senang melihat porsi makan Afia yang begitu sangat banyak. Sedangkan Dina, begitu Hendry melihat kearahnya, ia pun ikutan pura-pura tersenyum senang.


"Maaf ya Pa Ma kalau porsi makan Afia..


"Tidak apa-apa Hendry. Papa jauh lebih senang melihat dia makan seperti ini. Itu artinya dia menghargai makanan ini semua".


"Terima kasih pa, aku senang mendengarnya".


"Iya".

__ADS_1


Namun berbeda halnya dengan Dina, ia sama sekali tidak suka melihat wanita rakus seperti Afia dan Afia benar-benar terlihat kampungan sekali dan itu membuat Dina merasa jengkel dan tidak bisa sekali menerima Afia sebagai menantu ya.


Hingga kini piring Afia kembali kosong, ia tersenyum senang kepada Hendry melihat perutnya sudah terisi penuh/merasa kenyang dan Hendry juga mengetahui akan hal itu melihat dari wajahnya saja.


__ADS_2