Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 22


__ADS_3

"Dia tidak mempercayai ku. Yah, tunggu aku Afia" panggilnya menyusul dari belakang.


"Diam, sekarang kamu ambil semua sampah dari sana. Jangan sampai ada yang tertinggal ok, setelah itu kamu simpan di gudang. Inih" ucap Afia memberikan kantong sampah ditangan Hendry.


"Ok" angguk Hendry menerima. Ia pun segera menuang semua sampah yang sudah menumpuk di tong sampah para karyawan itu di dalam plastik tampa ada yang tertinggal. Setelah itu ia melihat Afia yang sedang membersihkan lantai dengan senyum tipis.


"Hey kamu" panggil seorang karyawan itu kepada Hendry. "Kamu kemari sebentar".


Hendry berjalan mendekatinya, "Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Iya, tolong kamu bersihkan ruangan itu. Saya keluar sebentar atau mana teman kamu itu? kalian berdua saja biar cepat, soalnya kami sebentar lagi meeting. Bisa kamu lakukan itu?".


"Bisa".


"Mmmm, kerjakan sekarang juga, 10 menit saya kembali" perginya meninggalkan Hendry, lalu Hendry menghampiri Afia.


"Fia, wanita yang baru saja keluar itu menyuruh kita membersihkan ruangan disana" ucap Hendry memberitahunya.


"Iya Hend, kamu duluan saja" angguk Afia.


"Mmmmm" Hendry duluan masuk. Ia melihat ruangan itu masih tertata rapi seperti baru selesai di bersihkan. Kemudian Hendry memeriksa tong sampah, "Tidak ada sampah, sebaiknya aku duduk dulu menunggu Afia masuk".


Tidak lama kemudian, Afia langsung masuk keruangan tersebut. Namun ia malah melihat Hendry sedang tidur diatas salah satu kursi disana dengan kedua kaki yang terangkat diatas meja. "Astaga Hendry" panggilnya membangunkan Hendry.


"Aahh, kamu sudah datang?" uap Hendry menutup mulut. "Ruangan ini sudah bersih Fia, sepertinya barusan dibersihin juga. Sampah juga tidak ada hhooaamm, aku mengantuk sekali Fia" ucapnya memeluk perut Afia.


PPPLLAAKK...


Afia memukul punggung Hendry sedikit kuat, lalu melepaskan pelukannya, "Itu sangat sakit Afia" rengeknya seperti anak kecil.


"Jangan bercanda Hendry, ayo cepat bangun. Nanti kita malah ketahuan main-main disini" tarik Afia ditangan Hendry bangkit berdiri dari atas kursi.


"Mau ngerjain apa lagi Fia? ini semua sudah bersih" malas Hendry sangat mengantuk.


"Ini, kamu membersihan sudut-sudut ruangan itu dengan kemoceng ini, siap itu jangan lupa melapnya".


"Baiklah" angguk Hendry.


"Anak baik" senyum Afia melap meja disana, lalu menyapu lantai. Setelah selesai, ia melihat Hendry yang bekerja cukup baik. "Kamu bekerja cukup baik".


"Benarkah?".


"Mmmm, ayo. Sebentar lagi mereka masuk".

__ADS_1


.


Malam harinya Hendry dan Afia berada di ruangan presdir. Afia selalu membersihkan ruangan tersebut kalau Abbas kembali pulang. "Wah, jadi ini ruangan presdir?" senang Hendry mendudukkan diri diatas kursi kebesaran Abbas.


"Mmmm, tapi sebaiknya kamu berdiri dari situ Hend, nanti kita ketahuan sama buk Eva" lihat Afia melihat Hendry menyalakan komputer Abbas. "Hendry, apa yang sedang kamu lakukan dengan komputer itu? ayo berdiri dari sana Hendry".


"Tunggu sebentar Afia" jawab Hendry.


"Kalau kamu tidak pergi dari sana, aku akan memukul mu".


Hendry menghentikan tangannya, lalu ia tersenyum kepada Afia. "Baiklah, maafkan aku" ia datang mendekatinya, kemudian Hendry melihat kerah kaca ruangan Abbas. "Ooo, hujan turun Fia".


"Benarkah?".


"Mmmm, kamu lihat itu".


"Ck, bagaimana aku pulang nanti? mana hujannya lebat lagi".


"Kenapa Fia?".


"Kalau hujan turun, bus menuju tempat ku pasti tidak beroperasi lagi".


"Terus?".


"Terpaksa aku jalan kaki dari simpang menuju rumah ku, sekitar 30 menit lagi, kalau aku berlari sekitar 15 menit".


"Bagaimana dengan mu? nanti orang tua mu bisa mencari mu".


"Aku tinggal sendiri di hotel, jadi biarkan aku menginap dirumah mu saja. Bagaimana? tidak mungkin aku membiarkan kekasih ku sendiri jalan sendiri ditengah malam dan ditengah hujan seperti ini".


Afia tertawa kecil, "Bukan aku tidak mau membawa mu kerumah ku Hend, tapi aku takut kalau ayah ku marah. Kamu mau kena amukan ayah ku?".


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa".


"Yasudah kalau kamu tidak percaya. Nanti kamu bisa ikut aku".


"Ooo, terima kasih sayang".


"Sekarang ayo selesaikan ini, sebentar lagi kita sudah pulang".


"Mmmmm".


.

__ADS_1


Sepulangnya mereka, Hendry dan Afia langsung berlari ke halte di derasnya hujan dari atas langit. "Hendry tunggu aku" teriak Afia tertinggal.


Hendry tersenyum, lalu kembali mundur kebelakang, ia menggenggam tangan mungil itu pergi dari sana. Afia merona, entah kenapa jantungnya langsung berdebar saat Hendry melakukan hal sekecil itu saja. Begitu mereka tiba di halte, Hendry langsung melap wajah Afia dengan kedua tangannya, lalu ia tersenyum manis semakin membuat jantung Afia berdetak kencang dan juga kedua pipinya yang merona.


"Afia" panggil Hendry. "Afia" panggilnya lagi.


"Ooo, maaf" senyum Afia memalingkan wajahnya, ia menyentuhnya dan terasa sedikit panas.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Hendry meskipun ia tau alasan Afia memalingkannya, namun Hendry mencoba bersifat polos dan manis.


"Mmmm, aku baik-baik saja".


"Tapi hujan sepertinya tidak akan redah Fia, lihatlah hujannya semakin lebat. Bagaimana kalau kita naik taksi saja? aku rasa itu jauh lebih baik dari pada kita kemalaman disini, nanti keluarga mu bisa khawatir?".


"Aku rasa seperti Hend, tapi ongkos taksi kerumah ku sangat mahal. Mana lagi aku enggak punya uang, kita tunggu bus saja, pasti masih ada yang lewat".


"Ini sudah jam 10 malam lewat Fia, sebaiknya kita naik taksi saja. Biar aku nanti yang membayarnya".


"Kamu yakin Hend?".


"Mmmm".


Afia tersenyum, "Kalau gitu terima kasih, nanti kalau sudah gajian aku akan membayar mu".


"Ok" angguk Hendry menghentikan sebuah taksi yang baru lewat dari hadapan mereka. "Ayo, masuk".


"Mmmmm" angguk Afia masuk kedalam. "Pak, tolong antar kami ke jalan xx".


"Siap nona" si supir taksi langsung menjalankan mobilnya menuju tempat Afia tinggal. Tidak lama kemudian, sesampainya mereka dari sana, Afia keluar duluan dari dalam taksi, lalu Hendry membayarnya dengan uang merah. "Kembaliannya dek".


"Ambil saja pak, terima kasih".


"Iya" senyumnya mengangguk.


"Kenapa Hend?" tanya Afia menunggu di samping taksi.


"Tidak, dimana rumah mu?".


"Disana" ajaknya membawa Hendry ke rumahnya yang sederhana. "Oohh iya Hend, rumah ku sangat sederhana, bahkan lebih kecil dari rumah yang kamu lihat disini. Itu dia, ibu ku sudah menunggu ku di teras rumah" senyum Afia memanggil ibunya.


"Astaga, Afia" Ibunya pun langsung memberinya handuk di kepala sang putri. Kemudian melihat Hendry berdiri dibelakang Afia. "Loh, dia siapa Fia? ibu kok seperti pernah melihatnya".


"Dia teman satu sekolah Afia dan juga satu kerjaan Afia buk".

__ADS_1


"Oohh" angguknya memberikan handuk di kepala Hendry juga. "Ibu seperti pernah melihat mu. ayo masuk, diluar dingin" ajaknya kearah sofa usang di ruang tengah rumah Afia. "Fia, tolong kamu beri pakaian dia, ibu membuatkan teh sebentar".


"Iya buk. Ikut aku Hend" ajak Afia memasuki kamarnya.


__ADS_2