
Nesa dan Fany langsung terdiam, kemudian Hendry berkata. "Apa yang kalian inginkan?" tanyanya.
"Ya kamu harus bertanggung jawab lah setelah apa yang kamu lakukan kepada kita berdua" jawab kedua orang itu.
"Baik, aku akan bertanggung jawab. Kalau gitu aku juga akan melaporkan kalian balik atas penyerangan terhadap ku. Kalian sudah siap?".
"Apa? yah.." bentak Fany.
Hendry melihat si polisi, "Saya juga ingin melaporkan mereka berdua atas penyerangan terhadap say..
"Hendry?" potong seseorang dari belakang mereka melihat Hendry. "Ah, benar kamu Hendry kan?" Hendry pun langsung gelagapan, ia tidak mengenal orang yang berada di hadapannya itu, tapi karna orang itu mengenalnya membuat ia harus melakukan sesuatu kalau tidak ingin terjadi apa-apa kepadanya.
"Selamat siang pak" hormat para si polisi tersebut.
"Mmmm, kenapa dia bisa..
"Maaf, bisa kita bicara sebentar?" ajak Hendry bangkit berdiri. "Tunggu sebentar" ucapnya kepada si polisi. Kemudian mengajak orang itu pergi dari sana. Lalu Hendry tersenyum, "Saya tidak mengenal anda siapa, namun sepertinya anda mengenal saya. Benarkah itu?".
Ia tertawa, "Sejak dari kecil saya sudah mengenal mu, sedang apa kamu disini? apa kamu terkena masalah?".
"Mmmm, kedua wanita itu menganggu ku sampai aku melakukan kekerasan terhadapnya".
"Kenapa kamu melakukannya? kamu tidak sedang melakukan peleceh..
"Tidak, aku tidak akan sampai melakukan hal seperti itu".
"Mmmmm" gumamnya.
"Saya boleh minta tolong? saya mohon jangan sampai kedua orang tua saya tau, saya tidak ingin berurusan dengan mereka".
"Kenapa?".
"Saya ingin belajar mandiri. Jadi saya mohon".
"Mmmmm, saya tidak akan memberitahu mereka. Sebaiknya kamu pergi saja, biar saya yang membereskannya".
"Tidak, kalau anda ikut campus urusan saya. Mereka akan mencari tahu siapa saya yang sebenarnya".
"Kamu yakin?".
"Mmmm".
"Ya sudah, pergilah".
"Terima kasih".
"Sama-sama".
Hendry kembali masuk kedalam, lalu Abian berjalan mendekatinya. "Hend, dia siapa? kamu mengenalnya?".
"Aku tidak mengenalnya, tapi dia mengenal orang tua ku. Dan aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak memberitahu mereka".
"Mmmmm, semua akan baik-baik saja" tepuk Abian di lengannya. Lalu Hendry kembali duduk diatas kursinya, ia melihat si polisi tersebut sedang melihatnya membuat Hendry mengernyitkan dahi. "Saya akan melaporkan mereka balik".
__ADS_1
"Korban memilih untuk berdamai diatas uang 15 juta" beritahu si polisi membuat Nesa dan Fany tersenyum bahagia.
Mendengar itu Abian langsung mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Ini, saya akan membayar dendanya sebanyak 20 juta. Sekarang giliran Hendry menuntut kembali, karna ini kasus penyerangan kami akan meminta 50 juta".
"Apa?" kaget Nesa dan Fany.
"Apa-apaan ini?" bentak kedua orang tua Fany dan Nesa.
"Saya tidak ingin berlama-lama disini, cepat selesaikan itu" ucap Hendry melihat kartu Abian yang belum di gesek sedari tadi. "Ini sudah jam 1, saya masih ingin bekerja. Bian, aku duluan saja, kamu tunggu saja sampai mereka menyelesaikannya".
"Mmmmm" angguk Abian.
"Ayo, aku akan mengantar mu" ucap Chan mengikutinya.
"Terima kasih".
Di dalam mobil Hendry menyandarkan kepalanya, ia terlihat sangat lelah bersamaan dengan marah, "Kamu baik-baik saja?".
"Mmmm, aku baik-baik saja".
"Tidak usah dibuat beban pikiran, wanita jaman sekarang sudah kebanyakan seperti itu. Kamu yakin masih mau masuk kerja?".
"Mmmm, Afia pasti menunggu ku disana" jawab Hendry melihat jam telah menunjukkan hampir pukul 2 siang.
Sesampainya mobil Chan, ia pun segera masuk kedalam, dan seperti yang tadi ia ucapkan, ia langsung melihat Afia berdiri menunggunya membuat ia tersenyum. "Afia" panggilnya.
"Hendry. Kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja sayang" jawab Hendry membawa Afia kedalam pelukannya. "Maaf sudah membuat mu khawatir".
"Kenapa?".
"Mereka melihat kita, aku jadi malu".
"Kenapa kamu harus perduli dengan mereka. Ayo".
"Tas kamu".
"Terima kasih sudah membawanya".
"Iya".
.
Malam harinya Afia dan Hendry sedang berada di halte bus. Kedua orang itu tampak sedang menikmati sebuah lagu sambil menunggu bus menuju rumahnya. Tidak lama kemudian bus tersebut telah tiba, Afia langsung melepaskan earphone milik Hendry, lalu ia memasuki bus meninggalkannya. "Sampai jumpa besok" lambai Afia dari dalam bus.
"Mmmm" balas Hendry melambaikan tangannya.
Setelah itu Hendry menghentikan sebuah taksi. "Antar saya ke hotel xx".
"Baik tuan" jawabnya segera menjalankan mobilnya. Lalu Hendry melihat kesamping, dengan pikiran kosong Hendry menutup mata. Hingga kini ia telah tiba di hotel, ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT...
__ADS_1
Hendry tersenyum, "Kamu sudah sampai rumah?".
"Sudah, baru saja. Kamu?".
"Aku juga baru tiba".
"Ya sudah, aku mandi dulu".
"Mmmmm" angguk Hendry mematikan ponselnya. Ia juga memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya, setelah itu tampa ia ketahui ketiga sahabatnya mendatangi apartemennya membawakan beberapa kota makanan.
"Sepertinya dia sudah pulang" ucap Dafa melihat tas Hendry diatas sofa.
"Sepertinya, coba kamu lihat dia dikamar".
"Ooo" angguk Dafa berjalan membuka pintu kamar Hendry. Lalu Dafa memanggil namanya sampai beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari yang empunya nama. "Hendry" panggilnya lagi menggedor pintu kamar mandinya.
"Siapa?".
"Aku, Dafa" jawabnya.
"Tunggu sebentar, aku akan segera keluar".
"Oo, buruan" Dafa kembali mendatangi Abian dan Chan. Ia melihat kedua orang itu tengah asik bermain game dengan anggur yang berada di atas meja.
"Sedang apa dia?" tanya Abian.
"Mandi".
"Mmmmm" gumam Abian.
Setelah 10 menit lamanya, Hendry langsung keluar dari dalam kamarnya, lalu di mendudukkan diri di samping Dafa sambil menyambar gelas anggurnya. "Bagaimana Bian? apa mereka membayarnya".
Abian menghentikan game ya, lalu ia tertawa senang. "Aku tidak yakin mereka bisa membayarnya, aku akan menantinya".
"Bagus, aku tidak menyukai kedua wanita itu. Sudah sejak dari lama aku ingin memberinya pelajaran".
"Pertama kali saja aku melihatnya tidak suka" balas Chan. "Kedua wanita itu terlalu sombong".
Dafa tertawa, "Tapi jangan terlalu tidak menyukainya Chan, nanti kamu bisa jatuh cinta kepadanya" ledeknya.
"Hahaha, yang benar saja aku menyukai wanita seperti mereka. Bagaimana dengan mu?".
"Kenapa dengan ku?".
"Kamu tidak menyukai kedua wanita itu?".
"Boleh kalau untuk bersenang-senang, dengan senang hati aku akan menjadi atm berjalan mereka hahahha".
"Sebaiknya tidak usah, kedua wanita itu bukanlah wanita yang pernah kalian temui".
"Maksud kamu Hend?".
"Aku tidak yakin, tapi rasanya mereka tidak beda jauh dari namanya wanita penghibur. Kamu masih mau mencobanya?" lihatnya kepada Dafa.
__ADS_1
"Kenapa tidak" senyum Dafa membuat mereka tertawa.