
Naura melap keringat yang bercucuran dari wajahnya, ia melihat hari semakin sore dan buah yang ia jual sudah habis terjual. Naura kemudian melihat si wanita tua itu sedang beres-beres, "Minumlah, terima kasih sudah menjual semuanya".
"Mmmmm" balas Naura langsung meminum air putih yang wanita tua itu berikan. Ia lalu bangkit berdiri berkata, "Sekarang katakan dimana pria ba*jingan itu tinggal?".
"Duduklah dulu, aku akan membawa mu kesana".
"Aku tidak punya waktu lagi berlama-lama disini. Cepat katakan dimana dia tinggal".
Naura sedikit mendesaknya, tetapi wanita tua itu tidak menghiraukan perkataannya membuat Naura kesal hingga kini si wanita tua selesai menyimpan semua peralatan dagangannya.
"Kenapa kamu begitu tidak sabar? Ayo" keduanya pun segera meninggalkan tempat tersebut menuju dimana wanita tua itu tinggal dan juga Darius. Sesampainya disana, Naura melihat tempat itu sangat kumuh dan juga bau. "Ayo masuk, ini rumah ku".
"Apa?".
"Kenapa? Ayo masuk dulu".
"Tidak mau" jawab Naura kasar. "Kamu sedang membohongi ku?".
Wanita tua itu tertawa, "Tidak, aku tidak membohongi kamu. Ayo masuk, aku akan membuatkan teh untuk mu".
"Yah...!" Naura yang marah kepada si wanita tua itu langsung pergi meninggalkannya tanpa peduli dengan apa yang ia cari. Tetapi saat wanita tua itu berkata.
"Naura!" panggilannya.
Kedua langkah kaki Naura pun berhenti.
"Naura!" panggilannya lagi.
Naura lalu memutar tubuhnya melihat si wanita tua itu. "Da-dari mana kamu mengetahui nama ku?" kagetnya.
Wanita tua itu tersenyum, "Masuklah" ucapnya menjawab.
"Tidak mau, aku sudah berapa kali mengatakan kepada mu aku tidak mau".
Dan lagi-lagi wanita tua itu tersenyum, ia berjalan mendekati Naura mencoba menggenggam kedua tangannya, namun Naura yang tidak menyukainya menghempaskan tangan ya.
"Jangan menyentuh ku".
"Aku tau kamu tidak mengenal ku siapa Naura, tapi begitu kamu masuk ke dalam kamu akan tau siapa aku sebenarnya. Ayo masuk dulu".
Naura mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti maksud dari perkataan si wanita tua itu, tetapi tangan Naura yang sudah di genggaman olehnya terpaksa ia mengikuti setiap langkah kakinya hingga kini mereka berada di dalam rumahnya.
"Tunggu, sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?" Naura semakin merasa penasaran kepadanya.
"Duduk, aku akan memberitahu mu".
Naura mendudukkan diri, ia melihat si wanita tua memasuki sebuah kamar yang tidak ia tahu apa di dalam sana. Naura kemudian mengalihkan seluruh arah pandangan matanya, ia melihat beberapa foto yang sudah sangat usang bersama dengan seorang pria kecil duduk di atas sebuah kursi panjang dan yang seperti ia lihat, foto itu berada di taman.
"Hahahaha... Kamu pasti penasaran" tawa wanita tua keluar dari dalam kamar.
"Tidak" jawab Naura berbohong, meskipun yang sebenarnya ia sangat penasaran ditambah si wanita tua itu membawa beberapa album foto di atas tangannya. "Apa itu?".
"Ini, kamu buka sendiri".
__ADS_1
Naura terdiam.
"Bukalah, bukannya kamu sangat penasaran?".
Naura menghela nafas, ia pun langsung menyambar album foto tersebut segera membukanya dengan mata memicing.
"Ini siapa?".
"Menurut mu dia siapa?".
Naura kembali melihat foto itu, ia lalu menebak kalau orang yang berada di dalamnya adalah.
"Ayah?".
"Iya, dia ayah mu Darius".
"Apa? Terus wanita ini siapa?".
"Dia wanita yang dulu sangat Darius cintai. Tetapi karena kami menjodohkan ayah mu dengan ibu mu, mereka harus berpisah hingga sekarang mereka kembali bersama".
"Apa?" tanpa Naura sadari air matanya mengalir begitu saja tanpa ia undang. "Jadi, pria baj*ingan itu kembali ke masa lalunya?".
"Iya, maafkan nenek mu ini tidak bisa melakukan apa-apa Naura".
Naura lalu tertawa melap air matanya, "Baiklah, kalau begitu katakan dimana pria itu berada?".
"Katakan dimana dia sekarang?" Naura meninggikan suaranya. "Aku tidak perduli kepadanya, aku sudah katakan kepada mu dia bukan lagi bagian dari kami. Cepat katakan sebelum aku melaporkan dia ke polisi".
"Kamu yakin menemuinya?".
"Iya, katakan dimana dia sekarang".
"Baiklah kalau itu mau kamu. Ayo ikut aku".
Wanita tua itu langsung membawa Naura ke tempat tinggal dimana Darius bersama dengan istri barunya itu.
"Ini rumahnya. Kamu tunggu disini saja".
Tok.. Tok...
"Apa ada orang di rumah?".
Tok... Tok...
"Siapa?".
"Ini ibu".
Ceklek!
Seorang wanita paruh baya membuka pintu rumahnya, ia melihat ibu mertuanya bersama dengan seorang wanita muda yang tak lain adalah Naura.
__ADS_1
"Ibu" ia tersenyum. "Wanita itu siapa?".
"Naura, kemarilah" ucap si wanita tua. Begitu Naura berdiri di hadapan mereka, Naura melihat keduanya dengan wajah sinis membuat wanita paruh baya itu terheran. "Dia Naura, putri pertama Darius bersama dengan Kirana".
"Apa?" kagetnya.
"Iya, Darius dimana?".
"Tunggu ibu. Ke-kenapa dia ada disini?".
Naura tertawa, "Hahahhaha... Kenapa? Kamu takut aku akan membawa pria baj*ingan itu? Hahahaha.. Kamu tidak usah khawatir, aku kemari hanya ingin mengambil barang yang sudah suami mu curi dari rumah ku. Sekarang katakan dimana dia berada sebelum aku melaporkan dia ke polisi?".
Wanita itu pun ikutan tertawa mengejek Naura, "Apa? Kamu bilang suami ku mencuri? Yah, kamu pikir...
"Ada apa ini?".
Naura memutar tubuhnya, ia melihat Darius berdiri di belakangnya dengan mata membulat begitu melihat dirinya yang tersenyum menyeringai.
"Naura?".
"Mmmmm, ini aku".
"A-apa yang sedang kamu lakukan disini? Bagaimana bisa kamu...
"Hahaha.. Kenapa Haahh? Kamu takut melihat ku disini? Jangan khawatir, aku kemari bukan untuk menganggu rumah tangga mu, aku kemari hanya meminta barang yang sudah kamu curi dari rumah ku. Berikan benda itu" Naura mengulurkan tangan kanannya. "Ayo berikan".
Darius pura-pura bodoh, ia terlihat seperti tidak tau apa-apa dan tidak mengerti maksud dari perkataan Naura.
"Tidak usah pura-pura seperti itu, kamu pikir aku tidak tau kalau kamu sudah mencuri dompet ibu ku haahh? Ayo cepat berikan sekarang juga".
"Wahhh, kamu sudah mulai berani yah kepada ayah mu sendiri...
"Cuuiihhhh" Naura membuang ludah ya tepat di hadapan Darius. "Berhenti menyebut mu seorang ayah, aku tidak pernah menganggap mu ayah ku lagi. Ingat itu, jangan pernah membuat ku mengulangi perkataan ini lag....
PPPLLLAAKKK...
"Kurang ajar, Berani-beraninya kamu mengancam ku. Kamu pikir kamu siapa haahhh? Kamu pikir kamu siapa?" Darius hendak kembali menampar pipi Naura, namun ibunya langsung menghentikan tangan Darius.
"Sudah, jangan sakiti dia. Kalau benar kamu mengambil dompet Kirana. Sekarang kembalikan kepadanya".
"Apa? Ibu percaya perkataan anak ini?".
"Iya, tidak mungkin dia berbohong. Ayo berikan".
"Haahhh" Darius mengusap wajahnya kasar masih berpura-pura tidak mengambil barang tersebut. "Jadi sekarang kalian lebih percaya kepada anak kurang ajar ini di bandingkan aku haaahh? Tapi baiklah kalau memang kalian tidak ada yang mempercayai ku lagi, sebaiknya aku pergi juga dari rumah ini".
"Mas, jangan seperti itu".
"Sudah, sebaiknya aku pergi saja. Bagaimana bisa kalian lebih mempercayainya dari pada aku".
Naura tertawa, "Baiklah kalau kamu tidak mau mengakuinya. Maka akan aku serahkan saja kepada pihak yang berwajib. Saya permisi".
Darius pun langsung membulatkan kedua matanya.
__ADS_1