
Berada di dalam kelas Afia tengah asik melamun sendiri. Sedangkan sang guru yang berada depan sedang menjelaskan materi pembelajaran mereka. "Ada apa?" tanya Hendry. Namun Afia tetap dengan dunianya tanpa ia ketahui kalau saja Hendry baru saja bertanya. Hingga akhirnya Hendry menyentuh tangannya.
"Astaga!" kagetnya.
"Ada apa itu ribut?" si ibu guru yang berada di depan papan tulis langsung melihat kearah mereka berdua membuat yang lainnya juga ikutan menoleh kearah mereka. "Ada apa?" tanyanya lagi.
"Tidak ada apa-apa Bu" jawab Hendry. Kemudian Afia ikutan menyambung perkataan Hendry kalau memang tidak terjadi apa-apa. Setelah itu si guru tersebut melanjutkan pembelajaran mereka, sedangkan Hendry. "Kenapa kamu melamun seperti itu? Kamu baik-baik saja? Kamu lapar atau..
"Mmppphhhmmm".
"Kenapa Fia?" Hendry mulai terlihat khawatir. "Kamu mual lagi Fia?".
"Mmmmm.. Sakit sekali Hendry, dari tadi pagi aku bawaannya mual-mual terus dan juga bawaannya lemas sekali" jawab Afia menyandarkan kepalanya di bahu Hendry. "Tunggu sebentar Hend, kepala ku pusing sekali".
"Kita kerumah sakit yah".
"Tidak usah Hend. Jangan membuang-buang uang seperti itu. Kamu pikir biaya rumah sakit itu murah?".
"Kenapa kamu jadi memikirkan biaya rumah sakit? Aku tidak perduli dengan uang Fia, aku hanya mau kalau kamu baik-baik saja. Kita kerumah sakit sekarang juga yah".
Dengan kesal Afia pun langsung menarik kepalanya dari bahu Hendry. "Kamu menyebalkan sekali. Aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku tidak mau kerumah sakit. Jangan memaksa ku Hendry, sebaiknya kamu membeli rujak yang ada di pinggir jalan itu".
Meja Afia dan Hendry yang berada di balik tembok. Ia lalu melihat keluar, karna jam telah menunjukkan pukul 10 pagi, si penjual rujak yang biasa nongol disana telah berada disitu.
"Hend, aku pengen makan rujak. Tidak bisakah kamu membelikan itu untuk ku sekarang juga. Aku mohon".
"Ini masih pagi Fia, dan jam istirahat juga belum tiba".
"Ck, aku pengen makan itu sekarang juga Hendry".
"Nanti aku akan membelinya untuk mu setelah jam mata pelajaran ini selesai. Ok".
"Aku mau sekarang Hendry. Ayolah belikan itu untuk ku..
"Sekali lagi ibu dengar suara kalian berdua, ibu tidak akan segan-segan menendang kalian dari dalam kelas ini" potong si ibu guru menolah kearah mereka dengan wajah sangar.
__ADS_1
"Maaf Bu" jawab Hendry.
Kemudian si ibu guru tersebut melihat kearah Afia yang sama sekali tidak merasa bersalah kepadanya membuat ia berjalan kearah meja mereka.
"Kamu!" panggilannya.
"Iya Bu?" jawabnya.
"Kamu berani melawan saya hahh?".
Afia heran begitu juga dengan Hendry, "Kenapa dengan saya Bu?".
"Kamu pura-pura nanya lagi..
PPPLLLAAKKK...
Dengan kesal si ibu guru tersebut pun langsung memukul kepala Afia sedikit kuat membuat kesakitan, "Sudah salah tidak mau mengakui kesalahannya lagi. Kamu pikir ini sekolah bapak kamu haaahhh? Kamu pikir ini sekolah bapak kamu?".
Hendry lalu menatapnya tajam, ia terlihat sangat marah sekali kepada wanita yang berada di hadapannya sambil mengepal kedua tangannya.
"Kamu juga".
"Saya bilang hentikan!" teriak Hendry langsung di wajahnya bangkit berdiri ingin memukulnya. Namun Hendry yang merasa ia sedang berada di sekolah membuat ia harus menahan emosi.
"Oh.. Berani kamu yah meneriaki guru mu sendiri. Wah, berani sekali kamu yah. Dasar anak kurang ajar. Apa kamu selama ini tidak dididik oleh orang mu haahh?".
"Saya mohon hentikan ini" ucap Hendry lagi tanpa menjawab pertanyaannya.
"Emang apa yang harus saya hentikan hhhmm? Berani sekali kamu yah? Bagaimana bisa siswa seperti kamu berani mene...
"Itu salah ibu sendiri" potong Hendry tajam. "Apa ibu juga tidak merasa bersalah setelah apa yang barusan ibu lakukan kepadanya? Tidak seharusnya ibu melakukan itu kepada wanita".
"Oh, jadi sekarang kamu mau memerintah saya? Haahhh? Sekarang juga kalian berdua keluar dari ruangan ini. Ayo keluar, dan jangan pernah lagi masuk dalam materi pembelajaran saya. Ayo cepat keluar".
Namun bukannya menyesali apa yang telah Hendry lakukan, ia malah tersenyum sinis kepada si ibu guru tersebut membuat ia sangat marah sekali kepadanya. "Hendry udah dong, jangan seperti ini, aku mohon. Bu, tolong maafkan kami berdua, kami berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan ini...
__ADS_1
"Saya sudah bilang kalian berdua silahkan keluar di jam mata pelajaran saya. Saya tidak perduli dengan siswa yang tidak bisa di atur. Ayo buruan keluar, atau perlu saya yang keluar?".
Kemudian siswa yang lainnya tidak terima kalau si ibu guru tersebut yang keluar dari dalam kelas mereka. Hingga akhirnya Hendry menarik pergelangan tangan Afia membawanya pergi dari sana.
"Hend! Hendry! Hendry" panggil Afia mencoba menghentikannya. "Dengarkan aku dulu Hendry".
Lalu Hendry menghentikan langkah kakinya melihat Afia setelah mereka keluar dari dalam kelas itu. "Kenapa? Aku sudah pernah katakan kepada mu Fia aku tidak suka melihat orang yang mau melakukan kekerasan apalagi itu menyangkut kamu. Aku akan melawan orang itu, siapa pun dia orangnya. Aku sayang sama kamu Fia, aku mencintai kamu".
Afia menghela nafas berat, "Aku tau Hendry. Tapi ini menyangkut masa dengan kita loh. Kamu mau kita berdua enggak lulus? Aku yakin kamu enggak mau kan? Ayolah Hend kita minta maaf yah".
"Itu tidak akan pernah terjadi Afia. Ayo, kamu tadi bilang ingin sekali memakan rujak".
"Aku tidak mau lagi. Karna rujak itu semua jadi seperti ini. Menyebalkan sekali".
Dengan gemas Hendry pun tertawa senang melihat kekecewaan di wajah sang kekasih. "Kenapa kamu jadi menyalahkan rujak itu sayang? Dia enggak punya salah sama kamu. Ayo buruan".
"Pokoknya aku enggak mau lagi Hendry sebelum kita berdua minta maaf" tolak Afia masih berdiri di tempat semula.
"Jadi kamu yakin enggak mau Fia? Lagian aku tidak akan pernah mau meminta maaf kepadanya".
Semakin marah Afia menatap Hendry dengan mata tajam. "Kalau kamu enggak mau minta maaf Hendry. Aku akan mengakhiri hubungan kita sampai disini saja. Aku enggak mau nantinya punya suami yang egois seperti kamu, meskipun itu demi kebaikan aku".
Kemudian Hendry tersenyum mengangguk, "Oh, jadi ceritanya sekarang kekasih ku ini sedang marah hhhmm?".
"Iya. Kalau kamu benar-benar enggak mau. Hari ini juga aku minta putus Hendry" jawab Afia dengan mantap.
"Kamu yakin sayang? Kamu benar-benar tidak akan menyesalinya?".
"Iya, aku tidak akan menyesalinya. Sekarang kamu pilih mana, kamu mau minta maaf sama ibu guru itu atau kamu memilih putus dari ku?".
Lagi-lagi Hendry menunjukkan senyumannya.
"Kamu pikir aku sedang bercanda Hendry? Aku mengatakan yang sebenarnya".
"Baiklah kalau itu yang kamu mau dari ku Fia. Aku memilih putus dengan mu" jawab Hendry langsung pergi meninggalkannya.
__ADS_1