
Afia berangkat kerja, ia bekerja disebuah restoran berbintang lima yang berada di tengah-tengah pusat kota. Entah kenapa, Afia sangat bersyukur sekali bisa diterima disana, sedangkan ia belum pernah memiliki pengalaman di bidang restoran.
"Afia" panggil sang manajer.
"Iya pak? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Afia melihat si manager tersenyum kepadanya.
"Iya Fia, kamu ikut aku sebentar keruangan".
"Baik pak" jawab Afia.
Begitu mereka berada di dalam ruangan itu, si manager melihat Afia dari atas sampai bawah dengan senyum mengembang di wajahnya. Melihat itu, Afia merasa tidak enak, ia terlihat tidak nyaman.
"Akh, maafkan aku Afia" ucapnya tersenyum lagi.
"Tidah apa-apa pak".
"Oh iya Fia. Karna kita sedang berdua, kamu tidak usah memanggil bapak kepada ku, kamu panggil saja Andre, aku lebih senang kalau kamu menyebut nama ku".
"Tapi pak, aku merasa tidak enak kalau sampai yang lainnya mendengar aku menyebut bapak dengan sebutan Andre".
"Jangan khawatir, kamu tidak usah memperdulikan mereka mmmm".
"Baiklah pak kal.. Akh, Andre. Lalu ada apa kamu memanggil ku kemari Andre?" tanya Afia meskipun ia tidak suka menyebut nama atasnya dengan sebutan nama, tetapi demi ia segera keluar dari sana, Afia pun mengiyakan perkataan tersebut.
"Sebenarnya ini masalah pribadi Afia, bukan masalah pekerjaan" Andre lalu mengeluarkan sebuah kotak dari laci penyimpanan bawah mejanya. "Ini".
Afia heran, ia melihat kotak itu dengan kening mengerut. "Ini apa Andre?".
"Kamu buka dulu Fia, nanti aku akan memberitahu mu".
Tidak menunggu lama, Afia pun segera membuka kotak tersebut langsung menemukan sebuah gaun merah yang begitu sangat indah terlipat rapi di dalamnya. "I-ini apa Andre?".
"Gaun Afia. Kamu menyukainya?".
Afia menggelengkan kepala, "Jangan bilang kamu ingin memberikan gaun ini kepada ku Andre?".
"Iya, memang gaun itu aku berikan kepada mu".
__ADS_1
"Maaf Andre, aku tidak bisa menerima gaun ini".
Andre berjalan mendekatinya, "Hhhmmss.. Aku tidak ada maksud apa-apa Afia. Aku memberikan ini kepada mu sekaligus aku ingin meminta pertolongan mu. Karna itu tolong dengarkan aku dulu Afia".
Afia terdiam.
"Aku sudah pernah memberitahu mu sebelumnya kan Fia kalau aku sudah pernah bertunangan, tapi dia malah memilih pergi bersama dengan pria yang ia cintai. Dan nanti malam dia akan menikah Fia, karena itu aku meminta pertolongan mu pergilah nanti malam bersama dengan ku Fia. Aku mohon".
Dan lagi-lagi Afia menggeleng kepala, "Maafkan aku Andre, aku tidak bisa. Dan tidak mungkin aku meninggalkan putri ku seorang diri dirumah".
"Bukankah kamu berkata kalau kamu tinggal bersama dengan ibu mu?".
"Iya, aku memang tinggal bersama dengan ibu ku. Tapi putri ku tidak bisa tidur tanpa diri ku Ndre, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu mu Andre, sebaiknya kamu cari yang lain saja".
Lalu Afia pergi meninggalkan ruangan itu, kemudian Andre menatap kotak tersebut dengan tatapan sedih. "Harus sampai kapan kamu akan mengerti perasaan ku Afia? Kenapa kamu begitu sulit membuka hati mu untuk ku? Apa lagi yang kamu ragukan dari ku? Aku bisa membuat mu bahagia Fia, aku bisa membuat mu merasakan kebahagiaan lagi".
Hingga Afia kembali melayani para tamu, ia sangat disibukkan bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Dan sekarang jam telah menunjukkan pukul 12 siang, Afia merasa sangat leleh. Sedangkan rekannya yang lain masih ia lihat melayani para tamu yang semakin ramai.
"Ayo Fia jangan berdiri disana, para tamu semakin ramai" ucap salah satunya.
"Ooo kamu" Freya tersenyum mengejek. "Yah, jadi selama ini kamu bekerja disini? Astaga".
Mencoba untuk kuat, Afia berusaha keras menahan air mata dan rasa rindunya kepada Hendry yang sama sekali enggan melirik kepadanya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab ku, sekarang berikan daftar menu itu".
Afia pun langsung memberikan kepada mereka bertiga dengan tangan bergetar.
Tidak menunggu lama, ketiga orang itu memberitahu Afia apa yang ingin mereka makan, setelah itu ia pergi sambil berkata mohon ditunggu sebentar tuan nona.
Kemudian Freya tersenyum kembali, "Setelah apa yang dia lakukan kepada keluarga kita, bagaimana bisa dia masih berani menunjukkan dirinya? Dasar wanita tidak tau diri" ucap Freya memberikan umpatan kejam kepada Afia. Lalu Hendry mengeluarkan ponselnya, ia sama sekali tidak tertarik sedikit pun apa yang sedang Freya bicarakan.
Sedangkan Afia, begitu ia memberikan pesanan itu kepada chef ia langsung berlari memasuki kamar mandi menangis disana.
"Aarrkkhhh.. Hiks.. hiks.. Ya Tuhan, derita apa lagi ini Tuhan hiks.. hiks..? Ke-kenapa disaat aku mencoba melupakan dia, aku harus bertemu ditempat seperti ini? aarrkkhhh".
Hampir 15 menit lamanya Afia berada di dalam kamar mandi, ia pun segera keluar dengan mata sembap. Kemudian salah satu rekannya itu melihat, "Afia, ada apa? Kamu baru habis menangis? Kamu baik-baik saja? Kamu sakit?".
__ADS_1
"Tidak" jawab Afia menumpahkan air mata itu lagi.
"Ada apa Fia? Kamu benar-benar sakit?".
"Sakit hiks.. hiks...".
"Astaga ya Tuhan. Kalau gitu kita kerumah sakit sekarang juga".
"Tidak Fira, tapi sakit disini aarrkkhhh hiks.. hiks.. Sakit sekali Fira".
"Maksud kamu Fia?".
Air mata bercucuran, Afia melihat Fira dengan suara nafas senggugukan, lalu ia jatuh pingsan. "Astaga Fia" kaget Fira. Ia lalu melihat samping kira kanan tak satupun orang lewat dari sana. "Ya Tuhan, ayo bangun Fia.. Ayo bangun Afia.. Yah, bangun Afia.. Tolong jangan buat aku khawatir seperti ini.. Fia, yah Afia...".
Melihat Afia yang belum membuka mata, tiba-tiba Fira melihat sang manager berjalan kearah mereka, Fira pun langsung memanggilnya.
"Pak!".
Andre lalu melihat mereka, "Afia?".
"Iya pak, Afia jatuh pingsan. Tolong bantu saya pak".
"Iya iya" keduanya pun membawa Afia pergi dari sana menuju rumah sakit. Sedangkan meja yang ditempati oleh Hendry telah menunggu hampir beberapa menit lamanya.
"Ck, kenapa dia lama sekali sih?" gumam Freya hingga akhirnya ia melihat seorang pelayan membawa hidangan mereka sambil berkata.
"Tolong maafkan kami membawa hidangan ini sedikit lama tuan nona" ucap si pria itu menyesal.
Hendry lalu melihatnya, "Tidak apa-apa" jawabnya.
"Terus kemana wanita yang membawa daftar menu kami?" tanya Freya dengan ketus.
"Sekali lagi saya minta maaf nona. Pegawai yang pertama tiba-tiba tidak enak badan dan harus di larikan kerumah sakit".
"Apa?".
"Iya nona".
__ADS_1