
"Bagaimana Naura?" tanya ibunya dari belakang.
"Aneh, kenapa dia hanya menunjukkan senyumannya saja lalu pergi. Apakah menurut ibu suster itu tidak aneh?".
"Ibu juga tidak tau Naura. Sekarang kenapa dokter itu belum keluar-keluar juga? Ini sudah hampir...
"Itu sudah keluar Bu" jawab Naura melihat sang dokter keluar dari dalam sana bersama dengan rekannya. "Bagaimana keadaan adik saya dok? Apa dia baik-baik saja?".
Si dokter pun tersenyum, "Iya, dia baik-baik saja. Jangan khawatir".
"Syukurlah dok. Terus bagaimana dengan siswa SMA yang baru masuk ke dalam itu dok? Dia siapa? Bagaimana bisa dia.. Yah, kamu" bentaknya melihat Hendry begitu ia keluar dari dalam sana bersama dengan Afia yang berada di atas bet. "Yah.. Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam sana hahhh? Apa kamu ingin... Oo, kenapa dia pergi begitu saja? Yah.. Yah...".
Kemudian ibunya menghentikan Naura, ia bisa saja menganggu pasien yang lainnya membuat Naura akhirnya menghentikan langkah kakinya hendak ingin mengikuti Hendry dari belakang.
"Kalau gitu kami permisi dulu".
"Iya dok. Terima kasih banyak".
"Sama-sama".
.
Lalu Naura dan ibunya memasuki ruangan Afia. Keduanya pun langsung membulatkan mata melihat ruangan yang Afia pakaian bukanlah ruangan biasa, melainkan ruangan eksekutif. "Ibu, apa kita tidak salah ruangan? Kenapa.. Tidak mungkin Bu, para suster itu pasti salah menempatkan Afia di ruangan ini".
"Iya Na.. Ini benar-benar sudah gila. Kamu tunggu disini, ibu akan bicara dengan suster dulu".
"Iya Bu" angguk Naura mendekati Afia. "Tapi ini sangat mewah sekali. Bagaimana bisa mereka salah memasukkan Afia kedalam sini?" lalu Naura mendudukkan diri diatas sofa sambil mengeluarkan ponselnya. "Jarang-jarang ada kesempatan, sepertinya aku harus mengambil gambar" senangnya.
Tidak menunggu lama, ibunya masuk ke dalam itu lagi membuat Naura melihat kearahnya.
"Bagaimana Bu? Apa mereka katakan?".
"Mereka tidak salah ruangan Naura" jawabnya.
"Apa? Maksud ya Bu?".
"Seseorang telah membayar ruangan ini. Tapi ibu tidak tau siapa dia. Menurut mu siapa yang melakukan ini Naura?".
__ADS_1
"Aku juga tidak tau Bu. Kenapa ibu tidak bertanya kepada mereka?".
"Mereka tidak mau memberitahu ibu. Tapi ya sudahlah, siapa pun orang yang telah melakukannya ibu sangat berterima kasih banyak kepadanya" jawab Kirana melihat seisi dalam ruangan itu dengan tatapan kagum.
"Oh iya bu. Tadi sangking penasaran ya aku berapa harga kamar ini per/malam, aku langsung mencari tahunya di internet. Ibu mau tau berapa harganya?".
"Berapa?".
"7 buk satu malam".
"Apa?".
"Iya. Kalau ibu enggak percaya ibu bisa lihat ini. Parah kan Bu?".
"Astaga Naura!" semakin kaget Larasati memikirkan siapakah orang itu tanpa mereka sadari dibalik pintu ruangan Afia, Hendry sedang berdiri disana dengan wajah pernah khawatir.
Setelah itu, waktu pun terus berputar. Naura dan Larasati telah tertidur diatas tempat tidur yang disediakan oleh rumah sakit. Hendry yang memiliki kesempatan, ia segera masuk kedalam tanpa sepengetahuan mereka.
Dengan senyum mengembang di wajahnya, ia menggenggam tangan kanan Afia dengan lembut. "Apa yang membuat mu bisa seperti ini sayang? Apa seseorang menyakiti mu? Siapa dia Fia? Siapa orang yang telah menyakiti mu?".
Kemudian Afia membuka kedua bola matanya, ia melihat Handry berada di sebelahnya sambil menggenggam tangan kanan.
Hendry yang merasa namanya dipanggil, ia pun menoleh kearah sumber suara tersebut yang baru saja berasal dari mulut Afia. "Afia?".
"Mmmmm, aku lagi dimana Hend?".
"Astaga sayang. Syukurlah kamu sudah siuman, aku sangat mengkhawatirkan kamu. Apa kamu sudah merasa baikan? Atau kamu merasakan sakit di sekitar tubuh mu? Aku akan memanggilkan dokter. Ayo katakan kepada ku Fia".
Dengan gemas Afia menertawainya, "Aku tidak apa-apa Hendry. Aku baik-baik saja. Astaga, terima kasih banyak sudah mengkhawatirkan aku. Tapi aku lagi dimana Hend? Kenapa tangan ku ini..
"Kamu dirumah sakit Fia, dan aku tidak tau apa penyebab kamu bisa berada disini. Keluarga mu ada disebelah, mereka sedang tidur".
"Siapa? Ibu? Atau kak Naura".
"Mereka berdua Fia" jawabnya. "Apa benar kamu tidak mengingat kenapa kamu bisa berada disini?".
Afia lalu menarik nafas mencoba mengingat apa yang baru saja menimpanya, "Saat itu ibu dan ayah ku bertengkar sangat dahsyat gara-gara ayah ku mencoba untuk menjodohkan aku dengan seseorang yang tidak aku kenal Hend..
__ADS_1
"Apa?" geram Hendry sangat marah.
"Iya. Setelah itu ibu langsung memarahi ayah dengan sangat marah, bahkan saat itu juga ibu meminta pisah dengan ayah. Terus, ayah kemudian mencoba membawa kak Naura pergi. Tapi kak Naura tidak mau ikut ayah, cuman ayah selalu memaksa untuk membawanya pergi dari rumah hingga akhirnya aku mencoba untuk menyelamatkan kak Naura. Namun akhirnya aku malah berada disini".
Hendry lalu menutup keduanya matanya, ia terlihat sangat marah besar kepada Darius ayah Afia yang tidak habis pikir kalau ayah kandungnya sendiri akan tega melakukan hal tersebut.
"Kenapa Hend? Apa yang sedang kamu pikirkan?".
"Hhhmmss.. Rasanya aku ingin sekali membunuh ayah mu malam ini juga".
"Jangan pernah lakukan hal itu Hend. Kamu bisa menyakiti dirimu sendiri".
"Aku tidak menyukainya. Aku benar-benar sangat tidak menyukainya Fia. Terserah kamu mau marah kepada ku atau tidak, aku tidak peduli Fia".
"Terima kasih Hend" senyumnya. "Tapi sepertinya perut ku terasa lapar heheheh. Tidak bisakah kamu membelikan aku sesuatu, aku sangat lapar sekali Hendry" ucap Afia membuat Hendry seketika tertawa kecil menyentuh pipinya.
"Iya, aku akan membelinya sayang. Kamu tunggu sebentar yah".
"Mmmmm, kamu jangan lama ya".
"Iya".
Sambil menunggu Hendry kembali masuk ke dalam kamarnya, ia tak henti-hentinya tersenyum membuat ia seketika tersadar dengan ruangan yang ia pakai.
"Astaga! Apa-apaan ini? Ba-bagaimana bisa aku.. Siapa yang melakukan ini?" Afia lalu menurunkan kedua kakinya diatas lantai, ia berjalan mendekati tempat tidur dimana sang ibu dan sang kakak berada.
"Tidak mungkin ibu yang memesan kamar ini? terus siapa orang yang melakukannya? Hendry? Tidak mungkin dia. Astaga!".
20 menit lamanya Afia menunggu, Hendry pun akhirnya kembali memasuki kamarnya dengan sebuah kantong kresek di tangan kanannya.
"Apa aku membuat mu menunggu lama... Astaga! Kenapa kamu disitu Fia?".
"Ini Hend, aku baru menyadarinya kalau ruangan ini.. " gantung Afia. "Entahlah, aku tidak tau siapa yang melakukan ini. Menurut mu siapa kah dia Hend?".
"Apa?".
"Ruangan ini. Kamu tidak melihat ruangan ini Hend?".
__ADS_1
"Iya aku melihatnya. Tapi kenapa?".
"Astaga Hendry! ruangan ini sangat mewah sekali. Bahkan.. Kita berada dilantai paling tinggi, kalau kamu tidak percaya, kemarilah" tarik Afia membawa Hendry kearah dekat jendela. "Lihat lah Hend".