Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 50


__ADS_3

"Aku baik-baik saja Afia ku sayang" jawab Hendry.


"Hhhmmss.. Kamu pikir kamu bisa membohongi ku Hendry? Kamu tidak bisa membohongi ku. Tapi ya sudahlah kalau kamu benar-benar tidak ingin memberitahu ku. Kamu mau makan? Aku akan membelinya untuk mu".


"Aku tidak lapar sayang. Kamu saja yang makan, aku akan membelinya".


"Tunggu".


"Kenapa?".


Afia lalu melirik kanan kirinya, "Sebenernya bukan aku yang lapar Hend, tapi bayi kita hehehhe" jawab Afia sedikit menggodanya.


"Benarkah?" tawa Hendry dengan gemas mencubit pipi gembul Afia. "Ya udah, kamu tunggu sebentar disini ya sayang. Aku akan membelinya".


"Iya, tapi kamu punya uang enggak Hend?".


Hendry terdiam, ia baru ingat kalau ia sama sekali tidak memegang uang sepeser pun saat Abbas menarik kartu yang kemarin Dina berikan kepadanya.


"Kalau gitu kamu pakaian uang ini saja Hend".


Hendry kemudian menatapnya, "Maafkan aku Fia belum bisa melakukan yang terbaik untuk mu".


"Tidak apa-apa Hendry. Sudah sana pergi beli, aku sangat lapar sekali".


"Mmmmm" angguk Hendry segera membelikan sesuatu yang bisa di makan oleh ibu hamil muda. Begitu Hendry mendapatkannya, ia melihat Abbas bertemu dengan beberapa temu penting.


Setelah itu Hendry menghampiri Afia kembali yang sudah lama menunggunya disana dengan kantong kresek di tangan kanannya.


"Kenapa kamu lama sekali Hendry?".


"Maaf ya sayang. Ini" jawab Hendry memberikan ditangannya.


Namun Afia yang melihat kesedihan di wajah Hendry membuat ia penasaran ada apa dengan kekasihnya itu, "Ada apa Hendry? Jangan bilang kamu tidak kenapa-napa. Aku yakin pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku. Iya kan?".


"Tidak Fia".


"Kamu berbohong. Ayo beritahu aku Hendry".


"Afia aku sudah bilang tidak kenapa-napa..


"Kamu butuh uang Hendry?".

__ADS_1


"Tidak Fia".


"Kalau kamu tidak mau jujur, aku tidak akan memakannya sampai kamu mengatakan yang sebenarnya. Ayo beritahu aku Hendry".


Hendry pun akhirnya terdiam, ia menatap Afia dengan tatapan sendu.


"Mmmmm, aku tidak memiliki uang Fia. Dan aku baru saja bertengkar dengan kedua orang tua ku. Dan itu semua terjadi karena aku sudah memberikan kepada mereka tentang kehamilan kamu Fia".


"Apa? Kamu benar-benar sudah memberitahu mereka Hendry?".


"Mmmmm, aku sudah memberitahu mereka".


"Astaga Hendry! Kenapa kamu tidak memberitahu kepada ku dulu?".


"Maafkan aku Fia".


Afia lalu berpikir, jika seperti ini apa yang harus mereka berdua lakukan? ia juga harus memberitahu Kirana ibunya. Tetapi ia merasa belum waktunya.


"Hendry, apa sebaiknya aku memberitahu ibu juga?".


"Apakah kita berdua harus memberitahunya? Aku takut kalau nantinya kamu di usir dari rumah Fia".


"Jangan khawatir Hendry. Ibu tidak bakalan tega melakukan hal itu kepada ku".


"Mmmmm".


.


Sepulangnya Hendry dan Afia dari gedung perusahaan keluarga Mapolo, kedua orang itu telah berdiri di depan teras rumah sambil bergandengan tangan. "Kamu sudah siap Hendry?".


"Mmmmm".


"Ayo".


Begitu pintu rumah tersebut terbuka, Naura dan Kirana yang berada di ruang tamu langsung melihat kearah mereka berdua dengan kening mengerut. "Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Naura.


"Ibu!" panggil Afia.


"Iya, ada apa Fia?" tanya Kirana melihat tangan putrinya itu menggenggam tangan Hendry begitu erat.


Afia lalu berjongkok di hadapan ibunya membuat Naura yang sedang melihatnya langsung bisa menebak kalau sesuatu dengan keduanya sedang terjadi.

__ADS_1


"Afia hamil Bu..


"Apa?".


"Iya Bu, Afia hamil anaknya Hendry" jawabnya melirik Hendry yang masih berdiri disebelahnya. Hingga akhirnya Hendry ikutan bersujud melakukan hal yang baru saja Afia lakukan.


"Tolong maafkan kami bibi. Kami berdua tau kami tidak pantas mendapatkan pengampunan bibi. Tapi tolong izinkan kami berdua membesar bayi ini sampai lahir karna bayi ini tidak memiliki dosa" ucap Hendry memohon mendengar suara tawa Naura.


Sedangkan Kirana tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat putrinya itu yang masih berada di bawah umur. "Maafkan kami ibu. Tolong maafkan kami".


"Ibu, jangan maafkan mereka. Afia sudah membuat keluarga kita malu. Apa kata tetangga nantinya kalau sampai mereka tau? Pokoknya aku enggak mau tau Bu, Afia harus pergi meninggalkan rumah kita".


Kirana lalu menangis, ia tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi kepada Afia yang selama ini ia tau kalau putrinya itu anak yang baik-baik yang enggak bakalan pernah melakukan hal tersebut.


"Afia.. Ibu tidak tau harus mengatakan apa lagi nak. Kenapa kamu tega melakukan ini sama ibu nak? Kenapa kamu harus melakukan ini? Apa salah ibu Fia? Apa salah ibu sampai kamu..


Afia pun langsung ikutan menangis, "Maaf Bu. Maafkan Afia Bu, maafkan Afia hiks.. hiks...".


"Dasar gatal" umpat Naura. "Sudah Bu, enggak usah dengarkan mereka. Usir saja Afia sekarang juga, orang kaya gitu memang harus dikerasin. Sudah berapa kali aku mengatakan kepada mu Fia kalau dia ini bukanlah laki-laki baik. Dia ini pria bangsat, pria yang tidak tau diri".


"Maafkan aku kak. Maafkan aku".


"Tidak ada kata maaf lagi untuk mu Fia. Itu pilihan mu sendiri, sekarang kalian berdua pergi dari rumah ini. Sana pergi".


"Tidak kak, jangan usir kami berdua hiks.. hiks.. Aku mohon jangan usir kami berdua kak. Kalau ibu mengusir kami, kita enggak tau bakalan tinggal dimana? Afia mohon Bu, Afia mohon jangan usir kami".


Kirana lalu mengusap air matanya, "Ibu tidak akan pernah mengusir mu dari rumah ini Fia..


"Ibu!" potong Naura tidak terima kalau Afia masih tinggal dirumah itu, apalagi ia akan tinggal bersama dengan Hendry yang sudah menghancurkan masa depannya. "Aku tidak terima Bu, aku tidak akan terima kalau kita tinggal bersama dengan mereka berdua yang sudah melakukan dosa besar selama ini".


"Naura, kamu tidak boleh seperti itu sama adik mu sendiri. Mau bagaimana pun dia tetap adik kamu, orang yang selama ini membantu biaya kuliah mu sendiri".


"Aku tidak peduli Bu. Sekarang aku mau nanya, ibu pilih aku atau Afia? Kalau ibu memilih aku, mereka berdua harus ibu usir sekarang juga. Tapi kalau ibu lebih memilih Afia, aku sendiri yang akan pergi meninggalkan rumah ini. Aku tidak sudih tinggal satu rumah bersama dengan mereka berdua".


Afia terdiam, ia tidak menyangka kalau Naura akan semarah itu kepadanya. "Kalau gitu biar Afia sendiri yang akan pergi dari rumah ini Bu. Maaf sudah membuat ibu sangat kecewa".


"Tapi Kalian berdua akan tinggal dimana Afia?" khawatir sang ibu.


"Jangan khawatir Bu, aku akan tinggal dirumah kontrakan Hendry".


"Kamu yakin nak?".

__ADS_1


"Iya Bu, lebih baik aku yang pergi dari pada harus kak Naura yang pergi".


"Bagus deh kalau kamu sadar diri. Sudah sana pergi bawa semua barang-barang kamu jangan sampai ada yang tertinggal".


__ADS_2