Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 33


__ADS_3

Hendry menyeringai, "Berani sekali kamu mengatai ku bajingan sialan" kesal Hendry melemparnya di balik tembok. Kemudian Hendry melibat kedua teman Raga yang ketakutan, "Kalian berdua kemari" panggilnya. Namun salah satu diantara mereka berdua tidak ada yang berani mendekatinya, "Kalian tidak mendengar ku?".


"Yah, kalian berdua beri dia pelajaran" teriak Raga marah kepada kedua orang itu.


"Kami sangat takut Ga" jawab mereka.


"Kalau kalian berdua tidak menyerangnya, hubungan kita akan berakhir sampai disini".


"Hhiiarrkkhh" mereka berdua pun langsung berlari kearah Hendry hendak mendorongnya. Tetapi Hendry malah menghilang dari posisinya, membuat mereka hampir saja terjatuh dari atas gedung kalau saja Hendry tidak menarik pakaian mereka. "Aarrkkhh, ibu" teriak mereka menangis.


Hendry pun tertawa dibuatnya, lalu menghempaskan tubuhnya mereka sampai terjatuh diatas lantai. "Ini peringatan untuk kalian, sekali lagi kalian semua menganggu ku, lebih parah dari sini akan menanti kalian" setelah itu Hendry pergi meninggalkan mereka.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTT...


"Ada apa Chan?" tanya Hendry mengangkat ponselnya.


"Kamu dimana Hend?".


"Disekolah".


"Keluarlah, kami ada di lapangan sekolah mu".


"Apa? sedang apa kalian kemari?".


"Kami sedang melakukan pertandingan bola basket dengan kelas XII A, kemarilah".


"Baiklah" angguk Hendry langsung berlari ke lapangan untuk memastikan kalau ketiga sahabatnya benar-benar ada disana. Namun saat ia berlari menuju kesana, Fani dan Nesa menghalangi jalannya, "Minggir".


"Kamu mau kemana?" tanya Fany dengan sombongnya.


"Aku bilang minggir, jangan menghalangi jalan ku" jawab Hendry mendorong tubuhnya sampai Fany hampir saja terjatuh kalau saja Nesa tidak menahan tubuhnya.

__ADS_1


"Sialan, berani-beraninya dia mendorong ku" kesal Fany mengepal tangan. Lalu ia dan Nesa mengejarnya dari belakang, dalam hati Fany, ia akan memberinya pelajaran telah membuatnya hampir terluka. "Yah.. Kamu yang berwajah jelek berhenti disana" teriak Fany. "Kamu tidak mendengar ku?" teriaknya lagi kepada Hendry. Tetapi Hendry tidak memperdulikannya, ia tetap melangkahkan kedua kakinya.


"Sial, dia pura-pura tuli lagi" kemudian Fany mencari sebuah batu untuk ia lempar kepada Hendry.


"Kamu mencari apa Fan?".


"Batu Nes, carikan aku satu batu".


"Kamu tidak akan menemukan batu disini Fan, kamu lihat ini" Nesa melepaskan sepatu yang ia pakai, lalu melemparnya kepada Hendry hingga sepatu tersebut mendarat tepat sekali di kepala Hendry. "Kena, hahahahha" tawa Nesa dan Fany kegirangan sampai membuat para siswa dan siswa yang berada disana ikut tertawa melihatnya.


Lalu Fany dan Nesa mendekati Hendry, kedua orang itu masih tertawa terbahak-bahak melihat kaca mata yang Hendry gunakan tercampak diatas tanah. "Itu akibatnya kalau kam...


PPLLLAAKK...


"Ah" kaget Fany menyentuh wajahnya begitu Hendry menamparnya cukup kuat. Kemudian Hendry mencekik leher Fany, "Uhuk-uhuk, kamu!".


"Kenapa?" Hendry semakin kuat mencekik lehernya sampai Fany hampir saja kehabisan Nafas kalau saja Abian, Dafa dan Chan tidak menghentikan tangan Hendry.


Hendry mengusap wajahnya, ia langsung tersadar dengan apa yang hampir saja ia lakukan. "Maaf, aku kehilangan kendali" ucapnya.


Kemudian Hendry melihat Nesa yang berada di samping Chan membuat Nesa keringat dingin. Lalu ia melihat sepatu yang berada ditangan Nesa, "Kamu orang yang sudah melemparkan sepatu itu? berikan".


"Tidak" geleng Nesa melangkah mundur.


"Kamu mau kemana? cepat berikan".


"Tida..


"Berikan jal*ng...!!" teriak Hendry merampasnya dari tangan Nesa dengan mata tajam. "Sekarang jawab aku, siapa yang sudah melemparkan sepatu ini?".


Kedua mata Nesa langsung berkaca-kaca, ia sangat takut sekali dengan tatapan Hendry yang ingin menerkamnya, bahkan tidak ada satu orang pun yang ingin menyelamatkan dirinya. "Aarrkkhhh, ibu. Tolong selamat aku" teriak Nesa menangis.

__ADS_1


Hendry meremas sepatu Nesa, rasa amarah yang tadi ia tahan keluar kembali ingin mencekiknya seperti yang ia lakukan kepada Fany, "Hendry sudah, kamu bisa dibawa ke jalur hukum kalau sampai kamu melakukannya" bisik Dafa memeluk tubuh Hendry.


Chan mendekati Nesa, "Kamu pergi saja, jangan sampai kamu bertemu dengannya lagi. Cepat pergi".


Nesa menyeka air matanya, ia segera membawa Fany pergi dari sana. Kemudian Abian melihat mereka yang sudah merekam kejadian tersebut, "Saya peringatkan kalian semua, kalau salah satu diantara kalian menyebarkan video atau foto ke media sosial. Maka kalian semua akan berurusan dengan saya. Lebih baik kalian menghapusnya dari sekarang".


"Apa-apaan dia? emang dia siapa menyuruh kita diam tampa menyebar video ini" bisik mereka tidak terima dengan apa yang barusan Abian ucapkan.


"Yah, kami tetap akan mengunggah video ini. Apa urusannya dengan mu? kami semua tidak mengenal kalian dan kalian juga tidak berasal dari sekolah kami. Apa hak mu melarang kami?".


"Iya, apa hak kalian melarang kami? jangan karna kalian tampan dan mempesona kalian jadi suka-suka hati melarang kami. Kecuali kalau kamu mau berkencan dengan ku" senyumnya dengan genit.


"Hey" kesal yang lainnya. "Kamu apa-apaan sih malah mengajaknya berkencan?".


"Habisnya mereka bertiga tampan sekali kaya oppa-oppa korea mmmm... Kapan lagi aku punya pacar seperti mereka?".


"Sudah, hentikan perkataan mu. Bagaimana pun kami tetap akan mengunduh video ini ke media" ucap mereka team laki-laki.


"Coba saja kalau kalian semua berani. Maka sesuatu yang tidak pernah kalian harapkan akan menjadi penyesalan seumur hidup" seringai Abian membawa Hendry pergi dari sana bersama Chan dan Dafa.


.


Di dalam kantin Chan membeli 4 minuman kaleng segar menggunakan blackcard, namun si ibu kantin malah tertawa seperti sedang di ejek oleh Chan membuat Chan kebingungan. "Kenapa?" tanyanya dengan polos.


Lagi-lagi si ibu kantin tertawa sumbang membuat para siswa-siswi di kantin tersebut melihat kearahnya begitu juga dengan Hendry, Abian dan Dafa. "Kalian semua mau tau? siswa yang berdiri dihadapan ku ini sepertinya sedang menghinaku dengan membeli minuman kaleng menggunak...


"Hentikan" potong Hendry kesal melihat si ibu kantin. Lalu Hendry mengeluarkan uang dari dalam kantongnya. "Inih, lain kali tidak usah seperti itu, kalau ada orang yang membayar jualan mu menggunakan kartu, kamu tidak usah teriak-teriak seperti kesurupan. Kamu sudah tau dia tidak berasal dari sekolah ini, harusnya kamu berkata dengan baik kalau kamu tidak menerima kartu melainkan uang kes".


Chan yang jadi merasa bersalah kepada si ibu kantin, ia pun langsung minta maaf kepadanya dengan tulus kalau ia tidak tau dan ia juga sangat jarang sekali membawa uang kes. "Sekali lagi saya minta maaf bu dan maaf juga kalau teman saya menyinggung perasaan ibu. Terima kasih".


"Mmmmm" angguk si ibu kantin merasa sedih, ia terharu melihat ketulusan dari wajah Chan yang hampir saja ia permalukan kalau saja Hendry tidak memotong perkataannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa anak itu angkuh sekali? dia memiliki teman-teman yang sangat tampan dari luar sekolah, namun dia memiliki rupa yang jauh berbeda dengan mereka sampai-sampai mata semua para wanita yang berada dikantin ini tertuju kepada ketiganya" gumam si ibu kantin.


__ADS_2