
6 tahun kemudian...
Sejak kejadian itu, Hendry benar-benar menghilang dari kehidupannya Afia dan tidak pernah lagi melakukan komunikasi bahkan Hendry tidak perduli kepadanya lagi.
Hingga kini Hendry kembali ke Indonesia pertama kali ia melangkah kaki setelah 6 tahun lebih lamanya tinggal di Amerika serikat. Dan ia langsung di sambut oleh keluarga tercintanya yaitu Abbas Dina dan Freya.
"Pa.. Ma.." Hendry lalu memeluk kedua orang itu penuh dengan kerinduan. "Apa kabar papa sama mama? Aku harap kalian baik-baik saja".
Dina mengeluarkan air matanya, "Iya sayang, seperti yang kamu lihat papa sama mama baik-baik saja. Terimakasih sudah kembali sayang".
Kemudian Freya mendekati mereka, dengan air mata mengalir di kedua pelupuk matanya ia langsung memeluk tubuh kekar tersebut sambil berkata. "Aku sangat merindukan mu Hendry" dan hal itu malah membuat Hendry tertawa gemas mengacak-acak rambut panjangnya. "Kenapa?".
"Kamu ada-ada saja Freya".
"Tapi aku benar-benar merindukan kamu Hendry. Kenapa kamu malah tidak mempercayai ku? Meskipun itu hanya 6 bulan saja".
"Iya iya aku mempercayainya".
Setelan itu, keluarga besar Mapolo pergi meninggalkan bandara. Dan dirumah, sebuah hidangan yang sangat istimewa telah menunggu dirinya disana bersama dengan kedua orang tua Freya. Hingga kini mereka telah tiba, Paman dan bibinya itu pun langsung memeluknya sama seperti yang kedua orang tuanya lakukan.
"Hahahaha.. Kamu benar-benar sudah tumbuh dewasa Hendry dan juga gagah. Paman salut kepada mu" puji ayah Freya dibalas tawa oleh Hendry.
"Terima kasih paman".
"Bahkan bibi saja tidak percaya kalau pria tampan yang sedang berdiri di hadapan bibi ini adalah Hendry keponakan bibi" ucap Estiana melihat tubuh Hendry dari atas sampai bawah masih belum bisa percaya dengan yang ia lihat.
"Hahahaha... Terima kasih bibi telah memuji ku berlebihan seperti ini. Aku sangat bahagia sekali" dan mereka pun tertawa bersama.
"Sudah, sebaiknya kita makan malam saja. Paman sangat yakin kamu kelaparan".
"Wah... Bagaimana bisa paman tau kalau aku sudah kelaparan hahahhaha?".
__ADS_1
"Kamu pikir paman mu ini tidak tau?" balasnya sambil merangkul punggung Hendry berjalan menuju meja makan. Dan sebuah makanan yang sangat istimewa telah berada di atas meja, "Semua ini khusus untuk kamu".
"Terima kasih paman" ucap Hendry langsung mendudukkan diri diatas kursinya. Ia melihat semua hidangan itu begitu sangat istimewa, dan yang membuat Hendry tak henti-hentinya tersenyum senang karna ini pertama kalinya ia merasakan lagi masakan rumah setelah 6 tahun lamanya. Bahkan, ia sekarang ini bersama dengan keluarga besarnya.
Selesai makan malam Hendry lalu memasuki kamarnya, sedangkan yang lainnya, mereka mengobrol diruang keluarga. Lalu Hendry membaringkan tubuhnya, ia menatap keatas langit-langit kamar dengan wajah letih.
Tok... Tok...
"Hendry boleh aku masuk?" tanya Freya.
"Mmmm, masuklah" jawab Hendry mengangkat tubuhnya melihat Freya berjalan mendekati ranjangnya. "Ada apa?".
Freya tersenyum, "Tidak apa-apa Hendry. Aku hanya ingin singgah sebentar saja. Bagaimana? Apa kamu merasa ada sesuatu yang berubah dalam kamar ini? Aku rasa masih seperti dengan yang dulu".
"Mmmm, tidak ada yang berubah. Kalau gitu aku mandi dulu".
"Iya, mandilah" angguk Freya.
"Ooo, kamu sudah selesai mandi Hendry?" tanya Freya melihatnya menggunakan jubah mandi. "Hhhmmss, aku pikir...
"Ada apa?" tanya Hendry.
"Akh, tidak apa-apa Hendry. Aku hanya.. Kenapa kamu cepat sekali mandi yah? Akh hahaha iya aku lupa kalau.. Tidak, kalau gitu aku keluar dulu. Selesai kamu menganti pakaian turun lah ke lantai bawah ok".
"Iya".
Hendry lalu memasuki ruang pakaiannya, disana semua pakaian telah tersusun rapi seperti sedia kala. Kemudian ia memilih pakaian yang cocok di tubuhnya, setelah itu Hendry keluar menghampiri mereka ke ruang keluarga dimana semua anggota keluarga itu sedang berada disana.
"Itu Hendry sudah datang. OMG, dia sangat tampan sekali hehehe" senang Freya menyuruh Hendry duduk di sebelahnya sambil membisikkan. "Kamu sangat tampan sekali Hendry".
__ADS_1
Begitu Hendry duduk, Abbas lalu memulai pembicaraan mereka ke hal serius yaitu mengenai jabatan dia di perusahaan group Mapolo dan juga mengenai masa depannya.
"Mulai besok, kamu sudah bisa langsung bekerja di perusahaan kita sebagai direktur keuangan. Papa rasa kamu tidak akan keberatan dengan posisi itu".
"Iya pa" jawab Hendry tersenyum mengangguk.
"Terus, bagaimana dengan masa depan mu sayang?" tanya Dina sambil melihat kedua orang tua Freya. "Begini Hendry, usia kamu sekarang inikan tidak bisa di bilang mudah lagi. Jadi papa sama mama berencana menjodohkan kamu dengan Freya. Bagaimana menurut mu sayang?".
Hendry terdiam. Di dalam hatinya tidak pernah sedikitpun tersirat untuk menikahi Freya dan juga perasaan itu sama sekali tidak pernah timbul kepadanya.
"Sebelumnya aku minta maaf. Tapi kenapa jadi seperti ini ma? Aku tidak pernah memikirkan akan menikahi Freya, bahkan aku sudah menganggap Freya itu sebagai adik kandung ku sendiri" ucap Hendry memberikan penjelasan.
"Mama tau Hendry kalau kamu itu sudah menganggap Freya sebagai adik kandung mu sendiri. Tapi mama sama papa kamu sudah lama memikirkan ini semua, dan kami rasa ini adalah yang terbaik untuk keluarga kita".
"Maksud mama?".
"Iya, setelah papa kamu pensiun nanti. Maka group Mapolo akan jatuh ditangan kamu dan yang pastinya kalian berdua yang akan menjalankan semua perusahaan ini dari pada kamu harus menikahi wanita lain yang tidak kita tahu selut belutnya".
Dan lagi-lagi Hendry pun terdiam sambil menarik nafas panjang. "Aku tidak bisa jawab sekarang ma. Dan untuk saat ini juga, aku masih ingin fokus dengan pekerjaan. Maaf".
"Tidak apa-apa Hendry. Papa juga mengerti maksud kamu. Terlalu di paksakan juga tidak bagus".
"Iya pa".
"Lalu bagaimana dengan mu sayang? Kamu masih sabar kan menunggu Hendry?" tanya Dina kepada Freya yang terdiam begitu Hendry menolaknya.
"Iya Tante, aku akan menunggu ya".
"Tidak apa-apa sayang. Percaya sama Tante kalau Hendry tidak bakalan berpaling dari mu mmmm".
"Iya Tante" senang Freya akhirnya tersenyum sembari melirik kepada Hendry yang terlihat datar seperti tidak menginginkan dirinya. "Hendry, aku berjanji akan mencintai mu saja" ucapnya.
__ADS_1
Hendry lalu melihatnya, tatapan itu tidak seperti yang Freya inginkan. "Jangan terlalu memaksa diri mu".
"Tentu saja. Tapi sebisa mungkin aku pasti bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku. Kamu lihat saja nanti".