
Mereka lalu melihat tubuh Dina dibawa ke dalam ruangan ICU yang berada di lantai atas. Abbas pun segera mengikuti dari belakang, sedangkan Hendry yang tertinggal di disana, ia melihat kekasihnya itu dengan senyum mengembang di wajah tampannya.
"Maaf sayang telah membuat kamu khawatir" ucapnya.
Afia tersenyum, "Tidak apa-apa Hendry" jawabnya.
"Kamu pasti sudah lapar. Ayo, aku akan membelikan makanan untuk mu. Kamu mau makan apa sayang?".
"Terserah kamu saja Hendry. Aku akan memakan apa pun yang kamu beli untuk ku hehehhehe".
"Terima kasih sayang" senang Hendry.
Keduanya pun keluar dari dalam rumah sakit tersebut mencari makanan yang berada di pinggir jalan. Begitu Hendry menemukan, ia menyuruh Afia duduk diatas salah satu kursi sambil memesan makanan yang ingin mereka makan. Tetapi yang tertinggal hanya mie ayam saja, dan akhirnya Hendry memesan mie ayam tersebut dua mangkok.
"Sayang, makanan yang biasa kamu makan sudah habis. Tadi aku memesan mie ayam, enggak apa-apa kan sayang?".
"Mmmm, enggak apa-apa kok. Malahan aku ingin sekali memakannya. Berapa lama lagi mereka akan mengantarnya Hend? Aku sudah sangat lapar sekali".
"Sabar ya sayang. Warungnya sangat ramai sekali".
"Mmmmm".
Sambil menunggu mie ayam mereka tiba Afia tak henti-hentinya tersenyum bahagia menikmati aroma mie ayam tersebut yang sangat sedap di kedua penciumannya. Sedangkan Hendry, ia tengah sibuk dengan ponselnya.
"Ooo, mie ayamnya sudah datang Hend. Terima kasih pak" ucap Afia dengan senangnya.
"Sama-sama".
Afia lalu menarik miliknya dan juga milik Hendry, tetapi saat Afia melakukan hal itu Hendry tiba-tiba mengangkat kedua tangannya membuat mie ayam tersebut tertumpah di atas ponsel Hendry.
"Astaga Hendry!" kaget Afia dengan mata membulat. Ia lalu menarik ponsel itu dan melapnya sampai berulang-ulang kali dengan perasaan sangat bersalah. Kemudian ia melihat Hendry, "Maafkan aku Hendry. Ak-aku tidak sengaja, aku benar-benar tidak sengaja".
__ADS_1
Hendry menarik nafas, ia melihat pakaiannya juga sudah basah akibat dari tumpahan mie ayam tersebut dan juga merasakan panas.
"Hendry! Kamu marah?" tanya Afia takut. "Tolong maafkan aku Hendry. Aku benar-benar tidak sengaja aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Tolong maafkan aku".
"Tidak apa-apa Fia. Makalah duluan, aku ke toilet sebentar" jawab Hendry bangkit berdiri pergi menuju toilet.
Namun rasa bersalah Afia kepadanya membuat ia tidak bernafsu untuk menikmati mie ayam miliknya. Ia memilih membiarkannya begitu saja menunggu Hendry kembali dari toilet. Dan begitu Hendry kembali, ia tersenyum.
"Kita bagi dua saja ya Hendry, tidak mungkin aku makan sendiri kamunya tidak. Mau kan?".
"Kamu makan saja Fia" jawab Hendry kembali membuat Afia semakin merasa sangat bersalah hanya dengan mendengar suaranya saja yang belum pernah ia dengar. "Kamu marah Hendry? Kalau kamu marah aku benar-benar minta maaf. Aku itu tidak sengaja...
"Hentikan! Sekarang habis kan itu. Aku sangat lelah sekali" ucap Hendry meninggalkan Afia di dalam sana dan memilih menunggu di luar.
Dan tanpa Hendry ketahui, Afia bukannya memakan mie ayamnya, ia malam menangis sampai membuat orang yang berada di sekitarnya melihat kearahnya.
"Dia marah, dia pikir aku tidak tau kalau dia sedang marah? Padahal aku sudah katakan kepadanya kalau aku tidak sengaja, kenapa cuman memaafkan itu saja dia tidak mau?".
"Hendry!" panggilnya.
"Mmmmm, sudah?".
"Iya".
"Kita pulang" ajak Hendry berjalan duluan di hadapan Afia. Entah kenapa hari ini ia benar-benar terlihat kesal sekali, entah itu gara-gara makanan atau pun hal lain.
"Hendry tunggu aku. Kamu berjalan terlalu cepat sekali" Hendry menghentikan kedua langkah kakinya, ia melihat Afia yang tertinggal dibelakang. "Tunggu aku Hendry" ucapnya kembali dengan suara nafas ngos-ngosan. "Aku lelah sekali, kamu terlalu cepat".
"Maaf" Hendry kemudian merangkul pinggang Afia. Dengan senyum mengembang di wajah Afia, ia tau kalau Hendry telah berhenti dengan rasa amarahnya. Namun tidak dengar rasa lapar Afia yang semakin lapar setelah berjalan beberapa meter dari tempat mereka tadi.
"Bagaimana ini? Aku sangat lapar sekali. Kalau Hendry sampai tau kalau aku tidak jadi memakan mie ayam itu, dia pasti sangat marah besar".
__ADS_1
.
Sesampainya dirumah kontrakan, Afia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sedangkan Hendry memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa bau dan lengket.
"Ck, aku lapar sekali. Adakah yang bisa aku makan? Aku benar-benar sangat lapar sekali" ia menyentuh perutnya yang membuncit. "Anak ku sayang, mama tau kalau kamu juga pasti lapar kan? Tolong maafkan mama ya sayang. Sebenarnya ini salah mama kenapa tidak memakan mie itu, padahal rasanya pasti sangat enak sekali melihat dari warnanya.. Astaga! aku ingin memakannya. Tapi aku tidak punya uang, begitu juga dengan Hendry".
Ceklek!
Hendry keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat Afia yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu. "Ada apa?".
Afia menggeleng, "Aku hanya.. Aku hanya..
"Apa?" tanya Hendry kembali dengan kening mengerut.
"Tidak, lupakan saja. Tolong berikan handuk itu kepada ku, aku ingin mandi juga" jawab Afia menyambar dari tangan Hendry segera memasuki kamar mandi.
Lalu Hendry melirik ponselnya, ia tidak melihat satupun notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
.
Di ruangan ICU, Abbas tak ada lelahnya menggenggam kelima jemari tangan kanan sang istri yang belum juga membuka mata.
"Sayang, papa sudah bertemu dengan Hendry anak kita. Dari kemarin mama mencari dia, sekarang mama bangun yah, Hendry baik-baik saja. Papa mohon mama harus pulih".
Kemudian sekretaris Abbas memberitahu kalau selama ini Hendry tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang tidak terlalu jauh dari perkotaan. Lalu Abbas bertanya, apakah mereka berdua tinggal bersama atau tidak? Dan sekretaris ya itu langsung mengiyakan kalau selama ini Hendry dan Afia tinggal bersama. Setelah itu ia menyuruh sekretaris ya itu pergi.
"Mama dengar itu? Hendry baik-baik saja meskipun dia hidup dengan kesederhanaannya" Abbas tertawa kecil. "Ini semua serasa seperti mimpi ma. Bagaimana bisa anak itu hidup susah hanya demi karna seorang wanita? Papa masih belum bisa percaya ini semua ma".
Abbas menarik nafas panjang, "Meskipun demikian ma, papa salut sama wanita itu benar-benar bisa merubah hidup Hendry anak kita yang dulunya sangat.. Jadi sekarang mama harus membuka mata, mama harus melihat putra kesayangannya mama itu sudah seperti apa".
Abbas lagi-lagi menarik nafas panjang, ia melihat Dina mengeluarkan air mata membuat ia tersenyum bahagia mengusap air mata tersebut.
__ADS_1
"Papa tau kalau mama mendengarkan papa. Ayo berjuang ma, papa sama Hendry menunggu mama disini".