Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 73


__ADS_3

Di ruang pribadi Dina, Freya meminta izin kepada Dina masuk ke dalam sana. Setelah Dina memberikan izin, ia langsung masuk ke dalam dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Ada apa Freya? Ini sudah jam 10 malam, kenapa kamu belum istirahat?".


"Itu Tante, aku ingin bicara sebentar sama Tante mengenai Hendry".


Dina mengerutkan keningnya, "Hendry?".


"Iya Tante ini mengenai Hendry" jawab Freya mengangguk. "Tante kan sudah tau kalau selama ini aku menyukai Hendry. Karna itu aku datang kemari, tapi nyatanya Hendry malah kuliah di luar negeri. Aku sangat sedih sekali Tante".


"Terus, apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan dengan Tante?".


Freya menghela nafas, "Sebenarnya ini mengenai wanita itu juga Tante. Bagaimana kalau sampai Hendry tau kalau kita mengusir dia? Aku yakin Hendry pasti marah besar Tante".


"Kamu tenang saja, mau bagaimana pun Hendry tidak mungkin membela wanita itu di bandingkan Tante".


"Iya sih Tante. Tapi kalau boleh aku saran nih ya Tante. Bagaimana kalau kita....".


Dina pun tersenyum senang sembari mengangguk setuju mengenai pendapat Freya yang baru saja ia bisikan di telinga Dina.


.


Afia yang berada di dalam kamar, ia membuka mata melihat setiap sudut ruangan tersebut tidaklah seperti di dalam kamarnya. Lalu Afia mencoba untuk bangkit, tetapi saat itu juga seorang pria memasuki kamar tersebut membuat Afia segera mengangkat tubuhnya bangkit berdiri dari atas tempat tidur.


"Kamu siapa?".


Si pria itu tersenyum, "Ini saya nona sekuriti di kediaman keluarga Mapolo. Oh iya, sebelumnya saya memperkenalkan diri dulu. Nama saya Sandro nona".


Afia mengernyitkan dahi, "Sandro?".


"Iya nona" jawabnya. "Apa sekarang nona sudah merasa baik-baik saja?".


"Terimakasih sudah membantu ku. Kalau gitu aku pergi dulu".


"Akh tunggu sebentar nona" ucap Sandro menahan Afia memberikan sesuatu di tangannya.


"Ini apa?".


"Hahahaha.. Bukan apa-apa nona, saya hanya ingin memberikan coklat ini agar nona tidak merasa sedih lagi".


"Apa?".


"Astaga! Maaf nona. Jangan salah paham dulu, ini tidak seperti yang nona pikirkan. Saya hanya...

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku akan menerimanya, terima kasih" Afia pun langsung pergi meninggalkan tempat tinggal Sandro. Kemudian Sandro menghela nafas panjang mengikuti Afia dari belakang sampai melihat Afia benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.


"Kasihan sekali dia".


Hingga kini Afia berada di dalam bus, ia tidak tau harus pergi kemana setelah Abbas dan Dina mengusirnya dari rumah. Yang ia pikirkan saat ini hanya rumah tempat orang tuanya tinggal, tapi bagaimana kalau sampai Kirana bertanya kenapa ia berada disana? Tidak mungkin ia memberi tahu yang sebenarnya, lalu apa yang harus ia lakukan.


Afia lalu turun dari dalam bus, ia berjalan menuju rumahnya yang sedikit jauh dari jalan raya.


"Afia?" panggil salah satu pejalan kaki itu yang sepertinya mengenal Afia dari belakang saat mereka berjalan bersama menuju rumah.


"Ekh, kak Nia" jawab Afia tersenyum tipis.


"Ooo, ternyata benar itu kamu Fia".


"Hehehhe.. Iya kak".


"Lama tidak bertemu Fia. Tapi, kamu hamil Fia?" Nia kaget. "Kamu sudah nikah Fia? Tapi kenapa kak Nia tidak tau kalau kamu sudah menikah".


"Maafkan aku kak Nia tidak memberikan undangannya sama kakak".


"Astaga Afia" senang Nia. "Tidak apa-apa kok, tapi selamat yah. Terus dimana suami kamu? Kamu tidak bersama dengannya?".


"Tidak kak, suami aku sedang bekerja".


"Iya kak".


.


Sesampainya dirumah, Afia melihat rumah itu terlihat sepi tak ada orang. Dan tentu saja tidak ada orang, Kirana dan Naura pasti berada di luar. Afia lalu membuka pintu rumahnya, tetapi pintu rumah tersebut malah terkunci tidak seperti biasanya selalu terbuka.


"Dikunci" gumam Afia.


"Afia?" panggil tetangga sebelah.


"Akh ibu" jawab Afia menunjukkan gigi ratanya. "Oh iya Bu, kak Naura...


"Kenapa? Kamu datang sama siapa?" tanya ibu tetangga tersebut kepada Afia.


"Hehehehe.. Aku datang sendiri bu, kebetulan Hendry ada pekerjaan di luar kota. Jadi aku akan tinggal di kerumah ini untuk beberapa hari".


"Oh, terus.. Apa kamu bisa masuk ke dalam? Akhir-akhir ini ibu mu jadi suka mengunci pintu rumah kalian sejak kejadian itu. Bagaimana kalau sambil menunggu Naura pulang atau ibu mu kamu kerumah ibu saja ayo dulu".


"Mmmm, gimana yah Bu".

__ADS_1


"Sudah ayo, tidak usah segan seperti itu sama ibu. Ayo" dengan senang hati, Afia pun langsung mengangguk tanda setuju mengikuti langkah kakinya wanita paruh baya itu dari belakang.


Di dalam rumahnya Afia mendudukkan diri diatas sofa, ia merasa tidak enak kepadanya keluarga wanita paruh baya tersebut yang sedang melihat dirinya.


"Hallo" ucap Afia menyapa.


"Kamu siapa?".


Kemudian wanita paruh baya itu tertawa kepada putrinya, "Dia Afia sayang anaknya ibu Kirana".


"Wanita yang suka meminjam uang itu ma?".


Deng!


Afia terdiam, "Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu kepadanya. Ayo di sapa, dia lebih tua dari mu".


"Tidak mau ma. Aku tidak suka melihatnya".


"Astaga Tera" bentaknya.


"Tidak apa-apa Tante" ucap Afia menghentikan wanita itu sambil tersenyum mengangguk. "Sepertinya aku sebaiknya pergi saja".


"Tentu saja, pergilah sana" sambung Tera benar-benar terlihat tidak menyukai Afia.


"Iya, kalau gitu aku permisi dulu ya Bu. Terima kasih sudah membawa ku kemari".


"Tidak, tunggu sebentar Fia. Kamu minum dulu, karna kamu sudah berada dirumah ibu kamu harus minum dulu. Ini, minumlah.. Tidak apa-apa. Ayo diminum".


Meskipun Afia merasa tidak enak, karena telah di paksa oleh ibunya Tera. Terpaksa ia harus meminumnya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak. Setelah itu ia pergi dari sana meninggalkan mereka, kemudian ibunya Tera melihat putrinya itu.


"Lain kali jangan seperti itu lagi Tera. Kamu seperti tidak di ajari sopan santun saja sama mama dan papa. Malu tau, kamu juga sudah tumbuh dewasa" namun Tera bukannya merasa bersalah, ia malah pergi meninggalkan ibunya itu, tetapi sebelum ia benar-benar pergi meninggalkannya.


"Aku mengenal siapa dia ma. Karna itu aku tidak menyukai dia. Aku membenci dia".


Ibunya bingung ada apa dengan putrinya itu sampai ia tidak menyukai Afia yang begitu baik dan polos kepada setiap orang seperti yang ia kenal selama ini.


"Maksud kamu apa Tera?".


"Ibu tidak usah tau alasannya apa. Yang penting aku tidak menyukainya. Aku membencinya".


Tera lalu memasuki kamarnya, ibunya kemudian melihat kepada saudara laki-laki Tera yang sama sekali tidak perduli dengan percakapan keduanya.


Sedangkan Afia yang begitu keluar dari rumah tersebut, ia menarik nafas panjang menatap keatas langit dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku sudah berulang kali mengeluh kepada engkau. Derita apa yang baru saja aku rasakan? Kenapa harus seperti ini? Kenapa orang-orang itu tidak menyukai ku. Dosa besar apa yang sudah aku lakukan Tuhan?".


__ADS_2