
Selesai Afia menikmati makan malamnya, Hendry lalu membantu Afia kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sambil tersenyum manis, Hendry hendak mencium keningnya dengan sayang. Namun Afia tiba-tiba menyampingkan wajahnya membuat Hendry tidak bisa mencium keningnya.
"Kenapa Fia?" tanyanya.
"Tubuhnya ku terasa pegal sekali. Bisakah kamu pergi sekarang juga" jawab Afia tiba-tiba moodnya tidak bersahabat.
"Ada apa Fia? Jangan membuat ku khawatir seperti ini sayang?" khawatir Hendry mengusap kepalanya dengan lembut. "Ada apa hhmm? Apa yang ingin kamu katakan? Ayo katakan".
"Aku ingin istirahat".
"Iya kamu istirahat lah. Aku akan pergi".
"Iya pergilah".
"Iya. Kalau gitu aku pergi dulu yah. Semoga kamu mimpi indah, sampai bertemu besok, aku akan datang kembali atau kamu ingin dibawakan apa besok?".
"Aku tidak ingin apa-apa. Kamu pergi saja".
"Mmmmm" angguk Hendry segera keluar dari dalam ruangan itu tanpa ia tahu kalau Afia sedang melihatnya dengan tatapan kesel setelah ia menutup ruangan itu kembali.
"Ck, kenapa aku tiba-tiba kesal kepadanya sih? Ini sangat menyebalkan sek.. Mmppphhhmmm.. Mmppphhhmmm.. Akh, kenapa aku merasa ingin muntah? Mmppphhhmmm.. Hendry tolong aku!".
"Afia?" panggil Kirana yang baru saja terbangun mendengar suaranya. "Kamu sudah sadar nak?".
"Iya Bu. Tapi kenapa perut Afia terasa mules dan juga Mmppphhhmmm.. Akh, Fia mau muntah Bu".
"Sini sini ibu bantu" ucap Kirana segera membawa putrinya itu kedalam kamar mandi. Setelah itu Afia memuntahkan semua makanan yang tadi ia makan di dalam closed. "Kenapa bisa jadi seperti ini ya Tuhan? Kamu baik-baik saja sayang?".
Afia lalu mendudukkan diri, "Aku baik-baik saja bu, hanya saja tubuh ku sekarang terasa lemas".
"Ya ampun Fia. Tadi kamu makan apa sih nak? Kenapa jadi seperti ini? Kita masuk lagi yok, ibu akan mengurut mu".
"Iya Bu".
Begitu Afia membaringkan tubuhnya kembali, Kirana lalu mengambil sebuah minyak dari dalam tasnya yang selalu ada di dalam sana.
"Ada apa ibu ribut-ribut?" tanya Naura bergumam.
"Tidak ada apa-apa. Kamu tidur lagi ajah".
"Benarkah Bu?".
__ADS_1
"Iya".
Kirana segera membawakan minyak urutnya, ia lalu bertanya dimana yang perlu ia urut. Afia pun langsung menunjuk kearah perutnya sambil membuka pakaiannya. "Pelan-pelan saja ya Bu. Sepertinya Afia masuk angin".
"Mungkin saja" balas Kirana. Kemudian ia melihat putrinya itu sangat menikmati setiap gerakan jemari tangannya hingga membuat Afia akhirnya terlelap. ia pun menyudahinya sembari memperbaiki pakaian Afia, lalu menyelimuti.
"Aku masih belum percaya kalau sekarang kedua putri ku sudah tumbuh dewasa" gumam Kirana menghela nafas. "Hanya saja kelakuan suamiku seperti iblis. Bagaimana bisa dia tega melakukan hal ini kepada putrinya sendiri? Dia benar-benar ayah kurang ajar. Kenapa dulunya aku harus menikahi dia? Kenapa aku tidak... Akh sudahlah, aku tidak perlu lagi mengingat masa lalu ku".
-
-
Kini matahari sudah terbit kembali. Afia pun segera membuka kedua matanya saat burung diatas udara berkicau seperti sedang bernyanyi begitu sangat indah menjadikan Afia menerbitkan senyuman di wajahnya.
"Ooo, kamu sudah siuman Fia?" kaget Naura melihatnya. "Kamu baik-baik saja? Apa rasanya masih sakit".
"Aku baik-baik saja kak. Dimana ibu?".
"Ibu sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mu" lalu Naura memperhatikannya dengan tatapan serius. "Aku mau nanya sama mu Fia. Siapa orang yang telah membayar biaya rumah sakit mu? Apa kamu memiliki simpanan om-om?".
"Astaga kak Naura! Kenapa kakak berkata seperti itu?".
"Yah habis biaya rumah sakit mu tidak murah loh. Ditambah lagi ruangan ini, kamu mau mau tau berapa per/malamnya? 7 juta Fia, 7 juta biar kamu tau. Gila kan?".
"Mereka tidak mau memberitahu. Kemarin ibu sudah menanyakannya. Makanya aku mau tanya sama kamu, tidak mungkin kamu tidak tau siapa...
"Mmppphhhmmm.. Mmppphhhmmm.. Kak aku mau muntah Uueeaakkhhhh".
"Kamu kenapa Fia?" khawatir Naura langsung membantunya turun dari atas tempat tidur.
"Aku tidak tau, dari semalam aku mau muntah-muntah ajah kak" jawabnya.
"Ya sudah ayo buruan".
.
Setelah Afia memuntahkannya isi dalam perutnya, Naura memberikan beberapa lembar tissue di hadapannya. "Kamu baik-baik saja?".
"Mmmmm, aku baik-baik saja kak. Terima kasih".
"Kamu tidak mau muntah lagi? atau perlu aku memanggil suster?".
__ADS_1
"Tidak usah kak. Aku sepertinya hanya masuk angin saja".
"Benarkah?".
"Mmmmm" angguk Afia keluar dari dalam kamar mandi melihat sang ibu telah menyediakan sarapan pagi untuk mereka diatas meja. "Ibu!".
"Iya, ayo duduk. Mereka tadi pagi membawakan sarapan untuk kita".
"Terima kasih bu".
"Iya sama-sama nak. Ini untuk kamu Naura, jangan lupa dihabiskan yah".
"Iya Bu" jawab keduanya.
Sambil melihat Naura sangat lahap, Afia hanya bisa mengaduk-aduk miliknya dengan wajah kesal. Kemudian ibunya bertanya kenapa ia tidak memakannya? Namun Afia hanya menggeleng saja. Lalu ibunya bertanya lagi makanan apa yang ingin ia makan? Dan lagi-lagi Afia hanya menggeleng hingga membuat Naura menghentikan miliknya.
"Kamu mau ini?" tanyanya menawarkan miliknya.
"Tidak kak. Sepertinya aku sudah selesai Bu, aku sangat tidak berselera sekali menikmati makanan rumah sakit" jawabnya membuat Naura tertawa senang segera mengambil miliknya.
"Kalau gitu ini untuk ku saja, ok?".
"Astaga Naura enggak boleh gitu. Adik kamu mungkin..
"Tidak apa-apa Bu kalau kak Naura mau".
"Nah, itu ibu dengar sendiri kalau dia bilang enggak apa-apa. Terima kasih Afia, jarang-jarang loh aku bisa menempati makanan seperti ini dirumah sakit bintang lima. Mmmmm, ini sangat enak sekali".
Lalu Afia tersenyum senang melihat kedua wanita yang berada di hadapannya itu. Ia sangat bersyukur sekali bisa memiliki keluarga yang masih menyayangi dirinya.
"Oh iya Bu. Hari ini Afia sudah bisa pulang kan? Afia enggak betah lama-lama disini, aku sangat tidak menyukai rumah sakit".
"Iya. Tapi ibu enggak tau kalau enggak dokter yang berkata kalau kamu sudah bisa pulang. Soalnya kata mereka ruangan ini sudah dibayar full. Astaga, ibu jadi penasaran lagi siapa sih orang ya itu, ibu ingin sekali mengucapkan terima kasih banyak".
"Ya sudahlah Bu. Ngapain harus dipikirkan lagi? Yang rugi siapa? Dirinya sendiri kan? Lagian kita enggak minta kok".
"Meskipun seperti itu Naura kita harus tau dia siapa dan apa alasan dia membayar semua biaya rumah sakit adik kamu. Ibu enggak tau dia itu orang baik atau orang jahat yang kapan pun dia bisa menyakiti kita".
Naura terdiam, lalu melihat mereka. "Apa jangan-jangan...
"Jangan apa Naura?".
__ADS_1
"Ayah Bu. Apa mungkin ayah yang melakukan.. Tapi aku yakin tidak mungkin ayah Bu. Terus siapa?".