Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 59


__ADS_3

Hari semakin sore dan malam pun telah tiba Afia belum juga bangun dari tidurnya. Kemudian Siska melihat Dina telah kembali dari rumah sakit membuat ia langsung berlari menghampirinya dan memberitahu semuanya kalau Afia sudah berani melawan perintahnya.


Dan Dina pun yang mendengarkan cerita Siska, "Oh ya? Dia berani berkata seperti itu?".


"Iya nyonya. Padahal Siska sudah bilang kalau ini perintah nyonya Dina. Tapi dianya malah enggak peduli dan langsung pergi meninggalkan Siska saat itu juga".


Dina menarik nafas panjang, ia pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamar putra kesayangannya itu.


Baarrr.... Baarrrr....


"Afia buka pintunya!" teriak Dina.


Baarrr... Baarrrr...


"Afia buka pintunya, kamu tidak mendengar ku?" teriak Dina kembali sampai membuat Afia terbangun dari tidurnya mendengar suara Dina sedang meneriaki namanya.


"Astaga! Jam berapa ini?" begitu Afia melihat jam telah menunjukkan pukul 7 malam ia pun langsung membulat kedua matanya segera menuruni tempat tidur membuka pintu kamar melihat Dina berdiri tepat di depan pintu dengan mata tajam.


PPPLLLAAKKK...


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Afia dengan tamparan yang terbilang cukup kuat sampai membuat Afia mengeluarkan air mata di kedua pipinya.


"Ke-kenapa Tante menampar ku?" tanyanya.


Dina menyeringai, "Kamu mau tau kenapa saya menampar mu haahh? Itu karna kamu sudah berani melawan perintah saya. Ngerti kamu?".

__ADS_1


Afia lalu melap air matanya, "Tapi kesalahan apa yang sudah aku lakukan Tante? A-aku benar-benar tidak tau apa yang membuat Tante bisa semarah ini kepada ku hiks..".


"Alah, kamu enggak usah pura-pura menangis enggak jelas kaya gini. Kamu pikir dengan kamu menangis seperti ini saya akan merasa kasihan sama kamu? Dasar orang kampungan".


"Tolong beritahu aku Tante, kesalahan apa yang sudah aku lakukan sampai membuat Tante marah seperti ini? Aku benar-benar tidak tau".


"Malam ini juga kamu keluar dari dalam kamar ini, saya tidak sudih kamar putra saya di tempati sama manusia tidak berguna seperti kamu" jawab Dina membuat Afia langsung terdiam mematung. "Kenapa kamu masih berdiri disitu? Cepat keluarkan semua barang kamu dari kamar putra ku" ucap Dina kembali mendorong tubuh Afia yang bergetar menahan suara tangisnya.


"Enggak usah pake cara menangis-menangis seperti ini. Saya sudah katakan kalau saya tidak akan pernah....


"Nyonya" panggil Siska.


"Ada apa?".


"Tuan baru saja pulang nyonya. Beliau mencari nyonya".


Kemudian Siska tersenyum senang melihat Afia yang masih menangis sambil memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. "Wah, sayang sekali yah. Kemarin lagi senang-senang menjadi menantu.. Oh iyayah aku lupa, kamu kan belum menikah dengan tuan muda jadi tidak mungkin kamu di panggil menantu keluarga Mapolo. Berarti kalau gitu, anak kamu anak haram dong hahahha.. Ups, maaf Afia hahahha".


Afia menghentikan kedua tangannya, ia menatap Siska dengan marah. "Tidak pantas kamu berkata seperti itu Siska. Anak yang berada di dalam kandungan ku ini tidak tau apa-apa, jadi kamu jangan bawa-bawa bayiku".


"Hahahaha.. Kasihan banget sih kamu? Udah hidup miskin tapi sok-soan mau jadi menantu orang kaya. Yah kamu mimpi ya terlalu tinggi lah, kan jatuhnya jadi sakit. Lihat saja, nyonya Dina begitu sangat tidak menyukai mu. Kamu enggak merasa malu apa? Kalau aku sih jadi kamu, lebih baik aku minggat dari rumah ini dari pada harus menerima kenyataan seperti ini".


Afia kembali memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper tanpa berniat mendengarkan Siska lagi karna ia tau kalau ia masih saja mendengarkan ocehan dia, Siska akan semakin melonjak menghina dirinya.


"Ekh kamu mau kemana?" tanya Siska saat Afia hendak keluar dari dalam kamar pergi meninggalkan dia. "Kamu mau kalau sampai tuan Abbas melihat kamu membawa koper ini turun dari tangga itu? Kamu kemari ikut aku".

__ADS_1


Afia lalu mengikuti langkah kaki Siska dari belakang dan mereka pun menggunakan tangga yang berada di belakang. Setelah itu Siska membuka salah satu kamar pembantu tersebut. "Mulai sekarang ini kamar kamu".



"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu pasti berkata dalam hati kalau kamar pembantu ini jauh lebih mewah dari pada kamar kamu dirumah mu iya kan? Hahahaha.. Ayo kamu ngaku" ejek Siska kembali tertawa.


Namun Afia terdiam, ia membawa kopernya masuk ke dalam dengan tubuh lelah dan juga dengan perut lapar. "Kamu boleh pergi, terima kasih sudah mengantar saya kemarin".


"Baiklah, selamat bersenang-senang Afia, besok pagi pekerjaan sudah menanti mu.. By".


Kemudian Afia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, ia menatap langit-langit kamar dengan meneteskan air mata itu kembali. "Hendry, lihatlah mereka telah memperlakukan aku dengan kasar. Bukan cuman ibu mu saja, bahkan pelayan dirumah memperlakukan aku kasar hiks... Kalau kamu tau apa yang telah mereka lakukan kepada ku? Apa kamu akan menghukum mereka?".


Afia melirik ponselnya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Rasa lapar yang sedari tadi ia tahan semakin menjadi-jadi. Ia lalu bangkit berdiri, apapun yang terjadi dia harus mengisi perutnya karna kalau dia tidak makan, bisa jadi nanti di jatuh pingsan.


Kemudian Afia membuka pintu kamarnya, ia melihat samping kiri kanan tidak melihat satu orang pun dari pelayanan dirumah itu ia lihat. Lalu ia melangkah keluar, dengan langkah pelan Afia berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju dapur. Namun saat tiba disana, ia melihat beberapa pelayan itu masih berada di dapur membersihkan semua peralatan sebelum mereka istirahat.


"Hhhmmss... Aku pikir mereka sudah istirahat" gumam Afia menyandarkan tubuhnya di balik tembok. "Tapi kalau di pikir-pikir, kenapa aku jadi takut juga kepada mereka? Aku kan punya hak untuk makan dirumah ini. Terus, kenapa aku jadi takut seperti ini?" Afia melirik kearah mereka kembali, ia melihat mereka telah selesai membersihkan semua peralatan itu dan sekarang mereka sedang menikmati sebuah es krim.


"Oo, eskrim. Aku sangat menyukai Eskrim".


Setelah beberapa menit lamanya Afia menunggu disana, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan dapur membuat Afia seketika tersenyum senang. "Akhirnya mereka pergi juga. Kini saatnya aku mengisi perut".


Afia langsung berjalan masuk ke dalam dapur. Ia melihat semua meja sudah bersih dan semua peralatan disana. Namun yang membuat Afia bingung, kenapa ia tidak melihat sisa makanan tertinggal disana.


"Bagaimana ini? Aku sudah sangat lapar sekali tapi mereka benar-benar tidak menyisakan makanan untuk ku".

__ADS_1


Tidak sampai disana, Afia kembali mencari-cari sisa makanan yang tak mungkin habis begitu saja karna ia tau dirumah itu memiliki banyak makanan.


__ADS_2