
Diruangan Eva menyuruh Hendry duduk diatas kursi, ia melihat wajah Hendry yang babak belur akibat pukulan para karyawan tersebut. "Hendry, selama saya bekerja disini baru kali ini saya menghadapi masalah sebesar ini. Sekarang kamu tau apa kesalahan kamu?".
"Mmmmm" gumam Hendry.
"Kamu masih ingin bekerja disini?".
"Mmmmm".
"Saya mau kamu minta maaf kepada mereka supaya kejadian hari ini tidak terulang lagi. Ibu mohon" Hendry mendengus, ia enggan meminta maaf kepada orang yang telah membuatnya seperti ini. "Hendry ibu mohon" ucapnya lagi.
"Saya tidak bisa buk" jawab Hendry keluar dari sana. Namun saat ia keluar dari sana, tiba-tiba ia melihat Dina keluar dari dalam mobilnya, "Mama" gumam Hendry mencari tempat persembunyian.
"Kamu kenapa Hendry?" tanya buk Eva.
"Persembunyian, carikan saya tempat persembunyian buk. Saya mohon" Buk Eva kebingungan melihat Hendry tiba-tiba mencari tempat persembunyian, "Cepat buk" kesal Hendry.
"Saya tidak mengerti maksud kamu Hend.." gantung buk Eva melihat Hendry telah berlari dari hadapannya. "Ada apa dengannya? anak itu benar-benar aneh".
.
Malam harinya, semua petugas kebersihan disana telah kembali pulang kerumah mereka masing-masing begitu juga dengan Hendry yang tengah di jemput oleh Abian. "Bro" senyumnya.
"Untung saja kamu datang, aku tidak memiliki uang lagi" ucap Hendry memasuki mobil Abian.
"Wah, kamu benar-benar jatuh miskin sekarang Hend" tawa Abian langsung menjalankan mobilnya. "Lalu bagaimana hari pertama mu bekerja?" tanya Abian belum menyadari apa yang terjadi kepada Hendry akibat di tutupi oleh masker dan topi.
"Sangat tidak menyenangkan" jawabnya.
.
Sesampainya mereka di hotel, ia telah melihat Dafa dan Chan menunggunya disana dengan minuman anggur diatas meja dan juga rokok kesukaannya. Lalu ia mendudukan diri disana, ia membuka topi dan maskernya, "Tadi aku berantem".
"Apa? kok bisa Hend?" kaget mereka melihat luka di wajahnya.
"Hhhmmsss.." Dengus Hendry, ia pun segera memberitahu ketiga sahabatnya itu dengan apa yang terjadi selama ia berada disana.
"Yah, sepertinya kita harus memberi mereka pelajaran. Bagaimana bisa mereka memukuli seorang Hendry" kesal Chan.
"Iya Hend, aku setuju dengan Chan. Kita harus membalasnya, beritahu kami siapa saja orang ya".
__ADS_1
"Ck, sudahlah. Aku tidak ingin berurusan dengan mereka lagi".
"Tidak boleh seperti itu Hend" ujar Abian tidak terima. "Sekarang beritahu aku siapa saja orang ya".
Bukanya memberitahu siapa orangnya Hendry malah pergi meninggalkan mereka masuki kamarnya, "Aku lelah, aku mandi dulu".
Abian melihat Dafa dan Chan, "Sudahlah Bian kalau Hendry tidak mau membalas mereka, kalau dia butuh bantuan, dia pasti minta bantuan kita, bukan begitu Dafa?".
"Mmmm.. Kita tunggu saja sampai Hendry memanggil kita Bian" angguk Dafa.
Abian menghela nafas, ia menuang anggur tersebut di dalam gelasnya lalu meneguknya dengan sekali tegukan saja sampai gelasnya kosong.
Tidak lama kemudian Hendry keluar dari dalam kamarnya, ia melihat mereka sedang menikmati anggur tersebut bersama dengan beberapa cemilan dan juga makanan berat seperti pizza dan hamburger. "Kamu sudah datang? duduklah" ucap Dafa melihat Hendry sedang melihat Abian yang sudah setengah mabuk, "Dia masih kesal karna kamu tidak meminta bantuan kita".
Hendry tersenyum, "Kalau mereka benar-benar membuat ku sangat marah, aku pasti akan meminta bantuan kalian" Ia menyambar rokok. "Aku tau kalian perduli kepada ku, terima kasih untuk semuanya".
Dafa terlihat senang, lalu merangkul leher Hendry.
.
1 bulan kemudian..
Tetapi ia tidak menyadari kalau seseorang dari kejauhan sana melihatnya, "Dasar" gumamnya menggeleng.
Begitu Hendry berada di depan pintu kelasnya, ia melihat guru yang akan mengajar di ruangannya itu telah berada disana. "Permisi buk" ucap guru BK tersebut.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?".
"Iya buk, kita kedatangan siswa pindahan, kelas yang lain sudah penuh, jadi saya minta dia kelas ini saja".
"Iya pak tidak apa-apa".
"Terima kasih buk" Ia langsung menyuruh Hendry masuk kedalam. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Kemudian si guru itu menyuruh Hendry memperkenalkan dirinya, "Nama ku Hendry, salam kenal dengan kalian".
"Itu saja?" tanya mereka kepada Hendry.
Tidak ingin menjawab mereka, ia bertanya kepada wali kelasnya itu dimana ia akan duduk. "Kamu lihat dia? kamu boleh duduk disampingnya" Ia pun langsung berjalan kearah tempat duduknya.
__ADS_1
"Buk" panggil salah satu siswi itu.
"Iya Fani?" jawabnya.
"Tidak bisakah ibu menerima siswa tampan saja? kami bosan melihat siswa seperti mereka saja" ujar Fani melihat laki-laki didalam kelasnya hanya pria biasa yang tidak sesuai seleranya. Apalagi saat dia melihat Hendry masuk, ia terlihat sangat kesal kepada Hendry mengenakan kaca mata bulat dan juga tompel yang berada di bawah mata Hendry membuat ia terlihat sangat jelek.
"Iya buk, kami setuju dengan Fani. Ibu tau sendiri kalau kami-kami di kelas ini kan cantik-cantik semua, setidaknya salah satu cowok di kelas ini maunya ada yang tampan. Jadikan kalau ada pertandingan antar sekolah lain kita tidak malu membawa mereka" Sambung Nesa.
"Yang ampun Nesa Fani, kalian tidak boleh seperti itu. Kalian harus menghargai mereka" tegur sang wali kelas.
"Bodoh amat" gumam Fani.
Kemudian wanita yang berada disamping Hendry itu pun langsung tersenyum kepadanya. "Kamu tidak usah mendengarkan mereka, laki-laki dikelas ini sudah muak mendengarkan ocehan dari mulut mereka berdua".
Hendry tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, aku juga sudah terbiasa mendengar seperti itu".
"Oohh, sepertinya kamu juga sering di bully di sekolah lama mu. Kenalin, nama ku Afia".
"Aku tau".
"Apa?".
"Tidak, lupakan saja".
Afia tersenyum, lalu ia mengeluarkan buku pelajarannya. Namun saat ia membuka bukanya, Hendry menyuruh mereka berdua berpindah tempat duduk. "Kenapa?".
"Aku lebih suka duduk disamping tembok".
"Oh, baiklah" mereka berdua langsung berpindah tempat. Kemudian ia malah melihat Hendry tertidur disana, "Wah, dia benar-benar" geleng Afia melihat ke depan.
"Jangan perdulikan aku, kamu fokus saja dengan guru itu" ucap Hendry.
"Mmmm, tidurlah" Meskipun hari ini adalah hari pertama mereka kembali bersekolah, tapi guru yang mengajar di depan sana bukanlah guru yang suka menyia-nyiakan waktu berharga mereka.
Kemudian Afia melirik Hendry kembali, anak itu benar-benar terlelap tampa merasa takut sama sekali kepada guru yang mengajar didepan sana. Lalu ia teringat kejadian tadi saat Hendry melompat tembok. "Kamu terlihat polos, tapi tidak sepolos orang lain lihat".
"Afia" panggil buk Rena.
"Iya buk" jawab Afia langsung melihatnya.
__ADS_1