
Sore harinya Naura pulang kerumah, ia melihat Afia sedang menyiapkan makan malam mereka. "Ibu dimana Fia? belum pulang?".
"Iya kak, ibu belum pulang".
"Kamu masak apa?".
"Masak seperti biasa kk, tolong bantuin Fia ya kk".
"Aku capek baru pulang. Bdw kamu kenapa kaya pucat seperti itu Fia, kamu sakit?".
"Hhhmm?" kaget Afia menyentuh wajahnya. "Tidak, aku baik-baik saja kk. Mungkin karna lelehan saja".
"Mmmmm" gumam Naura memasuki kamarnya. Lalu Afia duduk diatas kursi, ia masih tetap merasakan sakit. Namun ia tidak boleh ketahuan, ia harus menahannya sampai rasa sakit itu benar-benar hilang, setelah itu Afia melanjutkan masakannya.
Begitu selesai, tidak lama kemudian sang ibu kembali kerumah, dengan senyum mengembang diwajah Afia, ia membawa segelas minuman segar untuk Larasati. "Terima kasih Fia".
"Iya bu. Ibu pasti sangat capek, mau Fia pijiti".
"Tidak usah Fia, ibu mandi dulu. Kakak kamu sudah pulang?".
"Sudah bu, kak Naura ada di dalam kamar".
"Mmmm" angguk Kirana memasuki kamar. Setelah itu Naura keluar dari dalam kamar, ia mendudukan diri diatas sofa yang berada di ruang tengah.
"Aku juga mau dong Fia, buatin aku jus apa kek yang ada di dalam kulkas".
"Di kulkas enggak ada apa-apa lagi kk".
"Terus itu? kamu mendapatkannya dari mana?" tunjuk Naura di bekas gelas kosong sang ibu.
"Tadi tinggal ini kk, kalau kk mau kk beli saja di warung depan. Kayanya belum tutup deh".
"Ck, aku enggak punya uang. Kalau kamu punya, belian satu dong" ujar Naura menyalakan televisi.
"Aku juga enggak punya uang kk".
"Eeiiss, kamu kan kerja Fia, masa iya kamu enggak punya uang. pelit amat sih" kesal Naura.
"Kak Naura tau sendiri kalau aku belum gajian".
"Ah, banyak alasan kamu. Minggir" Naura mendapatkan panggilan telpon dari sang pacar, dengan senyum mengembang diwajahnya ia langsung mengangkatnya sambil berjalan keluar, "Iya sayang?" jawab Naura.
Afia menghela nafas, ia melihat punggung Naura yang berada di teras rumah. Lalu Afia melihat sang ibu keluar dari dalam kamar mandi, "Kamu sudah mandi Fia?".
__ADS_1
"Ini Fia mau mandi buk".
"Masuklah, tadi ibu menyalakan air".
"Iya bu" angguk Afia mengambil handuk dari dalam kamar. Namun saat Afia keluar, ia melihat barang belanjaan Naura tadi terletak diatas tempat tidur membuat Afia merasa sedikit iri dengan pacar Naura yang setiap kali mereka berkencan ia akan membeli barang-barang untuknya.
Ceklek!
"Kamu lagi lihatin apa?" tanya Naura.
"Tidak kak" geleng Afia keluar dari dalam kamar.
Kemudian Naura memicingkan mata, lalu ia melihat paper-bag miliknya terletak diatas tempat tidur. "Oh ini" senyum Naura membuka paper-bag tersebut berisi pakaian dan alat kosmetik. "Ini enaknya punya pacar yang sudah bekerja. Aku bisa membeli barang-barang ini".
DDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...
Naura mendengar suara ponsel Afia berdering, ia langsung mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam tas Afia, "Hhhmmsss, jaman sekarang sudah semakin canggih, tapi Afia masih memakai ponsel jadul. Terus siapa orang yang bernama Hendry ini?" gumam Naura menekan tombol hijau. Namun saat itu juga Afia membuka pintu kamar, "Kamu sudah datang? inih, seseorang yang bernama Hendry memanggil mu".
"Terima kasih kk" senyum Afia menerima ponselnya. Lalu Afia keluar dari dalam kamar, "Iya Hend? ada apa?".
"Kamu sedang apa sayang?" Hendry tersenyum membayang Afia berada dihadapannya. "Aku merindukan mu, sangat merindukan mu. Kamu sudah makan? atau perlu aku membawakan sesuatu untuk mu?".
Afia tersenyum, "Tidak usah Hend, kamu ada-ada saja deh. Terima kasih".
"Afia" panggilnya.
"Kamu sudah mandi?".
"Baru saja selesa.." gantung Afia langsung menebak apa yang sedang Hendry pikirkan. "Ck, kamu sangat menyebalkan Hendry".
Hendry tertawa, "Emang aku kenapa Fia? aku hanya bertanya saja".
"Kamu pikir aku tidak tau apa isi kepala mu itu".
"Apa coba?".
"Hentikan, aku tidak ingin membahasnya. Kalau gitu aku tutup dul..
"Tunggu, kamu mau kemana Fia? aku masih ingin mendengar suara mu. Kamu benar-benar tidak merindukan ku?".
"Tidak".
"Hey, aku tidak percaya kalau kamu tidak merindukan aku Fia. Bisakah kita bertemu sebentar saja?".
__ADS_1
"Tidak bisa".
"Ayolah Fia, sebentar saja mmmmm. Aku kesana sekarang juga yah".
"Tidak Hendr...
"Siapa Fia?" tanya Kirana menghampirinya. "Kakak kamu mana?".
Afia tersenyum, "Teman Fia ma yang kemarin kesini".
"Oh" angguk Kirana masuk kedalam kamar. Kemudian Afia menyudahi telponnya dengan Hendry, lalu menyusul sang ibu kedalam kamar. "Naura, berapa uang kuliah mu?" tanya sang ibu mengeluarkan uang.
"8 juta bu. tapi bisa 4 kali cicilan, ibu mau sekali gus membayarnya?" tanya Naura melihat uang yang berada di dalam genggaman Kirana.
"Tadinya seperti itu Naura. Ibu dan ayah meminjam uang dari bu Rara untuk biaya kuliah kamu, tapi..
"Tapi apa bu? berapa uang yang sudah ibu dan ayah pinjam?" potong Afia langsung merasakan sesuatu mengganjal.
"Maafkan ibu Fia. Kemarin ayah dan ibu sudah sepakat meminjam uang hanya 10 juta saja. Tapi ayah kamu malah meminjam uang 20 juta".
"Apa?" kaget Naura dan Afia.
"Mmmmm, dan uang itu ini, sisanya dibawa ayah untuk judinya".
"Astaga ibu" bentak Naura terpancing emosi. "Jadi sisa uang itu hanya ini?".
"Iya".
"Ah.. Ya Tuhan, apa sih yang ayah pikirkan? bagaimana bisa ayah melakukan ini semua kepada ibu. Ayah benar-benar tidak punya hati, dia egois seperti iblis" ucap Naura mengepal tangan. "Lihat saja nanti, begitu Naura lulus kuliah, Naura akan meninggalkan rumah ini".
"Maksud kakak Naura?".
Naura tersenyum sinis, "Siapa pun orangnya, dia enggak bakalan sanggup menghadapi keluarga hancur seperti ini. Makanya aku enggak pernah membawa teman-teman satu kampusku main kerumah, karna aku sangat malu punya keluarga dan rumah seperti ini. Ibu tau sendiri, gula saja kadang tidak ada".
"Kak Naura!!" bentak Afia melihat sang ibu berkaca-kaca. "Kakak enggak seharusnya bilang seperti itu kepada ibu. Kakak enggak kasihan melihat ibu yang sudah menjadi tulang punggung kita selama ini?".
Naura mendengus kesal, lalu pergi keluar dari dalam kamar meninggalkan sang ibu dan Afia. Kemudian Afia menyeka air mata Kirana dengan sayang, "Sudah bu, tidak usah dipikirkan. Kak Naura mungkin lagi kesal saja".
Kirana menggenggam kedua tangan Afia sambil menahan air mata, "Fia, maafkan ibu ya nak. Ibu belum bisa membuat kalian berdua hidup bahagia seperti yang lainnya".
"Tidak apa-apa buk. Ibu tidak usah berkata seperti itu, sampai kapan pun Afia akan selalu sayang sama ibu dan tidak akan pernah meninggalkan ibu".
"Terima kasih sayang" peluk Kirana ditubuh mungil putrinya.
__ADS_1
"Iya bu, tapi ibu harus janji sama Afia yah kalau ibu tidak boleh sedih ataupun menangis disuatu tempat yang tidak Afia tau, ibu harus cerita sama Afia. Ok".
"Iya nak" angguk sang ibu memeluknya semakin erat.