
Begitu Afia pergi meninggalkan mereka, ia melihat Abbas tengah menggenggam ponselnya ditangan kanan langsung memberikan di tangan Afia. "Hendry, katanya ponsel mu tidak bisa hubungi" ucap Abbas memberitahu.
Dengan senyum mengembang di wajah Afia, ia pun menerima ponsel tersebut sedikit menjauh darinya. Lalu ia mencoba untuk menahan diri supaya begitu ia melihat wajah Hendry ia tidak akan menangis. "Hallo Hendry!".
"Sayang" Ia melihat wajah Hendry tersenyum begitu sangat lebar membuat ia tak kunjung bisa menahan rasa sedihnya membuat Afia akhirnya menumpahkan air mata. "Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu jadi menangis seperti ini? Kamu baik-baik saja? Apa sesuatu terjadi kepada mu? Ayo jawab aku sayang, tolong jangan buat aku khawatir".
Afia lalu melap air matanya, "Aku baik-baik saja Hendry. Jam berapa tadi kamu tiba di Amerika?".
"Benarkah sayang? Aku mohon jangan buat aku khawatir disini. Aku baru tiba sayang".
"Mmmmm.. Aku merindukan mu" jawab Afia dengan suara pelan. Setelah itu Afia memberitahu Hendry untuk menyudahi percakapan mereka, ia terlihat tidak sanggup menahan air matanya, ia merasa sangat merindukan Hendry dan jikalau ia berlama-lama komunikasi dengannya, rasa rindu Afia semakin menjadi-jadi.
Kemudian Afia mengembalikan ponsel itu kepada Abbas dan tak lupa mengucapkan terimakasih banyak. Ia lalu melihat Dina yang sedang melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"Bersabarlah, Hendry tidak akan berani berbuat macam-macam di luar sana" ucap Abbas.
"Iya om, aku juga mempercayai hal itu. Kalau gitu, aku permisi dulu ya om".
"Iya".
Afia pun segera pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar dan tidak lupa menguncinya dari dalam supaya tak satupun orang akan menganggu dirinya. Kemudian Afia menyentuh perut sembari mendudukkan diri diatas tempat tidur dengan tubuh lelah dan air mata itu tanpa di undang langsung mengalir di pipi mulusnya.
"Ibu, aku sangat merindukan ibu hiks.. hiks.. Afia sangat merindukan ibu. Apa yang harus Afia lakukan Bu? Afia benar-benar terasa hidup sendiri hiks.. hiks..".
.
Sore hari sekembalinya Kirana dari tempat ia bekerja, ia duduk termenung memikirkan bagaimana dengan keadaan putrinya yang saat ini belum juga ada kabar darinya. Tidak lama kemudian, Naura kembali pulang melihat sang ibu.
"Ada apa dengan ibu? Jangan bilang ibu merindukan Afia?" Naura terlihat kesal.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu Naura. Mau bagaimana pun dia tetap adik kamu, adik kamu satu-satunya" jawab Kirana dengan mata berkaca-kaca. "Kamu pikir karna adik kamu telah melakukan kesalahan yang membuat ibu marah ibu akan membencinya? Tidak Naura, mau sampai kapanpun dan sebesar apapun kekesalan yang kalian lakukan ibu tetap tidak bisa melakukan hal itu".
__ADS_1
Naura terdiam. Apa yang ibunya katakan itu adalah benar. Ia juga sebenarnya sadar diri kalau dia bukanlah anak yang baik yang bisa di banggakan, tapi kesalahan yang sudah Afia lakukan belum pernah ia lakukan.
"Maaf, aku minta maaf sudah membuat ibu menangis. Kalau ibu merindukan dia, kenapa ibu tidak menelponnya saja?".
Kirana terdiam, air mata itu terus mengalir dari pelupuk kedua matanya. Entah kenapa, ia tiba-tiba sangat merindukan putri ya itu, ditambah Afia yang belum juga memberikan kabar kepadanya.
"Oh iya bu. Minggu depan Naura sudah sidang, ibu sudah menyiapkan uang ya kan? Aku mau uang itu ada besok Bu" ucap Naura.
Kirana lalu manarik nafas panjang, setelah itu ia melirik Naura yang berada di sebelahnya.
"Naura!".
"Iya, kenapa Bu?".
"Begitu kamu selesai kuliah. Apa kamu juga akan pergi meninggalkan ibu sama seperti dengan Afia?".
"Tentu saja iya bu. Aku harus mencari pekerjaan untuk masa depan ku. Tidak mungkin kan aku masih tetap disini bersama dengan ibu. Emang kenapa ibu bertanya seperti itu? Ibu enggak bosan melihat ku setiap hari dan selalu menyusahkan ibu dengan meminta uang setiap harinya?".
"Begitu aku lulus kuliah Bu, aku akan bekerja di perusahaan grup Mapolo tempat Afia bekerja sebagai cleaning servis".
"Apa? Kamu yakin bisa bekerja disana? Perusahaan itu bukanlah sembarangan perusahaan Naura. Dan tidak semudah yang kamu pikirkan bisa diterima bekerja disana".
"Ibu tenang saja, pacar Naura manajer marketing disana. Tentu saja Naura akan diterima bekerja di perusahaan grup Mapolo melalui dia dan juga Naura kan pintar Bu. Kenapa ibu jadi meragukan kepintaran aku?".
"Hhhmmss.. Bukan apa-apa Naura. Ibu tau kamu anak pintar yang mulai sejak SD kamu selalu mendapatkan juara. Hanya saja...
"Hanya saja apa Bu? Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku mau mandi dulu, hari ini aku sangat lelah sekali. Ibu sudah menyiapkan makan malam? Aku lapar".
"Mmmm, makanlah kalau kamu lapar. Ibu sudah memasak untuk mu".
"Terima kasih Bu".
__ADS_1
Naura pun pergi berjalan memasuki kamarnya, ia lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan wajah lelah. Ia kemudian menyambar ponselnya mendapatkan sebuah pesan dari sang kekasih. Begitu Naura membaca pesan tersebut, dengan senyum mengembang di wajahnya ia langsung berlari keluar dari dalam kamar.
"Kamu mau kemana Naura?" tanya sang ibu.
"Aku mau keluar sebentar bu. Ibu makan malam sendiri saja, pacar Naura sudah menunggu di depan".
Kirana berjalan keluar mengikuti Naura dari belakang, ia lalu melihat kekasih Naura tengah menunggu di depan mobil dengan gagahnya. Namun yang membuat hati Kirana kecewa, kenapa Naura tidak pernah mau mengenalkan kekasihnya itu kepada dia atau Naura malu melihat keadaan mereka yang seperti ini? Kirana manarik nafas panjang, ia melihat mobil tersebut telah melaju pergi.
"Kirana, permisi" panggil seseorang.
"Iya ada apa?" tanya Kirana melihat tetangganya itu.
"Naura mau kemana? Aku melihat dia memasuki mobil seseorang yang tidak aku kenal. Tapi seperti yang aku lihat, pria itu sangat tampan dan juga gagah. Apa pria itu kekasih Naura?" wanita paruh baya itu terlihat penasaran sampai ia bertanya kepada Kirana.
"Aku tidak tau, itu mungkin teman satu kampusnya" jawab Kirana.
"Akh tidak mungkin, seperti yang aku lihat pakaian pria itu sangat rapi sekali bukan milik seorang anak mahasiswa. Kamu sudah tanya Naura belum? Harusnya kamu tanya dia dulu biar apa yang terjadi kepada Afia tidak terjadi kepada dia".
"Hentikan, sebaiknya kamu pergi saja".
"Hey, kenapa kamu jadi mengusir ku Kirana? Jangan melihat ku seperti itu, aku berkata demikian supaya kedua anak mu tidak jatuh di lubang yang sama. Tapi ngomong-ngomong Afia sekarang sudah dimana? Sudah beberapa hari aku tidak melihat dia bersama dengan pria tampan itu?".
"Mereka sudah pindah ke kota. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan ku sebaiknya kamu pulang saja sana. Hari ini aku lelah sekali ingin istirahat".
"Ekh tunggu dulu Kirana. Kamu main terobos masuk saja. Bagaimana dengan hutang mu yang kemarin? Kamu sudah memiliki uang untuk membayarnya? Sepertinya aku sangat membutuhkan uang itu".
Kirana terdiam. Dan si wanita paruh baya itu langsung bisa menebak kalau Kirana tidak memiliki uang untuk membayarnya. "Akh sudahlah, kamu pasti akan mengatakan kepada ku kalau kamu tidak punya uang kan?".
"Maaf, aku tidak bisa membayarnya sekarang. Minggu depan saja yah, aku berjanji akan membayarnya".
"Ck, kebiasaan kamu setiap kali meminjam uang ku. Ya sudah, aku tunggu minggu depan".
__ADS_1
"Iya, terima kasih".