
BBRRAAKK..
Saat pintu terbuka, Hendry melihat Abbas sangat marah dengan tangan mengepal. "Pa" panggilnya.
PPPLLAAKK..
"Pa".
PPPLLLAAAKKK..
"Pa".
PPPLLAAKKK..
"Pa".
"Tuan Abbas" si kepala sekolah dan si guru BK pun langsung menahan tubuh Abbas yang sudah di puncak kemarahan. "Tolong hentikan tuan, mari kita bicarakan secara baik-baik".
"Lepaskan saya".
"Tolong tuan, kita sedang berada di sekolah".
Abbas menghela nafas, ia benar-benar sangat marah kepada Hendry yang sudah mempermalukannya lagi. "Papa tidak tau mau berkata apa lagi, kamu benar-benar sudah membuat papa dan mama kamu merasa sangat malu" setelah itu Abbas pergi meninggalkan ruangan tersebut. namun saat ia berada diluar, ia melihat ketiga sahabat Hendry menunduk penuh penyesalan.
Lalu ia mendekati mereka, "Kenapa kalian berada diluar? harusnya kalian berada di ruangan".
"Om, maafkan kita om. Sebenar..
"Masuklah, jangan membuat orang tua kalian marah nantinya" Abbas pun langsung pergi.
"Om, maafkan kami" tunduk mereka melihat punggung Abbas yang sudah menjauh.
Sedangkan Hendry yang masih berada diruang kepala sekolah, hanya bisa terdiam menyesali perbuatannya. "Hendry" panggil si kepala sekolah.
"Iya pak".
"Saya tau kamu murid yang pintar seperti ayah mu. Dan kamu akan tetap pindah dari sekolah ini, jadi mendaftarlah di sekolah yang kemari saya beritahu. Soal ujian mu jangan khawatir, kamu akan tetap mengikuti ujian. Sekarang kamu bisa kembali keruangan mu".
"Tapi pak, kalau bapak tetap membiarkan Handry mengikuti ujian. Apa kata guru dan siswa yang lainnya? mereka tidak akan terima. Saya harap bapak jangan mengambil tindakan yang dapat merugikan sekolah kita".
"Tidak apa-apa pak, saya siap mengulang kembali. Permisi".
"Tunggu" tahan si guru BK tersebut melihat Hendry yang hendak pergi, "Saya juga tau kalau kamu itu murid yang pintar meskipun kamu tidak pernah menunjukkan hal itu. Kamu akan tetap mengikuti ujian".
__ADS_1
"Apa?".
"Kamu bisa ujian secara online mulai hari ini. Beritahu ayah mu kalau semuanya akan baik-baik saja. Kamu boleh pulang, jangan lupa mengisi soal ujian mu setiap kali saya mengirimnya".
Hendry tersenyum tipis, "Terima kasih" Lalu ia pergi meninggalkan mereka. Kemudian si kepala sekolah menghela nafas lelah memikirkan satu orang siswa saja membuat ia stres.
"Apa saya melakukannya dengan benar pak?" tanyanya si guru bk.
"Mmmmm.. Kamu melakukannya dengan benar. Saya yakin dia tidak ada niat mencuri soal ujian itu, karna saya tau Hendry orangnya seperti apa".
"Saya juga berpikir seperti itu pak" angguknya setuju.
Begitu Hendry kembali ke ruangannya, ia melihat ketiga sahabatnya itu sedang fokus menjawab lembar jawaban mereka. "Hendry? sedang apa kamu di luar? kenapa kamu tidak ujian?" tanya si guru pengawas diruangan tersebut.
Semua mata pun langsung tertuju kearahnya. Ada yang menatapnya dengan sinis, dan ada juga menatapnya dengan sedih. "Ibu tidak tau kalau siswa dari kelas kita telah mencuri soal ujian?" ujar Tio.
"Mencuri? siapa?".
"Siapa lagi kalau bukan siswa yang berada di hadapan ibu" jawab Tio menyeringai menatap Hendry yang terlihat sama sekali tidak terpengaruh.
"Apa? apa itu benar Hendry?".
"Iya bu" jawabnya tidak ingin berlama-lama disana. "Yah.. Aku menunggu kalian di kantin belakang" ucap Hendry kepada Abian, Dafa dan Chan menyandang tasnya.
"Mmmmmm" angguk mereka tersenyum.
"Lihat saja. Aku pasti akan membalas mereka yang sudah menghina Hendry" gumam Abian dengan wajah bermerah.
"Terutama untuk laki-laki yang di depan sana, aku pasti akan membuatnya menggigit lidahnya sendiri, karna dia membuat Hendry merasa hancur hari ini" ucap Dafa menggertak gigi taringnya.
.
Begitu bel berbunyi, guru yang mengawas disana segera keluar dari dalam ruangan mereka. Kemudian Dafa berlari kearah Tio, lalu melayangkan satu pukulan tepat di wajahnya.
BBBUUNNGGHHH..
"Aahhh" pekik Tio terkejut dan juga siswa yang masih berada disana.
"Kamu! berani-beraninya kamu membuat hari-hari kami hancur hanya karna mulut kotor mu ini" teriak Dafa ingin memukul Tio kembali kalau saja Sinta tidak berteriak menyuruh berhenti. Namun ia tidak peduli, Dafa tetap saja melayangkan pukulannya.
"Yah.. Hentikan, aku bilang hentikan bajingan" teriak Sinta melempar tasnya tepat di wajah Dafa.
Kemudian Tio menyeringai, "Kamu tidak mendengarnya? apa kamu tuli? dia sudah menyuruh mu berhenti, harusnya kamu berhenti" teriak Tio di wajahnya Dafa.
__ADS_1
Lalu Abian dan Chan menarik tubuh Dafa menjauh dari Tio. "Sudah, jangan lakukan disini. Kita masih punya banyak waktu menjahit mulut mereka berdua. Ayo".
"Aaiiisss" geram Dafa ingin memukul Tio kembali, lalu mereka segera pergi dari sana.
"Dasar pengecut" teriak Tio tersenyum sinis. "Apa kalian yang dinamakan sahabat? hahahaha bagaimana bisa Hendry memiliki sahabat se pengecut seperti kalian? padahal dia tidak sendiri. Tapi situasi tidak berpihak kepadanya sehingga hanya dia saja yang ketahuan hahahaha" semakin tawa Tio mengejek mereka.
"Apa? kamu barusan bilang apa?" tanya Abian mendekatinya. "Kamu barusan bilang apa?".
"Pengecut! aku barusan bilang kalau kalian bertiga pengecut yang tidak bertanggung jawa..
BBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGHHH..
BBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGHHH..
"Abian hentikan" Teriak Sinta melemparkan kursi disana kepadanya, tetapi sebelum kursi tersebut melayang kearah Abian, Chan sudah duluan menghempaskan tubuhnya di balik tembok.
"Jangan ikut campur wanita murahan" seringai Chan.
"Apa?".
"Sayang sekali, kalau saja kamu bukan seorang wanita. Aku pasti sudah mematahkan leher mu ini" senyum Chan menatapnya dengan sinis. "Hentikan Bian, Hendry pasti sedang menunggu kita".
Dengan nafas berat Abian menghentikan tangannya memukuli Tio tampa satu orang pun yang berani ikut campur, "Ini peringatan untuk kalian semua. Kalau sampai ada video beredar, aku akan memastikan kalian semua akan menyesalinya" setelah itu mereka pergi dari sana.
"Wah.. Mereka benar-benar sangat menakutkan sekali" gumam mereka menyaksikan pertengkaran tersebut dengan Tio si ketua kelas.
"Padahal mereka sangat tampan, tapi kenapa saat sedang marah mereka jadi berubah menjadi seperti psikopat" ujar mereka keluar satu persatu dari dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Hendry yang sedang menunggu mereka di kantin belakang akhirnya ia pun melihat ketiga sahabatnya itu tiba disana, "Kenapa kalian lama sekali? aku sudah menunggu kalian sampai membuat bokong ku berakar" senyum Hendry menghisap rokoknya.
"Maaf sudah membuat mu lama menunggu" jawab Abian menyambar sebatang rokok Hendry begitu juga dengan Dafa dan Chan.
"Kenapa kalian memukulnya?".
"Dia terlalu berisik seperti perempuan" jawab Abian.
Hendry tersenyum, "Harusnya kalian memukulinya pas sedang berada luar supaya orang lain tidak tahu. Tapi kalian malah memukulinya di dalam kelas, dia pasti tidak melawan untuk mendapatkan pembelaan dari mereka yang menonton disana".
"Bagaimana kamu bisa tau Hend?" tanya Dafa.
"Bagaimana bisa aku tidak tau? seseorang mengirimnya kepada ku".
"Aaiisss" kesal Abian.
__ADS_1
"Lain kali kalian harus melakukannya di luar. Ayo, hari ini aku ingin bersenang-senang dengan wanita cantik yang menggairahkan".
Mereka bertiga pun langsung tersenyum senang, "Setuju, mari kita lupakan kejadian hari ini dengan bersenang-senang hahahahha".