Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 80


__ADS_3

Sekarang Afia telah di beri izin kembali pulang oleh sang dokter. Keduanya pun segera pergi meninggalkan rumah sakit. Lalu Fiandra berkata kepadanya, "Ibu, sebenarnya ayah dimana? Kenapa ibu tidak pernah menjawab pertanyaan ku?".


Terdiam.


"Fiandra, kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Kan ibu sudah janji kalau ibu secepat mungkin akan memberitahu Fiandra dimana ayah".


"Iya sih bu. Hanya saja aku ingin secepatnya bertemu dengan ayah? Aku ingin sekali di peluk olehnya sama seperti teman aku Diva".


Afia tersenyum, "Iya sayang, sebentar lagi Fiandra akan bertemu dengan ayah. Sekarang Fiandra mau sabar enggak bertemu dengan ayah?".


"Hehehehe... Aku tidak sabar lagi ibu ingin bertemu dengan ayah. Pasti ayah bahagia sekali begitu melihat ku".


"Iya sayang. Ibu juga tau itu".


Dan sesampainya mereka dirumah, Kirana telah menunggu di depan teras rumah dengan raut wajah khawatir mendengar Afia masuk rumah sakit.


"Nenek!" panggil Fiandra memeluknya. "Nenek tidak usah khawatir, ibu baik-baik saja nenek. Kata dokter, ibu hanya kelelahan saja karna sudah berkerja keras. Iyakan bu?".


"Iya Bu. Ibu tidak usah khawatir seperti itu, aku baik-baik saja kok".


"Benarkah?" Kirana mengusap wajah Afia dengan kedua tangannya. "Ibu sangat khawatir sekali Fia. Ibu tidak mau terjadi apa-apa dengan mu. Jadi kamu benar-benar baik-baik saja? Tolong jangan membuat ibu khawatir nak".


"Iya Bu, Afia sudah baik-baik saja. Terus sekarang, ibu masak apa? Sepertinya aku dan Fiandra sangat lapar sekali".


Kirana tersenyum, "Ayo masuk nak, ibu sudah memasak sesuatu yang hangat untuk kalian berdua. Ayo".


"Bibi Naura tidak pulang nenek?" tanya Fiandra.


"Sepertinya bibi kamu tidak pulang".


"Oh, jadi kita makan bertiga saja nenek?".


"Iya sayang. Nanti kamu harus makan yang banyak yah. Nenek sudah memasak yang enak untuk kita malam ini".


"Yee..." Fiandra bergembira. Sama seperti dengan Afia, Fiandra juga sangat kuat makan. Dan begitu Fiandra melihat makanan itu semua, dengan sangat senang ia segera menyendok ke dalam piringnya membuat kedua orang itu tertawa gemas.


"Fiandra, makannya nanti pelan-pelan saja ya sayang. Makanan ini milik Fiandra semua kok".


"Hehehehe... Iya ibu. Fiandra sangat lapar sekali".


"Iya sayang. Sekarang ayo Fiandra pimpin doa dulu".

__ADS_1


"Baik ibu" ketiga orang itu langsung melipat tangan mereka masing-masing lalu Fiandra mengucapkan doa Bapak Kami. Selesai berdoa, Fiandra melahap makan malamnya. "Mmmm, masakan nenek selalu enak sekali. Aku suka nenek".


"Iya, kalau begitu Fiandra harus menghabiskannya yah".


"Siap nenek. Aku akan menghabiskannya".


_


_


Sepulang dari kantor, tiba-tiba hujan turun deras membuat para karyawan group Mapolo menunggu di dalam loby sampai hujan reda begitu juga dengan Naura.


"Ck, kenapa harus hujan sih?" gumam Naura melihat Danu berjalan dari depannya.


Dua tahun yang lalu Danu memutuskan hubungannya dengan Naura. Tidak tau alasannya apa, Danu tiba-tiba meminta putus darinya secara sepihak tanpa tau sebabnya apa. Dan keduanya sekarang bagaikan orang asing yang tak pernah saling kenal satu sama lain meskipun mereka berdua berada di team yang sama.


"Naura!" panggil salah satu rekannya yang bernama Lia


"Kenapa? Kamu belum pulang? Aku pikir kamu sudah pulang".


Lia tersenyum, "Kamu tidak lihat hujan sedang turun? Hari ini kamu pulang kemana Naura?".


"Ke apartemen. Kenapa?".


Naura mengernyitkan dahi, "Kenapa kamu tidak pulang kerumah mu?".


"Ck, malam ini aku sangat malas sekali pulang kerumah".


"Ada apa? Kamu ada masalah dengan kedua orang tua mu?".


"Tidak, aku hanya malas saja pulang kerumah. Karna itu aku ingin menginap dirumah mu. Yah, kumohon.. Lain kali tidak lagi. Lagian, kenapa sih kalau aku menginap di rumah mu? Kan harusnya kamu itu senang Naura akhirnya ada teman mu di dalam rumah".


"Aku lebih suka sendiri" jawab Naura.


"Ooo, benarkah? Sebenernya aku juga lebih suka kesunyian sih Na. Tapi, bukan berarti aku hidup sendiri seperti yang baru saja kamu ucapkan. Oh iya Na, untuk lebih menghemat biaya apartemen mu bagaimana kalau...


"Tidak" potong Naura.


"Ck, kamu begitu sekali kepada ku Na. Hhmmsss... Kenapa hujannya belum berhenti-henti juga yah... Ooo, Na... Lihat, itu pak Danu. Dia tampan sekali Na" ucap Lia tersenyum senang menepuk lengan Naura. "Astaga! Pak Danu kenapa tampan sekali sih? Rasanya aku ingin sekali menjadi pacar satu malamnya saja hahahahha".


Naura lalu mendengus kesal tidak suka mendengar Lia memuja-muja pria baji*ngan itu.

__ADS_1


"Kenapa Naura? Kamu tidak suka melihat pak Danu? Dia tampan, pintar dan juga baik. Masa kamu tidak suka kepadanya? Kamu lihat sendiri di team kita, yang lainnya selalu mengagumi semua yang melekat di tubuh pak Danu".


"Itu kalian saja. Buka aku".


"Wah... Kamu berkata seperti itu seolah-olah kamu sangat membencinya Na. Apa pak Danu pernah membuat mu sakit hati? Atau pak Danu pernah gitu menolak cinta mu Na?".


"Tidak" jawab Naura ketus.


"Benarkah? Tapi kenapa kamu begitu sangat tidak menyukainya? Kalau bukan karna pak Danu pernah menolak mu. Terus karna apa dong? Tidak mungkin kan kamu tiba-tiba tidak menyukai dia tanpa sebab? atau ini karna pekerjaan?".


Naura diam.


"Hey, kenapa kamu tidak menjawab ku Na? Kamu membuat aku penasaran saja hhmmm".


Lama menunggu hujan redah, akhirnya hujan itu pun berhenti. Kedua orang itu segera meninggalkan lobby, namun saat itu juga tiba-tiba Danu berhenti dihadapan mereka membuat keduanya menghentikan langkah kaki.


"Ooo, pak Danu hehehehe... Ada apa pak? Kami pikir pak Danu sudah pulang duluan".


Danu tersenyum, ia lalu mengeluarkan sebuah formulir dari dalam tasnya memberikan di hadapan Naura.


"Itu apa pak?" tanya Lia penasaran.


"Ini mengenai projek yang kemarin Naura berikan kepada saya. Tolong kamu perbaiki lagi, saya akan menunggu 3 hari ke depan".


"Oh iya pak" jawab Lia.


"Kalau gitu saya permisi dulu".


"Iya pak Danu, hati-hati di jalan" teriak Lia bersemangat. "OMG! senyuman pak Danu kenapa begitu sangat menghanyutkan sekali ya Tuhan? Seandainya aku bisa berjodoh dengan pak Danu. Aku pasti menjadi salah satu wanita terbahagia dia dunia ini Nau... Ooo, yah.. Kenapa kamu meninggalkan aku Naura? Yah, tunggu aku".


Lalu kedua orang itu masuk ke dalam mobil, Lia pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan area perusahaan grup Mapolo. Sedangkan Danu yang sedang melihat keduanya dari kejauhan, ia hanya bisa menarik nafas panjang dengan tubuh lelah.


"Apa yang sedang pak Danu lakukan disini?" tanya Mario salah satu anggotanya. "Bapak belum pulang?".


Danu tersenyum tipis, "Ini saya mau pulang Rio. Kalau begitu saya pulang dulu".


"Pak, tunggu sebentar".


"Kenapa?".


Mario tersenyum sungkan mengusap tengkuk lehernya, "Boleh tidak malam ini saja...

__ADS_1


"Ayo, saya tau kamu ingin menumpang dengan ku. Katakan dimana kamu tinggal".


"Hahahaha" Mario tertawa senang. "Terima kasih pak, saya tinggal di jalan xxx".


__ADS_2