Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 16


__ADS_3

Sekeluarnya Hendry dari dalam kamar mandi, ia segera menghubungi balik Dina yang sedang berada di dalam kamar. "Hendry" senyum Dina.


"Mama sudah makan?".


"Mmmmm.. Mama sama papa baru saja selesai makan malam, bagaimana dengan mu?".


"Mmmmm.. Hendry juga sudah makan malam ma. Mama mau lihat isi dalam kamar Hendry?".


"Boleh" Hendry pun menunjukkan seisi dalam apartemennya yang terlihat sangat mewah sesuai dengan permintaanya.


"Mama menyukainya?".


"Iya, mama suka sayang".


"Syukurlah".


"Hendry!".


"Iya ma".


"Jangan sakit ya sayang, kamu tidak boleh sakit ok".


Tersenyum, "Iya ma, Hendry tidak akan pernah jatuh sakit. Kalau gitu Hendry tutup dulu ya ma, ada hal penting yang ingin Hendry kerjakan. Selama malam ma".


"Iya sayang".


Begitu Hendry mematikan ponselnya, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Lalu mendesah dengan lelah, tidak lama kemudian ia terlelap.


Dan kini telah menunjukkan pukul 2 malam, tiba-tiba Hendry merasa sangat lapar, ia pun keluar dari dalam apartemen mencari makanan diluar yang bisa ia makan. Namun saat ia telah berada di luar, ia tidak melihat restoran yang masih buka di dalam hotel.


"Aku tidak punya uang lagi mencari makanan di luar" gumam Hendry. Tetapi ia yang merasa sangat lapar, ia pergi mencari mini market yang masih buka 24 jam.


"Permisi" panggil Hendry bertanya kepada orang disana.


"Ya?".


"Mini market yang masih buka ada dimana?".


"Oohh.. Kamu jalan lurus saja dari sini, nanti kamu akan menemukan mini market yang masih buka".


"Terima kasih".


"Sama-sama".


Hendry berjalan lurus sampai 10 menit lamanya baru ia melihat sebuah mini market yang masih buka, ia pun langsung masuk kedalam. "Selamat datang" ucap si kasir.


Lalu ia mencari makanan yang bisa ia makan sejenis mie instan dan juga beberapa cemilan serta minuman soda, setelah itu ia membawanya ke kasir. "Permisi, ada minuman alkohol?" tanya Hendry kepada mereka.


"Maaf, kami tidak menyediakan minuman alkohol" jawab mereka.


"Kalau gitu saya mau rokok itu. Berapa semua?".


"120 ribu".


Hendry mengeluarkan uangnya, tetapi sisa uang yang berada di dalam kanton celananya hanya tinggal 100 ribu lagi, membuat Hendry mengurangi belanjaannya. Setelah itu ia segera pergi dari sana, namun saat Ia keluar dari dalam mini market beberapa pria yang tidak ia kenal sedang berdiri tidak jauh dari depan mini market tersebut.

__ADS_1


Mereka tersenyum, "Yah, kamu punya rokok?".


"Tidak" jawab Hendry.


"Kami tau kamu berbohong, cepat berikan" Mintanya secara paska.


"Aku sudah bilang aku tidak punya rokok" dengan kesal Hendry pergi meninggalkan mereka.


"Aaiiss.. Sombong sekali dia. Yah, beri dia pelajaran" Hendry menghentikan langkahnya, kemudian menatap mereka dengan tajam, "Hahahah, sepertinya dia tidak tau siapa kita" tawa mereka menertawai Hendry.


Hendry mendengus sambil menyuruh mereka berjalan kearahnya. "Kalau kalian bisa mengalahkan ku, aku akan membelikan kalian rokok satu persatu".


"Wah.. Baiklah, ayo hajar dia, hhiiaarrkkh.." Pertengkaran pun terjadi diantara mereka.


BBBUUNNGGHHH.. BBNUUNGGHHH...


BBBUUNNGGHHH.. BBNUUNGGHHH...


Begitu mereka terkapar, Hendry tersenyum tipis memperbaiki pakaiannya, lalu pergi meninggalkan mereka. "Sial" umpat salah satunya melihat punggung Hendry menjauh.


"Dia kuat sekali, baru kali ini aku melihatnya disekitar sini".


"Aku juga".


Sesampainya Hendry di apertemen, ia langsung menyeduh air panas di dalam mangkok mienya. Sambil menunggu matang, ia terlebih dahulu menghisap rokok yang tadi ia beli. Setelah itu ia menikmati mie instan tersebut.


.


Pagi telah kembali, Hendry tidak lupa mengikuti ujian seperti biasa, Begitu selesai, ia segera keluar dari dalam apartemennya menuju perusahaan sang ayah.


"Mmmmm" gumam Hendry.


"Kamu melamar di bagian apa? saya juga sedang menunggu giliran interview".


"Kebersihan".


"Apa?" kegetnya.


"Saya melamar di bagian kebersihan" ucap Hendry mengulangi.


"Hahahaha" tawanya membuat Hendry mengernyitkan dahi. "Yah, harusnya kamu tidak datang kemari. Tapi kesana, kamu lihat pria itu? sebaiknya kamu tanya sama dia deh" tunjuknya kearah pria yang sedang membersihkan kaca.


Hendry tertawa, ia merasa kalau wanita yang berada di sampingnya itu sedang merendahkan dirinya. "Kenapa kamu tertawa? ada yang lucu?".


"Tidak, enggak ada yang lucu" jawab Hendry. "Semoga interview mu berhasil, sampai bertemu di lain waktu" Hendry menghampiri si pria yang sedang membersihkan kaca. "Permisi, boleh saya bertanya".


"Iya, silahkan" jawabnya melihat Hendry.


"Saya pelamar baru disini, bisa kamu tunjukkan ruangannya?".


"Aahh.. Baiklah, ayo ikut aku".


"Mmmmm".


Setibanya mereka berdua disana, Hendry langsung masuk kedalam. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya si leader.

__ADS_1


"Iya, saya pelamar baru" jawab Hendry memberikan surat lamarannya.


"Kenapa kamu ingin bekerja seperti ini?".


"Hhhmmsss.. Tidak ada alasan" jawab Hendry datar.


Ia tersenyum, "Kenapa tidak alasan? kami perlu tau alasan para pekerja disini ingin menjadi tukang kebersihan. Kamu tau sendiri, meskipun pekerjaan ini pekerjaan yang paling mulia tapi pekerjaan ini juga yang paling rendah di mata orang lain. Padahal kamu sangat tampan, kamu yakin akan bekerja sebagai tukang bersih?".


"Mmmmmm".


"Baiklah, tapi kami masih ingin tau alasan kamu apa?".


"Alasan saya ada di surat lamaran itu".


"Apa?" ia membuka surat lamaran Hendry, lalu membacanya. Setelah itu ia tersenyum melihat Hendry, "Ternyata kamu tamat SMP, kenapa kamu tidak lanjut tingkat SMA?".


"Saya pelajaran SMA, maka saya nantinya akan mengambil jadwal sore".


"Oohh.. Jadi kamu masih tingkat SMA?".


"Mmmmmm".


"Baiklah, mulai hari ini kamu boleh langsung kerja. Bagaimana?".


"Tidak apa-apa".


"Bagus, kamu ganti baju dulu, nanti kamu ikut dia. Vino, kamu ajari dia nanti dengan baik ya".


"Iya buk".


"Ini baju kamu, ruang ganti ada disana".


Hendry mengusap wajah dengan kasar sambil menghela nafas berat, setelah itu ia mengganti pakaiannya. "Buk, maaf saya datang terlambat" mendengar suara tersebut membuat Hendry menghentikan langkahnya. "Suara itu".


"Kenapa kamu terlambat Afia? ini sudah jam berapa? sana cepat ganti pakaian mu".


"Baik buk, terima kasih" senyum Afia berlari keruang ganti tampa ia lihat kearah Hendry yang baru saja ia lewati.


"Wanita itu?" batin Hendry.


"Kenapa kamu masih berdiri disitu? cepat ganti pakaian mu" ucap si leader menyuruhnya.


Tidak lama kemudian, Hendry telah memakai pakaian petugas kebersihan. Ia melihat dirinya benar-benar berubah 99% dari biasanya "Wah.. Seorang Hendry ternyata bisa berubah juga" geleng Hendry tersenyum tipis, lalu ia mengambil gambar, setelah itu ia mengirim kepada ketiga sahabat dengan caption. "Kalau aku berpakaian seperti, apa kalian masih mengenali ku?".


"Ayo" ucapnya kepada Vino.


"Kamu baik-baik saja?".


"Apanya baik-baik saja?".


"Kamu, aku merasa kamu terlihat tidak nyaman mengenakan pakaian itu".


"Tidak apa-apa, nanti juga akan terbiasa".


Vino tersenyum, "Aku juga dulunya seperti kamu, tapi lama kelamaan aku bisa menerimanya. ayo, pekerjaan kita sangat banyak".

__ADS_1


"Mmmmm".


__ADS_2