
Hendry terdiam, ia lalu melihat si pelayan restoran dengan sorot mata intens membuat si pelayan tersenyum kaku. Setelah itu Hendry kembali pura-pura masa bodoh segera melahap makan siangnya.
Tidak lama kemudian mereka selesai, ketiga orang itu pun kembali ke perusahaan. Namun saat Hendry hendak memasuki mobil, tiba-tiba ia keluar kembali pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa berkata satu kata pun kepada Abbas dan Freya.
"Paman, ada apa dengan Hendry?".
Abbas diam, "Paman juga tidak tau ada apa dengan anak itu. Ya sudah, kita pergi saja".
"Tapi paman, aku yakin ada sesuatu terjadi kepada Hendry. Kenapa dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan kepada kita".
"Hendry sudah dewasa. Kamu tanya saja nanti begitu dia sudah kembali. Ayo masuk" ucap Abbas lagi. Hingga akhirnya mereka pergi meninggalkan restoran tersebut.
Sedangkan Hendry yang memasuki restoran itu lagi tanpa sepengetahuan Abbas dan Freya, ia langsung bertanya kepada si pelayan yang tadi melayani mereka.
"Ada apa tuan?" tanyanya sedikit khawatir.
"Dirumah sakit mana?".
"Hhmm?".
"Wanita yang tadi kamu bicarakan dirumah sakit mana dia?".
"Akh, dia dirumah sakit xxx tuan".
Tanpa berlama-lama lagi, Hendry langsung menuju rumah sakit tersebut menggunakan taksi. Dan setiba ia disana, Hendry memasuki ruangan IGD bertanya kepada si perawat atas nama pasien Afia. Begitu Hendry mendapatkan nama itu, dengan kasar ia mengusap wajahnya sambil berjalan mendekati bangkar dimana Afia yang masih terbaring lemas di ruang IGD bersama dengan Andre dan Fira.
Melihat itu, Hendry tersenyum sinis mengejek dirinya sendiri.
"Telah di perlakukan seperti ini oleh mu, bagaimana mungkin aku masih mengkhawatirkan mu Afia?" Hendry menyandarkan tubuhnya di balik tembok, "Akh, sekarang apa yang aku lakukan? Kenapa harus seperti ini?".
Lama berada disana, Fira yang tadinya menutupi penglihatan Afia kearah Hendry yang sedang menyandarkan tubuhnya di balik tembok, tiba-tiba Fira bergeser kesamping membuat Afia langsung melihat pria yang begitu sangat ia rindukan itu.
"Hendry?".
Mendengar Afia menyebut nama Hendry. Andre dan Fira bingung ada apa dengannya.
"Ada apa Afia?" tanya Fira.
"Itu.. Itu Fira, Hendry ada disana Fira" jawab Afia melihat Fira sebelahnya.
Kemudian kedua orang itu menoleh kearah telunjuk Afia yang tak melihat siapa-siapa pun ada disana. "Tidak ada siapa-siapa Afia?".
Afia menggeleng, "Tidak mungkin, aku tidak mungkin salah melihat. Jelas-jelas aku melihat Hendry ada disana Fira. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia tidak ada?" Afia sedih.
Kemudian Andre bertanya, "Siapa dia Fia? Siapa orang yang baru saja kamu sebutkan itu?".
Afia pun menetaskan air matanya, rasa sakit di dadanya terasa semakin sakit dan itu membuat Afia merasa sangat tersiksa.
"Aarrkkhhh... Hiks.. hiks... Kenapa harus seperti ini Fira hiks...? Kenapa harus seperti ini?".
Tidak tau ada apa yang sebenarnya Afia rasakan, Fira pun langsung membawa Afia ke dalam pelukannya. "Aku tidak tau apa yang kamu maksud Fia dan juga aku tidak tau apa yang kamu lihat. Tapi aku mohon, jangan menangis seperti ini. Kamu membuat ku khawatir, bahkan bukan cuma aku saja, pak Andre juga khawatir dengan keadaan mu yang seperti ini".
"Aaarrrkkkhh... Maafkan aku Fira hiks.. hiks.. Maafkan aku".
__ADS_1
Sedangkan Hendry yang langsung pergi begitu saja dari sana setelah Afia melihatnya, ia pun meneteskan air mata merasakan apa yang Afia rasakan yaitu kerinduan yang begitu sangat dalam.
"Apa yang sedang aku lakukan disini? bodoh!".
BBBRRRAAKKK...
Tiba-tiba seorang anak kecil menabrak tubuhnya, "Aakkhhh".
"Kamu baik-baik saja?" Hendry menolong anak kecil itu melihatnya dengan wajah khawatir, namun saat anak kecil itu melihat Hendry, ia membulatkan mata tidak percaya apa yang sedang ia lihat.
"Paman, maafkan aku. Aku tidak sengaja menabrak paman".
Diam.
"Paman" panggilannya.
"Tidak, tidak apa-apa" jawab Hendry membawa wanita kecil itu kembali berdiri. Lalu bertanya apakah dia baik-baik saja atau tidak.
"Iya paman aku baik-baik saja. Terima kasih dan tolong maafkan aku".
"Mmmmm, paman yang salah".
"Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu paman".
"Aaa.. Tunggu sebentar" Hendry menahan pergelangan tangannya. "Nama mu siapa? Boleh paman tau?".
"Fiandra paman".
"Apa?" Hendry sedikit meninggikan suaranya membuat Fiandra heran. "Akh, tolong maafkan paman. Terus apa yang kamu lakukan disini?" Hendry berjongkok di hadapan Fiandra.
"Lalu, yang membawa mu kemari siapa?".
"Ibu guru paman. Tapi ibu guru saat berada di depan rumah sakit tiba-tiba anak ibu guru Fiandra menelpon harus pergi sekarang juga. Jadi Fiandra tidak apa-apa masuk sendiri, kan Fiandra sudah besar paman hehehehe".
"Benarkah?" senang Hendry mengusap kepala Fiandra dengan hangat.
"Tapi paman, boleh aku bertanya?".
Hendry tersenyum, "Mmmm, kamu mau menanyakan apa sama paman?".
"Kenapa paman sedari tadi tersenyum kepada ku seolah-olah paman mengenal ku? Paman membuat ku merasa memiliki ayah".
Fiandra tiba-tiba merasa sedih.
"Maaf kalau paman bertanya terlalu jauh. Emang ayah Fiandra dimana? Kenapa Fiandra berkata seperti itu?".
"Iya paman, Fiandra tidak punya ayah. Ayah Fiandra tidak tau dimana, dan ibu juga tidak pernah memberitahu siapa ayah Fiandra paman".
"Dan sampai sekarang Fiandra tidak tau siapa ayah Fiandra dan dimana dia sekarang?".
"Iya paman. Karna itu Fiandra sedih".
Hendry terdiam, setelah itu ia tersenyum mengusap rambut Fiandra kembali.
__ADS_1
"Kalau begitu, mulai hari ini Fiandra jadi putri paman saja bagaimana? Fiandra mau tidak?".
Fiandra tersenyum senang, "Paman ada-ada saja, bagaimana mungkin paman belum mengenal Fiandra...
"Tidak apa-apa, paman menyukai Fiandra sama seperti putri paman sendiri".
"Hhhmmm? Paman sudah menikah?".
Hendry menggeleng, "Tapi paman ingin memiliki putri kecil seperti Fiandra. Fiandra mau tidak?".
"Hehehehe... Tentu saja Fiandra mau paman".
"Kalau begitu, paman mau mulai hari ini Fiandra menyebut paman dengan sebutan ayah. ok?".
"Mmmmm, iya ayah hehehehe".
Dengan senang hati Fiandra yang kecil langsung memeluk tubuh Hendry dengan sangat erat membuat Hendry tiba-tiba menjatuhkan air matanya tanpa sepengetahuan gadis mungil itu.
"Oh iya ayah".
"Hhhmm?".
Fiandra mengernyitkan dahi, "Kenapa ayah? Ayah menangis?".
"Tidak" jawab Hendry segera melap air itu. "Ayah hanya merasa bahagia, ayah merasa sangat bahagia sekali bisa memiliki putri seperti mu".
"Benarkah? Tapi, tapi kalau aku lihat, ayah kenapa mirip sekali dengan ku?" pertanyaan itu begitu sangat polos dan itu membuat hati Hendry semakin sakit.
"Mmmm, ayah juga merasa hal itu" jawab Hendry membuat kedua orang itu tertawa bersama. "Ayah mencintai Fiandra" setelah itu Hendry mengeluarkan kartu namanya dari dalam jas memberikan di tangan Fiandra.
"Apa ini ayah?".
"Kartu nama" jawabnya. "Nanti kalau Fiandra merindukan ayah, kamu hubungi saja nomor ini mmmm, ayah akan datang menemui Fiandra".
"Iya ayah, tapi Fiandra tidak memiliki ponsel. Oh iya, nanti Fiandra menggunakan ponsel ibu, tapi ibu...
"Kenapa?".
"Aku yakin ibu tidak akan pernah mengizinkan aku menghubungi orang lain dari ponselnya. Ibu bisa marah ayah".
"Ya sudah kalau gitu Fiandra menggunakan ponsel ini saja".
"Ooo" Fiandra membulatkan mata. "Ponsel ini..
"Milik Fiandra. Mulai sekarang ponsel ini milik Fiandra".
"Ayah serius?".
"Iya ayah serius".
Dengan senang hati Fiandra langsung memeluknya lagi, "Terima kasih ayah. Kalau begitu Fiandra pergi dulu yah, ibu pasti sudah menunggu Fiandra".
"Mmmmm, nanti ayah akan menghubungi Fiandra".
__ADS_1
"Iya ayah. Dah".