
Dan lagi-lagi Naura tertawa sinis langsung melihat ke arah Darius, "Aku tidak mengenal mu siapa. Pengemis dari mana anda ini?".
"Apa?" Darius membulatkan kedua matanya begitu juga dengan Kirana dan Afia. "Kamu barusan bilang apa?".
"Kenapa? Apa perkataan ku kurang jelas? Baiklah, aku akan mengulanginya lag...
PPPLLLAAKKK...
Satu tamparan langsung mendarat di pipi mulus Naura, "Dasar anak kurang ajar!".
"Yah...!" teriak Kirana tidak terima Darius telah menampar wajah putrinya itu. Ia pun membalas seperti yang Darius lakukan kepada Kirana dengan memukul lengannya dengan sekuat tenaganya. "Pergi sekarang juga kamu dari rumah ku bajingan".
Darius tertawa, "Ibu sama anak sama-sama tidak tau diri. Baiklah, aku akan pergi dari sini sekarang juga. Tapi sebelum aku pergi" Darius memperhatikan Afia yang ikutan bangkit berdiri sehingga Darius melihat perut Afia yang membuncit. "Afia, kamu hamil?".
Deng!
Afia terdiam, ia tak mampu menjawab pertanyaan Darius.
"Kamu hamil Afia? Yah, kamu hamil?" Darius mencoba mendekati Afia. Namun Kirana menahan tubuh Darius supaya ia tidak mendekati Afia, "Yah, lepaskan aku. Atau selama ini?".
"Apa urusannya dengan mu haahh? Kamu bukan siapa-siapa lagi dirumah ini. Sekarang kamu pergi dari rumah ku".
"Oh, jadi sekarang kamu tidak mengakui kalau aku ini ayah dari anak-anak hhhmm? Dan aku tidak boleh ikut campur apapun yang terjadi kepada anak-anak ku?".
"Iya, mulai hari ini kamu bukan lagi ayah dari Naura dan Afia. Pergi! Aku bilang pergi!".
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum Afia menjawab pertanyaan ku. Jawab ayah Afia, kamu benar-benar hamil?".
Afia lalu menundukkan kepala, "Iya ayah aku hamil".
"Apa? Jadi kamu benar-benar hamil? Anak siapa itu? Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada ayah dan ibu mu Fia. Siapa yang sudah mengajari kamu melakukan hal Zina?" Darius hendak ingin memukul Afia, tetapi tangan Naura yang sudah duluan menahan pergelangan tangan Darius membuat tangan itu hanya melayang di atas udara.
"Kamu tidak punya hak memukul dia. Dan kamu mau sok-soak merasa paling benar? Haahhh.. Asal kamu tau, aku ibu dan Afia sudah tau kalau kamu memiliki keluarga baru di luar sana. Karna itu kami bertiga memutuskan kamu tidak bagian dari keluarga ini lagi".
"Apa?".
"Pergi dari rumah ini sekarang juga. Kami bertiga tidak mengenal mu lagi".
"Naura! Aku ini ayah mu. Ayah kamu dan Afia, kamu berani mengusir ayah dari rumah ini?".
"Harus berapa kali lagi aku katakan kepada mu kalau...
"Aaakkhhh!" tiba-tiba Afia merasa kesakitan, ia meremas perut ya yang membuncit melihat mereka satu persatu. "Ibu, kak Naura perut ku sakit aaakkhh".
__ADS_1
Naura kesal, ia melihat Darius sekilas langsung membantu Afia. "Kamu kenapa? Apa perlu kita kerumah sakit?".
"Aarrkkhhh.. Aku tidak tau kak. Rasanya sakit sekali. Ibu, tolong Afia".
Kirana lalu menyuruh Naura segera menghubungi ambulans membawa Afia ke rumah sakit. Sedangkan Darius, melihat Kirana dan Naura sibuk membantu Afia yang merasa kesakitan, ia melihat dompet Kirana tergeletak diatas meja membuat ia tersenyum senang langsung pergi dari sana membawa dompet tersebut.
Tidak lama kemudian ambulans itu tiba di depan rumahnya, mereka membantu Afia masuk ke dalam sana. Namun saat Kirana hendak mengambil dompetnya, ia tidak melihat dompet itu berada di atas meja.
"Ayo buruan Bu. Kenapa ibu masih berdiri disana?" tanya Naura yang bergegas.
"Naura tunggu!".
"Ada apa Bu?".
"Kamu melihat dompet ibu Naura? Tadi ibu menaruh diatas meja ini?".
"Apa?".
"Ibu yakin ibu menaruh dompet ibu disini?".
"Iya Naura. Ibu sangat mengingatkannya kalau ibu tadi menaruh dompet ibu disini".
Naura lalu mengepal kedua tangannya, ia pun langsung bisa menebak siapa orang yang telah mengambil dompet Kirana kalau bukan Darius si pria brengsek yang tidak bertanggung jawab.
"Kurang ajar, bisa-bisanya dia datang kemari hanya untuk mencuri. Lihat saja, aku akan mencari mu kemana pun kamu pergi" gumam Naura. "Ayo Bu, nanti saja kita pikirkan. Sekarang kita bawa Afia dulu kerumah sakit".
.
Setibanya mereka dirumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya. Afia segera ditangani oleh dokter yang bertugas diruang IGD. Dan sambil menunggu mereka selesai, Kirana tak henti-hentinya memikirkan dompetnya yang sudah Darius curi dari rumahnya.
"Ibu tenang saja, aku akan mengambil dompet itu lagi dari dia".
"Tapi bagaimana bisa kamu menemukan dia Naura? Kamu tau sendiri kalau ayah mu...
"Dia bukan ayah ku lagi bu. Berhenti mengatakan pria itu ayah ku. Nanti aku akan memikirkan caranya, sekarang ibu tidak usah khawatir".
Kirana menghela nafas, "Tapi kamu harus hati-hati. Dia bisa saja melakukan hal yang bisa menyakiti kamu".
"Ibu tenang saja, aku bisa melindungi diri ku sendiri".
Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya si dokter memberitahu mereka kalau kandungan Afia hanya kelelahan saja hingga akhir ia mengalami kontraksi. Tapi kini kandungannya sudah baik-baik saja setelah di tangani, dan berharap Afia melakukan banyak istirahat supaya kejadian ini tidak terulang kembali.
"Afia, apa kamu sudah merasa baikan nak?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Iya Bu, Afia sudah merasa baikan. Maaf ya Bu, aku jadi merepotkan ibu sama kak Naura".
"Iya nak".
Naura lalu mendekatinya, "Hubungi dia sekarang juga".
"Hhmmm?".
"Kamu enggak mau menghubungi dia? Dia harus membayar biaya rumah sakit kamu loh".
"Akh iya kk" angguk Afia menerima ponselnya dari tangan Naura. Ia kemudian melihat Kirana dan Naura secara bergantian, setelah itu ia menghubungi nomor ponsel Hendry. "Hallo Hend! Kamu sedang dimana?".
"Aku lagi di kampus sayang. Kenapa? Kamu belum tidur?".
"Mmmm, aku ingin memberitahu mu kalau aku sedang dirumah sakit Hend".
"Apa?" Hendry menghentikan kedua langkah kakinya. "Ada apa sayang? Kenapa kamu bisa berada di rumah sakit? Kamu baik-baik saja?".
"Maaf sudah membuat mu khawatir. Aku baik-baik saja. Tapi, aku butuh uang untuk biaya rumah sakit ku Hendry".
Hendry menghela nafas legah, "Kamu yakin kamu baik-baik saja sayang? Tolong jangan buat aku khawatir atau aku perlu kesana sekarang?".
"Tidak Hendry. Kamu tidak usah kemari".
"Kamu yakin sayang?".
"Mmmmm".
"Ya sudah, nanti aku akan membayar biaya rumah sakitnya. Beritahu aku kamu dirumah sakit mana?".
"Aku ada dirumah sakit xxx. Kalau gitu aku tutup dulu ya".
"Tunggu! Kamu disana bersama dengan siapa?".
Afia melihat kedua orang itu lagi, "Aku disini bersama dengan ibu dan kak Naura Hend".
"Baiklah, tolong sampaikan rasa terimakasih ku kepada Tante Kirana dan Naura sayang".
"Mmmm, aku akan menyampaikannya".
Afia mematikan ponselnya, ia memberikan ponsel itu kembali ditangan Naura agar Naura menaruh di dalam tasnya kembali. Dengan rasa penasaran Naura langsung bertanya, "Apa dia bilang?".
"Dia khawatir kak. Tapi karna aku berkata kepada dia kalau aku baik-baik saja, dia menjadi legah".
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menyuruh dia datang kemari?".
"Dia sedang kerja kak".