Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 25


__ADS_3

Sekeluarnya dari dalam bus, Afia melihat Hendry berdiri disampingnya dengan kening mengerut. "Kenapa Fia?".


"Aku lapar, tadi dari rumah belum sempat serapan. Kamu sudah sarapan? kalau belum aku akan mentraktir mu, tapi makanan yang murahan heheheh".


Hendry tersenyum, "Boleh, dimana?".


"Ayo" ajak Afia membawa Hendry kesebuah warung kecil tepat di pinggir jalan. "Disini, kamu mau makan apa?".


"Disini?".


"Iya, kenapa? soalnya pesan makan disini sangat murah. Aku mau makan somai, kamu mau apa? pak somai 1 porsi yang 5000 saja ya pak".


"Baik dek, yang satunya lagi".


"Kamu mau apa Hend? disini ada somai, gado-gado, lontong, nasi lemak".


"Samakan saja dengan mu".


"Yang berapa?".


"Sama juga dengan mu".


"Hey, aku meminta 5000 karna aku takut nanti tidak habis, kalau kamu sangat lapar aku akan memesan 10 ribu, masih mau pesan yang 5000?".


"Iya".


"Ya sudah, 2 ya pak".


"Iya dek, tunggu sebentar".


"Iya pak. Duduk Hend".


"Dimana?".


"Duduk disitu".


"Aku takut jatuh Fia, kamu yakin duduk di kursi itu?".


"Iya, kursi itu aman kok. Ayo duduk".


"Mmmm" Hendry mendudukan diri, ia melihat samping kiri kanannya sangat menikmati makanan mereka masing-masing. "Fia, itu apa yang mereka makan?".


"Lontong, kamu mau itu?".


"Tidak".


"Kalau kamu mau, aku akan menganti milik mu".


"Tidak, aku hanya melihat mereka sangat lahap. Kamu sudah pernah memakannya?".


"Hahahaha, tentu saja pernah. Emang kamu belum pernah makan lontong?".


"Mmmm, belum pernah".


"Hey, bagaimana bisa kamu belum pernah mencoba makanan itu? kamu ada-ada saja deh".


"Aku mengatakan yang sebenarnya Fia, aku belum pernah mencoba makanan itu. Apa rasanya sangat enak?".

__ADS_1


"Iya, rasanya sangat enak sampai kamu ingin selalu memakannya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mencobanya".


"Aku jadi ingin mencobanya, tapi aku tidak punya uang Fia, bisakah kamu memberiku pinjaman?".


"Tidak usah meminjamnya, aku akan membayarnya untuk mu. Pak, lontong satu porsi lagi yah untuk teman aku ini".


"Iya dek" jawab si penjual memberikan dua porsi somai diatas meja mereka. "Lontongnya mau dimakan disini juga atau di bungkus?".


"Makan disini atau di bungkus Hend?".


"Makan disini saja".


"Ya sudah, ini dimakan dulu".


"Iya pak, terima kasih" senyum Afia menyendok somai tersebut kedalam mulut dengan lahap. "Mmmm, rasanya tidak pernah berubah, bagaimana?".


"Apanya?".


"Rasa somainya?".


"Aku belum mencobanya".


"Kenapa? padahal rasanya sangat enak loh Hend".


"Aku akan mencobanya" Hendry pun segera menyendok kedalam mulutnya. Sambil mengunyah, ia melihat Afia yang sedang tersenyum kepadanya, "Lumayan, aku menyukainya".


"Benarkah?".


"Mmmm" angguk Hendry terpaksa berbohong yang sebenarnya rasanya tidak pas di lidah seorang Hendry Mapolo. Kemudian Hendry menyendok kedalam mulutnya kembali, setelah itu ia pun langsung menyingkirkan piring kotornya.


Hendry membulatkan mata, rasanya ia ingin pergi saja dari pada harus memakan makanan itu lagi. "Fia, aku sudah kenyang. Bagaimana kalau kamu saja yang memakannya?".


"Tidak, aku juga sudah kenyang Hend. Kenapa? bukankah tadi kamu ingin memakannya?".


"Iya, tapi tidak untuk ini Fia. Aku benar-benar tidak sanggup lagi. Maafkan aku".


"Hey, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Kalau kamu tidak sanggup lagi, maka kita akan membungkusnya. Pak, tolong di bungkus saja ya lontongnya, katanya dia sudah kenyang. Maaf ya pak".


"Tidak apa-apa, bapak akan membungkusnya".


"Terima kasih pak" begitu si penjual itu membungkus lontong tersebut, Afia langsung mengeluarkan uang 20 ribu. "Pas kan pak?".


"Iya dek. Terima kasih".


"Sama-sama pak" Afia dan Hendry segera pergi dari sana menuju ruangan mereka yang berada di ruang basement. Kemudian kedua orang itu melihat sang Leader sedang mengadakan rapat yang membuat mereka tidak bisa masuk kedalam. "Kita duduk disitu saja Hend" ajaknya duduk, dengan senyum tipis Afia meliriknya, "Hend, pernah kamu menyukai wanita disekolah lama mu?".


"Kenapa?".


"Aku hanya ingin tau saja supaya kita tidak bosan menunggu".


"Pernah, aku pernah menyukai mereka tapi aku hanya menyukai tubuh mereka saja" jawab Hendry tampa sadar.


"Maksud kamu?".


"Ah, lupakan saja. Aku hanya asal ngomong, lalu bagaimana dengan mu?".


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kamu sudah melemparkan pertanyaan saja. Aku belum pernah dan juga enggak bakalan pernah, kamu sudah lihat betapa ayah ku sanga..

__ADS_1


"Jadi kamu takut hanya karna ayah mu melarang?".


"Iya, dan kemarin aku pernah dituduh berpacaran dengan pria lain. Ayah ku langsung sangat marah dan benar-benar sangat marah".


"Aku tau, jadi kamu akan seperti ini terus? lalu bagaimana dengan ku? apa kamu tidak ingin menerima perasaan ku?".


"Ah, kamu pasti sedang menggoda ku. Bagaimana mungkin kamu menyukai ku? sedangkan kita baru bertemu, dan aku tidak yakin kamu tidak memiliki seorang kekasih apalagi dengan rupawan setampan wajah mu".


"Aku punya, tapi wanita adalah kamu. Kenapa kita tidak berpacaran saja secara resmi? seperti yang kamu bilang barusan kalau aku sangat tampan dan juga pekerja keras. Jadi apalagi yang harus kamu tunggu? atau kamu benar-benar sangat takut kepada ayah mu?".


"Mmmm, sebenarnya aku juga mengagumi mu Hend. Kamu itu tidak hanya tampan saja, tapi kamu itu orangnya sangat baik. Jarang-jarang ada laki-laki seperti mu mau melindungi orang seperti aku".


"Kalau seperti itu, kenapa kamu tidak menerima ku? kita berdua bisa menyembunyikan hubungan ini dari orang terdekat kita, terutama dari keluarga mu. Bagaimana?".


Afia tersenyum sambil menatap kedua manik mata Hendry yang sungguh-sungguh mengatakan apa yang barusan keluar dari bibirnya. "Kamu enggak lagi bercanda kan Hend? aku takut kamu berbohong".


"Tidak, aku tidak sedang bercanda".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Kalau gitu aku akan menerima mu sebagai pacar ku, tapi kamu harus janji yah kalau hubungan ini jangan sampai ada orang lain tau".


"Aku janji, bolehkah aku mencium mu?".


"Ya ampun Hendry. Kamu tidak tau kita sedang dimana?".


"Dikantor. Emang kenapa? lagian tidak akan ada orang yang melihat kita Fia, percaya pada ku".


PPLLAAKKK..


"Ah" ringis Hendry begitu Afia memukul lengannya cukup kuat. "Itu sangat sakit Fia".


"Tidak perduli, siapa suruh kamu ingin mencium ku di tempat seper..


Cup..


"Kenapa?" potong Hendry mencium bibir itu dengan wajah tersenyum puas. "Mulai hari ini bibir itu milik ku seorang dan jangan sampai ada bibir lain yang menempel disini kecuali bibir ku".


PPLLAAKKK.. PPLLAAKKK..


Afia kembali memukulnya sampai membuat Hendry meringis kesakitan dan meminta Afia agar menghentikan kedua tangannya. "Aku tidak perduli, kamu rasakan ini" namun melihat wajah Afia yang benar-benar sangat marah malah semakin membuatnya gemas dan langsung mengigit bibir bawah afia. "Ah, sakit Hendry".


"Kalau kamu tidak menghentikan tangan ini, aku tidak akan melepaskan bibir mu" ancam Hendry semakin tersenyum senang.


"Iya, tapi kamu lepaskan dulu".


"Baiklah" Hendry melepaskan gigitannya sambil melihat bibir Afia yang bermerah akibat dari ulahnya sendiri. "Maafkan aku".


"Hhhmmsss, lupakan saja".


"Kamu tidak marah?".


"Mmmm".


"Kalau git.." gantung Hendry begitu Afia menatapnya tajam. "Hahahha, baiklah, maafkan aku sayang".

__ADS_1


__ADS_2