
Namun hasilnya tetap saja, ia benar-benar tidak menemukan apa-apa untuk bisa di makan. Lalu Afia membuka lemari penyimpan makanan, disana ia langsung melihat beberapa bungkus mie instan membuat ia tersenyum senang.
"Akhirnya aku menemukan mie instan ini. Tidak apa-apa kalau malam ini aku memakan mie dan juga disini ada telur. Tapi aku tidak boleh ketahuan kalau aku memasaknya seperti biasa, nanti mereka mendengarnya".
Afia kemudian mengeluarkan panci kecil, ia melihat panci itu lumayan bisa menampung dua bungkus mie instan. Setelan itu Afia mengisi air di dalamnya, namun saat ia hendak menyalakan kompor, Afia malah bingung bagaimana caranya ia menggunakan kompor tersebut membuat ia kesal.
"Akh, ini menyebalkan sekali. Kenapa kompornya harus seperti ini sih? Aku mana tau cara menyalakannya. Mana ponsel ku tinggal di kamar lagi. Apa yang harus aku lakukan?".
Afia lalu melihat dispenser, ia lagi-lagi dibuat tersenyum senang menemukan ide dengan cara menggunakan air panas. Kemudian Afia membuka bungkus mie instan, ia memasukkan keduanya ke dalam panci kecil tersebut yang sudah berisi air panas. Sambil menunggu matang, Afia melihat samping kiri kanan berharap tidak ada orang yang akan melihatnya.
"Tapi dari pada aku memakannya disini nanti ketahuan. Sebaiknya aku membawanya saja ke dalam kamar, nanti disana aku bisa memakannya dengan santai" Afia mengisi satu botol air minum dan menyimpan telor itu kembali ditempat semula dan tidak lupa membuang bungkus ya di tong sampah.
Setelah itu Afia pun langsung membawanya masuk ke dalam kamar.
Ceklek!
"Akhirnya" senang Afia menaruh di atas meja. Ia kemudian membuka penutup panci teflon tersebut dengan mencium aroma mie instan yang sangat mengudang selera makannya. Namun saat Afia hendak menyendok kedalam mulutnya tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya membuat ia langsung membulatkan mata melihat ke ambang pintu.
"Ta-tente! A-apa yang sedang Tante lakukan disini?".
Dina mengernyitkan dahi, ia melihat Afia terlihat sangat ketakutan sekali dan juga ia melihat Afia seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa yang kamu sembunyikan di belakang?".
Deng!
Afia semakin ketakutan, tubuhnya bergetar dan juga wajahnya terlihat sudah memucat membuat Dina yakin kalau Afia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jawab saya. Apa yang kamu sembunyikan itu?".
"Ti-dak ada apa-apa Tante. A-aku tidak menyembunyikan apa-apa Tante" jawab Afia melihat Dina berjalan mendekati dirinya.
__ADS_1
"Minggir!" tetapi Afia tidak berani bergeser. "Kamu tidak mendengarkan saya?".
"Aku benar-benar tidak menyembunyikan apa-apa Tante. Tolong jangan berprasangka buruk kepada ku Tante".
"Terus kenapa kamu tidak mau minggir? Sekarang tunjukan, kamu pasti sedang mencuri-kan?".
Afia terdiam lagi. Tubuhnya semakin terasa lemas saat Dina mengatakan kalau dirinya sedang mencuri yang sebenarnya ia merasa kalau ia baru saja mencuri makanan. Lalu Dina menyeringai, ia merasa kalau tebakannya benar sekali kalau Afia sedang mencuri membuat ia langsung mendorong tubuh Afia menjauh dari sana sampai tercampak di balik tembok sedikit cukup kuat mampu membuat Afia merasa sakit.
"Apa ini?" tanya Dina.
"Tolong maafkan aku Tante hiks.. hiks..." Afia menjatuhkan tubuhnya diatas lantai dengan kedua tangan memohon agar Dina tidak memarahi dirinya. "Tolong maafkan aku Tante, aku tidak bermaksud mencuri makanan itu. Aku hanya merasa lapar Tante, dan perut aku meminta untuk di isi hiks.. hiks... Tolong maafkan aku Tante".
Dina lalu tersenyum sinis, ia melihat mie tersebut sudah mengembang dan itu membuat Dina merasa jijik hanya dengan mencium aromanya.
"Aku mohon Tante, tolong jangan marahi Afia. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi".
"Ckckck.. Ingat yah, jangan sampai kesalahan ini kamu ulangi lagi. Kalau sampai kamu ketahui mencuri makanan dirumah ini. Kamu akan saya tendang dari rumah ini kalau enggak saya akan menjebloskan kamu ke penjara".
"Iya Tante, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan ini lagi".
Saat Dina berjalan hendak ingin memasuki dapur, ia melihat Afia sedang membawa sesuatu dengan cara mengendap-endap berharap tidak ada orang yang akan melihatnya. Dina yang penasaran langsung mengikuti ya dari belakang.
************
Sekeluarnya Dina meninggalkan kamar itu, Afia mengusap air mata melihat mie instan ya sudah mengembang. Afia lalu mengaduknya dan segera melahapnya dengan sangat lahap karna rasa lapar yang sedari tadi sudah ia tahan membuat tubuh lemas.
Hingga kini ia sudah merasa kenyang, Afia menerbitkan senyuman itu kembali di wajahnya. Kemudian Afia membawa bekas piring kotornya keluar dari dalam kamar dan tidak lupa mencucinya sampai bersih. Setelah itu Afia melap tangannya, ia mendudukkan diri diatas kursi.
"Hendry aku tidak tahan kalau seperti ini. Rasanya lebih baik aku mendengarkan setiap hari cibiran orang di sekitar ku dari pada menghadapi orang tua kamu dan juga pelayan dirumah mu. Mereka terlihat begitu sangat membenciku ku, padahal aku tidak tau kesalahan apa yang sudah aku lakukan kepada mereka Hendry hiks..".
"Padahal waktu itu aku melihat ibu mu begitu sangat baik dan aku berpikir mungkin ibu mu bisa mencintai aku sama seperti dia mencintai mu Hendry. Tapi nyatanya tidak seperti yang aku harapkan hiks.. Bahkan ibu mu berani menampar pipi ku Hendry hiks.. hiks... Kalau seperti ini lebih aku pergi saja Hendry hiks.. hiks..".
__ADS_1
_
Esok pagi harinya Afia mendengar suara gedoran pintu membangunkan dirinya yang tak lain adalah Siska. "Yah, Afia.. Ayo bangun. Ini sudah jam berapa kamu masih tidur jam segini?".
Afia membuka mata, ia melihat jam masih menunjukkan pukul 6 pagi tapi Siska sudah sibuk menggedor-gedor pintu kamarnya.
Baaarrr... Baaarrr...
"Yah Afia.. Kamu tidak mendengar ku?".
"Iya aku mendengar mu" jawab Afia membuka pintu kamarnya.
PPPLLLAAKKK...
Sedikit cukup kuat dengan kasar Siska memukul keningnya sambil berkata. "Kalau orang lain memanggil mu, kamu harusnya menjawabnya bukan malah diam seperti ini".
Afia lalu menyentuh keningnya, ia tidak menyangka kalau Siska berani melakukan hal itu kepadanya. Tidak ingin tinggal diam, Afia pun langsung membalas seperti yang baru saja Siska lakukan.
"Aakkhhh" kagetnya. "Yah kamu?".
"Kenapa? Kamu pikir kamu siapa berani melakukan seperti itu kepada ku haahhh? Kamu pikir kamu siapa?" Afia meninggikan suaranya.
"Wwaahh.. Berani kamu yah?".
"Kenapa kalau aku berani? Kamu pikir karna Tante Dina tidak menyukai ku bukan berarti kamu bisa menindas ku dirumah ini".
"Oh seperti itu. Kalau gitu aku akan memberitahu Nyonya Dina kalau kamu sudah berani melawan perintahnya".
"Silahkan beritahu. Tapi asal kamu tau, aku juga akan memberitahu Tante Dina kalau kamu sudah baru memukul ku. Jadi kita sama-sama Adil".
"Wah.." tawa Siska. "Ya sudah kalau gitu, ayo kita temui nyonya Dina sekarang juga. Kita lihat siapa yang akan nyonya Dina percayai aku atau kamu".
__ADS_1
"Ayo.. Siapa takut?".
"Ayo" keduanya pun langsung pergi menghampiri Dina.