
Seperginya mereka, Hendry segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia membuka sebuah notifikasi yang baru masuk ke ponselnya. Lalu ia mendengus melihat isi dari pesan masuk tersebut, "Mereka terlalu baik, tapi terima kasih banyak sudah membiarkan aku tetap mengikuti ujian" Gumam Hendry.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Hendry pun dengan cepat menyelesaikan soal ujiannya. Kemudian ia mengeluarkan kertas brosur kemarin yang kepala sekolah berikan kepadanya.
"Aku lelah, ini akan menjadi yang terakhir" Ia segera berangkat menuju sekolah tersebut menggunakan taksi. "Pak, tolong antar saya ke alamat ini".
"Baik" angguknya membawa Hendry ke sekolah tersebut. Selama perjalanan, Hendry tak berhenti memandangi kearah toko-toko yang berada di pinggir jalan sampai ia tidak menyadari kalau saja mereka telah tiba di lokasi tujuan, kalau saja si supir taksi tidak memanggilnya.
"Ternyata sudah sampai. Inih pak, kembaliannya ambil saja" ujar Hendry keluar dari dalam taksi. Lalu ia melihat sekolah tersebut, "Ck, apa ini yang dinamakan sekolah? kenapa terlihat kumuh sekali?".
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang dari samping Hendry.
"Astaga, kamu mengagetkan ku saja" kesal Hendry melihatnya.
"Apa? kamu barusan bilang apa?".
"Aahh.. Maaf" jawab Hendry menunduk melihat siapa yang berada di sampingnya itu.
"Ckckck, anak jaman sekarang" gelengnya meninggalkan Hendry. Namun dengan cepat Hendry langsung menahannya. "Ada apa? kamu masing ingin menghina orang tua ini lagi?".
"Tidak, saya minta maaf. Boleh saya minta tolong?".
Ia melihat Hendry, "Apa itu?".
"Ruang kepala sekolah, saya ingin bertemu dengan kepala sekolah disini" jawabnya.
"Ada urusan apa kamu dengan kepala sekolah?".
"Itu, saya ingin mendaftar sekolah disini. Tolong tunjukkan ruangannya" Ia tertawa seperti sedang mengejek Hendry, "Ck, saya serius" kesal Hendry melihatnya.
Ia memperhatikan Hendry dari atas sampai bawah, "Kenapa kamu ingin sekolah disini? sepertinya kamu anak orang kaya" ucapnya memperhatikan barang mewah yang Hendry pakai.
"Hhhmmsss.. Saya bukan anak orang kaya, kalau saya kaya saya tidak akan berada disini".
"Mana ada anak orang miskin memiliki wajah setampan kamu dan juga semulus kamu".
Hendry tertawa kecil, "Hentikan, saya tidak ingin membuang waktu saya dengan hal yang tidak penting. Kalau bapak tidak ingin memberitahu saya dimana ruangan kepala sekolah, maka saya akan mencarinya sendiri. Permisi".
"Tunggu".
"Kenapa?".
"Saya kepala sekolah disini".
Hendry mengernyitkan dahi melihat si pria tua tersebut, "Benarkah?".
"Mmmmm.. Kamu ikut saya" ajaknya membawa Hendry kedalam ruangannya. Lalu ia menyuruh Hendry duduk diatas sofa usang yang berada di dalam sana. "Terus apa alasan kamu ingin sekolah disini? kamu lihat sendiri kalau sekolah ini sangat berbeda dengan sekolah mewah yang pernah kamu lihat".
"Saya tidak ingin berlama-lama disini, tolong urus ini secepatnya" jawab Hendry memberikan formulirnya. "Dan satu lagi, saya tidak mau privasi saya diketahui oleh siswa disini".
__ADS_1
Ia tersenyum menerima formulir Hendry dari tangannya, "Baiklah, tapi sekarang masalahnya apa pada dirimu".
"Maksudnya?".
"Saya tadi sudah memberitahu mu, kamu terlalu tampan untuk berada di sekolah ini".
"Masalahnya?".
"Sepertinya kamu harus merubah gaya hidup mu menjadi orang biasa dan juga jangan pernah gunakan barang mewah selama kamu berada di lingkungan sekolah. Kamu bisa mengerti?".
"Baiklah. Kalau gitu saya permisi dulu".
"Mmmmm".
Begitu Ia keluar dari dalam sana, ia pun langsung meninggalkan sekolah tersebut.
DDDRRRTTT.. DDDRRRRTTTT..
"Mmmmm?" jawab Hendry mengangkat panggilan dari Dafa.
"Kamu dimana? kami sedang berada di lapangan biasa".
"Aku akan kesana".
"Baiklah, atau aku perlu menjemput mu?".
"Tidak usah, aku bisa naik taksi".
"Dia dimana?" tanya Abian menghampiri Dafa dengan keringat yang bercucuran dari wajahnya.
"Hendry dalam perjalanan kemari. Ayo, kita harus banyak latihan untuk tetap memenangkan pertandingan nanti".
"Mmmmmm" angguk Abian kembali kelapangan.
Sesampai Hendry di sana, ia segera masuk kedalam. Ia melihat Dafa, Chan dan Abian sedang bermain basket bersama dengan anggota teamnya. "Ooo, Hendry sudah datang" senyum Chan memberitahu mereka.
Hendry menghampiri mereka, "Maaf aku datang terlambat".
"Tidak apa-apa" ucap mereka.
Kemudian salah satu diantara mereka bertanya kepada Hendry, "Yah, kamu benar-benar di keluarkan dari sekolah kita?".
"Mmmmm" angguk Hendry.
"Wah, jadi rumor itu benar. Terus kamu akan sekolah dimana lagi?".
"Kalian tidak perlu tau. Bersiaplah, aku ganti pakaian dulu" perginya memasuki ruang ganti.
Lalu mereka bertanya kepada ketiga sahabat Hendry, namun mereka juga tidak tau dimana Hendry akan bersekolah. "Ck, kasihan sekali dia. Baru tahun kemarin kalian pindah ke sekolah kami dan sekarang dia pindah lagi".
__ADS_1
"Sudah, sebaiknya kita bersiap" sambil menunggu Hendry keluar mereka bermain kembali.
.
Selesai latihan Hendry dan teamnya berada di kantin, mereka sedang menikmati semangkok mia ayam yang sudah menjadi langganan mereka. "Hend, sepertinya kamu harus keluar dari team ini".
"Apa?" kaget Dafa, Abian dan Chan.
"Hendry tidak sekolah di tempat kita lagi, bagaimana bisa dia tetap di team ini?".
"Tidak apa-apa, aku akan keluar setelah pertandingan ini kelar".
"Tapi Hend" kesal Dafa tidak terima.
"Hentikan, yang barusan dia katakan itu benar. Sudah seharusnya aku meninggalkan ini juga".
"Tapi Hend kamu adalah kapten kita. Kalau kamu keluar, siapa yang akan menggantikan mu?".
"Kami akan memilih mu Dafa" jawab mereka.
"Aku tidak mau, Hendry akan tetap menjadi kapten kita. Bagaimana dengan kalian?" tanyanya kepada Abian dan Chan.
"Tentu saja, Hendry akan tetap menjadi kapten kita. Tidak perduli dia siswa di sekolah kita atau tidak".
"Berhenti membela ku, aku juga tidak akan punya banyak waktu lagi bersama dengan kalian. Aahh, sepertinya aku sudah kenyang. Terima kasih banyak untuk hari ini, aku pulang duluan".
"Kamu mau kemana?" tanya Chan menahan pergelangan tangannya.
"Mencari kerja untuk bertahan hidup" jawab Hendry tersenyum.
"Iiss.. Kamu sangat menyebalkan sekali.." gantung Chan begitu ponsel Hendry berdering
"Hallo" jawab Hendry.
"Tuan, ini saya. Tuan Abbas memanggil anda sekarang juga ke kantor".
"Ada apa?".
"Tuan Abbas menunggu di ruangannya" ucapnya mematikan secara sepihak. Kemudian Hendry melirik mereka.
"Aku harus pergi, jangan mengikuti, ada hal penting yang ingin aku urus" Hendry langsung bergegas meninggalkan mereka.
Dafa terlihat sedih sambil menghela nafas berat, "Sepertinya Hendry tidak akan punya banyak waktu lagi bermain dengan kita".
Abian tertawa, "Kamu ada-ada saja, tidak akan ada yang berubah. Malahan kita akan lebih punya banyak waktu lagi bermain dengannya, kamu tau sendiri kalau Hendry sekarang ini tinggal seorang diri. Jadi kapan pun kita mau, kita bisa mendatangi rumahnya".
"Wah.. Kenapa aku tidak kepikiran kesana yah?" gumam Dafa tersenyum. "Tapi, kalau Hendry nantinya bekerja. Itu tandanya ia akan pulang larut malam setiap hari dan pastinya ia akan lelah".
"Sudah, kita harus mendukungnya. Ayo, sebaiknya kita pulang" Ujar Chan menghentikan Dafa dan Abian.
__ADS_1
"Ayo" Mereka semua pun langsung meninggalkan kantin tersebut.