
Dirumah sakit setelah sang dokter selesai mengobati bekas luka di wajah Afia, tiba-tiba ia merasa sakit di bagian perutnya. "Dok, perut saya terasa kram" ucapnya memberitahu.
Sang dokter pun segera memeriksanya. Namun saat Handry memperhatikan mimik wajahnya membuat Hendry bertanya ada apa dengan kekasihnya itu. "Apa dia baik-baik saja dok?".
Kemudian si dokter bertanya bagaimana dengan haid Afia dalam bulan ini. Dengan polosnya Afia menggeleng memberitahu kalau dalam bulan ini dia belum menstruasi.
"Sepertinya kekasih anda sedang hamil".
"Apa?" keduanya pun langsung membulatkan mata mendengar perkataan si dokter. Sedangkan perawat yang mendengarnya malah asik tersenyum geleng kepala. "Maaf dok, tapi apa benar kekasih saya sedang hamil?".
"Iya, untuk menindak lanjuti silahkan kunjungi dokter kandungan" jawabnya. "Permisi".
"Iya dok terima kasih".
Hendry lalu melihat Afia menutup mata, "Tidak, ini tidak mungkin Hendry. Aku tidak mungkin hamil Hendry".
"Maafkan aku Afia. Lalu apa yang harus kita lakukan dengan bayi itu?" Afia kemudian membuka mata melihat Hendry menggenggam jemari tangannya. "Apa kamu marah kepada ku Fia?".
"Tidak, sekarang mau kamu apa Hendry? Kamu tau kalau kita berdua baru saja putus" jawab Afia ketus. Namun bukannya membuat Hendry sedih, ia malah tersenyum dengan gemas melihat kekesalan di wajah Afia. "Kenapa kamu jadi tersenyum seperti itu?".
"Tidak apa-apa Fia".
"Terus bagaimana ini Hendry? Ibu pasti sangat marah besar kalau tau aku sedang hamil begitu juga dengan kak Naura. Aku yakin dia akan memarahi ku sepanjang masa. Lalu bagaimana dengan keluarga mu Hendry? Aku takut kalau mereka sampai...
"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan Fia. Nanti aku akan memikirkan bagaimana caranya...
"Hend!" potong Afia. "Bagaimana kalau bayi ini kita aborsi saja? Aku tidak mau bayi ini jadi penghambat untuk masa depan kamu".
"Aku tidak gila Afia membunuh bayi ku sendiri. Aku sudah katakan nanti aku akan memikirkan caranya seperti apa".
"Aku sangat takut Hendry. Aku sangat takut sekali".
"Semua akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir" Hendry lalu memeluknya dengan sayang meskipun yang sebenarnya ia juga sangat takut bagaimana kalau sampai kedua orang tuannya tau kalau ia baru saja membuat anak orang hamil diluar pernikahan.
.
Setelah hari sore, Hendry melihat jam telah menunjukkan pukul 4. Ia lalu mencoba untuk membangun Afia yang masih terlelap dalam tidurnya. Tetapi melihat kelelahan di wajahnya membuat ia tidak tega menunggu Afia bangun sendirinya.
__ADS_1
"Permisi!" panggil si perawat.
"Iya sus?".
"Maaf ini sudah waktunya pasien kembali pulang".
"Akh iya sus. Tapi kekasih saya masih tidur, tidak bisakah dia istirahat 20 menit lagi?".
"Tidak bisa, ini sudah susuai dengan peraturan dari perusahaan".
"Baiklah" angguk Hendry mencoba untuk membangunkan Afia. "Sayang! Sayang ayo bangun" namun bukannya terbangun, Afia malah menarik tangannya untuk di peluk. "Sayang ini sudah waktunya kita pulang, kamu istirahat di rumah saja yah".
"Aku mau disini saja Hendry. Aku sangat malas sekali untuk berger.." gantung Afia begitu Hendry mengangkat tubuhnya. "Ck, kenapa kamu harus menggendong ku sih Hendry? Aku masih bisa jalan sendiri tau".
"Tidak apa-apa, kamu sendiri yang bilang kalau kamu malas gerak. Jadi aku akan menggendong mu".
"Kalau gitu kita naik bus saja ya Hendry".
"Kita akan naik taksi".
"Hey, uang kamu sudah banyak habis loh Hendry. Kita naik bus ajah akh".
"Kamu bisa ajah Hendry menggoda ku".
Begitu keduanya berada di dalam taksi, Afia yang sedari tadi menggenggam jemari tangan Hendry tidak ingin melepaskannya. "Kita sudah mau sampai sayang" beritahu Hendry.
"Aku malas sekali Hendry. Aku ingin bersama dengan mu terus. Lalu bagaimana dengan wajah ku ini? Begitu ibu melihatnya ibu pasti akan khawatir".
"Nanti aku akan memberitahu ibu mu kalau..
"Jangan, nanti ibu ku semakin khawatir kalau sampai ibu tau".
"Jadi mau kamu apa?".
"Aku juga tidak tau Hendry".
Hingga kini mereka telah tiba di depan rumah, Hendry langsung membayar biaya taksi mereka dengan uang pas dan tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak sudah membawa mereka dengan keadaan selama sampai tujuan.
__ADS_1
Setelah itu ia membantu Afia masuk ke dalam rumah. Di dalam ruang tamu, mereka melihat Larasati tengah duduk seorang diri menunggu kedua putrinya itu kembali pulang.
"Ibu, Afia pulang!" ucapnya memberitahu.
Sang ibu pun langsung melihat kearah Afia dan Hendry yang baru pulang, "Afia, kamu kenapa nak bisa seperti ini?" tanyanya penuh khawatir menyentuh wajah putrinya itu.
"Tadi Afia habis..
"Kamu berantam nak?".
"Hehehehe.. Kok ibu tau sih?".
"Nak Hendry yang memberitahu ibu".
"Apa?" dengan kesal Afia pun menatap tajam kearah sang kekasih yang malah memalingkan wajahnya pura-pura tidak tau apa-apa. "Kamu yah Hendry, aku sudah bilang sama kamu tadi jangan memberitahu ibu".
Hendry tersenyum, "Maafkan aku sayang".
"Tidak apa-apa Fia, ibu malah senang kalau nak Hendry memberitahu ibu. Lain kalau jangan di ulangi lagi yah, ibu sangat tidak suka melihat anak ibu terluka seperti ini".
"Ck, lagian bukan Afia yang salah Bu. Mereka sendiri yang datang tanpa alasan menyerang Fia".
"Iya ibu tau kamu bukanlah orang yang mau menyerang tanpa alasan Fia. Tapi kalau bisa..
"Naura pulang Bu hehehehe" tawanya dengan kondisi setengah mabuk.
"Kak Naura" kaget Afia. "Kak Naura mabuk?".
Naura lalu melihatnya, "Apaan sih kamu sok perduli gitu sama aku? Minggir, aku mau istirahat" kesal Naura mendorong tubuh Afia hampir saja terjatuh kalau saja tangan Hendry tidak segera menahan tubuhnya. "Ibu, kenapa pria itu ada disini?" tanyanya.
"Naura!" bentak ibunya. "Kamu sudah pulang dengan keadaan mabuk-mabukan seperti ini. Kamu bukannya minta maaf kamu malah mendorong adik mu sendiri. Kamu mau jadi apa Naura?".
"Apaan sih Bu? Ibu sama Afia sama-sama menyebalkan sekali. Sudah akh, aku mau istirahat dulu, aku sangat mengantuk sekali. Oh iya Bu, tolong buatin untuk aku susu panas ya Bu, aku haus".
"Astaga kak Naura! Kakak pikir ibu babunya kakak nyuruh-nyuruh ibu buatin susu untuk kakak? Kalau kak Naura mau, kakak buat sendiri jangan malah menyuruh ibu".
"Apa?" kesal Naura menghentikan langkah kakinya. Kemudian mendekati Afia dengan senyuman sinis, "Kamu tau Afia? Sejak kamu berteman dekat dengan pria miskin ini, kamu semakin hari sudah berani melawan aku".
__ADS_1
Naura lalu menatap marah kearah Hendry, "Yah kamu! mulai hari ini jauhi Afia, aku tidak sudih melihat kamu mendekati adik ku lagi. Paham?".