Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 48


__ADS_3

Sesampainya Hendry di restoran, ia melihat Dina sang ibu telah menunggunya disana dengan beberapa hidangan diatas meja.


"Kamu sudah datang sayang? Ayo duduk, kita makan dulu mama sangat lapar sekali".


"Terima kasih ma" angguk Hendry mendudukkan diri diatas kursi yang berada di hadapan Dina. Ia pun segera menikmati hidangan tersebut tanpa ada suara diantara keduanya.


Kemudian Dina mencoba melirik putranya itu, Hendry terlihat sangat lahap sekali seperti tidak pernah makan saja.


"Kamu lapar Hendry?".


"Mmmm" balas Hendry tanpa berhenti.


"Baiklah. Kalau masih kurang, mama akan memesannya lagi untuk mu".


"Terima kasih ma. Tapi aku mau dibungkus saja".


"Haahhh? Emang kamu mau makan dimana lagi Hendry?".


"Aku mau membawanya pulang ma".


Dina tersenyum tidak percaya mendengar jawaban yang barusan keluar dari mulut Hendry yang benar-benar tidak bisa ia bayangkan. "Kenapa harus dibungkus sayang? Kamu kan bisa makan di restoran hotel tempat kamu tinggal".


"Aku ingin berhemat ma. Selama ini aku sudah terlalu banyak membuang-buang uang mama dan papa" Hendry lalu melihatnya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih untuk makan siang hari ini. Aku sangat menikmatinya".


Dina pun terdiam, Hendry yang selama ini selalu menentang perkataannya tiba-tiba sangat berbeda sekali dari yang ia bayangkan. "Hendry, mama tidak tau apa yang terjadi kepada mu. Tapi hari ini mama...


"Maafkan aku selama ini ma. Bisakah mama mendengarkan aku dulu?".


Dina pun mengangguk.


"Aku.. Aku baru saja melakukan kesalahan yang sangat benar ma. Kekasih ku saat ini sedang mengandung bayi kami berdua".


"Apa?" kaget Dina meninggikan suara melihat putranya itu. "Kamu! Kamu.. Akh, hentikan itu Hendry. Mama tidak ingin mendengar mu. Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan sama Hendry".


"Aku hanya ingin mengatakan itu saja ma".


Dina lalu menarik nafas panjang, ia tidak habis pikir dengan putranya itu telah melakukan hal yang tidak sewajarnya dia lakukan dimana seperti ini.


"Hendry.. Jadi selama ini kamu tidak sekolah?".

__ADS_1


"Aku sekolah ma bersama dengannya" jawab Hendry melihat si pelayan itu membawakan pesanan yang tadi ia minta. "Aku rasa tidak ada hal penting lagi yang perlu kita bicarakan ma. Aku pergi dulu, kekasih ku sedang menunggu ku. Maaf ma" ucap Hendry pergi meninggalkannya.


Setelah itu Dina menghubungi nomor ponsel suaminya Abbas. Begitu Abbas berkata kalau ia berada di dalam ruangannya. Dina segera meninggalkan restoran tersebut menuju perusahaan.


Sedangkan Handry yang Baru tiba, ia langsung memasuki lift menuju lantai tempat Afia sedang bekerja saat ini. Begitu ia melihatnya, "Sayang" panggil Hendry.


"Hendry? Kenapa kamu kemari? Bukankah tadi kamu...


"Aku hanya sebentar saja sayang. Dan aku membawakan sesuatu untuk mu, makanlah selagi masih hangat".


"Tapi ini belum jam istirahat Hendry. Nanti saja, kamu taruh disitu dulu".


"Tidak, aku mau kamu makan sekarang juga sayang. Berikan itu, biar aku saja yang melanjutkan pekerjaan mu".


"Kamu yakin enggak apa-apa Hendry? Tapi bagaimana kalau kita ketahuan? Ini lantai ruangan Presdir".


"Aku sudah bilang jangan khawatir sayang. Ayo dimakan, kamu duduk disini. Aku ingin memastikan kalau kamu menyukainy.. Aaakkhh" kaget Hendry saat Afia memukul lengannya secara tiba-tiba.


"Sakit?".


"Mmmm, kenapa kamu memukul ku Fia?".


"Habisnya kamu menyuruh ku malah memakannya disini. Apa kamu sudah gila?".


"Astaga Hendry.. Kamu benar-benar sangat menyebalkan sekali. Sudah akh, aku tidak ingin berdebat dengan mu lagi. Sana pergi, aku akan memakannya nanti saja".


"Kalau gitu aku tidak akan pergi sebelum kamu memakannya Fia" jawab Hendry.


"Kamu mau kerja tanpa di bayar Hendry?".


"Tidak apa-apa asalkan aku bekerja disini bersama dengan mu Afia ku sayang".


"Hentikan itu Hendry. Tadi aku sudah mengizinkan kamu. Jadi kamu pergi saja".


"Aku tidak akan pergi Fia. Ayo dimakan dulu itu, kalau sudah dingin rasanya akan berkurang. Kamu duduk disini".


"Jangan gila Hendry. Kalau gitu aku akan memakannya di balik tembok sana" ucap Afia melihat tembok tersebut tidak ada satu orang yang lewat. "Kamu tunggu disini yah".


"Mmmmmm" angguk Hendry tersenyum senang melanjutkan pekerjaan Afia.

__ADS_1


Sedangkan Dina yang baru keluar dari dalam lift ia langsung berjalan menuju ruangan Abbas tampa melihat kearah Hendry yang sedang membersihkan lantai.


Ceklek!


"Pa" panggil Dina.


Abbas pun melihat istrinya itu dengan mata berkaca-kaca, "Ada apa ma?" tanyanya khawatir.


"Hendry pa. Hendry anak kita pa hiks.. hiks..".


"Iya, kenapa dengan Hendry ma?" semakin khawatir Abbas bangkit berdiri dari kursi kebesarannya itu memeluk tubuh Dina. "Ada apa ma? Jangan membuat khawatir papa seperti ini".


"Hendry pa hiks.. Ternyata selama ini Hendry bukannya berubah menjadi anak baik, dia malah semakin hiks.. hiks.. Hendry menghamili anak orang pa aarrkkhhhh".


"Apa?" kaget Abbas.


"Iya pa. Hendry sendiri yang baru saja memberitahu mama kalau kekasihnya saat ini sedang mengandung bayinya. Apa yang harus kita lakukan Pa? Apa yang harus kita lakukan untuk anak itu?".


Dengan sangat marah, Abbas mengepal kedua tangannya tidak habis pikir dengan putranya itu yang ia pikir kalau ia menarik semua fasilitas yang ia berikan selama ini akan merubah sifat Hendry menjadi lebih penurut. Tapi nyatanya anak itu semakin kurang ajar.


"Apa yang harus kita lakukan Pa hiks.. Mama sangat takut sekali kalau wanita itu hanya ingin memanfaatkan Hendry saja. Ditambah mereka masih anak di bawah umur dan mama tidak mau memiliki menantu yang tidak mama sukai pa. Aku yakin wanita itu pasti hanya memanfaatkan Hendry pa".


Menarik nafas panjang, Abbas mencoba menenangkan istrinya itu.


"Mama tenang dulu, biarkan papa yang bicara kepada Hendry" Abbas mengeluarkan ponselnya, ia pun segera menghubungi nomor ponsel putra ya itu.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Hendry ponsel kamu berdering" beritahu Afia dari belakang.


"Aakkhhh.. Iya, aku tidak mendengarnya sayang" ucap Hendry sedikit terkejut mengeluarkan ponselnya dari dalam saku melihat layar ponselnya itu membuat ia seketika melirik Afia yang berada di hadapannya.


"Kenapa Hendry? Ayo di jawab. Siapa tau penting. Ayo berikan sapu itu kepada ku, terima kasih sudah mau menganti".


Hendry tersenyum, lalu ia melihat samping kiri kanan mereka berdua membuat Afia mengernyitkan dahi.


"Ada apa Hendry?".


"Tidak ada apa-apa Afia ku sayang. Aku hanya ingin memastikan apa anak ku di dalam sana menikmati makanan yang tadi aku bawakan" jawab Hendry berjongkok di hadapan Afia sambil mencium perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"Hahahaha.. Kamu ada-ada saja Hendry. Aku dan bayi kita sangat menikmati makan itu. Lain kali kamu harus membawanya lagi hehehehe".


"Iya sayang aku akan membawanya lagi".


__ADS_2