Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 30


__ADS_3

Begitu keluar dari dalam kamar mandi, Hendry mendudukan Afia diatas tempat tidur dengan handuk putih melilit diatas dada. Kemudian Hendry memakai pakaiannya, "Kamu tunggu disini, aku membeli pakaian mu dulu".


"Apa kamu akan lama?".


"Aku tidak akan lama" Hendry langsung keluar dari dalam kamar. Lalu Afia melihat noda merah itu diatas tempat tidur membuat dirinya kembali menangis.


"Hiks, hiks, ibu maafkan Afia bu. Tolong maafkan Afia bu hiks" dengan tubuh Lemas Afia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar itu dengan tatapan sendu dan air mata yang terus-menerus mengalir.


Tidak lama kemudian Hendry kembali dengan paper-bag ditangan kananya, lalu ia melihat Afia masih menangis diatas tempat tidur. "Fia" panggilnya.


"Kamu sudah datang?" dengan cepat Afia menyeka air matanya. Ia melihat paper-bag tersebut ditangan Hendry. "Terima kasih".


"Tunggu" tahan Hendry.


"Kenapa?".


Hendry tersenyum, "Kamu menangis lagi? maafkan aku Fia, maaf aku tidak bisa menahan nafsu ku" dengan sayang Hendry mencium kening Afia sambil memeluknya. "Jangan takut, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan".


Setelah itu Afia memasuki kamar mandi, begitu selesai mengganti pakaiannya, ia keluar tetapi Afia masih tetap merasakan perih dibagian kewanitaannya. "Hend, sakit".


"Apanya?" senyum Hendry menggodanya.


"Yah.. Aku tidak sedang bercanda Hendry".


"Yang bilang kamu bercanda siapa sayang? aku hanya bertanya".


"Ck, kamu menyebalkan".


"Baiklah, atau perlu aku menggendong mu keluar?".


"Tidak, aku masih bisa jalan. Tapi aku enggak mau pulang kerumah dengan keadaan seperti ini Hend. Aku takut ketahuan sama ibu ayah dan kakak ku".


"Terus kamu mau kemana? aku akan membawa mu sesuai dengan keinginan mu".


"Aku enggak pengen kemana-mana, aku ingin istirahat. Kita kerumah kamu saja Hend".


"Apa?".


"Rumah kamu, aku ingin tidur disana sebelum aku pulang kerumah".


Hendry berpikir, tidak mungkin dia membawa Afia ke hotel. Apa katanya nanti kalau selama ini dirinya membohongi Afia. "Kalau kamu mau tidur, kamu tidur disini saja. Aku akan memperpanjang waktunya".


"Tidak, aku tidak nyaman tidur disini lagi Hend".


"Kalau gitu kita kerumah kamu saja. Inikah hari minggu, pasti mereka tidak ada dirumah. Bagaimana?".


"Tidak Hend, aku tidak mau ketahuan".

__ADS_1


"Kamu tidak akan ketahuan, percaya kepada ku. Ayo" Hendry menyambar tasnya Afia. Lalu membawanya keluar dari sana meskipun Afia menolaknya. "Maafkan aku Afia, aku belum siap memberitahu mu siapa aku yang sebenarnya. Tapi nanti setelah kita lulus, aku akan memberitahu mu yang sebenarnya" batin Hendry.


Hendry menghentikan sebuah taksi, mereka berdua segera masuk kedalam taksi tersebut. "Pak, tolong antar kami ke alamat ini".


"Baik" angguk si supir taksi menjalankan taksinya.


Kemudian Hendry melihat Afia, dengan rasa bersalah yang masih Hendry rasakan, ia menggenggam kedua tangan Afia dengan erat. Lalu merangkulnya dengan sayang, "Apa rasanya masih sakit?" bisik Hendry.


"Mmmm" angguk Afia.


"Apa kamu perlu sesuatu untuk mengurangi rasa sakitnya".


"Aku tidak tau, rasanya lebih sakit saat sedang datang bulan".


"Benarkah?".


"Mmmm".


.


Kini mereka telah tiba, Hendry membayar ongkos taksinya. "Ayo" namun saat mereka berjalan kearah rumah Afia, ibu dan ayah Afia malah berada di teras rumahnya dengan dua tamu yang tidak Afia kenal. "Sepertinya ayah dan ibu mu kedatang tamu Fia. Apa kamu mengenal mereka".


"Tidak Hend, aku tidak mengenal mereka. Kalau gitu kamu pulang saja, nanti ayah melihat mu".


"Ya sudah, kalau ada apa-apa jangan lupa memberitahu ku ok".


"Aku pulang, uumccchh" perginya meninggalkan Afia.


Setelah itu Afia membenarkan pakaiannya, dia langsung berjalan menghampiri ayah dan ibunya. "Afia pulang bu".


"Kamu sudah pulang nak? duduklah dulu, ini tante Rara dan om Firman".


"Hallo om".


"Hallo sayang" senyum Rara melihat Afia sangat cantik. "Putri mu cantik sekali Larasati".


"Hahaha, dia anak kedua ku. Yang pertama sudah pergi sama teman-temannya".


"Mmmm, tante juga memiliki anak loh sebaya kamu. Kamu sekolah dimana sayang?".


"Di SMA xx tante".


"Ekh, anak tante juga sekolah disana. Namanya Raga, kamu kenal anak tante sayang?".


"Raga tante?".


"Iya".

__ADS_1


"Ah, iya tante Afia mengenalnya".


"Tante yakin kalau kamu dan anak tante pasti dekat".


"Tidak juga tante, karna aku dan Raga beda kelas".


"Oh".


"Iya tante, kalau gitu Fia masuk dulu ya tante".


"Mmmm" angguk Rara.


Kemudian Afia memasuki kamarnya, ia tidak habis pikir kalau wanita adalah ibunya Raga siswa paling bandel dan paling ditakuti di sekolahnya. "Dari pada memikirkannya, lebih baik aku tidur saja. Aku sangat mengantuk" Afia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, tidak lama kemudian dirinya langsung terlelap.


Sedangkan diluar, Rara dan Firman hendak pamit pergi dari rumah keluarga Darius. "Kalau gitu kami pulang dulu, semoga uang itu bermanfaat kalian gunakan" ucap Rara.


"Iya Ra, sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak sudah mempercayai kami meminjam uang mu".


"Mmmmm"


Lalu Larasati melihat Darius, "Ayah".


"Apa?".


"Ayah yakin meminjam uang sebanyak itu dari mereka? ibu takut kalau kita tidak sanggup membayar hutang ini nantinya".


"Terus?".


"Sebaiknya ayah meminjam 10 juta saja. 20 juta itu terlalu banyak ayah".


"Ck, kamu bising sekali. Terus bagaimana dengan biaya kuliah Naura? bukankah kamu sendiri yang dulunya bilang kalau Naura itu harus sekolah tinggi. Sekarang kamu pura-pura lupa?".


"Ibu tau ayah. Tapi biaya kuliah Naura tidak sebanyak itu".


"Ah, kamu terlalu banyak bicara. Inih, kamu simpan uang kuliah Naura, dan sisinya ini untuk ayah".


"Apa? ini cuman 7 juta ayah. Lalu sisanya mau ayah apain?".


"Terserah ayah mau ngapain, itu bukan urusan kamu" Darius langsung pergi meninggalkan rumah dengan sepeda motornya.


"Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini? kenapa aku harus memiliki suami seperti dia. Dia benar-benar serakah dan tidak perduli dengan keluarganya, dan sekarang dia malah pergi membawa sisa uang itu. Aku yakin uang itu akan dia gunakan untuk berjudi bersama dengan teman-temannya" Larasati mengelus dada.


Lalu masuk kedalam kamar, ia menaruh uang tersebut di tempat penyimpanan yang tidak Darius tau selama ini. Lalu Ia keluar dari dalam kamar, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi, "Afia" panggilnya. "Afia" panggilnya lagi. Namun tidak ada jawaban dari Afia membuat Larasati mendatangi kamarnya.


Ceklek!


"Afi.." gantung Larasati melihat Afia terlihat sangat lelap dalam tidurnya. "Dia lelah sekali, maafkan ibu ya nak. Kamu harus bekerja keras untuk keluarga kita, semoga suatu nanti kamu menemukan jodoh yang benar-benar sayang sama kamu dan tidak seperti ayah mu".

__ADS_1


Seperginya Larasati, Afia membuka mata. "Mmmm, perasaan aku mendengar suara ibu" gumam Afia kembali tidur.


__ADS_2