
Hendry tertawa kecil, ia berkata kalau ia juga sangat sibuk membutuhi kehidupan ia dan Afia yang kini berada di sebelahnya.
"Lalu bagaimana dengan pendidikan selanjutnya Hendry? Kamu enggak berhenti kan?".
"Aku sudah mengatakan itu kepada Hendry. Biarkan saja dia melanjutkan pendidikannya kemana pun dia mau. Bagaimana dengan kalian?" tanya Afia.
Abian tersenyum, "Sepertinya aku akan ke Kanada minggu depan" jawabnya.
"Aku juga Hendry" sambung Dafa. "Selesai ujian nasional nanti aku akan berangkat ke Prancis. Chan juga akan pergi".
"Kemana?" tanya Hendry.
"Aku akan kuliah di Amerika Hend" jawabnya.
Hendry tersenyum mengangguk, "Semoga kalian berhasil. Aku akan menunggu disini bersama dengan Afia".
Mereka tertawa senang, "Iya, kami harap kalian berdua sehat selalu. Dan jangan lupa, begitu keponakan kami lahir, kamu jangan lupa menceritakan kita bertiga hahahaha".
"Aku akan menceritakannya".
.
Sore harinya Hendry dan Afia berada di perusahaan group Mapolo. Sudah hampir beberapa bulan lamanya Hendry bekerja disana, Abbas ayahnya sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
Kemudian Afia memberitahu kalau hujan sedang turun. Hendry yang sedang bekerja, ia lalu menghentikan pekerjaannya menghampiri Afia melihat kearah hujan tersebut.
"Aku suka hujan Hendry!" ucap Afia.
Hendry tersenyum, ia lalu memeluk Afia dari belakang. "Aku juga menyukai hujan sayang. Sudah sangat lama sekali hujan tidak pernah turun lagi".
"Mmmmm".
Tanpa mereka sadari kalau saja sang leader tengah melihat mereka dari kejauhan sana dengan kening mengerut. "Afia?" panggilnya. "Hendry?" panggilannya lagi.
Tetapi kedua orang itu tidak mendengarnya hingga Abbas yang sedang berjalan kearahnya membuat ia langsung membulatkan kedua mata kalau sampai Abbas melihat kelakuan karyawannya itu.
"Tuan" sapanya tersenyum manis. Namun Abbas memilih menghiraukannya dan melanjutkan kedua langkah kakinya hingga akhirnya Abbas berhenti tepat dibelakang Hendry dan Afia yang sedang berpelukan di ujung lorong sana. "OMG! Kedua orang itu".
"Hendry?" panggil Abbas.
Hendry yang mendengar namanya dipanggil, ia pun langsung mengenali suara tersebut adalah suara Abbas ayahnya.
"Hendry?" panggil Abbas kembali.
__ADS_1
Kemudian Afia membulatkan mata, ia mendengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua. Sedangkan Hendry yang masih memeluknya dari belakang, "Hendry siapa?" tanya Afia.
"Sshhuueettt... Aku tidak tau, kamu jangan bergerak. Biarkan saja".
"Iya, tapi dia sedari tadi memanggil nama mu Hendry. Kamu mengenalnya siapa?".
"Aku tidak mengenalnya Fia".
"Tapi langkah kakinya semakin mendekat Hendry. Perasaan ku berkata tidak enak Handry, ayo lepaskan aku".
Hingga akhirnya Hendry melepaskan pelukannya itu, kemudian Afia mencoba melirik kearah orang yang baru saja memanggil nama Hendry membuat Afia seketika melonjak kangen hampir saja terjatuh kalau saja tangan Hendry tidak menahan tubuhnya.
"Aku sudah bilang...
"Hendry?" panggil Abbas kembali.
Hendry lalu memutar tubuhnya, ia melihat Abbas berdiri di hadapannya dengan wajah datar. "Anda mengenal saya tuan? Maaf" ujar Hendry langsung mendapatkan pukulan dari Afia tepat di lengannya. "Kenapa?".
"Hendry kamu apa-apaan? Ini tuan Abbas pemilik perusahaan ini. Harusnya kamu lebih sopan Hendry" ucap Afia sedikit marah kepadanya.
"Terus kenapa kalau dia pemilik perusahaan ini Fia? Aku tidak melakukan kesalahan kan?" balas Hendry tidak peduli.
"Ya Tuhan Hendry. Ada apa dengan kamu Hendry? Kenapa jadi seperti ini? Kamu berkata seperti itu seolah-olah kamu mengenal beliau".
Hendry tertawa, ia melihat Abbas kembali dengan kepala menunduk. "Baiklah Afia ku sayang. Tolong maafkan aku. Tadi aku tidak mengenali beliau".
"Tolong maafkan saya tuan. Saya tidak mengenali...
"Kamu tidak merindukan papa Hendry?".
Deng!
Afia yang mendengar kata-kata itu kembali dibuat terkejut bagaikan di sambar petir saat Abbas mengatakan kalau Hendry tidak merindukan dirinya. Namun yang membuat Afia semakin kebingungan, Hendry malah tertawa kecil.
"Hendry ada apa?" tanyanya.
"Aku juga tidak tau sayang. Ayo kita pergi..
"Hendry dengarkan papa dulu.. Kamu tidak tau kalau mama kamu baru saja mengalami kecelakaan?".
Deng!
Kedua langkah kaki Hendry langsung berhenti memutar tubuhnya, "A-apa?".
"Mama kamu baru saja mengalami kecelakaan Hendry" jawab Abbas.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Papa pasti berbohong, mama tidak mungkin..
"Kenapa papa harus berbohong Hendry? Bahkan mama kamu sedang kritis" jawabnya lagi membuat Hendry segera berlari dari sana dan tidak lupa membawa Afia pergi.
.
Hingga kini mereka telah tiba di rumah sakit dimana Afia pernah beberapa hari lamanya di rawat disana. Dan meskipun Afia di landa beberapa pertanyaan di dalam otaknya, ia memilih tidak mengajukan pertanyaan yang akan membuat Hendry marah dan menunggu sampai Hendry sendiri yang akan memberitahunya.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan mama saya dok? Tolong selamat mama saya dok, tolong selamatkan mama saya" ucap Hendry memohon dengan air mata berlinang. "Saya mohon dok".
Kemudian Abbas yang baru tiba menarik Hendry menjauh dari si dokter. "Saya mohon tolong lakukan yang terbaik dengan istri saya dok".
"Iya tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa dokter Dina".
"Terima kasih dok" lalu Abbas membawa Hendry duduk diatas kursi tunggu sembari melirik kearah Afia yang sedang berdiri sedikit jauh dari hadapannya. "Mama akan baik-baik saja".
Hendry mengusap wajahnya kasar, ia tidak mau terjadi apa-apa kepada ibunya itu yang sudah melahirkan dia ke dunia ini. "Fia" panggilannya.
"Kenapa?".
"Kemarilah duduk, kamu bisa lelah berdiri seperti itu" ucap Hendry menepuk kursi sebelahnya.
"Iya" meskipun ia sedikit tidak enak kepada Abbas yang juga berada disana. Namun karna Hendry sendiri yang menyuruhnya, ia pun akhirnya mendudukkan diri di samping Hendry sambil menunggu para dokter selesai mengoperasi Dina yang sedang kritis.
Hingga waktu terus berputar, jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Namun dokter yang menangani Dina belum juga keluar dari sana membuat Abbas dan Hendry dibuat semakin khawatir kalau sesuatu terjadi kepada Dina.
"Pa, kenapa mereka lama sekali? Ini sudah lebih dari satu jam pa" ucap Hendry mulai gelisah.
"Papa juga tidak tau Hendry. Kita tunggu saja sampai mereka keluar".
Hendry bangkit berdiri, ia berjalan kesana kemari sampai kedua kakinya terasa mulai pegal menunggu sang dokter yang belum juga keluar dari dalam membawa kabar baik kalau Dina baik-baik saja.
Ceklek!
"Dokter!" kaget Hendry.
Kemudian para dokter itu tersenyum legah melihat Hendry dan Abbas secara bergantian.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Abbas mencoba untuk terlihat tenang.
"Syukurlah tuan, dokter Dina bisa kita selamatkan".
Mendengar itu Hendry dan Abbas pun menghela nafas legah begitu juga dengan Afia yang ikut merasa tenang.
"Tapi kita tidak tau kapan dokter Dina kembali siuman tuan. Kita berdoa saja supaya dokter Dina segera siuman".
__ADS_1
"Iya dok, terima kasih banyak".
"Sama-sama tuan".