
Afia menahan kedua tangannya, ia tau kalau Hendry adalah pria normal yang kapan saja bisa menerkamnya. "Hendry, kamu punya adik perempuan kan?".
"Tidak, aku anak satu-satunya" jawab Hendry menahan tawa melihat kecemasan diwajah Afia yang sudah bertambah. "Kenapa? kamu tidak usah khawatir, kalau kita menikah nanti kamu tidak bakalan ada musuh".
"Hendry ayolah.. Jangan membuat ku takut, aku belum siap melepas keperawanan ku, apalagi kita masih pelajar. Aku benar-benar belum siap Hendry".
"Jadi wanita ku ini masih perawan?".
"Kamu pikir aku wanita apaan? gini-gini aku belum pernah yah disentuh sama laki-laki".
"Benarkah?".
"Kecuali kamu".
"Kenapa denganku?".
"Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku yang bakalan aku berikan kepada suami ku".
Hendry tertawa, "Aku akan menjadi suami mu Afia, kenapa kamu harus merasa rugi?".
"Aku tidak bisa jamin, bisa saja suatu saat nanti kamu pergi meninggalkan aku".
"Jangan berpikir sampai kesana Fia. Kemarilah, aku ingin memeluk tubuh mu. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan mu".
"Hend" panggilnya.
"Mmmm?".
"Kalau lulus SMA nanti kamu kuliah?".
"Iya".
"Aku tidak, aku akan bekerja membantu keluarga ku".
"Kenapa? kakak perempuan mu saja kuliah. Kenapa kamu tidak?".
"Kalau aku kuliah siapa yang akan membayar biaya kuliah ku? mengharapkan kakak perempuanku aku tidak yakin".
"Kalau gitu kamu tidak usah kuliah, cukup jadi istri ku saja" senyum Hendry menarik tubuh Afia kedalam pelukannya. "Aku berjanji akan membuat mu hidup penuh dengan kebahagian, kamu mempercayai ku sayang?".
"Benarkah?".
"Mmmm, suatu saat nanti aku akan membuat mu sebagai tuan putri yang dihormati dan di segani diseluruh dunia".
"Hahahaha, terima kasih" tawa Afia merasa lucu karna itu hanyalah sebuah hanyalan Hendry.
"Iya dong, makanya kamu harusnya berterima kasih, sekarang berikan aku ciuman".
__ADS_1
"Ck, tidak" geleng Afia.
"Ayolah Fia berikan aku ciuman".
"Tidak Hendr..
Cup..
"Kenapa? kamu mau marah?".
"Tidak".
"Kalau gitu berikan aku ciuman lagi".
"Hey, aku sudah memberinya Hend..." gantung Afia melihat Hendry berada diatas tubuhnya. "Hend, apa yang mau kamu lakukan?".
"Bercinta dengan mu sayang, aku sudah menahannya sejak dari tadi, biarkan aku menikmati tubuh ini".
"Hend, kamu lagi bercanda kan? kamu enggak benaran kan?".
"Aku enggak lagi bercanda Fia, aku mengatakan yang sebenarnya" jawab Hendry menyentuh wajah mulus Afia. Kemudian tangan kanannya memasuki pakaian Afia lalu menarik handuk yang melilit ditubuhnya itu.
"Kalau kamu melakukan itu, aku akan menangis Hend, bahkan aku akan membenci mu selama ya" kedua mata Afia berkaca-kaca.
"Maafkan aku Afia, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku berjanji akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan. Maaf" bukannya Hendry berhenti, ia tetap melanjutkan aksinya hingga handuk yang melilit ditubuh Afia terlepas. Kemudian Hendry mencium keningnya, "Jangan menangis fia, aku tidak suka melihat wanita ku menangis".
"Karna aku mencintai mu aku tidak mau pria lain mendekati mu selain aku Fia".
"Tapi tetap saja ini salah Hend, aku mohon hentikan ini".
"Tidak Fia" Hendry melepaskan baju yang tadi ia berikan, hingga tubuh polos Afia terlihat sangat indah di kedua matanya. "Aku menyukai tubuh ini Fia, aku benar-benar menyukainya" Hendry langsung mencium milik Afia dan ********** seperti bayi.
"Ah.. Hendry, aku malu".
Kemudian mencium bibirnya, tetapi Afia yang belum pernah berciuman, ia tidak tau cara membalas ciuman Hendry hingga membuat Hendry harus mengajarinya terlebih dahulu sampai pada akhirnya Afia mampu mengikuti permainan yang Hendry lakukan.
Setelah itu Hendry tersenyum, lalu mengigit hidung Afia dengan gemas. "Afia, aku mencintai mu".
"Ah, Hendry" ringis Afia saat Hendry tiba-tiba melebarkan kedua kakinya. "Sakit".
"Sshuueett, kamu bisa membangunkan orang lain sayang" Hendry kembali membuka celana ia kenakan. Namun saat itu juga Afia mencoba melarikan diri, tetapi Hendry langsung menahannya.
"Tidak Hend" geleng Afia.
"Aku akan melakukannya dengan lembut sayang" Hendry mencium bibir Afia lagi supaya ia tidak melarikan diri sambil berusaha melepaskan celana. Setelah ia berhasil, Afia langsung bisa merasakan kejantanan Hendry menempel di kewanitaannya dan tampa aba-aba dari Hendry ia langsung mendorong kejantanannya sampai membuat Afia menjerit kesakitan yang tidak bisa ia tahan.
"Aarrkkhh... Hend, ini sangat sakit hiks.. Sakit Hend hiks hiks" Afia mengeluarkan air mata dan berusaha untuk melepaskan kejantanan Hendry yang kini berada di dalam. "Aku mohon lepaskan aku Hend, sakit hiks" geleng Afia.
__ADS_1
"Maaf sayang. Aku akan melakukan dengan lembut, kamu jangan teriak yah".
"Aarrkkhh, hiks sakit Hend".
"Tidak apa-apa sayang" Hendry membiarkan Afia, ia melihat kekhawatiran dan juga kesakitan diwajahnya, namun bukan berarti Hendry akan menghentikan aksinya, ia tetap akan melanjutkannya karna ia hanya menunggu Afia sampai tenang.
Setelah hampir 10 menit lamanya, Hendry kembali melanjutkan aksinya, namun kali ini dia melakukan dengan lembut supaya Afia tidak merasakan terlalu sakit. Lalu Hendry merasakan sebuah cairan mengalir dari kewanitaan Afia yang pastinya ia tau kalau itu adalah sebuah darah segar.
"Udah Hend, aku capek".
"Sebentar Fia, aku belum keluar".
"Ayolah Hend, ini sangat sakit, aku tidak tahan lagi".
"Kalau gitu aku akan berhenti sebentar" Hendry melap keringat di wajah Afia, lalu mencium keningnya dengan sayang. "Maafkan aku sayang".
"Aku ngantuk Hend".
Hendry tertawa, "Aku belum selesai Fia, tunggu aku selesai baru kamu tidur".
"Apanya lagi belum selesai Hend, ini sudah hampir satu jam".
"Tidak, siapa bilang sudah satu jam?".
"Aahhh... Hendry aku cepek, aku enggak punya tenaga lagi".
"Kalau gitu kita lanjutkan lagi biar kita tidur".
"Tapi aku tidak tah..." gantung Afia begitu Hendry mendorong kejantanannya lagi di kewanitaannya sampai cairan yang menggumpal di kejantanan Hendry berada di dalam rahim Afia. "Udah Hend, ini sangat sakit" ringis Afia semakin kesakitan begitu Hendry memompanya dengan cepat.
"Sebentar lagi Fia, ini sudah mau keluar" ucap Hendry hingga sperm*anya keluar menyalur ke rahim Afia. Setelah itu baru Hendry menghentikan aksinya dengan senyum mengembang diwajahnya. "Terima kasih sayang".
"Aku ngantuk".
"Kemarilah" Hendry menarik tubuh Afia kedalam pelukannya dan tidak lupa mencium kening Afia sebelum ia menutup kedua matanya.
.
Begitu pagi hari tiba, Afia langsung merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan juga kewanitaannya yang terasa sangat perih. Kemudian melihat Hendry yang masih terlelap dalam tidurnya tampa merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan tadi malam.
"Apa yang harus aku lakukan? bagaimana kalau ibu dan ayahku tau apa yang telah aku lakukan dengan Hendry. Ayahku pasti akan membunuhku sedangkan ibu pasti sangat kecewa kepada ku. Ya Tuhan maafkan aku, aku benar-benar sangat bodoh" umpat Afia dalam hati.
Lalu Afia melepaskan tangan Hendry yang berada diatas perutnya. Ia menuruni tempat tidur menuju kamar mandi, namun saat itu juga ia terjatuh diatas lantai akibat rasa perih yang ia rasakan.
"Afia" kaget Hendry mendengar suaranya. "Kamu baik-baik saja?".
"Hend" kedua matanya langsung berkaca-kaca. "Aku takut Hend, aku sangat takut".
__ADS_1
"Jangan takut sayang, aku ada untuk mu" Hendry segera membawanya kedalam kamar mandi.