
Hari semakin sore, Afia sedari tadi pagi belum mengisi perutnya hingga kini ia merasa sangat kelaparan. Tidak menunggu beberapa lama lagi, ia melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Setelah itu Naura keluar dari dalam mobil tersebut membuat Afia tersenyum senang.
"Kak Naura" panggilannya.
"Kamu? Sedang apa kamu disini?" tanya Naura melihatnya dari atas sampai bawah tanpak kusut.
Afia lalu tertawa menunjukkan gigi ratanya, "Hehehehe.. Itu kak..." gantung Afia saat Naura melihat tas tentengannya berada diatas meja. "Akh, begini kak. Untuk beberapa hari ini aku mau tinggal di rumah ini. Soalnya Hendry berada di luar kota, tiba-tiba dia mendapatkan pekerjaan disana".
Namun Naura bukannya percaya, ia malah merasa curiga kalau apa yang baru saja Afia ucapkan tidak benar.
"Aku mengatakan yang sebenarnya kak. Untuk apa juga aku berbohong?".
"Ada apa ini?".
"Ekh ibu sudah pulang" Afia terlihat senang langsung berlari ke pelukan Kirana. "Aku merindukan ibu".
Kirana mengernyitkan dahi, ia melihat Naura seperti sedang bertanya ada apa dengan adiknya itu. Tetapi Naura juga tidak tau, ia malah mengangkat kedua bahunya segera membuka pintu rumah mereka.
"Ada apa Fia? Kamu baik-baik saja?".
"Mmmm, aku baik-baik saja Bu. Aku sangat merindukan ibu".
Afia melepaskan pelukannya, ia menggenggam kedua tangan ibunya dengan hangat sambil menundukkan kepala.
"Ada apa Fia? Ayo jawab ibu" tanya Kirana kembali penasaran bersamaan merasa khawatir kepada putri bungsu ya itu. "Perasaan ibu jadi tidak enak".
"Tidak apa-apa Bu. Aku hanya ingin minta izin sama ibu untuk beberapa minggu ini aku mau tinggal dirumah ini. Bisa tidak Bu?".
"Astaga Afia! Tentu saja bisa. Tapi kenapa bisa seperti ini? Hendry dimana? Atau kalian berdua tidak lagi berantam kan?".
"Hey, tidak kok Bu. Aku sama Hendry baik-baik saja seperti biasa. Hanya saja, Hendry di pindahkan tugas keluar kota Bu karena gaji disana jauh lebih besar sama yang disini".
"Benarkah?".
"Iya Bu. Enggak apa-apa kan Afia tinggal dirumah ini?".
"Iya sayang tidak apa-apa. Lagian ini rumah kamu juga, kenapa kamu harus minta izin dulu sama ibu? Sudah, ayo masuk".
Begitu keduanya masuk ke dalam rumah, Kirana membawa Afia ke dalam kamar tamu yang selama ini mereka gunakan untuk siapa saja yang berkunjung.
"Enggak apa-apa kan Fia kalau kamu tidur di kamar ini? Dari pada kamu harus tidur di kamar kakak mu".
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu. Itu artinya aku tidak akan menggangu kak Naura heheheh".
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana, ibu akan menyiapkan makan malam untuk kita".
"Kalau gitu Afia bantu ya Bu?".
"Tidak usah Fia. Kamu mandi saja dulu, selesai nanti ibu akan memanggil mu".
"Ibu yakin? Ibu kan sudah cape baru pulang kerja".
"Tidak apa-apa".
Kirana keluar dari dalam kamarnya, Afia kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan wajah lelah setelah seharian menunggu kepulangan mereka.
"Syukurlah, sepertinya ibu dan kak Naura tidak merasa curiga kalau aku baru saja di usir dari rumah. Tapi, kalau sampai ibu dan kak Naura tau, apa yang akan aku lakukan? Ck, kenapa harus seperti ini sih?".
.
Di dalam dapur Kirana mempersiapkan makan malam untuk mereka, "Afia dimana Bu?" tanya Naura.
"Di kamar tamu. Kenapa?".
"Tidak apa-apa bu. Tumben anak itu tidak membantu ibu? Biasanya".
"Ooo, kalau gitu ada yang bisa aku bantu Bu?".
"Iya ini ada Na. Tolong kamu Petik sayur bayam ini".
Sambil membantu Kirana di dapur, Naura berpikir lagi ada yang aneh dengan Afia. Ia merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
"Bu" panggil Naura.
"Iya, kenapa?".
"Ibu merasa aneh tidak dengan Afia?".
"Maksud kamu?".
Kirana melihatnya membuat Naura menghentikan kedua tangannya. "Bukan apa-apa sih Bu. Tapi entah kenapa aku merasa kalau Afia dan Hendry sedang dalam...
"Hubungan aku dan Hendry baik-baik saja kok kak" potong Afia berjalan dari belakangnya. Ia lalu mendudukkan diri di hadapan Naura, kemudian menyambar sayur bayam tersebut untuk di petik. "Kenapa kak Naura melihat ku seperti itu? Apa kak Naura belum juga mempercayai kalau hubungan ku....
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
__ADS_1
Afia mendengar suara ponselnya berdering, "Siapa?" tanya Naura.
"Kakak Naura lihat ini?" Afia menunjukkan layar ponselnya di hadapan Naura dengan senyum mengembang di wajahnya. "Tunggu sebentar ya kak, aku mengangkat panggilan Hendry dulu" setelah itu Afia menggeser tombol hijau langsung menjawabnya. "Iya Hendry?".
Namun saat itu juga Afia mendengar suara helaan nafas berat Hendry dari sebrang sana membuat ia merasa khawatir.
"Ada apa Hendry? Kamu baik-baik saja?".
"Kamu dimana sekarang?".
Afia membulatkan mata, ia melihat Naura dan Kirana secara bergantian begitu ia mendengar suara Hendry.. Yang entah kenapa, itu membuat dia sedikit merasa takut.
"A-ada apa Hend...
"Jawab aku Afia.....!!!" berteriak.
Deng!
"Ada apa Fia?" tanya Naura. Lalu Afia menjatuhkan air matanya dan itu membuat Kirana dan Naura merasa aneh serta khawatir ada apa dengannya. "Fia jawab ada apa?".
Kemudian Afia melap air matanya, ia bertanya ada apa dengan Hendry yang tiba-tiba marah kepadanya.
Namun Hendry bukannya menjawab pertanyaan Afia, ia malah mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Setelah itu sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
"Ada apa Afia? Kenapa kamu tidak menjawab ku?" teriak Naura merasa kesal bercampur marah kepadanya yang malah menangis tidak menjawab pertanyaannya.
"Hiks.. Hiks.. I-ini kak, He-Hendry tiba-tiba marah kepada ku tampa sebab" jawab Afia semakin menumpahkan air matanya. "Aku tidak tau, aku tidak tau kenapa dia membentak ku hiks.. hiks..".
"Apa?" kedua orang itu kaget. Naura lalu merampas ponsel Afia dari tangannya. Ia pun segera membuka pesan tersebut, tetapi saat itu juga mata Naura membulat setelah ia membukanya.
"Ada apa Naura?" tanya Kirana melihat tangan Naura bergetar.
"Tidak, tidak apa-apa Bu" jawab Naura menyingkirkan ponsel itu dari hadapan Kirana. Namun rasa penasaran Kirana yang sangat besar merampas ponsel itu dari tangan Naura yang tidak berdaya untuk menahannya. "Jangan Bu..
BBBRRRAAKKK....
"Ibu..!!" teriak Naura dan Afia.
Lalu Afia mengambil ponselnya tergeletak diatas lantai dengan tangan bergetar langsung melihat dirinya bersama dengan Sandro pria yang kemarin menolongnya diatas ranjang dengan tubuh telanjang.
"Aaakkhhh".
Tidak tau mau berkata seperti apa lagi, tubuh Afia lemas hingga akhirnya ia jatuh pingsan. Sedangkan Naura yang membantu Kirana menyadarkan diri, ia lalu meletakkan tubuh itu membantu Afia menepuk-nepuk wajahnya.
__ADS_1
"Yah.. Bangun Afia! Ayo bangun Fia! Apa kamu tidak mendengar ku? Aarrkkhhh".