
Sepulang dari sekolah Hendry singgah di sebuah toko kue. Ia membelikan beberapa kotak untuk ia bawa kerumah sakit tempat Afia di rawat. Dengan senyum mengembang di wajahnya, ia sangat yakin kalau Afia nantinya akan menyukai kue tersebut.
Sesampainya di rumah sakit.
Tok.. Tok...
"Siapa?" tanya Kirana ibunya Afia.
Ceklek!
"Saya bibi" jawab Hendry tersenyum berjalan mendekati mereka. Kemudian menaruh kotak kue itu diatas meja membuat Naura seketika melirik kearahnya. "Hallo!".
"Siapa suruh kamu kemari?" tanyanya dengan ketus.
"Aku kemari untuk memastikan kalau Afia baik-baik saja" jawabnya tersenyum kembali kepada Afia yang sedang melihatnya dengan tatapan sendu ingin memeluknya. "Kamu sudah makan Fia?".
"Dia tidak berselera makan" jawab Naura mengantikan adiknya itu.
"Kenapa? Kenapa kamu belum makan Fia? Kamu sakit? Atau kamu..
"Aku baik-baik saja Hendry. Hanya saja aku merasa ingin mual terus dan juga tubuh ku sangat lemas sekali ditambah aku merasa pusing. Tapi seperti kata suster tadi, aku masuk angin".
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan Fia. Aku akan memanggil dokter, kamu harus diperiksa untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja atau tidak. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu".
"Lebay banget sih loh" kesal Naura mendengar kekhawatiran yang Hendry tunjukkan. "Kamu enggak dengar kalau dia sudah bilang dia baik-baik saja? Enggak usah lebay deh sok perhatian seperti itu".
Kemudian Kirana sang ibu langsung memarahi Naura berkata tidak boleh seperti itu. Kalau pun Afia baik-baik saja, itu artinya dia sayang telah mengkhawatirkan orang yang dia cintai.
Lalu Hendry membuka kotak kue yang ia bawa di hadapan Kirana dan Naura sambil memberikan kepada mereka, begitu juga ia memberikan kepada Afia yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Kalau gitu sekarang kamu makan ini yah. Aku yakin kamu pasti sangat menyukainya".
"Tidak usah Hendry" geleng Afia menolak.
"Ayolah sayang. Aku mohon" bujuk Hendry membuat Naura dan ibunya seketika menoleh kearah mereka berdua saat Hendry berkata sayang. "Aku mohon mmmmm.. Satu saja kalau tidak separuh saja".
"Tapi Hend...
"Ayolah sayang. Aku sangat mohon sekali yah".
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu" angguk Afia segera membuka mulut. Dengan senang hati, Hendry pun langsung memasukkan ke dalam mulutnya. Sambil menunggu pendapatnya, Hendry tak henti-hentinya tersenyum senang melihat Afia terlihat sangat menikmati kue tersebut.
"Bagaimana Fia? Kamu menyukainya?".
Kedua bola mata Afia langsung berbinar-binar melihat ibunya dan Naura. "Enak ma kak, coba deh, ini sangat enak sekali. Wah, Hend.. Dimana kamu mendapatkannya? Ini sangat enak sekali".
"Kamu masih mau?".
"Iya aku mau Hend" anggun Afia membuka mulutnya kembali. Begitu Hendry memasukkan ke dalam mulutnya, Afia tak henti-hentinya tersenyum senang. "Terima kasih banyak Hend. Aku sangat menyukainya".
"Terima kasih Fia".
"Tapi kenapa kamu kemari Hend? Kenapa kamu tidak berangkat kerja? Nanti kita berdua bisa...
"Aku tidak perduli Fia. Aku lebih perduli kepada mu dari pada pekerjaan itu. Kamu masih mau lagi".
"Iya. Kamu juga makanlah".
"Mmmmmm".
.
"Dia baik-baik saja. Tapi karna lukanya belum mengering, saya mau pasien jangan terlalu menganggap enteng untuk rutin mengganti perbannya dan juga obat. Bisa di ingat?" tanyanya melihat Afia.
"Iya dok, sayang akan mengingatnya. Terima kasih banyak ya dok".
"Iya sama-sama. Kalau gitu kami permisi dulu".
"Iya dok. Silahkah..
"Tunggu dok" tahan Afia. "Boleh sayang bertanya dok? Dan bisakah dokter menjawab pertanyaan saya dengan jujur".
"Iya silahkan".
"Siapa orang yang sudah membayar biaya medis saya selama disini dokter? Saya mohon tolong jawab saya dengar jujur dok. Saya sangat penasaran sekali dengan orangnya, ada tujuan apa dia melakukan ini semua. Tolong beritahu saya dok, setidaknya izinkan saya mengucapkan terima kasih banyak".
Si dokter lalu tersenyum melirik kearah Hendry yang berada di sebelah Afia. "Maaf, saya tidak tau apa-apa mengenai hal itu. Saya disini hanyalah seorang dokter yang hanya fokus dengan kesehatan pasien. Permisi!".
"Iya dok. Maaf sudah menganggu waktu dokter" Afia melirik ibunya dan Naura, ia pikir kalau si dokter akan memberi tahu siapa orang tersebut. Namun nyatanya dia tidak tau apa-apa. Sedangkan Hendry hanya berdiam saja sambil mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
"Hend, bisakah kamu menebus obat ini di apotik? Kamu gunakan kartu ku ini".
"Tidak usah, biar uang ku saja".
"Pakai saja Hend. Kamu baru saja membayar hutang mu, aku tau kamu pasti tidak punya uang".
"Aku masih punya Fia. Kamu simpan saja, kalau gitu aku tunggu di bawah yah. Nanti sekali aku akan mencarikan taksi".
"Hey jangan Hendry. Kita naik bus saja, biaya taksi nanti sangat mahal sekali".
"Jangan khawatir, nanti aku yang akan membayarnya" ucap Hendry segera keluar dari dalam ruangan tersebut menuju apotik yang berada di lantai loby.
"Hahahaha.. Sok-sokan sekali dia. Dia pikir biaya taksi murah apa? Aiss.. Aku sangat tidak menyukai keangkuhannya. Bagaimana bisa kamu berpacaran dengan pria seperti dia? Apa itu calon menantu yang ibu sukai?".
"Jangan seperti itu Naura. Mau seperti apapun dia, asalkan dia baik dan perhatian kepada Afia, ibu akan selalu mendukungnya. Lagian itu juga dia lakukan demi kebaikan adik kamu. Sudah, sekarang tidak usah di bahas lagi. Ayo kita pulang, atau masih ada yang tertinggal".
"Ada Bu. Meskipun aku tidak menyukainya, kue ini tidak punya salah apa-apa. Jadi aku harus membawanya pulang heheheh" tawa Naura membuat ibunya seketika geleng kepada.
"Ayo nak. Ibu akan membantu mu jalan".
"Terima kasih bu".
.
Kini mereka bertiga telah berada di dalam loby setelah keluar dari dalam lift. Lalu Hendry berjalan menghampiri mereka, ia langsung memberitahukan kalau taksi sudah menunggu di depan pintu. Afia memang sempat menolak, cuman Hendry yang selalu memaksa untuk menaiki taksi membuat ia pada akhirnya mengalah.
"Yah.. Boleh tidak aku saja yang duduk di depan?" ucap Naura menyuruh Hendry duduk di belakang bersama dengan Afia dan Kirana.
"Astaga Naura!" bentak ibunya marah melihat ketidaksopanan Naura yang semakin menjadi-jadi kepada Hendry membuat ia tidak suka. "Nak Hendry. Maafkan Naura yah".
Hendry tersenyum mengangguk, "Tidak apa-apa bibi. Masuklah".
"Thank you" senang Naura masuk ke dalam.
Setelah merasa berempat berada di dalam mobil, taksi tersebut segera meninggalkan rumah sakit.
"Maaf" bisik Afia. "Tolong maafkan kelakuan kakak ku yang seperti ini".
"Tidak apa-apa sayang" balas Hendry merangkul pinggangnya tersenyum.
__ADS_1